|
Dalam Seri 003 di bawah
diperlihatkan sebuah contoh: Wahyu dalam Al-Quran Musshaf 'Utsmaniy, yang baru
dapat difahami dengan baik jikalau mempergunakan ilmu fisika, kimia, botani
dengan pengkhususan anatomi tumbuh-tumbuhan sebagai ILMU BANTU. Demikian pula
dalam Seri 455 ilmu cuaca (meteorology) dijadikan ilmu bantu untuk dapat
memahami wahyu dengan baik.
HMNA
__________________________________________________________________________________________________________
************************************************************************************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN
DAN ILMU [Kolom Tetap Harian Fajar] 003. Interaksi Iman dan Ilmu,
Pencemaran Thermal
Antara
tumbuh-tumbuhan di pihak yang lain dengan manusia dan binatang di pihak yang
lain membentuk sistem yang dalam ungkapan bidal Melayu lama berbunyi: Seperti
aur dengan tebing, atau dalam ungkapan modern yang canggih bunyinya: Mutualis
simbiosis, suatu ekosistem saling menghidupi dan menghidupkan. Aur yang tumbuh
di tebing mendapat zat-zat yang dibutuhkan tanaman untuk bertumbuh. Akar-akar
aur menusuk ke dalam tanah di tebing untuk dapat mengisap zat-zat yang
dibutuhkannya itu. Di pihak yang lain tebing mendapatkan manfaat dari akar-akar
rumpun aur, tebing menjadi kuat, tidak mudah terban (tidak pakai
g).
Untuk dapat hidup,
manusia dan binatang harus mengisi perut, makan dan minum dan mengisap udara,
bernafas. Tujuan makan bukan untuk kenyang, karena itu hanya sekadar kesan saja,
melainkan makan pada hakekatnya adalah mengisi tubuh dengan bahan bakar. Dan
bernafas bukan hanya sekadar menghirup udara segar supaya tidak mati lemas,
melainkan mengisi tubuh dengan oksigen dari udara. Di dalam tubuh manusia dan
binatang terjadilah reaksi kimia yang disebut oksidasi. Reaksi kimia ini
menimbulkan panas dan proses tersebut disebut respirasi. Demikianlah tubuh
manusia dan binatang menjadi panas, dan panas ini dipertahankan suhunya oleh
suatu sistem yang musykil dalam tubuh manusia dan binatang, yaitu sistem
pengatur suhu. Menarik nafas artinya memasukkan oksigen ke dalam tubuh,
sedangkan mengeluarkan nafas artinya membuang sampah hasil pembakaran ke udara.
Sebenarnya yang dibuang ke udara itu pada hakekatnya hanya sejenis yang berupa
sampah dan yang lain tidak dipandang sampah. Yang pertama adalah karbon
dioksida, zat asam arang, CO2. Yang kedua adalah air dalam bentuk uap. Air yang
berasal dari mengeluarkan nafas ini dapat dilihat jika kita ada di tempat
dingin. Uap air itu mengembun di udara berupa titik-titik air yang halus,
kelihatannya seperti asap putih atau kabut.
CO2 ayang
dihasilkan/dikeluarkan dari tubuh manusia dan binatang merupakan polutan, zat
pencemar yang mencemarkan udara. Pencemaran udara oleh CO2 ini bukan semata-mata
dari manusia dan binatang saja, melainkan, dan ini yang lebih banyak, berasal
dari budak-budak tenaga, energy slaves. Tidaklah berperi-kemanusiaan, jika
manusia memperbudak sesamanya manusia. Akan tetapi oleh karena pada dasarnya
manusia suka memperbudak, maka manusia memperbudak binatang, tenaga otot
binatang dimanfaatkan untuk bekerja. Setelah James Watt mendapatkan mesin uap,
maka manusia memproduksi budak-budak tenaga secara massal, yaitu mesin-mesin
yang dayanya lebih besar dari daya otot binatang. Dan mesin-mesin ini
menghasilkan CO2 jauh lebih banyak ketimbang CO2 yang berasal dari manusia dan
binatang. Sehingga sangat perlu sekali dilaksanakan birth control terhadap
budak-budak tenaga ini. Mengapa? Oleh karena CO2 ini adalah zat pencemar yang
menyebabkan terjadinya pencemaran thermal, thermal pollution. Bumi jadi panas,
suhunya naik, es di kutub utara dan selatan mencair, air laut naik, maka
terjadilah banjir yang akan lebih hebat dari banjir di zaman Nabi Nuh AS. Dan
naiknya permukaan laut ini bukan teori omong kosong, betul-betul naik menurut
hasil intizhar atau observasi. Mengapa CO2 itu menjadi penyebab
pencemaran thermal, informasinya seperti berikut: Lapisan udara yang mengandung
CO2 yang banyak, menyebabkan permukaan bumi ditutupi oleh lapisan CO2. Ini
menyebabkan terjadinya efek rumah kaca. Di tempat yang beriklim dingin, jika
ingin menanam buah-buahan dan sayur-sauran yang membutuhkan suhu yang lebih
tinggi dari suhu udara luar, maka buah-buahan dan sayur-sayuran itu ditanam di
dalam rumah kaca. Gelas atau kaca adalah zat bening, radiasi matahari yang
disebut photon gampang menerobos masuk. Photom itu memukul molekul-molekul udara
dalam rumah kaca. Getaran molekul udara itu dipacu oleh photon itu, maka
bertambah intensiflah getaran molekul udara itu, yang membawa kesan fenomena
naiknya suhu udara, karena itulah udara bertambah panas. Kaca adalah penghantar
panas yang jelek. Maka terperangkaplah panas itu dalam rumah kaca. Photon mudah
menerobos masuk, namun setelah tenaga radiasi itu sudah ditransfer menjadi
tenaga panas dalam rumah kaca, gelombang panas tidak/kurang mampu menerobos
keluar. Inilah efek rumah kaca. Juga CO2 adalah zat bening mudah ditembus
photon. Juga CO2 adalah zat pengantar panas yang jelek. Maka terperangkaplah
gelombang panas dalam ruang antara lapisan CO2 dengan permukaan bumi, seperti
halnya gelombang panas dalam rumah kaca.
Demikianlah seriusnya
gejala alam berupa naiknya suhu di permukaan bumi ini, atau globalisasi thermal
ini, maka Allah SWT memberikan informasi kepada ummat manusia sejak lebih 14
abad yang lalu. Berfirman Allah SWT dalam Al-Quran, S. Yasin, ayat 80 sebagai
berikut: -- Alladziy
Ja'alalakum Minasysyajari l-Akhdhari Naaran Faidzaa Antum Minhu Tuwqiduwn, artinya:
-- Yaitu Yang menjadikan bagimu api
dalam (zat) hijau pohon dan dengan itu kamu dapat
membakar.
Sepintas lalu secara
common sence, kita menjumpai pertentangan antara akal dengan wahyu. Akal kita
mengatakan, bahwa api itu atau yang dibakar itu bukan dari pohon yang hijau,
melainkan dari kayu-kayuan dan daun-daunan yang kering berwarna coklat. Memang
pepohonan hijau dapat terbakar dalam bencana alam berupa kebakaran hutan, tetapi
penjelasan ini tidak relevan, karena ayat itu menjelaskan "kamu" membakar,
maksudnya dengan sengaja membakar. Kebakaran hutan terjadi karena ketidak
sengajaan. Ada kitab tafsir yang mencoba menjelaskan bahwa ada sejenis
pohon yang dapat dijadikan kayu bakar, walaupun masih hijau. Tetapi akal
kita mengatakan bahwa menurut qaidah bahasa Arab, bentuk mudzakkar (laki-laki)
asysyjaru l-Akhdhar
dalam ayat di atas menunjuk kepada pohon secara keseluruhan, bukan hanya sekadar
sejenis pohon. Kalaulah yang dimaksud hanya sejenis, atau sebahagian pohon, maka
harus memakai bentuk muannats (perempuan), yaitu asysyaratu l-Khadhraau.
Jadi penafsiran dalam kitab tafsir trersebut tidak/belum dapat memecahkan
permasalahan adanya pertentangan antara akal dengan wahyu. Ada yang menempuh
pendekatan majazi (kiasan, metaphor), yaitu hijau dimaknai dengan
"subur"
Namun masih ada upaya
lain dengan paradigma seperti dijelaskan dalam Seri 001, yaitu akal harus tunduk
pada wahyu. Kalau terjadi pertentangan antara akal dengan wahyu, maka akal harus
mengalah. Seperti telah dijelaskan dalam Seri 001, akal membutuhkan informasi
untuk berpikir. Akal harus mengalah kepada wahyu, oleh karena dalam keadaan yang
demikian itu adalah suatu isyarat bahwa akal membutuhkan informasi yang lebih
canggih untuk dapat merujuk akal itu kepada wahyu. Dan informasi ini bersumber
dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi
tumbuh-tumbuhan.
Reaksi thermonuklir
di matahari mentransfer wujud tenaga nuklir menjadi tenaga radiasi yang berwujud
sinar gamma yang menembus ke lapisan bagian luar dari matahari. Sinar gamma itu
mengalami penyusutan energi karena menembus lapisan matahari itu. Setelah sampai
di bagian luar sinar yang telah berdegradasi energinya itu dikenal sebagai
photon, lalu memancar ke sekeliling matahari, antara lain menyiram permukaan
bumi.
Tumbuh-tumbuhan
dibangun oleh bahagian-bahagian kecil yang disebut sel. Di dalam inti sel
terdapat butir-butir pembawa zat warna. Yang terpenting di antara butir-butir
itu adalah pembawa zat warna hijau, yang disebut khlorophyl, zat hijau daun
(istilah ilmiyah dari bahasa Yunani, Kholoros = hijau, Phyllon = daun).
Khlorophyl ini menangkap photon dari matahari dan mengubah wujud tenaga photon
itu menjadi tenaga potensial kimiawi dalam makanan dan bahan bakar hidrokarbon
di dalam molekul-molekul melalui proses photosynthesis. Dalam proses
photosynthesis oleh khlorophyl ini dari bahan baku CO2 dan air dan photon,
dihasilkan makanan dan bahan bakar hidrokarbon dan oksigen. Selanjutnya melalui
proses respirasi dalam tubuh manusia dan binatang dan budak-budak tenaga,
makanan dan bahan bakar itu dengan oksigen dari udara berubahlah pula menjadi
CO2 dan air. Demikianlah sterusnya daur atau siklus itu berlangsung.
Photosynthesis - CO2 dan air - respirasi - makanan, bahan bakar, dan oksigen.
Jadi tumbuh-tumbuhan mengambil CO2 dan mengeluarkan oksigen. Sebaliknya manusia
dan binatang mengambil oksigen dan mengeluarkan CO2.
Secara
gampangnya Asysyajaru
l-Akhdhar itu adalah pabrik makanan / bahan bakar dan oksigen. Bahan
mentahnya adalah air dan CO2. Mesin pabrik adalah photon dan proses dalam pabrik
yang mengolah air dan CO2 menjadi makanan / bahan bakar dan oksigen disebut
proses photosynthesis (sintesa atau penyusunan oleh photon). Makanan dibakar
dengan oksigen dalam tubuh manusia, oksigen dihisap dari udara, demikian pula
bahan bakar dibakar dengan oksigen dalam mesin-mesin pabrik. Oksigen disedot
dari udara. Itulah ma'na Minasysyajari l-Akhdhari Naaran Faidzaa Antum Minhu Tuwqiduwn.
Demikianlah ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi
tumbuh-tumbuhan membantu kita untuk dapat memahami S. Yasin, ayat 80 dengan
baik, memberikan informasi yang cukup bagi akal kita, sehingga menghilangkan
pertentangan antara akal dengan wahyu.
Alhasil, jika
informasi itu cukup lengkap bagi akal, akan hilanglah pertentangan antara akal
dengan wahyu. Pemakaian istilah Asysyajaru l-Akhdhar, zat hijau pohon dalam Al Quran lebih tepat
dari istilah ilmiyah khlorophyl, zat hijau daun, oleh karena zat tersebut bukan
hanya terdapat dalam daun saja, melainkan pada seluruh bagian pohon asal masih
berwarna hijau, mulai akar yang tersembul asala masih hijau, dari batang asal
masih hijau, cabang asal masih hijau, ranting, daun, sampai ke pucuk serta buah
yang masih hijau. Dari S. Yasin, ayat 80 itu, dengan penjelasan
berupa informasi dari ilmu fisika, kimia, botani dengan pengkhususan anatomi
tumbuh-tumbuhan sebagai ilmu bantu untuk dapat mengerti wahyu dengan baik dan
jelas, dapatlah kita lihat bagaimana pentingnya hutan. Bukan hanya sekadar
mengendalikan air di dalam tanah dan permukaan bumi, tidak banjir di musim hujan
dan tidak kering di musim kemarau. Akan tetapi, dan ini yang lebih penting,
adalah untuk terjadinya daur: tumbuh-tumbuhan penghasil oksigen, yang
membutuhkan CO2 - manusia dan binatang penghasil CO2, yang membutuhkan oksigen.
Maka terjadilah seperti yang diungkapkan oleh bidal Melayu lama: seperti aur
dengan tebing, mutualis simbiosis.
Demikianlah uraian
interaksi iman dan ilmu dalam ruang lingkup daur CO2 dan oksigen dalam
pengetahuan lingkungan khusus globalisasi pencemaran thermal dan pentingnya
hutan. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 3
November 1991 [H.Muh.Nur
Abdurrahman] ================================
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN
DAN ILMU [Kolom Tetap Harian Fajar] 455. Kajian Terakhir dalam Bulan
Ramadhan: Gunung Awan
Bulan suci Ramadhan
sudah hampir berlalu. Bulan yang dianugerahkan Allah SWT sebagai pinjaman
sekali setahun kepada para hambaNya. Betapa tidak,
bukankah di dalamnya terletak kewajiban puasa? Dan bukankah ibadah puasa
meningkatkan derajat insan dari beriman menjadi taqwa? Taqwa yang
melahirkan potensi yang dapat menumbuhkan kemampuan untuk memelihara diri
dari segi negatifnya kekuasaan dan penguasaan.
Yaitu kekuasaan karena kedudukan dan penguasaan dalam bidang harta
dan ekonomi. Bukankah taqwa yang akar katanya dibentuk oleh huruf-huruf: Waw,
Qaf, Ya, berarti terpelihara ataupun menjaga diri? Yaitu terpelihara ataupun
menjaga diri dari malapetaka melalaikan perintah Allah dan terpelihara
ataupun menjaga diri dari malapetaka melanggar larangan
Allah!
Bulan suci
Ramadhan telah ditentukan Allah sebagai sayyidu l-ayyaam, penghulu
dari segala bulan, penawar racun serta
bisa yang dikandung oleh bulan-bulan lain. Bulan Ramadhan adalah perangkat
halus yang sangat produktif. Dengan amal
yang sedikit di dalamnya, Yang Maha Rahim menjanjikan pahala
yang berlipat ganda. Dikutip dari Hadits-Hadits RasuluLlah SAW, jangankan
kerja keras membanting tulang, jangankan memperbanyak sujud dan ruku',
bahkan tidur karena penat bagi orang berpuasa itu adalah
ibadah, diam tiada kata sepatah karena menghindari
kesia-siaan tutur, itu adalah tasbih. Bila amal-amal itu bertepatan
dengan Laylatul-Qadr, yaitu salah satu di antara sepuluh
malam ganjil terakhir Ramadhan, nilai pahalanya lebih baik dari seribu
bulan (83 tahun, 4 bulan).
Bulan suci Ramadhan,
bukankah di dalamnya itu dinuzulkan Al-Quran menjadi petunjuk bagi
manusia? Dan bukankah manusia itu sekaligus makhluq pribadi dan makhluq
sosial? Allah Yang Maha Tahu menganugerahkan kepada manusia
Syari'at Islam sebagai pedoman hidup untuk manusia baik
sebagai makhluq pribadi maupun makhluq sosial. Syari'at Islam berisikan
aqidah, akhlaq dan tata-cara hubungan antara manusia dengan Khaliqnya
dalam konteks manusia sebagai makhluq pribadi. Syari'at Islam berisikan
pedoman hidup bagi manusia sebagai makhluq sosial dalam hal
kehidupan berbudaya: berpolitik, bersosial, berekonomi dan berilmu dalam
mengelola alam sekitar. Khusus dalam hal mengelola alam sekitar Syari'at
Islam bukan hanya sekadar memotivasi manusia untuk mengkaji alam, akan tetapi
Syari'at Islam juga mengandung petunjuk dalam mengkaji TaqdiruLlah
(istilah sekulernya: hukum alam) yang berlaku di
alam.
***
Yang
berikut ini adalah kajian terakhir dalam bulan
Ramadhan. Yaitu petunjuk Syari'at Islam dalam mengkaji terjadinya hujan dan
kilat. Firman Allah SWT (transliterasi huruf demi huruf demi keotentikan):
-- ALMTR AN ALLH YZJY SHABA
TSM YW^LF BYNH TSM YJ'ALH RKAMA FTRY ALWDQ YKHRJ MN KHLALH
WYNZL MN ALSMA^ MN JBAL FYHA MN BRD FYSHYB BH MN YSYA^ YKAD SNA BRQH YDZHB
BALABSHAR (S. ALNWR, 43), dibaca: -- alam tara annaLa-ha yuzji- saha-ban tsumma
yuallifu baynahu- tsumma yaj'aluhu- ruka-man
fataral wadqa yakhruju min khila-lihi- wayunazzilu minas
sama-i min jiba-lin fi-ha- min baradin fayushi-bu bihi- may yasya-u
wayashrifuhu- 'am may yasya-u yaka-du sana- barqihi- yadzhabu bil absha-r (s.
annu-r, 24:43).
Beberapa
terjemahan:
-- Tidakkah engkau
tahu, bahwa Allah menghalau awan, kemudian mengumpul sesamanya,
kemudian menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan
turun dari celah-celahnya, Allah menurunkan hujan beku (hujan
manik) dari langit dari gunung salju, lalu Allah menumpahkan
air itu kepada orang-orang yang dikehendakiNya dan menjauhkanNya
dari orang yang dikehendakiNya. Cahaya kilatnya hampir menyambar pemandangan
manusia.
-- Hast thou
not seen that it is Allah drives the clouds, then joint them
together, then piles them up sothat thou seest rain issue
forth from the mids thereof? He sends down from the sky
clouds like mountains wherein is hail, and He smites
therewith whom He pleases, and turns it away
from whom He pleases. The flash of its lightning may well-nigh take away
the sight. -- Zie gij
niet, dat God de wolken voortdrijft, (en) ze daarna
verzamelt, (en) ze daarna opeenstapelt, zoodat gij den regen uit haar
midden ziet voorkomen? En Hij zendt van de wolken neder wat (als) bergen
zijn, waarin hagel is, daarmede treffende wien hij wil en het
afwendende van wien Hij wil; de straal van zijn bliksem neemt echter het gezicht
weg.
Sebelum pembahasan
dilanjutkan akan dikemukakan dahulu perbedaan terjemahan dari
"minas sama-i min jiba-lin
fi-ha-", yaitu: dari langit dari gunung salju,
from the sky clouds like mountains, van de wolken neder wat (als)
bergen zijn.
Ha- (nya) pada fi-ha-
(di dalamnya) menunjuk pada assama-u (langit). Telah dijelaskan
dalam seri-seri yang lalu bahwa langit dalam bentuk mufrad (tunggal), assamaau,
berarti ruang angkasa, sedangkan langit dalam bentuk jama',
assama-wa-tu, berarti benda-benda yang mengisi ruang angkasa.
Artinya gunung itu ada di angkasa. Gunung itu tak lain dari awan yang
bertumpuk-tumpuk di angkasa. Maka terjemahan Inggris dan
Belanda yang betul, bukan gunung salju, melainkan gunung awan, the sky
clouds like mountains, de wolken als bergen
zijn. Hal ini perlu ditegaskan lebih dahulu, oleh karena
gunung awan yang disebutkan ayat (24:43) mengandung dua hal yang penting.
Pertama menunjukkan bahwa Al-Quran itu adalah mu'jizat, oleh karena gunung awan
itu baru dapat dipantau tentang adanya, setelah orang dapat terbang di angkasa.
Sebelumnya, mana bisa gunung awan itu diketahui orang tentang adanya. Kedua,
ayat (24:43) mengisyaratkan bahwa terjadinya kilat itu
ada keterkaitan dengan barad(un) (hujan es, hail, hagel) di
dalam awan yang berbentuk gunung atau gunung awan itu.
Ayat (24:43), serta
ilmu cuaca mengajarkan kepada kita bahwa terjadinya gunung
awan itu melalui tiga tahap. Tahap pertama, awan itu dihalau, tahap
kedua setelah dihalau lalu mengumpul, tahap ketiga menumpuk menjadi gunung
awan di angkasa, disebabkan oleh bagian tengahnya terangkat vertikal ke atas.
Menurut hasil observasi puncak gunung awan itu dapat mencapai
ketinggian 8 sampai 10 km di atas angkasa. Dengan demikian daerah
puncak gunung awan itu mencapai daerah dingin, sehingga turun hujan dari
celah-celahnya. Ini adalah tahap keempat. Pada tahap kelima turun barad (hujan
es, hail, hagel).
Air yang membeku
melepaskan panas laten (latent heat). Dengan demikian pada tahap kelima
yaitu terbentuknya barad dari hujan air, maka sekitar barad itu suhunya
lebih tinggi dari daerah gunung awan. Lalu terjadilah loncatan elektron dari
daerah dingin ke daerah panas. Atom yang kehilangan
elektron akan bermuatan positif dan menjadi lebih ringan. Sedangkan atom yang
kelebihan elektron akan bermuatan negatif dan menjadi lebih berat.
Yang bermuatan positif yang lebih ringan bergerak ke atas, sedangkan yang
bermuatan negatif yang lebih berat akan bergerak ke bawah.
Akumulasi muatan negatif ataupun muatan
positif menyebabkan loncatan bunga api listrik, itulah kilat yang
menyambar pemandangan manusia. Kilat yang
mencambuk udara menjadikan tempat cambukan itu udara menjadi
hampa, dan setelah kilat berlalu udara bertaut kembali, ibarat biduk lalu
kiambang bertaut. Pertautan udara itu kembali menimbulkan gelegar
yang disebut halilintar. Dan seiring dengan itu terbentuklah ozon yang membubung
naik ke angkasa membentuk lapisan ozon yang melindungi kita dari gempuran
fraksi sinar ultra lembayung dari sinar matahari. Insya Allah perkara ozon ini
akan dibicarakan nanti. WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.
*** Makassar, 24
Desember 2000 [H.Muh.Nur
Abdurrahman]
__________________________________________________________________________________________________________
************************************************************************************************
----- Original Message -----
Sent: Thursday, March 22, 2007
22:19
Subject: [debat_antar_agama] Re: Misa Kudus dan
Kitab Wahyu _
ngutip dikit tulisan feifei2899 ah Kitab Wahyu akan
memperlihatkan kepada kita, Misa Kudus sebagai surga di bumi. Sekarang, marilah
kita teruskan tanpa menunda-nunda lagi, karena surga tidak dapat menunggu.
:-)_
s
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
__._,_.___
Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba
Mayapada Prana Links:
<*> Indonesian Lesbian Forum
http://www.voy.com/6346/
<*> Gay Indonesian Buddhist Fellowship
http://groups.yahoo.com/group/gibf
<*> Bike To Work Indonesia
http://sports.groups.yahoo.com/group/b2w-indonesia
<*> Food Combining Indonesia
http://health.groups.yahoo.com/group/FOOD_COMBINING_INDONESIA/
__,_._,___
|