|
Fwd: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( III ): msg#00144culture.religion.healer.mayapada
Lembaga Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: Date: Wed, 24 Jan 2007 09:57:07 -0800 (PST) From: Lembaga Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( III ) KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S BULEMBANGBU Oleh N. Syam. H SALEMBA - Hal: 28 - 36 Saatnya tiba, kami diperintahkan bersiap-siap untuk segera berangkat, meninggalkan kamp Budi Kemuliaan. Saat itu pagi hari, truk untuk mengangkut kami telah siap, tiga sampai empat truk parkir berderet. Berbondon
g kami keluar meninggalkan kamp, naik dan masuk ke atas bak truk, kami diperintahkan
duduk, tidak boleh berdiri. Perpindahan ini begitu mendadak, sehingga kami tak sempat memberitahu keluarga, tapi kami sendiri pun bingung, tak tahu kemana kami akan dipindahkan. Truk yang mengangkut kami mulai jalan, kami semua tidak tahu rute mana yang dilalui truk, tapi hanya selama tak lebih dari setengah jam perjalanan, truk berhenti, kami diperintahkan segera turun. Ternyata kami ada di bilangan kawasan Matraman, lebih jelasnya adalah Salemba, persis di depan kantor Pharmasi, tempat aku pernah bekerja dulu. Sebuah bangunan penjara dengan tembok tinggi di sekelilingnya, orang menyebutnya RTC (Rumah Tahanan Chusus). Aku teringat pada kejadian dimasa lalu, dulu sewaktu aku masih berusia kira-kira 10 atau 11 tahun,
saat itu aku sudah bisa membantu emakku, membawakan barang dagangan ke pasar. Setiap hari aku bersama emak berjalan kaki dari rumah ke pasar untuk berdagang, dan setiap kali kami menuju pasar kami pasti melewati jalan di depan sebuah penjara. Bangunan yang di kelilingi oleh tembok tinggi, dan di setiap sudut tembok ada menara penjagaannya, pintunya bercat hitam dan selalu tertutup. Orang-orang kampung menyebutnya dengan ?lawang ireng?. Anak-anak sebayaku bila bermain dan bersenda gurau, suka dengan olok-olokan ?Ayo, tangkap si Kemin lebokne lawang ireng!?, (Ayo tangkap si Kemin, jebloskan ke penjara!). Perjalanan dari rumah ke pasar tidaklah jauh, setiap kali kami sampai di depan penjara, aku selalu mencium bau nasi yang baru matang, baunya gurih banget. Suatu saat pernah aku bertanya kepada emak. ?Mak, dalamnya penjara itu
kayak apa sih, mak?, aku pengin tahu dan lihat dalam dan isi penjara?
?Hus!? kata emak, ?Kepengin kok pengin lihat dalamnya penjara, ya nggak tahu. Kalau punya kepenginan itu ya yang baik. Eeh, kepengin jadi juru tulis atau kepengin jadi guru, kalau kau jadi juru tulis atau guru, kau akan jadi priyayi dan nanti kau akan dipanggil dengan sebutan ndoro juru atau den guru. Dasar bocah bodoh, kepengin kok kepengin tahu jerone mbuen!? Maklum orang kampung, zaman itu masih zaman penjajahan Belanda, jika seseorang punya anak yang menjadi guru atau juru tulis itu merupakan kebanggaan bagi orang tua. ?Kalau kau kepengin tahu dalamnya penjara, sana tanya sama pakdemu? ?Memangnya pakde tahu dalamnya penjara, mak?? ?Bukan tahu lagi, pakdemu itu malah wis
SPAN> kawakan di penjara? ?Memangnya kena apa mak, pakde
kok kawakan di penjara?? ?Pakdemu itu biasa disebut orang ?dukdeng?, jago berkelahi, tukang bacok. Nah pada suatu saat dia kalah judi, uangnya habis ludes buat berjudi, sebagai petugas penarik uang sapon (uang kebersihan) di pasar, uangnya nggak dia setorkan pada atasannya, tapi malah dipakainya habis untuk main judi, pakdemu itu nggak bisa baca tulis, tapi karena kemampuannya dalam mengatasi setiap ada masalah dan keributan di pasar, maka itu dia dipercaya oleh guverment untuk menjadi tukang pungut uang sapon. Satu saat dia harus menghadapi pengadilan, dengan tangan diborgol dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di meja hijau. Ketika seorang saksi memberikan kesaksian yang memberatkannya, pakdemu bangkit dari kursinya, dengan menggunakan borgol besinya si saksi dihajarnya habis-habisan oleh pakdemu, akibatnya tambah beratlah hukuman y
ang dijatuhkan pada pakdemu, pakdemu akhirnya dibuang ke Nusa Kambangan.?
Kini setelah 25 tahun berlalu, di saat aku telah genap berusia 36 tahun, keinginanku untuk mengetahui isi dan dalamnya penjara, kesampaian juga, tidak hanya sekedar untuk melihat isi dan dalamnya penjara, tapi aku benar-benar menjadi penghuninya, untuk berapa lama?, ya nggak tahu. Karena aku masuk penjara bukan berdasarkan hasil vonis yang dijatuhkan oleh pengadilan. Ya aku memang tidak pernah diadili, aku hanya diinterogasi, digebuk, dipukul, dijotos, ditendang, dibanting dan dicambuk dengan buntut ikan pari, setelah itu aku disuruh tanda tangan, terus masuk penjara. Jadi soal berapa lama aku akan menjadi penghuni penjara, ya nggak tahu, nggak jelas. Sangat mungkin aku akan lebih kawakan dalam hal masuk penjara dibandingkan pakdeku, mungkin pula aku juga bisa dibuang ke Nusa Kambangan seperti beliau. Hal pertama yang aku perhatikan
saat kakiku menjejak halaman penjara adalah pintu penjara yang biasanya selalu
tertutup, kulangkahkan kakiku, ternyata dibalik pintu yang selalu tertutup itu masih ada beberapa pintu lainnya. Pintu pertama, adalah pintu pagar pembatas antara jalan dengan halaman penjara. Pintu ke dua adalah pintu yang sangat kokoh, di balik pintu ke dua ini di kiri kanannya ada ruang kantor yang dibelah oleh jalan yang tembus ke belakang. Untuk keluar dari ruang kantor, kami harus melalui pintu ke tiga hingga sampai di sebuah halaman, dimana rombongan para tahanan harus dihitung serta diperiksa barang-barang bawaannya, di sini kami harus menyerahkan sepatu, ikat pinggang, dan kalau ada benda-benda tajam seperti silet, jarum bahkan sepotong peniti dari kawat pun harus diserahkan pada petugas penjara. Selesai pemeriksaan dan penyerahan barang-barang yang dilarang, kami memasuki pintu ke empat, kali ini kami sampai di sebuah lapangan luas. Lapangan yang biasa dipakai untuk olah raga
atau upacara bendera, dan juga digunakan sebagai lapangan untuk shalat Jumat atau shalat
hari raya bagi para tahanan, lapangan ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang sama ukuran dan bentuknya dengan tulisan huruf ?A? sampai ?R?. Bangunan inilah yang disebut dengan ?Blok?. Pintu ke lima adalah pintu yang menuju halaman blok, nah di halaman inilah terletak sel-sel penjara dengan pintunya yang paling kokoh, pintu ke enam atau pintu terakhir. Rombongan kami dipecah-pecah untuk masuk ke blok yang sudah ditentukan. Rombonganku kebagian masuk ke Blok-E, blok khusus untuk tahanan kriminal. Petugas pengantar kami selain petugas sekuriti disertai pula oleh seorang petugas yang setiap harinya bertugas menutup dan membuka pintu sel dan pintu blok. Petugas ini seorang tahanan juga, dia dari kesatuan RPKAD, badannya kekar, namanya Kaslan. Di blok-E inilah aku bertemu dengan bung Baho dan adiknya bung Polin. Baho sebenarnya adalah sebuah nama Marga, na
manya sendiri aku nggak tahu. Bung Baho inilah yang dulu pernah ditanyakan keberadaannya
oleh si gempal, disamping bung Dahono yang rumahnya pernah ditanyakan padaku saat di bilangan Bukit Duri. Selain bung Baho, bersamaku ada pula seorang BTI, bernama pak Alex yang sejak di kamp Budi Kemuliaan telah berkumpul denganku. Menurut mas Kaslan, si RPKAD, blok-E, adalah blok yang paling keras, satu-satunya blok yang sering terjadi perkelahian antar sesama para tahanan kriminal. Mas Kaslan menyalami pak Alex, ?Ooh Pak Iskandar.? Kebetulan mereka berdua berasal dari satu daerah yang sama, Cepu. ?Eh, jangan panggil aku Iskandar, panggil saja aku Alex.? Mas Kaslan pun mengangguk. Aku juga baru tahu kalau nama aslinya pak Alex adalah Iskandar. Kebetulan postur tubuhnya pak Alex ini lumayan besar, ia juga piara kumis, melintang kayak ekor ketonggeng (kalajengking), orang kampungku menyebut kumis semacam ini dengan sebutan ?brengose nonggeng?&n
bsp; (kumisnya kayak ekor ketonggeng). Dan dari keterangan-keterangan mas Kaslan inilah
akhirnya bung Baho menokohkan pak Alex, manakala terjadi keributan di Blok-E. Pak Alex memang mempunyai ilmu bela diri, terutama silat. Mas Kaslan selanjutnya menjelaskan agar kami tak perlu khawatir jadi penghuni Blok-E. ?Ini hanya sementara saja kok, teman-teman yang lain, dulu sebelum menempati blok yang lain, juga transit di blok ini. Tenang teman-teman, nggak usah khawatir, ada saya kok? Penghuni Blok-E ini dikenal dengan julukkan ?Nisan Boy?, mereka berasal dari anggota TNI Angkatan Darat, Brimobnya juga banyak, umumnya mereka berbadan kokoh dan tentunya memiliki kelebihan dalam soal berkelahi. Mereka ini menjadi narapidana karena kasus pencurian mobil Nisan. Selanjutnya mas
Kaslan berkata, "Mereka pernah kutantang, ayo siapa yang paling jantan, dengan tangan
kosong ayo maju dua sekaligus, jika dengan sebilah belati di tanganku ayo silahkan maju empat orang . Tapi tak seorang pun dari mereka yang bergerak.? Sepengetahuanku, anggota RPKAD adalah satuan yang dididik khusus untuk berkelahi. Dua malam sudah aku menjadi penghuni sel di Blok-E bersama bung Baho, pak Alex, bung Polin dan teman-teman lainnya, tujuh orang dalam satu sel. Tembok sel ini sedemikian kerasnya, tebal lagi. Pintunya terbuat dari plat besi setebal setengah centi meter, rangkap dua. Plafonnya dari beton dan gentengnya buatan Karangpilang-Surabaya, dilindes motor pun tidak akan pecah. Jadi bagaimana mungkin seorang tahanan bisa melarikan diri dari penjara?. Kalau bisa keluar dari sel pun masih harus menembus lima pintu lain yang juga sama kokohnya, belum lagi mesti harus menghadapi para penjaga. Tetapi kenyataan me
nunjukkan bahwa ternyata banyak juga tahanan yang bisa meloloskan diri dari penjara,
yang jelas mereka bisa keluar dari penjara ini bukan dengan menjebol tembok ataupun membongkar pintu penjara, melainkan mereka menjebol mental para petugas penjara. Bahkan bukan hal yang aneh jika ada kejadian, seorang tahanan atau narapidana bisa pulang ke rumah, menghamili istrinya. Tak kurang dari sebulan aku tinggal di Blok-E, saling tegur sapa dengan para tahanan kriminal pun terjadi. Satu ketika, kiriman dari keluarga datang, kami ajak mereka makan bareng-bareng, menawarkan sepotong tempe goreng, ubi rebus atau tembakau selintingan, kami ngobrol dengan baik. Bahkan kepala bloknya dengan bercanda pernah bertanya padaku, ?Apakah bapak punya dua istri?? ?Nggak,? aku bilang &nb
sp; ?Lha ini ada besukkan dua kali, semuanya atas nama bapak?
?Oh itu toh!, ini besukkan yang pakai tas ini memang besukkan dari istri saya, sedang yang satu ini besukkan dari saudara perempuan saya.? Ya, memang ketika itu aku pernah menerima dua kali besukkan, besukkan itu hanya serantang nasi, sambal, tempe goreng dan serantang sayur asem, aku yakin benar kalau besukkan ini adalah dari mbakyu sebelah rumahku, istri sahabatku. Tandanya dari bungkus besukkan yang berupa taplak meja dan aku kenali betul taplak itu milik mereka. Sengaja tak kukembalikan bungkus besukkan itu, aku sangat memerlukannya, buat bungkus pakaian sekaligus untuk bantal di saat tidur. Kepala blok aku ajak makan bareng, kubagi dia sayur asem, kutawari pula sambel dan tempenya. Sambil makan ia ngomong, ?Bagaimana pak, s
eandainya kita bebas nanti, kita bekerja sama?? ?Kerja
sama apa?? ?Saya akan kembali meneruskan profesi saya. Biasa pak, nyabet mobil lagi. Kalau tidak karena kecerobohan teman saya, tidak mungkin saya akan tertangkap. Gampang pak soal bobol tembok atau bongkar kunci, apapun bentuk dan model kunci itu. Pengin tahu, pak?, gini bapak ambil beberapa pentol korek api (geretan kayu), lalu haluskan pentol itu hingga jadi bubuk, masukan bubuk itu ke lubang kunci atau gembok sampai penuh, sesudah itu sulut dengan api. Pasti kunci atau gembok itu akan kendor dan terbuka? ?Weh lha, apa semudah itu membuka gembok, apa bener begitu?? Dia mengangguk, habis makan dan ngobrol ia pun pergi, aku menyalakan sebatang rokok sambil berdiri di depan pintu sel. Tak lama datang seorang tahanan kriminal lain, tubuhnya tinggi tapi tidak sekokoh tubuh si kepala blok, kepalany
a gundul. Pas sampai di depanku dengan enteng si gundul mencabut rokok yang menempel di
mulutku, yang baru aku hisap beberapa tarikan, sambil tersenyum si gundul berkata, ?Marah pak?? Aku menggelengkan kepala. Dasar setan gundul!. Untuk keperluan mandi pagi dan sore, bagi sekian banyak orang, hanya ada satu sumur yang dikelilingi tembok, tanpa bak mandi. Jadi kami biasanya mandi bareng-bareng, juga dengan para tahanan kriminal. Aduh tobat aku!, begitu rupa tingkah para kriminal itu. Saat kami sama-sama telanjang, untuk mandi, aku lihat sekujur badan mereka penuh dengan tato yang beraneka rupa gambar dan bentuknya. Ada seorang yang sepanjang lengan kanannya digambari naga melingkar, mulai dari ketiak sampai ujung lengan. Ada pula yang di bagian dadanya digambari tengkorak, yang lebih gila lagi ada yang di paha kiri kanannya digambari sosok wanita, yang telanjang bulat k
omplit dengan alat vitalnya (vagina dan pubesnya). Ada pula yang di seluruh punggungnya
ditutupi dengan tato bergamabar peta Indonesia . Bung Baho yang kebetulan mandi bersama, tertawa kecil sambil berkata, ?Menurut saya dari sekian tato yang saya lihat, ternyata tato anda yang paling bagus dan penuh arti? Si penyandang tato tertawa juga, lalu bertanya, ?Bagusnya dimana dan penuh arti apa, papa?? "Bagusnya gambar itu terlihat jelas, rapi dan tidak belepotan. Penuh arti, jelasnya anda mencintai tanah air anda, yaitu Republik Indonesia . Lebih tegasnya lagi anda adalah seorang patriot" ?Artinya apa itu, papa?? ?Ya itu tadi, anda adalah seorang yang berjiwa patriot, mencintai Republik ini dengan bangsa dan se
gala isinya.? Rupanya si bocah yang masih terbilang muda
ini merasa dipuji, nampak sikapnya tidak sebringas teman-temannya yang lain. Dengan nada rendah ia berkata, ?Papa, beta berasal dari Maluku, tepatnya beta dari suku Ambon , beta masuk Brimob terdorong oleh keinginan beta untuk melawan RMS. Beta seng suka sama itu RMS? ?Lha lalu ceritanya bagaimana kok anda bisa sampai menjadi tahanan?? tanya bung Baho. ?Begini papa, sebenarnya bukan niat beta untuk berbuat jahat, papa, tetapi beta terpaksa melakukannya, anak beta yang kedua mau lahir, beta seng punya kepeng sama sekali. Oleh pengaruh teman toh, beta diajak mencuri mobil. Beta seng punya pengalaman mencuri, beta gagal. Beta seng dapat mobil, teman beta bisa lari, dorang sopi jauh, beta ditangkap, sampai masuk penjara ini.? "Nah jelas kan sekarang, anda sebenarnya bukan orang jahat, anda adalah se
orang patriot. Karena didorong oleh kebutuhan dan oleh pengaruh keadaan anda jadi
seperti ini. Jadi keadaanlah yang mendorong anda berbuat nekat. Seandainya anda memperoleh pendapatan yang cukup dan jaminan sosial yang memadai dari pemerintah, tentu tidak seperti ini nasib anda. Tapi jangan cemas, anda masih muda, hari depan anda masih panjang. Jadi kalau anda nanti bebas, anda mau kemana?? ?Beta sudah merasa papa, beta pasti dipecat dari kesatuan Brimob. Beta mau kembali ke kampung saja, beta mau mengolah sagu. Beta mau bisnis sagu saja papa. Terimakasih papa. Beta senang menerima nasihat papa? Hanya beberapa menit saja bung Baho sempat mengkuliahi si bocah Ambon ini sambil mandi. Menjadi penghuni blok kriminal berjalan terus, suatu hari ketika lonceng tanda untuk masuk kembali ke dalam sel berbunyi, mendadak pintu sel tidak bisa dikunci. Komandan sekuriti,
Peltu Marjuki datang, seraya perintahnya, "Kalian nggak boleh dan nggak bisa menempati
sel terbuka ini, kalian harus pindah" lalu ia pun berteriak, ?Kaslan!? ?Siap pak? ?Berapa jumlah penghuni sel ini?? ?Tujuh orang pak? ?Bagi menjadi dua, tiga orang masukkan di sel ini,? Peltu Marjuki menunjuk sel sebelah kanan sel kami, ?Dan lainnya yang empat orang, masukkan di sel sebelahnya? ?Siap pak? Bung Baho maju, mohon bicara sedikit pada bapak Peltu yang terhormat. ?Maaf pak, kalau boleh saya usul? ?Usul apa?, ini bukan jaman seperti dulu, ketika kalian masih bebas ngomong dan bertingkah, mau usul apa kamu?? ?Begini pak, kami sadar betul, bahwa kami ini ada di penjara. Berilah kami keringanan
barang sedikit. Bagaimana sih rasanya kalau kamar berukuran untuk dua orang harus diisi
tujuh orang, pak. Izinkan kami tetap tidur di sel ini pak, saya jamin, kami tidak akan melarikan diri, kalau kami sampai melarikan diri, itu kan perbuatan bodoh dan bunuh diri namanya? ?Lagaknya kayak pemimpin kasih petunjuk kulinya saja, kamu. Di sini aku yang berkuasa, hanya aku yang berhak ngatur. Kalian semua harus tunduk sama peraturan penjara, ngerti monyet!, Kaslan laksanakan perintah? ?Siap pak? * beta = saya * seng = tidak * kepeng = uang * dorang sopi jauh = dia orang sudah pergi jauh Mas Kaslan pun tak bisa berbuat lain, kecuali menuruti perintah. Tetapi apapun jadinya bung Baho telah berusaha dan beliau telah menunjukkan kelasnya, sebagai seorang pemimpin di antara kami. Dalam benakku terpikir, rusaknya pintu sel buka
n tidak mungkin adalah ulah para tahanan kriminal sendiri. Akhirnya kami harus menempati
sel lain. Aku termasuk ke dalam bagian yang berjumlah empat orang, mungkin karena postur tubuhku yang kecil, jadi aku di hitung setengah, dan seorang lagi yang juga berpostur tubuh kecil seperti aku, bernama Haji Effendi, melengkapi yang setengahnya lagi, pas, mungkin kami berdua di hitung jadi satu. Sekecil apapun, yang namanya tujuh orang harus menempati kamar berukuran untuk dua orang, tentu bisa dibayangkan bagaimana sempitnya. Akhirnya kami nggak tidur semalaman, kami hanya bersender di tembok, berkeliling, malam terasa amat panjang dan lama, panas, pengap dan sumpek sudah jelas. Pagi hari tiba, dan hari itu bertepatan dengan hari Senin, hari besukkan, walau nggak tidur semalaman, muka kami agak ceria, kenapa?. Apa lagi kalau bukan karena ada harapan datangnya kiriman dari keluarga, walaupun tak pasti, tapi t
oh diantara kami ada yang pasti datang kirimannya, lumayan. Barangkali ada solidaritas
dari teman yang lain, yah dapat-dapat singkong sepotong dua atau rara ireng selintingan. Benar juga, agaknya beberapa orang diantara kami menerima kiriman besukkan dari keluarga, termasuk Haji Effendi, ketika besukkan diterimanya, datang bergegas seorang tahanan kriminal, dengan menyodorkan omprengnya (piring alumunium tempat jatah makan para tahanan), dia menunjuk rantang yang berisi lauk, milik pak haji. ?Entar dulu dong, bung. Ditata dulu biar rapi? Tapi si kriminal memaksa, watak berandalannya keluar, rantang milik pak haji direbutnya, pak haji mempertahankan. Terjadilah otot-ototan, saling adu tarik, akhirnya lauk tumpah, tak puas rantang alumunium diinjak-injak sampai gepeng oleh si kriminal. Keributan pun terjadi. Kepala blok, pak Alex datang melerai, si bocah Ambon pun ikut datang sambil mencaci kawannya y
ang berandalan. ?Ee ose seng tahu malu, dorang punya
keluarga kasih kirim, ose seng boleh ganggu, cukimai!, dasar ose punya mulut seperti lubang puki! (mulut vagina)? Di sinilah terlihat, ternyata biar hanya seujung kuku, bung Baho telah berhasil mengambil hati si bocah Ambon . Kurang lebih sebulan kami menghuni Blok-E, pagi itu kami harus pindah lagi ke blok lain. Kami dipilah, bung Baho dipindah entah kemana, aku nggak tahu. Bisa jadi beliau dikembalikan ke RTM (Rumah Tahanan Militer), atau ke Guntur-Pasar Rumput, beliau memang bukan tahanan yang berasal dari Budi Kemuliaan, yang pasti selama aku menghuni RTC, aku tak pernah lagi bertemu dengan Bung Baho. Aku dan pak Alex di pindah ke Blok-Q. Kata mas Kaslan Blok-Q adalah blok elite, blok VIP, Blok-Q juga disebut Blok Isolasi. Para tahanan di blok ini tidak boleh berolah raga di lapangan bersama
-sama dengan tahanan dari blok lain, katanya takut kami ?ngompol? (ngomongin politik).
Dan yang juga termasuk blok isolasi adalah Blok-R, yang isinya kebanyakan orang-orang gede. Memang begitulah adanya, di Blok-Q ini ada yang namanya Hasyim Rahman, pemimpin Harian Bintang Timur, sekaligus beliau bertugas sebagai kepala blok. Ada juga orang-orang penting dari Kantor Berita Antara, tapi nggak ada yang aku kenal. * ose = kamu Lalu ada redaktur Harian Suluh Indonesia , Bung Satria Graha. Juga ada petinggi-petinggi Deparlu seperti , Mulyadi Wilono, Kartono Kadri, bahkan Jubir Deparlu Ganis Harsono melengkapi isi Blok-Q ini. Mereka itu adalah orang- orang yang gagah fisiknya, tinggi intelektualnya, dan gede kiriman besukkannya. Mereka biasa mendapat kiriman dari keluarga dengan bungkus kertas bergambar ?Sarinah
?, toserba (toko serba ada) termewah dan satu-satunya yang ada di Jakarta saat itu. Berbeda dengan rombongan kami yang datang dengan fisik kerempeng, pendidikkan ala kadarnya dan kiriman besukkan yang kecil serta tak menentu pula, serba terbalik pokoknya. Dulu sebelum terjadi peristiwa besar 30 September 1965, ada ungkapan-ungkapan atau semboyan-semboyan revolusioner, yang mengatakan, ?Perut boleh ke kanan, tapi Politik harus ke kiri? atau ?Politik adalah Jendral. Hati lebih keras dari rasa lapar?. Ternyata kini setelah berada di dalam penjara semboyan-semboyan itu hanya tinggal semboyan belaka, tidak pernah terjadi. Kalau toh terjadi, justru kebalikannya. ?Perut tambah ke kanan, Politik juga makin ke kanan dan terus ke kanan?. Semu
anya, apakah itu semboyan, ilmu, teori atau pun ungkapan, perlu diuji kebenarannya. Dan
penjara adalah salah satu tempat ujiannya. Blok-Q, sudah ku huni selnya beberapa bulan, oplosing antar blok terus berjalan setiap kali. Ada orang-orang yang kuat kirimannya serta mampu dan mau menggendong (istilah penjara untuk menanggung) si minus kiriman, mendadak dipindah ke blok lain, si minus pun merasa kehilangan. Ada blok yang sudah banyak kehilangan orang-orang kuatnya, malah ditambahi orang-orang kere atau bahkan orang-orang yang telah putus hubungan dengan keluarganya. Bisa jadi karena keluarga memang sudah tak ada kemampuan untuk mengirim atau karena si istri dan keluarga meninggalkan tempat tinggalnya karena tak tahan menerima cemohan, sindiran atau hinaan dari orang-orang di sekeliling tempat tinggalnya. Karena hinaan yang mereka terima bukan hanya berupa kata-kata saja tapi juga hinaan secara fisik, seperti membuang muka ata
u bahkan meludahi bila mereka saling bertemu. Sungguh penderitaan yang luar biasa.
Banyak pula istri-istri yang bercerai sepihak (rapak) dan kawin dengan orang bebas, menjadi istri kedua atau bahkan ketiga dari orang-orang berduit, hidung belang atau pun orang-orang yang saat itu sedang mempunyai kekuasaan. Tak urung Blok-Q pun mengalami tata ulang warganya, tambahan orang-orang minus makin banyak. Kalau sudah demikian repotlah kepala blok mengaturnya. Seorang yang biasa menerima besukkan tiga kali seminggu (Senin, Rabu dan Sabtu), diserahi untuk menggendong dua orang non besukkan atau satu orang non besukkan dan satu orang dengan besukkan seminggu sekali, itu pun sudah sangat sulit didapat. Yah, macam-macamlah cara kepala blok mengaturnya. Ada pula tiga orang non besukkan di kelompokkan jadi satu sel, lantas jatah makannya dimintakan dari mereka yang mampu atau sudi membantu, itu pun hanya bisa terjadi pada hari-hari datangnya kiriman b
esukkan. Waktu kami para tapol masih menjadi tahanan di
luar Salemba, soal perut belum menjadi soal yang serius. Kami hanya menghadapi satu soal, yaitu siksaan fisik. Taruhlah seorang tahanan disiksa, digebukin setengah kelenger, dua tiga hari atau seminggu kemudian rasa sakit dan derita akibat siksaan berangsur berkurang, atau kalau disiksa sampai mati pun proses matinya cepat Tapi kalau mati karena lapar, prosesnya sangat lama, pelan-pelan sakitnya. Menanggung perut lapar eksesnya bisa berbagai bentuk, bisa frustasi lalu nekat bunuh diri masuk sumur, hal ini benar-benar pernah terjadi di Blok-Q, namanya Suroto, atau ada juga yang mencoba gantung diri. Oleh karena itulah maka benda-benda seperti ikat pinggang, tali sepatu atau benda-benda tajam dilarang dibawa masuk ke dalam sel, dan setiap sel harus diisi oleh minimal tiga orang tahanan, karena jika hanya diisi oleh dua orang saja maka dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak baik, seperti
homo sexual, misalnya. Kembali aku teringat pada
kata-kata mbak Dian dulu, jika satu ruangan tertutup diisi oleh dua orang yang berlainan jenis, kalau ada setan lewat bisa berbahaya. Nah di penjara ini, jangan kan berlainan jenis, sesama jenis pun juga bisa berbahaya. Di Salemba menghadapi siksaan fisik relatif kecil, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada. Tetapi perut lapar bukan main sakitnya. Bayangkan!, coba bayangkan, jatah makan para tahanan hanya dua kali sehari dengan menu nasi kira-kira sepuluh suapan anak kecil tanpa lauk, ditaruh dalam ompreng yang berdiameter 20 cm, cara mengangkutnya ditumpuk-tumpuk, sehingga nasi menjadi gepeng, tipis tidak lebih dari 1 cm tingginya, sayurnya bayem tanpa bumbu, kalau pun ada paling-paling bumbunya hanya garam dan salam laos. Tak jarang terjadi sayur itu bercampur
dengan paku, pecahan beling, karet sendal bodol atau bahkan tahi kering pun ikut masuk. Tanaman bayem memang disiram dengan air limbah wc, mungkin juru masak tak sempat lagi menyortir onggokkan sayur bayem itu, dan mungkin ia juga lupa untuk mencucinya sebelum dimasak, sehingga mungkin bayem-bayem itu hanya dirajang dan langsung masuk kuali, dan hal ini berjalan tahunan. Selama tidak kurang dari 2 ½ tahun aku menjadi penghuni RTC Salemba, menu jatah makan hampir tak pernah berubah. Kalau pun ada perubahan, itu bukan perubahan menjadi baik, tapi malah sebaliknya. Pernah satu saat jatah makan berupa bulgur (makanan kuda, di Amerika), itu pun tidak lebih dari 1 cm tingginya, tanpa lauk apa-apa, kalau sudah dimakan rupanya bulgur susah untuk dicerna dan kalau sudah keluar, tinjanya tetap berupa bulgur, susahnya kalau kami merasa ingin buang air besar, tak dapat ditahan. Jadi apanya y
ang bisa diserap oleh usus. Ada lagi bentuk jatah makan, berupa nasi campur jagung
bulet, bukan menir tetapi benar-benar butiran jagung bulet. Bapak Ganis Harsono pun menerima jatah makan itu. Beliau sempat memisah jagung dari nasinya, sempat pula beliau hitung jagungnya, butiran jagung itu tidak lebih ada 90 biji, sedang nasinya dikepel menjadi sebesar bola bekel (mainan anak-anak perempuan). Akhirnya jagung dan nasi itu diberikannya pada tapol lain, tapol yang diberi pun sangat senang dan berucap terima kasih. Kejadian-kejadian semacam itu tak kunjung berhenti, jalan terus. Kemampuan keluarga untuk mengirim besukkan makin berkurang, makin menyusut, makin menipis dan akhirnya habis sama sekali. Derita tapol non besukkan dan beban si penggendong makin berat. Perut ke kanan, politik ke kiri betul-betul diuji kebenarannya. Tidak kurang dari ucapan seorang tapol, ?Bung tahu nggak, besukkan ini bukan besukkan P
KI, ini besukkan dari istriku, mungkin saja besukkan ini dibelinya dari uang hasil
perlontean.? Ya, habislah!. Satu lagi kejadian yang cukup memalukan, kejadian itu terjadi di depan mataku sendiri. Seorang penyair yang cukup terkenal, sebut saja namanya ?Hati?, kata orang, dialah yang menulis sajak yang berjudul ?Hati lebih kuat dari lapar?. Oleh kepala blok, bung Hati ini dibebani satu orang non kiriman besukkan, dan sebut saja namanya ?Malam?, mengingat kedua kawan ini satu profesi, yaitu sama-sama penyair, tentunya tak ada masalah dalam soal saling bantu. Tapi nyatanya bagaimana?. â??Hati lebih keras dari lapar? tidak lulus ujian. Bung Hati melapor kepada kepala blok, bahwa ia tak sanggup lagi berkumpul satu sel dengan bung Malam. Alasannya bung Malam sangat mengganggunya, ?Aku tak bisa tidur tiap malam, karena bung Malam kalau tidur selalu mendengkur dengan keras dan tanpa henti.? Mendengar hal ini karu
an saja bung Malam jadi naik pitam, dengan marah ia pun menegur bung Hati, ?Eh bung,
jangan ngomong macam-macam alasan, bilang saja terus terang, aku tak sudi lagi membantu kau!?, selesai, jangan bikin aku berang, bisa aku banting, mati kau!. Aku tak pernah minta untuk kau bantu, kalau kau membantuku, itu karena kepala blok yang mengaturnya.? Hampir saja terjadi baku hantam di antara mereka, dan yang datang melerai mereka adalah pak Alex. Akibat dari kejadian itu, bung Malam dikumpulkan dengan pak Alex dan aku pun harus berpisah sel dengan pak Alex. Karena pak Alex dianggap mampu mengatasi manakala ada keributan. Bersambung ke nr. IV - SALEMBA: Menjadi Tukang Pijat - Hal 36 - 41 Lembaga SASTRA PEMBEBASAN Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn ? Netherlands E-Mail: lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
We won't tell. Get more on shows you hate to love (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list. __._,_.___ Mayapada Prana Quotes: "Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God" - Sathya Sai Baba Mayapada Prana Links: <*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere http://www.kryon.com/ <*> Yoga Leaf Bandung http://www.yogaleaf.com/ <*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination http://www.spiritual-endeavors.org/
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | SOW: The Giver Should be Thankful - Si Pemberilah yang Harusnya Berterima Kasih: 00144, Johnny Lone |
|---|---|
| Next by Date: | The beginning of every New Year brings much speculation as to what may be in store...: 00144, Yan Rezky |
| Previous by Thread: | SOW: The Giver Should be Thankful - Si Pemberilah yang Harusnya Berterima Kasihi: 00144, Johnny Lone |
| Next by Thread: | The beginning of every New Year brings much speculation as to what may be in store...: 00144, Yan Rezky |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |