logo       

Re: Loe bisa ke Sorga Only by Hokie !: msg#00371

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Re: Loe bisa ke Sorga Only by Hokie !

"MANGUCUP":
Masalahnya sebelum kita dilahirkan, setiap manusia sudah ditentukan terlebih
dahulu apakah ia akan jadi pemeran Wong Ireng ato Wong Putih, apakah ia akan
menjadi WN Sorga ataukah WN Neraka ! Kalho hokie loe gede, otomatis terpilih
jadi calon WN Surgawi.
==================================
HMNA:
Manusia bukan wayang yang dimainkan oleh dalang. Manusia jadi Wong Ireng
atau Wong Putih adalah hasil pilihan yang ditentukan oleh manusia
bersangkutan. Allah Maha Kuasa memberikan kepada manusia otoritas kebebasan
memilih. Allah Maha Adil memberi ganjaran baik atau buruk kepada mansuia
sebagai konsekwensi hasil pilihannya. Allah tidak mengintervensi manusia
dalam menentukan pilihannya, karena seperti telah disebutkan di atas, Allah
Maha Kuasa memberikan kepada manusia otoritas kebebasan memilih. Silakan
baca Seri 039 di bawah.
Wassalam

***************************************************************

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
039. Kebebasan Memilih

Kebebasan memlih dalam pemilu? Bukan hanya dalam sekadar ruang lingkup
sesempit itu, melainkan kebebasan memilih dalam skala makro yang akan
dibicarakan. Ada yang datang pada saya membawakan salah satu Kitab Tafsir Al
Quran dan memperlihatkan terjemahan S. Al Baqarah, 212:

Wa Llahu yarzuqu man yasyaau, diterjemahkan dengan : Dan Allah memberi
rezeki kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Pada hal dalam tulisan Seri
038 yang baru lalu, terjemahannya demikian: Dan Allah memberi rezeki kepada
orang yang menghendaki (untuk mendapatkan rezeki).

Di zaman pra-Islam ada dua aliran filsafat yang saling bertentangan. Di
pihak yang satu berfaham bahwa manusia itu sama sekali tidak mempunyai
ikhtiar apa-apa, Tuhanlah Yang aktif. Aliran ini menempatkan manusia dalam
keadaan pasif sebenar-benarnya. Inilah Jabariyah, Fatalisme. Sedangkan pada
pihak yang lain, yang bertolak belakang dengan aliran tersebut adalah faham
Qadariyah. Faham ini walaupun masih percaya adanya Maha Pencipta, tetapi
menganggap Tuhan dalam keadaan pasif, manusialah yang aktif dalam
berkeinginan dan berikhtiar. Jadi setingkat di bawah faham Deisme, yang
mengingkari komunikasi antara Tuhan dengan makhlukNya.

Memang ada dua penafsiran ayat tersebut. Perbedaan ini terletak dalam hal
siapakah yang menjadi fa'il (= pelaku) dari perbuatan yasyaau (=
menghendaki) dalam ayat itu. Apakah Allah atau man. Pada penafsiran yang
pertama, Allah Yang menjadi Fa'il. Dengan demikian ayat itu berarti: Allah
memberi rezeki kepada orang yang (Allah) kehendaki, atau dengan ungkapan
lain: dikehendakiNya.
Penafsiran ini diwarnai oleh faham Jabariyah. Allah aktif, manusia pasif
tanpa ikhtiar.

Sedangkan pada penafsiran yang kedua, man = siapa, atau orang yang menjadi
pelaku. Karena pemahaman yang kedua ini jarang dikemukakan orang, maka perlu
penjelasan.

Allahu yarzuqu man yasyaau. Allah adalah mubtada' (subyek) sekaligus fa'il
(Pelaku). Yarzuqu adalah khabar (predikat). Man yasyaau adalah maf'ul
(obyek) dalam wujud anak kalimat (anak kalimat yang menjadi obyek). Kalau
anak kalimat itu diuraikan pula, maka man (=siapa) adalah mubtada' sekaligus
pula fa'il dan yasyaau (= mau, berkehendak) adalah khabar. Maka ayat itu
berarti: Allah memberi rezeki kepada orang yang mau atau berkehendak (untuk
mendapatkan rezeki).
Penafsiran ini tidak diwarnai oleh faham Jabariyah. Juga tidak diwarnai oleh
Qadariyah. Dalam penafsiran ini Allah aktif dan manusia aktif. Inilah faham
Ahlussunnah.

Sebenarnya ada ayat lain yang senada dengan ayat di atas itu, yakni:

Wa Llaahu yahdie man yasyaau. (S. Al Baqarah 213) Yahdie artinya memberi
petunjuk.

Sudah dijelaskan dalam seri 023, yang berjudul 17 Ramadhan Nuzulu-lQuran?,
bahwa dalam hal ada penafsiran yang berbeda, maka perbedaan itu harus
diujicoba, jangan dibiarkan dalam keadaan status quo. Pendekatan Kitabiyah
jangan seperti keadaannya dengan ilmu di zaman Yunani Kuno. Kalau dikatakan
ini pendapat Socrates, ini menurut Anaxagoras, maka selesailah sudah, tetap
dalam keadaan status quo. Inipun sudah dikemukakan dalam seri yang lalu,
bahwa Pendekatan Kitabiyahpun jangan berhenti pada status quo, menurut qaul
(pendapat) si Fulan begini, menurut si Fulan yang lain begitu.

Sudah juga dijelaskan bahwa yang diujicoba bukan kebenaran ayat. Kebenaran
ayat itu mutlak, sebab ayat itu bersumber dari Yang Maha Mutlak. Yang
diujicoba adalah hasil penafsiran manusia, hasil pekerjaan akal manusia.
Penafsiran itu harus diperhadapkan kepada ayat-ayat yang lain.

Marilah kita rujukkan kedua penafsiran yang bertolak belakang itu terhadap
ayat-ayat di bawah ini:

Inna Llaaha laa yughayyiru maa bi qawmin hattaa yugayyiruw maa bi anfusihim.
artinya: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka itu
mengubah keadaan dirinya. (Ar Ra'd 11)

(Sedikit catatan, banyak yang menulis arti yughayyiru dengan merubah. Ini
tidak betul. Rubah adalah binatang sejenis keluarga anjing, dalam bahasa
Inggris disebut fox. Asal katanya ubah, mendapat awalan me+sengau ng menjadi
mengubah).

Ayat di bawah lebih mempertegas apa yang dimaksud dengan keadaan tersebut:

Dzaalika bi anna Llaaha alam yaku mughayyiran ni'matan an'amahaa 'alaa
qawmin hattaa yughayyiruw maa bi anfusihim. artinya: Demikianlah Allah tidak
akan membuat perubahan untuk memberi ni'mat atas suatu kaum, hingga mereka
mengubah keadaan dirinya. (Al Anfal 53)

Jadi sudah jelas, bahwa yang dimaksud dengan keadaan adalah ni'mat Allah.
Adapun ni'mat Allah dapat berupa petunjuk seperti dalam S. Al Baqarah 213 di
atas, ataupun berupa rezeki seperti dalam S. Al Baqarah 212.

Baik S. Ar Ra'd 11, maupun S. Al Anfal 35, keduanya tidak berpola Qadariyah
juga tidak berpola Jabariyah. Allah memberikan ni'mat yang bersyarat.
Syaratnya ialah siapa yang berusaha mengubah dirinya untuk mendapatkan
ni'mat itu. Jadi Allah aktif, manusia juga aktif. Secara aktif, ni'mat Allah
dipancarkan oleh Allah tak putus-putusnya, ibarat matahari yang memancarkan
sinarnya ke sekelilingnya. Pada pihak yang lain manusia harus aktif pula
berikhtiar untuk mendapatkan ni'mat Allah yang dipancarkan Allah itu. Ibarat
seorang manusia yang ada di dalam gua yang gelap gulita, mana mungkin akan
mendapatkan sinar matahari, apabila orang itu tetap tinggal di dalam gua
itu. Ia harus berikhtiar, keluar dari gua untuk mendapatkan sinar matahari
itu.

Ayat-ayat rujukan di atas itu berhubungan dengan pola makna ayat, atau
istilah canggihnya pola tekstual. Berikut ini dikemukakan rujukan ayat
mengenai pola redaksionalnya. Firman Allah dalam S. Ar Ra'd 27:

Inna Llaaha yudhillu man yasyaau, wa yahdie ilayhie man ataaba sesungguhnya
disesatkan Allah orang yang menghendaki (kesesatan) dan memberi petunjuk
kepada orang yang tobat. Pola secara redaksional ini jelas. Man adalah
pelaku perbuatan yasyaau dan ataaba.

Jadi penafsiran yang dikukuhkan oleh hasil ujicoba di atas adalah Allah
aktif dan manusia aktif seperti pola tekstual yang ditunjukkan oleh S. Ar
Ra'd,11 dan S. Al Anfal,35, dan pola redaksional yang ditunjukkan oleh S. Ar
Ra'd,27. Dan pola Allah aktif, manusia aktif, inilah faham Ahlussunnah,
dengan penafsiran seperti berikut:

Allah hanya berkenan memberikan petunjuk kepada orang yang berkeinginan dan
berikhtiar untuk mendapatkan petunjuk. Dan Allah hanya berkenan memberikan
rezeki kepada orang yang berkeinginan dan berikhtiar untuk mendapatkan
rezeki. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan
pilihannya: Apa mau sesat di tempat yang gelap, atau berikhtiar mendapatkan
petunjuk, mina zhzhulumaati ila nNur, dari kegelapan ke terang-benderang.

Wa quli lhaqqu min rabbikum faman syaa.a falyu^min wa man syaa.a falyakfur,
artinya: Kebenaran dari Maha Pengaturmu, siapa yang mau maka berimanlah,
siapa yang mau maka kafirlah (S. Al Kahf, 29). Dengan kebebasan memilih itu
manusia memikul tanggung jawab penuh atas hasil pilihan dan perbuatannya.
Janganlah pula orang kafir itu mengatakan mengapa ia harus dihukum, bukankah
ia menjadi kafir itu atas kehendak Allah? Allah Maha Adil, Yang menghukum
manusia atas hasil pilihaan manusia itu sendiri. Manusia harus
mempertanggung-jawabkan hasil pilihannya itu kepada Maaliki Yawmi dDien,
Pemilik Hari Keadilan. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 26 Juli 1992
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
*******************************************************************


----- Original Message -----
From: "MANGUCUP" <mangucup-nI4mw7d/IixmR6Xm/wNWPw@xxxxxxxxxxxxxxxx>
To: <zamanku-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>;
<mayapadaprana-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>;
<proletar-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Sent: Saturday, February 24, 2007 23:35
Subject: [Mayapada Prana] Loe bisa ke Sorga Only by Hokie !


Hampir semua agama sebenarnya secara langsung atau tidak langsung telah
mengakui, bahwa orang masuk sorga itu bukannya berdasarkan pahala, kelakuan
baik atau apapun namanya melainkan hanya berdasarkan “Hokie” ato dalam
bahasa Londonya “Pure Luck”.

Masalahnya sebelum kita dilahirkan, setiap manusia sudah ditentukan terlebih
dahulu apakah ia akan jadi pemeran Wong Ireng ato Wong Putih, apakah ia akan
menjadi WN Sorga ataukah WN Neraka ! Kalho hokie loe gede, otomatis terpilih
jadi calon WN Surgawi.

Kita manusia dilahirkan sebenarnya mirip seperti pemain sandiwara. Kita
boleh akting di panggung selama beberapa puluh tahun setelah itu kudu masuk
kotak lagi baca Liang Lahat. Sedangkan story board ato jalan ceritanya udah
ditulis sebelumnya oleh Sang Dalang Agung seperti film sinetron begitu.

Di pelem manapun juga selalu ada pemeran wong jahat dan wong baik. Untuk
mengetahui peran apa yang kudu loe mainkan ? Ini bisa dilihat sendiri dari
jalan hidup loe dimasa lampau sampai sekarang. Dalam bahasa kaum agamis
story board kita ini disebut suratan hidup atau Takdir.

Anda langsung lari terbirit-birit apabila mendengar bunyi Azan. Tidak pernah
lupa berdoa, berkali-kali sehari, bahkan iklhas menderita sebulan penuh pada
saat bln puasa, tetapi tanyalah sama diri sendiri untuk apa semuanya ini ???
Toh nasib hidup anda telah ditentukan sebelumnya. Ayat tersebut dibawah ini
membuktikan, bahwa jalan hidup anda dari awal s/d akhir telah dipateri di
dalam kitab kehidupan (story board) yang telah ditulis oleh Sang Dalang
Agung ! Kalho nasib loe baik ato banyak hokie; pasti masuk sorga, tapi kalho
lhoe apes; ya wis n’rimo azah untuk dipanggang jadi sate di api neraka. Dan
jangan harap loe bisa merobahnya entah itu melalui doa maupun melalui puasa.


Maklum Allah itu tidak mengenal Tip-ex maupun karet penghapus. Lagi pula
Allah itu benar adanya; jadi Ia tidak pernah membuat kesalahan, sehingga apa
yang telah ditetapkan oleh-Nya kekal adanya dan berlaku terus, tanpa ada
satu manusia pun yang akan bisa mengoreksinya ataupun menambahkan dengan
titik ataupun koma lagi. Amin

Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah
menetapkannya" [Al-Furqaan : 2] Sesungguhnya itu semua telah ada dalam
kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah" [Al-Hajj : 70] Allah
menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat" [As-Safat : 96]

Apakah umat Kristen beda ? Tidak, mereka juga percaya akan adanya takdir
dalam bahasa Latin disebut “Praedestinatio” dalam bahasa Indonesia disebut
Predestinasi. Pre = sebelumnya Destinasi = tujuan. Jadi tujuan hidup loe itu
telah ditentukan sebelumnya apakah ke arah Sorga ato ke Neraka !

Ajaran atau kepercayaan ini telah dikenal dan diketahui ratusan tahun
sebelumnya oleh Santo Agustinus dari Hipo (354 – 430). Kepercayaan ini bukan
hanya sekedar dianut oleh umat Katolik saja melainkan juga oleh mbahnya umat
Protestan; Yohannes Calvin. Ajaran Calvin ini lebih dikenal dengan ajaran
predestinasi ganda, sebab hanya ada dua pilihan saja Black Or White seperti
juga lagunya si Mikel Jekson. Dan yang menentukan semuanya ini adalah Sang
Dalang Agung jadi bukannya loe.

Loe boleh dicuci dan di bilas (dipermandikan) ratusan kali, kalho kulit loe
udah dari sononya ireng tetap azah ireng. Begitu juga dengan takdir kalho
udah ditakdirkan Go To Hell jangan harap loe bisa jadi putih lagi. Di dunia
kita kenal dengan sistem aturan pemutihan tetapi di sorga itu ora ono Mas !

Ah moso sih, manusia sudah ditakdirkan sebelumnya masuk neraka ? Kagak
percaya lihat tuh si Yudas, ratusan tahun sebelumnya ia dilahirkan ia telah
ditakdirkan (predestinasi), bakalan dipilih jadi lurahnya di Neraka. Dari
awal mula ia telah diberikan peran sebagai sang penghianat, ia memainkan
perannya sedemikian hebatnya; sampai Mell Gibson azah mencoba ingin
mengulangnya lagi dalam filmnya The Passion.

Itu adalah salah satu contoh pemeran takdir terbaik sepanjang masa yang bisa
dijadikan panutan bagi semua umat Kristen. Ialah nerimo azah peran yang
telah diberikan oleh Sang Dalang kepada kita.

Kagak percaya buka tuh Alkitab: Yoh 17:12 .dia yang telah ditentukan
(ditakdirkan) untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

Tuhan Yesus sendiri mengetahui peran yang harus dimainkan oleh Yudas,
sehingga Ia tidak menghalanginya, bahkan menganjurkannya: “Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera!" (Yoh 13:27)

Maka dari itu kalho loe udah disuru memainkan peran sebagai koruptor,
lakukanlah terus, sebab percuma azah loe tobat juga, udah kepalang basah dan
kotor. Maklum udah dari sononya loe ditakdirkan jadi koruptor.

Begitu juga dengan mang Ucup yang sudah dari sononya ditakdirkan jadi
jai-hwa-cat atau sipemetik daun muda, percuma robah juga. Lebih baik
nikmatilah hidup ini sesuai dengan takdir yang telah ditentukan. Lupakan
segala macam ajaran agama, rumah ibadah maupun segala macam pantangan. Minum
dan maboklah setiap hari, makanlah makanan haram seabreg-abgreg, sebab
daging babi itu enak lho, kagak percaya try it !

Sedangkan kebalikannya mereka yang termasuk wong hokie sudah tercantum dalam
Alkitab: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga
ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya,
supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (Roma
8:29)

Terjemahan dalam bahasa Londonya: “For whom He foreknew, He also predestined
[to be] conformed to the image of His Son, that He might be the firstborn
among many brethren. (Roma 8:29 NKJV)

Sedangkan dalam agama Buddha, takdir ini disebut “Kamma” atau Karma, kalho
karma loe udah buruk jangan harap loe bisa rubah lagi di dalam kehidupan
sekarang ini. Sedangkan orang Tionghoa menyebut predestinasi atau takdir ini
dengan kata “Yuanfen”.

Jadi tidaklah salah apa yang man Ucup tulis dibawah ini:
“Loe bisa masuk sorga bukannya - By Grace but By Hokie !”

Mang Ucup – The Drunken Priest
Email: mang.ucup-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx
Homepage: www.mangucup.net

--
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.432 / Virus Database: 268.15.24/592 - Release Date: 18-12-2006
13:45

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com


Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba

Mayapada Prana Links:
<*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere
http://www.kryon.com/

<*> Yoga Leaf Bandung
http://www.yogaleaf.com/

<*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination
http://www.spiritual-endeavors.org/


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise