Misteri
Keampuhan Pedang Damaskus
Selasa, 09 Januari 2007 |
14:11 WIB
Oktober 1192.
Richard yang Berhati Singa, raja Inggris yang memimpin tentara Kristen dalam
Perang Salib III, bertemu dengan musuh bebuyutannya, pemimpin muslim Salahuddin
al-Ayyubi. Kedua pemimpin ini saling menghormati. Kedua pemimpin yang kemudian
menjadi legenda itu, demikian Sir Walter Scott mendramatisasi dalam novel The
Talisman, memamerkan senjata masing-masing.
Richard mengeluarkan
pedang lebar mengkilap buatan empu terbaik daratan Britania. Salahuddin
menghunus pedang kesayangannya. Pedang lengkung buatan empu di Damaskus yang
tidak mengkilap. "Alih-alih, warnanya biru pudar, dicercahi 10 juta garis,"
tulis Sir Scott. Mungkin pedang itu mirip garis-garis pamor keris buatan
empu terbaik di Jawa.
Novel Sir Scott yang terbit dua abad silam itu
memastikan keampuhan pedang Damaskus, salah satunya dipegang Salahuddin, menjadi
abadi. Pedang itu sangat tajam. Saputangan sutra yang paling halus pun bisa
terbelah dua jika jatuh melayang di atas mata pedang. Selain itu, senjata yang
dikenal sebagai pedang Damaskus itu sanggup membelah pedang musuh atau batu
cadas paling keras tanpa berkurang ketajamannya.
Sayang, teknik membuat
pedang Damaskus yang muncul pada abad ke-8 sudah punah. Tak ada satu empu pun
yang bisa membuatnya dalam dua abad terakhir. Para ahli metalurgi bertanya-tanya
bagaimana para empu di Damaskus bisa membuat pedang sekuat dan setajam itu. Soal
struktur logam di dalamnya juga menjadi pertanyaan besar.
Baru pada zaman
sekarang jawabannya ditemukan di Jerman. Para empu di Damaskus itu, secara tidak
sadar, menerapkan teknologi nano saat membuat pedang untuk Salahuddin. Untuk
mengingatkan, nanotube itu bahan yang 100 kali lebih kuat daripada baja.
Tidak aneh jika pedang Damaskus begitu kuat.
Peter Paufler,
crystallographer di Universitas Teknik Dresden, Jerman, menemukan kawat
nano dan nanotube saat meneliti pedang Damaskus yang berusia empat abad
dengan mikroskop elektron. "Ini temuan nanotube pertama di baja," kata
Paufler.
Serat nanotube itu menjelujur di seluruh badan pedang
yang terbuat dari baja. Akibatnya, baja itu seperti mendapat tulang tambahan
yang 100 kali lebih kuat. "Ini prinsip umum alam," kata Paufler. "Zat yang lebih
lunak bisa diperkuat dengan menambah kawat yang kuat."
Ada kritik bahwa
mikroskop elektron itu terkontaminasi nanotube dari tempat lain, seperti
yang dikutip Alex Zettl, ahli fisika dari University of California, Berkeley.
Tapi Paufler, setelah mengakui kemungkinan itu, mengatakan ia sudah menguji
dengan berbagai peralatan berbeda. Hasilnya tetap sama: ada partikel
nano.
Para empu di Damaskus membuat pedang dengan bahan baku baja
lantakan yang diimpor dari India. Baja mentah ini, di India disebut ukku
dan di Barat dipanggil wootz, kualitasnya sangat bagus dan karbonnya
mencapai 1,5 persen atau sekitar 15 kali lipat dibanding baja tempat
lain.
Karbon ini biasanya dianggap kunci membuat pedang yang bagus. Tapi
campurannya harus pas, terlalu banyak membuat baja menjadi getas, terlalu
sedikit membuat baja tidak bisa tajam. Jika prosesnya tidak sempurna, bisa
muncul cementite, fase besi yang sangat rapuh meski keras.
Paufler
menduga nanotube itu muncul saat baja lantakan India dibakar. Karbon dari
kayu dan dedaunan untuk membakar membentuk menjadi nanotube, terutama
dari batang Cassia auriculata dan daun Calotropis gigantea. Selain
itu, pedang Damaskus memiliki unsur vanadium, kromium, mangan, timah, nikel, dan
beberapa unsur lain yang terlacak sampai ke tambang-tambang di India. Lewat
proses bakar dan tempa, nanotube itu belakangan terisi cementite,
zat dari besi yang sangat kuat.
Teknik membuat pedang Damaskus mirip
dengan keris di Jawa, katana di Jepang, atau pedang Viking di Eropa
Utara. Berbagai jenis lempeng besi dan logam disatukan menjadi batangan. Setelah
dibakar dan ditempa, logam baru itu akan menyatu. Proses ini diulangi setelah
menekuk logam hasil tempaan dan diulangi terus-menerus.
Pukulan palu
berulang-ulang membuat serat-serat kawat nano itu mengarah ke luar pedang.
Mungkin juga membuat partikel cementite yang lebih besar tersusun
berlapis-lapis dengan baja yang lebih lunak tapi lentur.
Saat pedang
sudah berbentuk dan tinggal mempertajam, Paufler menduga para empu Damaskus itu
merendamnya dengan air keras. Air keras itu tidak hanya menciptakan alur logam
di badan pedang, tapi juga mempertajam.
Nah, menurut dugaan Paufler, air
keras itu memang melumerkan logam. Tapi nanotube dari karbon dan
cementite di dalamnya tetap bertahan sehingga membuat mereka seperti mata
gergaji yang sangat lembut. Pedang pun menjadi sangat tajam dengan kekuatan 100
kali baja, persis seperti yang dipegang Salahuddin al-Ayyubi.
Source: Tempo Interaktif
http://www.tempointeraktif.com/hg/iptek/2007/01/09/brk,20070109-90897,id.html
__._,_.___
Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba
Mayapada Prana Links:
<*> Indonesian Lesbian Forum
http://www.voy.com/6346/
<*> Gay Indonesian Buddhist Fellowship
http://groups.yahoo.com/group/gibf
<*> Bike To Work Indonesia
http://sports.groups.yahoo.com/group/b2w-indonesia
<*> Food Combining Indonesia
http://health.groups.yahoo.com/group/FOOD_COMBINING_INDONESIA/
__,_._,___