logo       

Balasan: Info2 dari Bu Tatik dijadikan buku saja: msg#00351

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Balasan: Info2 dari Bu Tatik dijadikan buku saja


GHIBAH (MENGGUNJING)

Al-Faqih menuturkan dari Muhammad bin Al-Fadhl, dari
Muhammad bin Ja'far, dari Ibrahim bin Yusuf, dari
Ismail bin Ja'far, dari Al-A'la bin Abdurrahman, dari
ayahnya, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi Saw.
bertanya kepada para sahabatnya:

"Tahukah kamu, apakah menggunjing itu? Para sahabat
menjawab, Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'
Beliau bersabda, 'Apabila kamu menyebut saudaramu
dengan apa yang tidak ia sukai, maka berarti kamu
menggunjingnya.' Lain (beliau) ditanya, 'Bagaimana
Pendapatmu jika pada diri seseorang itu terdapat apa
yang saya katakan?' Beliau menjawab, 'Jika padanya
terdapat apa yang kami katakan, maka berarti kamu
menggunjing, dan jika padanya tidak terdapat apa yang
kamu katakan, maka berarti kamu menuduh yang
bukan-bukan.'"

Al-Faqih menuturkan dari Muhammad bin Al-Fadhl dari
Muhammad bin Ja'far, dari Ibrahim bin Yusuf, dari
Yahya bin Sulaim, dari Salman Al-Qadhi, dari Muhammad
bin Al-Fudhail Al-Abid, dari Ibnu Abi Najih, ia
berkata:

"Kami mendapatkan informasi bahwa ada seorang
perempuan pendek datang kepada Nabi Saw. Setelah ia
keluar, Aisyah r.a. berkata, 'Alangkah pendeknya orang
itu.' Nabi Saw. lalu bersabda, 'Kamu telah
menggunjingnya.' Aisyah berkata, 'Aku tidak mengatakan
apa padanya.' Beliau bersabda, 'Kamu telah menyebutkan
apa yang paling jelek yang ada padanya.'"

Al-Faqih menuturkan dari Muhammad bin Al-Fadhl, dari
Muhammad bin Ja'far, dari Ibrahim, dari Abdul Wahhab
bin Atha', dari Abu Muhammad Al-Jammani, dari Abu
Harun Al-Abdi, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., bahwa
Nabi Saw. bersabda:

"Pada malam aku dinaikkan ke langit (malam Isra' dan
Mi'raj) aku melewati suatu kaum yang dipotong daging
pinggangnya kemudian dimakankan kepadanya, lantas
diucapkan kepada mereka, 'Makanlah daging saudaramu
yang dahulu kamu makan.' Aku bertanya, 'Wahai fibril,
siapakah mereka itu?' Jibril menjawab, 'Mereka itu
adalah umatmu yang suka mengumpat dan mencela.'
Maksudnya orang-orang yang suka menggunjing."

Al-Faqih mengatakan bahwa ayahnya bercerita:


"Nabi Saw. berada di rumah, sementara sahabat-sahabat
ahli shuffah berada di mesjid, dan Zaid bin Tsabit
menceritakan kepada mereka hadis-hadis yang dia dengar
dari Nabi Saw. (Saat itu) Nabi Saw. diantari daging,
lantas mereka berkata kepada Zaid bin Tsabit,
'Masuklah ke rumah Nabi Saw. dan katakan bahwa kami
sudah lama tidak makan daging, agar beliau memberikan
sebagian daging itu kepada kami.' Ketika Zaid bin
Tsabit bangkit dari tengah-tengah mereka, mereka
mengatakan tentang apa yang ingin mereka katakan
yaitu: 'Zaid bertemu dengan Nabi Saw. seperti halnya
kami bertemu dengan beliau (maksudnya tidak ada yang
istimewa pada diri Zaid), tetapi kenapa dia duduk dan
mengajarkan hadis kepada kami?' Ketika Zaid menemui
Nabi Saw.dan menyampaikan pesan (dari ahli shuffah)
itu, Nabi Saw. bersabda (kepada Zaid), 'Katakan kepada
mereka (bahwa) saat mi mereka sedang makan daging.'
Maka Zaid kembali menemui mereka dan memberitahukan
hal itu, mereka lalu berkata, 'Demi Allah, sudah
sekian lama kami tidak makan daging.' Zaid kembali
menemui beliau dan memberitahukan hal itu kepada
mereka, 'Kamu baru saja makan daging saudaramu dan
bekas daging itu masih berada di gigi-gigimu itu, maka
meludahlah supaya kamu dapat melihat merahnya daging
itu.' Kemudian mereka meludah darah, lalu mereka
bertobat, mohon ampun dari perbuatannya itu dan minta
maaf kepada Zaid.'"

Jabir bin Abdullah r.a. meriwayatkan, bahwa pada masa
Nabi Saw. ada bau busuk yang terbawa angin, kemudian
beliau bersabda:

"Sesungguhnya ada orang-orang munafik yang menggunjing
orang-orang muslim, sehingga angin yang berbau busuk
ini bertiup."

Ketika ditanyakan kepada salah seorang hukama',
'"Kenapa bau busuknya menggunjing pada masa Rasulullah
Saw. Tercium dengan jelas, tetapi saat ini tidak
tercium lagi?" Dia menjawab, "Karena saat ini begitu
banyak orang yang menggunjing, sehingga hidung kita
tidak mampu lagi mencium bau busuknya menggunjing.
Sama halnya dengan orang yang baru pertama kali masuk
ke tempat tukang samak, maka ia tidak akan bias tahan
lama karena tajamnya bau busuk itu bagi hidungnya.
Namun tukang samaknya sendiri tidak merasakan bau
apa-apa, karena hidung mereka sudah penuh dengan bau
itu. Demikian pula dengan masalah menggunjing yang
saat ini sudah merajalela."

Asbath meriwayatkan dari As-Suddi, ia berkata:


"Salman Al-Farisi beserta orang-orang, termasuk Umar
r.a., sedang dalam perjalanan, kemudian mereka
berhenti dan mendirikan tenda serta mempersiapkan
makanan. Ketika Salman tidur sementara orang berkata,
'Apa maksud orang ini hanya mau datang ke tenda yang
telah didirikan dan makanan yang telah dihidangkan?'
Kemudian setelah itu mereka berkata kepada Salman,
'Pergilah kepada Nabi Saw. lalu mintakan lauk pauk
kepada beliau.' Salman lantas pergi kepada Nabi Saw.
Dan menyampaikan hal itu, kemudian Nabi Saw. bersabda,
'Beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka sudah makan
lauk pauk.' Salman pun memberitahukan hal itu kepada
mereka. Mereka berkata, "Kami sama sekali belum
makan.' Salman berkata, 'Nabi Saw. tidak mungkin
bohong kepada kamu, maka datanglah kamu kepada
beliau.' Kemudian Nabi Saw. bersabda kepada mereka,
'Kamu telah memakan lauk pauk dari saudaramu ketika
kamu mengatakan sesuatu saat saudaramu (Salman) sedang
tidur.' .Kemudian beliau membacakan ayat (QS.
Al-Hujurat: 12) yang artinya: 'Wahai orang-orang yang
beriman, jauhilah banyak berprasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik
kepadanya.'"

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., tentang turunnya
ayat di atas, ia menjelaskan, "Ayat itu turun
berkenaan dengan dua orang sahabat Nabi Saw. Pada
waktu itu beliau menetapkan bahwa dalam bepergian
setiap dua orang kaya dititipi seorang sahabat yang
miskin, agar dia bisa makan dan membantu segala
keperluan keduanya. Salman diikutkan kepada kedua
temannya itu, lantas keduanya berkata kepada Salman,
'Pergilah kepada Nabi Saw. dan mintakan sisa-sisa
lauk-pauk kepada beliau.' Kemudian ia pergi dan
sewaktu ia sedang pergi salah seorang di antara
keduanya itu berkata kepada temannya, 'Seandainya ia
pergi ke sumur, niscaya air sumur itu akan berkurang.'
Ketika sampai di hadapan Nabi Saw. Salman menyampaikan
pesan kedua temannya lalu Nabi Saw. bersabda, 'Katakan
kepada kedua temanmu itu bahwa keduanya telah memakan
lauk pauk.' Salman lantas kembali kepada kedua
temannya dan memberitahukan hal itu. Keduanya lantas
datang kepada Nabi Saw. dan berkata, 'Kami tidak
memakan lauk pauk.' Beliau bersabda, 'Aku melihat
merahnya daging pada mulut kalian.' Kedua orang itu
berkata, 'Kami tidak mempunyai lauk pauk apa pun dan
kami tidak makan daging hari ini.' Kemudian beliau
bersabda, 'Sesungguhnya kamu baru saja menggunjing
saudaramu.' Beliau lantas bertanya, 'Sukakah kamu
makan daging saudaramu?' Keduanya menjawab, 'Tidak.'
Beliau bersabda kepada keduanya, 'Jika kamu tidak suka
makan daging saudaramu, maka jangan menggunjing,
karena seseorang yang menggunjing saudaranya itu
berarti makan daging saudaranya.'" Kemudian turunlah
ayat:



"Dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian
yang lain." (QS. Al-Hujurat: 12)

Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, bahwa ada seseorang
yang berkata, "Sesungguhnya si Fulan telah menggunjing
kamu." Kemudian ia mengirimkan setalam kurma ruthab
orang yang menggunjingnya seraya berkata, "Aku
mendengar bahwa kamu memberikan kebaikanmu kepadaku,
maka kini aku bermaksud untuk membalasnya. Namun aku
tidak bisa membalas dengan hal yang sama dan aku hanya
bisa memberikan kurma ini."

Diceritakan dari Ibrahim bin Ad-ham bahwa ia
mengundang orang-orang untuk pesta. Setelah mereka
duduk di depan hidangan yang disediakan, mereka
menggunjing seseorang. Ibrahim lantas berkata,
"Orang-orang sebelum kita biasanya makan roti dulu
sebelum makan daging, tetapi kalian makan daging dulu
sebelum makan roti."

Diceritakan dari Abu Umamah Al-Bahili, ia berkata,
"Kelak pada hari kiamat, ada seseorang yang diberi
catatan amal melihat bahwa di dalam catatan amalnya
tertulis banyak kebaikan yang tidak pernah ia
kerjakan. la lantas bertanya kepada Allah, "Ya
Tuhanku, dari mana amal-amal kebaikan ini?" Allah
menjawab, "Itu adalah akibat gunjingan orang,
sementara kamu sendiri tidak merasakan."

Diceritakan dari Ibrahim bin Ad-ham, ia berkata,
"Wahai orang yang suka berdusta, kamu kikir dengan
kekayaanmu terhadap teman-temanmu, tetapi murah hati
dengan akhiratmu terhadap musuh-musuhmu. Kamu tidak
akan beruntung dengan kemurahanmu dan tidak akan
terpuji karena ketidak kikiranmu itu."

Diriwayatkan dari salah seorang hukama', ia berkata,
"Menggunjing adalah makanan kecil bagi para qari',
jamuan orang-orang fasik, kesenangan perempuan, lauk
pauk anjing-anjing manusia, dan WC orang-orang yang
bertakwa." Anas bin Malik r.a. meriwayatkan dari
Rasulullah Saw.,beliau bersabda:



"Ada empat macam pekerjaan yang membatalkan puasa dan
wudu serta merusak (menghapus pahala) amal, yaitu:
menggunjing, berdusta, mengadu domba, dan melihat
keindahan wanita yang tidak halal baginya. Keempat hal
itu menyuburkan bibit-bibit kejahatan sebagaimana air
menyuburkan bibit-bibit tanaman, dan meminum minuman
keras melebihi dosa-dosa itu."

Ka'bul Ahbar berkata, "Aku membaca pada kitab
nabi-nabi terdahulu bahwa orang yang mati dan baru
saja bertobat dari menggunjing adalah orang yang
paling akhir masuk surga, sedang orang yang
menggunjing dan tidak bertobat sampai mati, maka ia
adalah orang yang pertama kali masuk neraka."

Diceriterakan dari Nabi Isa bin Maryam, bahwa ia
bertanya kepada sahabatnya, " Bagaimana pendapatmu,
seandainya kamu melihat ada orang yang sedang tidur
lalu auratnya terbuka karena ada angin yang menyibak
pakaiannya, apakah kamu akan menutupinya?" Para
sahabat menjawab, "Tentu, kami akan menutupinya."
Beliau bersabda, "Tetapi kamu justru akan membuka
bagian yang belum terbuka." Mereka menjawab,
"Subbhanallah, bagaimana mungkin kami akan membuka
pakaian yang belum terbuka?" Beliau bersabda,
"Bukankah jika seseorang menyebutkan kejelelekan orang
lain, maka kamu akan membukakan aibnya yang lain?"

Khalid Ar-Rab'i berkata, "Sewaktu saya masuk mesjid
jami' ada sekelompok orang yang sedang membicarakan
kejelekan orang lain, lalu saya melarang mereka, dan
mereka pun berhenti. Tidak lama kemudian mereka
membicarakan kesalahan orang
yang lain lagi, dan saya ikut terlibat dalam
pembicaraan itu. Malam harinya saya mimpi seolah-olah
ada orang hitam dan tinggi mendatangi saya dengan
pinggan yang berisi daging babi seraya berkata,
'Makanlah daging babi ini.' Saya jawab, "Demi Allah,
saya tidak mau memakan daging babi.' la lantas
membentak, "Kamu telah makan daging yang begitu jelek
dari pada daging babi ini.' Ia lalu rnemasukkan
tangannya ke mulut saya dan memaksa saya makan daging
babi itu, sampai saya terbangun dari tidur. Demi
Allah, selama tiga puluh sampai empat puluh hari,
setiap saya makan masih terasa bau busuknya daging
babi itu dari dalam mulut." Sufyan bin Al-Hushain
berkata, "Aku duduk bersama Ilyas bin Mu'awiyah, lalu
ada seorang berjalan dan aku menyebutkan kejelekannya.
Ilyas berkata kepadaku, 'Diam', lalu bertanya, 'Apakah
kamu pemah memerangi Romawi?' Aku menjawab, 'Tidak.'
ia berkata, 'Romawi dan Turki selamat dari gangguanmu,
namun saudaramu yang muslim tidak selamat dari
gangguanmu.' Sufyan lalu menyatakan bahwa setelah itu
ia tidak pemah lagi menyebut-nyebut kejelekan orang
lain."

Diriwayatkan dari Hatim Az-Zahiq, ia berkata, "Ada
tiga hal yang jika berada dalam suatu majelis maka
rahmat akan berpaling dari mereka, yaitu:
1.Menyebut-nyebut masalah kekayaan.
2.Tertawa terbahak-bahak.
3.Membicarakan kejelekan orang lain.

Yahya bin Mu'adz Ar-Razi berkata, "Agar kamu
mendapatkan bagian orang yang beriman, maka hendaknya
ada tiga perilaku yang harus kamu kerjakan, yaitu:
1.Jika tidak memberi manfaat kepada seseorang, maka
jangan sampai merugikannya.
2.Jika tidak dapat menyenangkan seseorang, maka jangan
sampai menyusahkannya.
3.Jika tidak dapat memuji seseorang, maka jangan
sampai mencelanya.

Diceritakan dari Mujahid, ia berkata, "Sesungguhnya
bagi setiap orang ada malaikat yang selalu
menyertainya. Apabila ia menyebutkan kebaikan orang
lain, maka malaikat itu berkata, 'Bagimu seperti apa
yang kamu sebutkan.' Dan jika ia menyebutkan kejelekan
orang lain, maka malaikat itu berkata, 'Wahai anak
Adam, kamu membukakan aibnya yang selama ini tertutup.
Lihatlah dirimu sendiri dan pujilah Allah yang telah
menutupi aibmu,

Diriwayatkan dari Ibrahim bin Ad-ham bahwa ia diundang
ke suatu jamuan makan, dan ketika ia duduk orang-orang
yang berada di situ berkata, 'Si Fulan belum datang."
Ada salah seorang di antara mereka menyahut, "la
payah." Ibrahim lalu berkata, "Hal semacam inilah yang
menjadikan perutku sakit, justru ketika sedang
menghadapi makanan, kamu menggunjing seorang muslim."
Kemudian Ibrahim pergi dan tidak bisa makan sampai
tiga hari.

Seorang hukama' berkata, "Jika kamu tidak mampu
mengerjakan tiga hal, maka jangan melakukan tiga hal
yang lain, yaitu:
1.Jika tidak dapat berbuat baik, maka jangan berbuat
jelek.
2.Jika tidak dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat
bagi orang lain, maka jangan melakukan sesuatu yang
merugikan orang lain.
3.Jika kamu tidak dapat berpuasa, maka jangan makan
daging manusia."

Diriwayatkan dari Wahb Al-Makki, ia berkata, "Jika aku
dapat meninggalkan menggunjing, maka itu lebih baik
bagiku daripada mendapat dunia dan seluruh isinya
sejak diciptakan sampai rusak, lalu aku gunakan untuk
sabilillaah. Jika aku dapat menahan mataku dari apa
yang diharamkan oleh Allah, maka itu lebih baik bagiku
daripada mendapat dunia dan seluruh isinya sejak
diciptakan sampai rusak, lalu aku gunakan untuk
sabililaah." Kemudian ia membaca ayat:

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang
lain."(QS.Al-Hujurat: 12)

Dan ayat:



"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,
'Hendaknya mereka menahan pandangannya.'" (QS. An-Nur:
30)

Al-Faqih berkata, "Orang-orang yang membicarakan tobat
orang yang menggunjing, apakah sah (diterima) jika
dilakukan tanpa minta maaf kepada orang yang
digunjingnnya? Sebagian di antara mereka mengatakan
bahwa tobat itu tidak sah sebelum minta maaf kepada
orang yang bersangkutan. Menurut pandangan kami, dalam
masalah ini ada dua hal, yaitu jika yang digunjingkan
telah terdengar oleh orang yang bersangkutan, maka
tobat yang menggunjing itu harus disertai dengan
permintaan maaf atau minta dihalalkan kepada orang
yang digunjing. Sedangkan jika yang digunjingkan itu
tidak sampai terdengar oleh orang yang bersangkutan,
maka cukup memohon ampun kepada Allah Ta'ala dan
berjanji di dalam hati untuk tidak mengulanginya
lagi."

Diriwayatkan bahwa ada seseorang datang kepada Ibnu
Sirin lantas berkata, "Saya pernah menggunjing kamu,
maafkanlah atau halalkanlah saya." Kemudian Ibnu Sirin
berkata, bagaimana saya menghalalkan apa yang telah
diharamkan oleh Allah?' Seolah-olah ia mengisyaratkan
agar orang itu mohon ampun dan bertobat kepada Alah
Ta'ala di samping minta halal (maaf) kepada orang yang
digunjing. Apabila gunjingan itu belum didengar oleh
orang yang digunjing, maka cukup dengan mohon ampun
dan bertobat kepada Allah Ta'ala serta tidak usah
memberitahu kepada yang digunjing, agar hatinya tidak
gelisah.

Apabila seseorang mengucapkan suatu kebohongan atau
gunjingan yang tidak ada buktinya, maka tobatnya
memerlukan adanya tiga persyaratan, yaitu:
1.la harus mendatangi orang-orang yang diberitahu
tentang kebohongan itu, lalu mengatakan, "Saya telah
menceritakan kepada kalian mengenai Fulan yang begird
dan begitu. Perlu kalian ketahui, bahwa apa yang
saya-katakan itu tidak benar."
2.Harus datang kepada orang yang digunjing untuk minta
maaf atau minta halal darinya.
3.Mohon ampun dan bertobat kepada Allah Ta'ala, karena
sesungguhnya menggunjing yang tanpa bukti itu adalah
suatu dosa besar.

Perlu diketahui, bahwa dosa-dosa yang lain hanya
memerlukan satu kali tobat saja, namun gunjingan yang
tidak ada buktinya memerlukan tiga persyaratan seperti
tersebut di atas. Allah bahkan menggandengkan masalah
gunjingan yang tiada bukti ini dengan kekufuran,
sebagaimana firman-Nya:

"Jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan
jauhilah perkataan-perkafaan dusta." (QS. Al-Hajj: 30)

Gunjingan itu baru benar-benar dikatakan gunjingan
jika orang yang dimaksud disebutkan. Karenanya
seandainya seseorang mengatakan, bahwa penduduk negeri
itu bakhil atau bangsa yang jelek, maka ucapan seperti
itu tidak termasuk gunjingan, karena di negeri itu ada
orang yang baik dan orang yang jahat. Namun demikian,
alangkah baiknya seseorang tidakmengucapkan perkataan
seperti itu.

Diceritakan bahwa ada seorang zahid membelikan kapuk
untuk isterinya, lalu isterinya berkata, "Sesungguhnya
penjual-penjual kapuk itu adalah orang-orang jahat
yang pernah menghianati kamu dalam masalah kapuk ini."
Kemudian si zahid tadi menceraikan istrinya. Ketika
ditanya kenapa ia berbuat seperti itu, si zahid
menjawab, "Sesungguhnya aku ini laki-laki yang sangat
cemburu, saya khawatir kelak di hari kiamat
penjual-penjual kapuk itu menuntut isteriku, di mana
mereka akan berkata, 'Sesungguhnya istri Fulan itu
dituntut oleh penjual-penjual kapuk.' Oleh karena
itulah aku menceraikan isteriku itu."

Ada tiga gunjingan yang tidak dianggap gunjingan,
yaitu: menggunjing penguasa yang jahat, menggunjing
orang fasik yang suka berbuat maksiat di depan umum,
dan menggunjing orang yang melakukan bid'ah jika yang
disebutkan itu perbuatan dan mazhabnya, namun jika
yang disebutkan itu cacat tubuhnya, maka itu termasuk
menggunjing.

Menggunjing itu bisa termasuk ke dalam empat macam
perbuatan, yaitu:
1.Perbuatan kufur.
2.Perbuatan nifak.
3.Perbuatan maksiat.
4.Perbuatan mubah yang justru mendatangkan pahala.

Menggunjing yang merupakan perbuatan kufur adalah
apabila ada seseorang menggunjing saudaranya sesama
muslim lalu diperingatkan, "Jangan menggunjing tetapi
ia malah menjawab, "Ini bukan menggunjing, saya
berkata apa adanya." Sikap seperti itu berarti ia
telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh
Allah Ta'ala, dan barangsiapa yang menghalalkan apa
yang diharamkan oleh-Nya, maka ia menjadi kafir.

Menggunjing yang merupakan perbuatan nifak adalah
apabila seseorang menggunjing orang lain tanpa
menyebutkan namanya, padahal sebenarnya yang diajak
bicara mengetahui orang yang dimaksud, dengan merasa
bahwa diri orang yang menggunjing baik dan bersih.
Sikap seperti ini menyebabkan ia menjadi orang
munafik.

Menggunjing yang merupakan perbuatan maksiat adalah
apabila seseorang menggunjing orang lain dengan
menyebutkan namanya dan memang orang yang digunjing
itu berbuat maksiat seperti yang ia katakan. Perbuatan
semacam itu termasuk perbuatan maksiat dan orang yang
menggunjing itu harus segera bertobat.

Sedangkan menggunjing yang merupakan perbuatan mubah
yang justru mendatangkan pahala adalah menggunjing
orang fasik atau orang yang mengerjakan bid'ah yang
perbuatannya diketahui umum dengan maksud agar
perbuatan maksiat atau' bid'ah-nya itu dijauhi orang
banyak. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw.:

"Sebutkanlah apa yang dikerjakan oleh orang jahat agar
orang-orang menjauhinya."

Al-Faqih mengatakan, ayahnya menceritakan bahwa para
nabi yang tidak menjadi rasul itu ada yang menerima
wahyu dalam impian dan ada yang menerima wahyu hanya
dengan mendengar suara tanpa melihat apa-apa. Ada
seorang nabi yang pada suatu malam bermimpi
diperintah, "Besok pagi, apa yang kamu jumpai pertama
kali makanlah, yang kedua kali, sembunyikanlah, yang
ketiga kali, terimalah (lindungilah), yang keempat
kali, jangan memutuskan harapan, dan yang kelima kali,
larilah darinya." Keesokan harinya, yang pertama kali
ia jumpai adalah bukit hitam besar. la berhenti dan
bingun, seraya berkata, "Aku diperintah Tuhanku untuk
makan gunung ini." Kemudian ia sadar bahwa Tuhan tidak
memerintahkan sesuatu yang mustahil dan tidak dapat
dilakukan. la pun berjalan menuju bukit itu untuk
memakannya. Ketika ia mendekat bukit itu tiba-tiba
mengecil hingga tinggal sebesar satu suap dan rasanya
lebih manis daripada madu. Maka ia pun memakannya dan
memuji kepada Allah Ta'ala. la melanjutkan perjalanan
hingga menjumpai bejana dari emas dan ia teringat
bahwa ia harus menyembunyikannya. Karenanya ia pun
menggali tanah dan mengubur bejana emas itu. Kemudian
ia meninggalkan tempat itu, dan ketika menoleh ke
belakang, ia melihat bejana itu muncul lagi ke
permukaan, sehingga ia kembali dan memendam bejana
itu. Namun ketika ditinggalkan dan ditoleh lagi,
temyata bejana itu muncul lagi, kemudian ia berkata,
"Aku telah melaksanakan apa yang diperintahkan
kepadaku." la lalu pergi meninggalkan tempat itu dan
menjumpai seekor burung yang dikejar oleh elang.
Burung itu berkata, "Ya nabi Allah, tolonglah aku."
Maka nabi pun menangkap burung itu dan memasukkannya
ke dalam saku bajunya. Lalu elang itu datang dan
berkata, "Wahai nabi Allah, saya lapar dan saya sudah
mencari mangsa sejak pagi. Saya bermaksud menangkap
burung itu, maka engkau jangan memutuskan harapanku
untuk memperoleh rezeki." Nabi ingat bahwa ia
diperintahkan untuk melindungi apa yang dijumpai pada
kesempatan yang ketiga (yakni burung) dan
diperintahkan untuk tidak memutus harapan apa yang
dijumpai pada kesempatan yang keempat (yakni elang).
la bingung sejenak untuk menentukan sikap. Kemudian ia
mengambil pisau dan memotong sedikit daging pahanya
sendiri lalu dilemparkan kepada elang, sehingga elang
itu terbang meninggalkannya, sementara burung yang ia
lindungi juga ia lepaskan. la melanjutkan perjalanan,
lalu melihat bangkai yang berbau busuk, maka ia lari
darinya. Malam harinya, ia berdoa, "Wahai Tuhanku, aku
telah mengerjakan apa yang Engkau perintahkan, maka
jelaskan kepadaku apa yang aku alami tadi." la lalu
tidur dan di dalam tidumya iabermimpi, di mana
dikatakan kepadanya, "Yang pertama dan kamu makan
adalah amarah, yang pada mulanya kelihatan besar
seperti gunung namun pada akhirnya jika kamu sabar dan
menahannya, maka akan lebih manis daripada madu. Yang
kedua adalah amal saleh, yang walupun disembunyikan,
tapi tetap akan selalu tampak. Yang ketiga adalah bila
ada orang yang meminta sesuatu kepadamu, maka usahakan
dengan sungguh-sungguh untuk memberinya, meskipun kamu
sendiri membutuhkannya. Yang kelima adalah gunjingan,
maka larilah kamu dari orang-orang yang menggunjing
orang lain."



ADU DOMBA (FITNAH)

Al-Faqih menuturkan dari Al-Khalil bin Ahmad, dari Abu
Ja'far Ad-Dabili, dari Abu Abdillah, dari Sufyan, dari
Manshur, dari Ibrahim bin Hamman bin Al-Harts, dari
Hudzaifah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

"Orang yang su1w mengadu domba tidak akan masuk
surga."

Al-Faqih menuturkan dari Al-Khalil bin Ahmad, dari Abu
Ja'far Ad-Dabili, dari Abu Abdillah, dari Sufyan, dari
Abul Wadak dan Al-A'raj, dari Abu Hurairah r.a., bahwa
Rasulullah Saw. bersabda:

"Tahukah kamu, siapakah orang yang paling jahat di
antara sekalian? Para sahabat menjawab, 'Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Orang
yang paling jahat di antara kalian adalah orang yang
mempunyai dua muka: la datang ke suatu kelompok dengan
muka yang satu dan (datang) ke kelompok yang lain
dengan muka yang lain.'"

Al-Faqih menuturkan dari Muhammad bin Al-Fadhl, dari
Muhammad bin Ja'far, dari Ibrahim bin Yusuf, dari Abu
Mua'wiyah, dari Al-A'masy, dari Mujahid, dari Thawus,
dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata:

"Nabi Saw. berjalan melewati dua kubur yang masih
baru, lantas beliau bersabda, 'Sesungguhnya keduanya
sedang disiksa dan keduanya itu disiksa bukan karena
masalah (yang kelihatannya) besar. Salah seorang di
antara keduanya itu tidak bersih (sewaktu bersuci)
dari kencingnya dan yang lainnya biasa pergi ke sana
kemari untuk mengadu domba.' Kemudian beliau mengambil
dahan pohon yang hijau lalu dibelah menjadi dua dan
menancapkan pada masing-masing kubur itu satu belahan.
Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, kenapa
engkau melakukan hal ini?' Beliau bersabda, 'Semoga
Allah meringankan keduanya selama kedua dahan ini
belum kering.'"

Al-Faqih menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
'masalah (yang kelihatannya) besar' adalah masalah
yang biasanya dianggap remeh oleh manusia namun di
hadapan Allah dianggap besar. Karena di akhirat tidak
ada tempat selain surga dan neraka, maka jika
dinyatakan tidak akan masuk surga, berarti tempatnya
tidak lain adalah neraka. Oleh karena itu, orang yang
suka mengadu domba atau membuat fitnah harus
segera bertobat kepada Allah Ta'ala, karena orang yang
suka mengadu domba itu hina sewaktu hidup di dunia,
mendapatkan siksaan kubur setelah man, berada di
neraka pada hari kiamat, serta ia tidak bisa
mengharapkan ampunan dari Allah. Sedangkan jika ia mau
bertobat sebelum mati, maka Allah akan menerima
tobatnya.

Al-Hasan meriwayatkan dari Rasulullah Saw., bahwa
beliau bersabda:

"Termasuk orang-orang jahat adalah orang yang
mempunyai dua muka, di mana ia datang ke suatu
kelompok dengan muka yang satu dan (datang) ke
kelompok yang lain dengan muka yang lain. Dan
barangsiapa yang mempunyai lidah dua di dunia, maka
nanti pada hari kiamat Allah akan memberinya dua lidah
dari api."

Diriwayatkan dari Qatadah, bahwa ia berkata, "Termasuk
hamba yang paling jahat adalah orang yang suka
menghina, mencaci maki, dan mengadu domba."

Diceritakan, bahwa siksa kubur itu disebabkan karena
tiga bagian, sebagian karena menggunjing, sebagian
karena kendng (yang tidak bersih sewaktu bersuci), dan
sebagian lagi karena mengadu domba.

Diriwayatkan dari Hammad bin Salamah, ia berkata, "Ada
seseorang menjual budak dan berkata kepada orang yang
mau membelinya, 'Budak ini baik, tidak ada cacamya,
hanya saja ia suka mengadu domba.' Orang yang akan
membeli itu menganggap ringan masalah itu, sehingga ia
pun langsung membelinya. Setelah beberapa hari berada
di rumah majikannya, budak itu berkata kepada istri
majikannya, 'Suami tuan putri sudah tidak mencintai
tuan putri dan beliau ingin kawin lagi, maka apakah
tuan putri ingin agar beliau tetap menyayangi tuan
putri?' Istri majikan itu menjawab, 'Ya.' Budak itu
lalu berkata, 'Ambillah pisau cukur untuk mencukur
jenggot suami tuan bagian dalam (yang di leher) bila
suami tuan sedang tidur.' Kemudian budak itu
mendatangi majikannya (yang laki-laki) dan berkata,
'Istri tuan main serong dengan laki-laki lain dan
bermaksud untuk membunuh tuan. Apakah tuan ingin
membuktikannya?' Majikan itu berkata, 'Ya.' Si budak
itu lalu berkata, 'Cobalah pura-pura tidur.' Ketika
saran itu dilaksanakan, tidak lama kemudian istrinya
datang membawa pisau cukur dengan maksud hendak
mencukur jenggot suaminya. Akan tetapi suaminya
mengira bahwa istrinya bermaksud hendak membuhuhnya,
maka ia merebut pisau dari.tangan istrinya lalu ia
bunuh istrinya itu. Sanak keluarga istrinya ternyata
tidak terima dan datang serta membunuh si suami. Sanak
keluarga suami juga datang, sehingga terjadilah
pertengkaran di antara kedua belah pihak."

Yahya bin Aktsam berkata, "Orang yang suka mengadu
domba itu lebih jahat daripada tukang sihir. Orang
yang suka mengadu domba itu bisa melakukan suatu
pekerjaan dalam sesaat yang tidak bisa dilakukan oleh
tukang sihir dalam waktu satu bulan." Ada yang
mengatakan, "Perbuatan orang yang suka mengadu domba
itu lebih berbahaya daripada setan, karena perbuatan
setan hanya dengan khayalan dari bisik-bisik,
sedangkan perbuatan orang yang suka mengadu domba itu
langsung berhadap hadapan dan terang-terangan." Di
dalam menafsirkan ayat:

"Pembawa kayu bakar' (QS. Al-Lahab: 4)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud
dengan kayu bakar itu adalah adu domba atau fitnah.
Adu domba itu dinamakan kayu bakar, karena adu domba
dapat menyebabkan perrnusuhan dan perkelahian,
sehingga fungsinya sama dengan kayu bakar yang bisa
menyalakan api.

Aktsam bin Shaifi berkata, "Orang yang hina ada empat,
yaitu: Orang yang suka mengadu domba, orang yang suka
berdusta, orang yang berhutang, dan anak yatim."

Utbah bin Abu Lubabah meriwayatkan dari Abu Ubaidillah
Al-Quraisy, ia berkata, "Ada seseorang yang mengikuti
seseorang dengan berjalan 700 pos untuk menanyakan
tujuh masalah. Ketika orang itu sampai ke tujuan, ia
bertanya, 'Aku datang kepadamu karena engkau adalah
orang yang dikaruniai ilmu oleh Allah, maka
beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang lebih
berat daripada langit, yang lebih luas daripada bumi,
yang lebih keras daripada batu, yang lebih dingin
daripada zamharir (air yang dingin di neraka), yang
lebih dalam daripada lautan, dan sesuatu yang lebih
lemah daripada anak yatim" Dalam riwayat yang lain
disebutkan, "dan tentang sesuatu yang lebih berbahaya
daripada racun." Orang pandai yang ditanya itu
menjawab, "Menuduh orang yang tidak melakukan lebih
berat daripada langit, kebenaran lebih luas daripada
bumi, hati yang qana'ah (menerima apa adanya) itu
lebih dalam daripada lautan, rakus itu lebih panas
dari api, hajat kepada sanak kerabat jika tidak
dipenuhi lebih dingin daripada zamharir, hati orang
kafir itu lebih keras daripada batu, adu domba jika
diketahui pada orang yang melakukannya lebih lemah
(atau lebih hina) daripada anak yatim." Dalam riwayat
lain disebutkan, "Lebih berbahaya daripada racun,"
maksudnya dalam membinasakan orang yang melakukannya.

Diriwayatkan dari Nans dari Ibnu Umar r.a., dari
Rasulullah Saw., beliau bersabda:


"Ketika Allah Ta'ala menciptakan surga, Dia berfirman
kepada surga, 'Bicaralah kamu.' Surga itu berkata,
'Berbahagialah orang yang memasuki aku.' Allah Yang
Maha Perkasa, Maha Agung, dan Maha Tinggi lalu
berfirman, 'Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, ada
delapan kelompok manusia yang tidak akan tinggal di
dalam kamu, yaitu: Orang yang selalu meminum minuman
keras, orang yang senantiasa melakukan perbuatan zina,
orang yang mengadu domba, dayyuts (orang yang
membiarkan istrinya berbuat zina), polisi (yang
curang), laki-laki yang berlagak perempuan, orang yang
memutus tali persaudaran, dan orang yang bersumpah
dengan nama Allah akan melakukan sesuatu tapi kemudian
ia tidak menepati sumpahnya."

Diriwayatkan dari Hasan Al-Bashri, ia berkata, "Orang
yang menyampaikan apa yang dikatakan orang lain
kepadamu, niscaya ia juga akan menyampaikan apa yang
kamu katakan kepada orang lain."

Diceritakan dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ia
didatangi oleh seseorang lalu orang itu menceritakan
keadaan orang lain kepada Umar, maka Umar berkata
kepadanya, "Bila perlu aku akan menyelidiki kebenaran
ucapanmu dan jika kamu berdusta, maka kamu termasuk
dalam pengertian ayat:

"Apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita,
maka periksalah dengan teliti." (QS.Al-Hujurat:, 6)

dan jika kamu benar, maka kamu termasuk dalam
pengertian ayat

"Orang yang banyak mencela,yang kian kemari
menyebarkan fitnah,"(QS.Al-Qalam: 11)

Atau bila kamu kehendaki, maka kami akan memaafkan
kamu." Kemudian orang itu berkata, "Wahai amirul
mukminin, saya mohon maaf dan tidak akan mengulanginya
lagi."

Diriwayatkan dari Abdullah bin Al-Mubarak, ia berkata,
"Anak zina itu tidak bisa menyimpan pembicaraan dan
orang yang berkepribadian di tengah-tengah bangsanya
tidak akan menyakiti tetangganya." Maksudnya, orang
yang tidak bisa menyimpan pembicaraan orang, yang
berjalan kian kemari menceritakan pembicaraan orang,
maka ia sama dengan anak zina, karena seandainya tidak
ada anak zina, niscaya pembicaraan itu tidak akan
tersebar luas. Hal ini diambil dari maksud firman
Allah:


"Orang yang banyak mencela, yang kian kemari
menyebarkan fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan
baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang
kasar, dan selain dari itu, yang terkenal
kejahatannya." (QS. Al-Qalam: 11-13)

Diriwayatkan bahwa ada seorang yang bijaksana
didatangi salah seorang kawannya. Kemudian kawannya
itu menceritakan tentang keadaan kawan mereka, lantas
orang yang bijaksana itu berkata, "Kamu telah lama
tidak datang berkunjung dan sekarang kamu datang
membawa tiga kejelekan:
1.Kamu mengajak aku untuk membenci kawanku,
2.Kamu merisaukan pikiranku yang sedang tenang,
3.Kamu membuat aku menuduhmu berbohong."

Diriwayatkan dari Ka'bul Ahbar, ia berkata, "Pada
suatu saat Bani Israil mengalami kemarau panjang. Nabi
Musa mengajak Bani Israil untuk berdoa minta hujan
sampai tiga kali, namun tak kunjung hujan. Kemudian
Nabi Musa mengadu kepada Tuhan, 'Wahai Tuhanku,
hamba-hamba-Mu telah berdoa tiga kali, akan tetapi
Engkau tidak mengabulkan doa mereka.' Allah lalu
memberikan wahyu kepada Nabi Musa, Aku tidak
mengabulkan doamu dan orang-orang yang bersama kamu
karena di antara kamu ada seseorang yang suka mengadu
domba dan menggunjing ke sana kemari/ Nabi Musa
berkata, Siapakah dia, agar saya bisa mengusirnya dari
tengah kami.' Tuhan berfirman, Wahai Musa Aku melarang
kamu dari mengadu domba, maka bertobatlah kamu semua.'
Lalu mereka semua bertobat, dan hujan pun turun."

Diceritakan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik sedang
duduk. Di situ ada Az-Zuhri dan ada seseorang yang
datang kepadanya, lalu Sulaiman berkata, "Aku
mendengar bahwa kamu telah menceritakan kejelekanku
dengan mengatakan begini dan
begitu." Orang itu menjawab, "Saya tidak melakukan apa
yang engkau tuduhkan dan tidak mengatakan yang
demikian itu." Sulaiman berkata kepadanya, "Orang yang
memberitahukan kepadaku itu adalah orang jujur."
Kemudian Az-Zuhri berkata, "Orang yang suka mengadu
domba itu bukanlah orang jujur." Sulaiman berkata
kepada Az-Zuhri, "Kamu benar," dan berkata kepada
orang yang datang kepadanya itu, "Kamu boleh pergi."

Seorang cerdik pandai berkata, "Orang yang bercerita
kepadamu bahwa ada seseorang yang mencaci maki kamu,
makasesungguhnya dia sendiri yang suka mencaci maki,
bukan orang lain."

Wahb bin Munabih beikata, "Barangsiapa memuji kamu
dengan apa yang tidak ada padamu, maka kamu jangan
merasa aman dari celaan orang itu tentang dirimu
dengan apa yang tidak ada padamu."

Al-Faqih berkata, "Jika ada seseorang yang datang
kepadamu dan memberitahukan bahwa si Fulan
menjelek-jelekkan kamu dengan mengatakan begini dan
begitu, maka kamu harus menanggapinya dengan enam hal:

1.Jangan mempercayainya, karena dalam Islam, kesaksian
orang yang suka mengadu domba itu tidak bisa
diterima.Allah Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tempo. mengetahui keadaan yang
menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS.
Al-Hujurat: 6)

2.Kamu harus mencegah orang itu dari perbuatannya
mengadu domba, karena nahi mungkar itu wajib,
sebagaimana firman Allah:

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk
manusia menyuruh kepada yang ma'rufdan mencegah dari
yangmungkar"(QS. Ali Imran: 110)

3.Kamu harus membencinya karena Allah, karena ia telah
berbuat maksiat dan membenci orang yang berbuat
maksiat itu wajib karena Allah Ta'ala membencinya.

4.Jangan mempunyai prasangka yang tidak baik kepada
saudaramu yang difitnah, karena prasangka yang tidak
baik kepada sesama muslim itu haram. Allah Ta'ala
berfirman:



"Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa."
(QS. Al-Hujurat: 12)

5.Jangan mencari-cari kesalahan orang lain, karena
Allah Ta'ala melarang hal itu, sebagaimana firman-Nya:



"Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..."
(QS. Al-Hujurat: 12)

6.Apa yang tidak kamu senangi dari perbuatan mengadu
domba jangan sampai kamu lakukan, yakni jangan
memberitahu siapa pun tentang apa yang dikatakan orang
yang datang mengadu domba kepadamu itu."







________________________________________________________
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/


Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba

Mayapada Prana Links:
<*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere
http://www.kryon.com/

<*> Yoga Leaf Bandung
http://www.yogaleaf.com/

<*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination
http://www.spiritual-endeavors.org/


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise