logo       

Fwd: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( II ): msg#00126

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Fwd: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( II )

Lembaga Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
 
Date: Mon, 22 Jan 2007 12:03:53 -0800 (PST)
From: Lembaga Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( II )
 
KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S
 
BULEMBANGBU
Oleh  N. Syam. H
 
BUDI KEMULIAAN - Hal.: 14 - 28
 
Budi  Kemuliaan, adalah nama sebuah rumah sakit bersalin. Melihat gedungnya, bukan merupakan rumah sakit bersalin kelas satu. Kelas dan fasilitasnya masih di bawah kelas St. Corulus atau Cikini, tetapi namanya cukup beken dan dikenal oleh masyarakat luas. Mungkin karena pelayanannya dan santunnya para bidan, suster dan dokternya, sesuai dengan namanya Budi Kemuliaan. Budi adalah sikap perilaku atau watak, sedang Kemuliaan adalah perbuatan. Jadi cocok dan wajar kalau namanya memasyarakat.
 
Di sebelah kanan rumah sakit ini adalah kantor Kodim, masyarakat menyebutnya juga Kodim Budi Kemuliaan, untuk tingkat Kodim, komandannya berpangkat apa, aku nggak tahu, hanya dikemudian hari aku ketahui orang yang menjemput aku di rumah pak RT, adalah seorang yang berpangkat Kapten. Melihat dari caranya menangkapku yang seolah sambil lalu saja, seorang buruh kecil, bawahan ditangkap dengan cara yang demikian juga wajar sudah sak regone (sesuai dengan harga si buruh). Tapi eloknya yang menangkap adalah seorang yang berpangkat Kapten. Bagaimana ini nantinya?.
 
Sampai di tempat tujuan mobil berhenti, mobil tidak masuk halaman Kodim, tapi berhenti di depan pos penjagaan Bank Indonesia , yang letaknya juga terbilang di Budi Kemuliaan. Aku dititipkan pada seorang penjaga pos. Kalau sekarang namanya Satpam.  Ya hanya sebuah gardu tempat jaga, aku di tempatkan. Pak satpam menyilahkan aku duduk di kursi. Aku lihat jam tembok, waktu sudah menunjukkan jam satu malam lebih. pak satpam diam saja, tidak ngomong apa-apa. Sampai fajar menjelang, aku nggak tidur sama sekali. Terus terang aku cemas, khawatir apa yang bakal terjadi nanti. Berandai-andai dalam pikiranku, apa yang akan ditanyakan, aku harus jawab apa, seandainya mereka tanya ini itu, aku harus bagaimana dan menjawab apa?. Banyak hal-hal yang tidak mungkin bisa jadi mungkin terjadi.
 
Fajar sudah lewat, seorang pelayan bank membawa segelas kopi susu, pak satpam menyilahkan aku minum. Jam 7 pagi kurang lebihnya, seorang petugas berpakaian dinas militer, menjemputku. Aku masuk kantor Kodim yang sebenarnya. Sebelum memasuki ruangan kantor, aku pamit untuk buang air kecil, pak petugas mengawalku sampai ke kamar kecil, dia menunggu sampai aku selesai menuntaskan hajatku.
 
Di ruang kantor, aku dipersilahkan duduk. Ruangan sudah komplit dengan para petugas. Sebelum melakukan tugasnya masing-masing, mereka melakukan apel bendera, mengucapkan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit tentu tak ketinggalan Sumpah Setia pada Pancasila.
 
Dalam ruangan, sudah diisi oleh para petugas baik yang militer maupun yang sipil, aku dipanggil oleh seorang Letnan untuk menghadap beliau.
 
?Duduk bung,? katanya.
Seorang berpakaian sipil mendekat ?Oh, ini toh hasil operasi semalam, lha orang kecil pendek gini saja kok susah-susah amat nangkapnya, sampai semalam suntuk, gila!.?
 
?Eh,? kata pak Letnan, ?Kalau ngomong jangan sembarangan. Jangan melihat orang dari postur gede kecilnya saja. Kau pernah baca sejarah nggak?. Napoleon itu manusianya juga pendek kecil, tapi Eropa hampir habis ditelannya. Hitler juga manusia berukuran kecil, tapi siapa yang nggak mengakui kehebatannya?. Bung, kata orang untuk menangkap seekor kakap cukup dengan sepotong cacing, ngerti nggak?.
Pak sipil ketawa ngakak sambil meninggalkan ruangan ia berkata, ?Benar juga, pak Letnan.?
Pak Letnan mulai mengambil kertas dan map,bolpoint di tangan kanannya siap menulis jawabanku dari pertanyaannya.
 
?Saudara bernama Nursamhari??
 
?Ya pak?
 
?Nama lain atau alias??
 
?Nggak ada pak?
 
?Biasanya teman-temanmu banyak yang pakai nama-nama lain, seseorang bisa pakai tiga-empat nama?
 
?Terserah pak, saya nggak perlu nama lain?
 
?Anda bekerja di percetakan Har ian Rakyat, betul??
 
?Ya pak?
 
?Di bagian apa anda bekerja??
 
?Bagian expedisi, pak?
 
?Bener?, jangan bohong ya?
 
Aneh dia sudah tahu namaku dan tempatku bekerja, ulah siapa ini?. Kranjingan!. Informasi sudah masuk, komplit barangkali.
 
Pak Letnan tidak bertanya apa-apa lagi, kecuali menulis nama, pekerjaan, alamat rumah, nama anak istriku dan keluargaku lainnya.
 
Perlakuan selanjutnya, aku dibawa dan dimasukkan ke dalam kamp tahanan, tidak ada perlakuan kasar, makian, pemukulan atau sebangsanya.
 
Kamp tahanan berupa sebuah gedung tua yang tidak terawat. Temboknya banyak terkelupas kulitnya, hingga nampak batu merahnya. Ukurannya cukup gede, halamannya pun luas. Di bagian kiri gedung ini ada gedung panjang yang dipetak-petak menjadi em pat kamar. Di bagian paling ujung gedung panjang ini, tertumpuk bangkai motor, penuh lawa-lawa, tikus dan kecoak banyak berkeliaran. Kamar mandi dan wc juga ada, airnya bening dan baik. Dapur tidak ada, yang ada hanya bangunan tembok setinggi kira-kira satu meter di depan gedung panjang ini dan penuh dengan potongan kayu bekas masak. Rupanya tempat ini biasa digunakan untuk masak oleh para tahanan, dan kenyataannya memang begitu.
 
Pagar kawat berduri mengelilingi gedung ini, di belakangnya ditempel bilik bambu tipis dan bolong-bolong. Beberapa puluh meter agak miring ke arah kanan, berhadapan dengan gedung ini adalah rumah sakit bersalin Budi Kemuliaan.
 
Dengan diantar oleh seorang petugas militer aku masuk kamp dan sejak saat itulah aku resmi menjadi seorang tahanan. Petugas menyerahkan map dan diriku pada pak RT kamp. Kalau kemarin aku diambil melalui pak RT kampung dimana aku tinggal, sekarang aku masuk tahanan, diserahkan kepada pak RT kamp.
 
Pak RT kamp ini juga seorang tahanan. Pak RT menyalami aku dengan senyuman.
 
?Selamat datang dik.?  Kemudian ia mencatat nama dan alamat rumahku.
 
?Ya tenang saja dik, aku juga seorang tahanan kok. Boleh jadi besok atau lusa aku pun akan menjalani pemeriksaan, atau bahkan mungkin tidak kembali lagi ke sini. Teman-teman sudah ada yang diperiksa, tapi yang belum juga masih banyak.?
Dipanggil ke depan (kantor) untuk diperiksa atau keperluan lain istilahnya adalah ?dibon?
?Nah dik,? katanya, ?Kenyataannya adik sekarang menjadi tahanan. Tenang saja, temannya banyak kok,? dia menghibur, "Sekarang istirahatlah sama teman-teman lainnya ngeriung saja kesana.?
 
Berbarengan dengan hari aku masuk, datang pula teman-t eman lainnya menyusul, satu persatu dan itu terus berlanjut, sampai kapan berhenti aku nggak tahu.
 
Aku masuk, ngumpul dengan para tahanan lainnya. Lalu datang seorang teman mendekat, dan menyalami,  ?Bung, akhirnya menyusul kami juga,? katanya. Dia adalah Bung Samosir, teman sekantorku di percetakkan.
 
?Kapan diambil??
 
?Kemarin malam?
 
?Siapa orangnya??
 
?Nggak tahu, nggak kenal?
 
?Apa orangnya gemuk pendek (gempal), ya??
 
?Iya?
 
?Itu komandan Tim Kalong. Bung ada isue yang kurang baik buat bung?
 
?Isue apa??
 
?Bung dikabarkan menjadi cecunguk?
 
?Kata siapa??
 
?Tak usahlah bung tahu, tapi saya sudah meluruskanny a?
 
?Terimakasih, kalau begitu.? Sampai di situ, pembicaraan tidak berlanjut.
 
Jam 11 siang jatah makan datang, nasi seukuran kira-kira 100 gram dengan lauk sepotong ikan asin. Tempat nasi sebuah besek anyaman bambu, terbuka tanpa tutup. Tampak jelas debu-debu di luar besek. Jatah makan siang dan sore diangkut dengan kendaraan terbuka, apa pun keadaannya jatah makan tetap menjadi andalan kami. Jika tidak mau dimakan, ya silahkan saja, tapi resiko tanggung sendiri. Kalau sudah lapar, nasi plus ikan asin enak juga.
 
?Ayo bung makan, nanti sakit kalau nggak makan. Aku sudah sebulan di sini, sudah biasa dengan makanan macam begini, mau ngandelin siapa?, yang sudah nyambung dengan keluarganya biasanya ada kiriman makanan tambahan, tapi bagi yang tidak punya keluarga atau jauh dari keluarga, seperti tukang-tu kang ?baso? itu. Umumnya mereka itu berasal dari Jawa Tengah, Solo, Sragen, Boyolali, Wonogiri dan sekitarnya. Sudah lebih dari seminggu mereka masuk. Serombongan, diangkut dengan truk.?
 
Yang dimaksud dengan ?Baso? disini adalah,  ?Barisan Soekarno?, karena itulah mereka ditangkap dan ditahan.
 
?Ayo bung makan, bung dari Utankayu kan ?, itu dekat, nanti atau kapan keluarga juga akan datang nengok. Saya juga belum dijenguk keluarga,? katanya. Dia adalah seorang wartawan foto, asli orang Padang .
 
Aku makan juga nasi jatah itu, habis. Lalu soal minum?. Tahanan yang sudah ketemu keluarga bisa masak di kamp ini, alat masak dikirim dari keluarga, di halaman ada sebatang pohon pedang-pedangan yang ditebang dan sudah kering, dengan kayu itu para tahanan bisa memasak air, jadi air minum selalu tersedia.
< DIV> 
Selesai makan aku menyender di tembok, nggak bisa tidur juga, mataku cuma merem tok tapi nggak tidur.  Pikiranku melayang kemana-mana, apa yang bakal terjadi, bisa pulang lagi apa nggak?. Kemarin si gempal bilang kalau urusan cepat selesai, aku bisa pulang malam itu juga, atau selambatnya pagi ini. Lha ini kok aku nggak ditanya apa-apa, kecuali nama, pekerjaan, alamat, anak istri dan keluargaku lainnya. Bahkan sekarang aku masuk kamp tahanan bersama teman-teman yang lainnya. Jadi kapan selesainya?.
 
Di sebelah kananku seseorang tidur tengkurap, oleh teman lainnya ia dibangunkan,
?Eh bung bangun, makan siang sudah datang?
 
Dia bangun menggeliat. Masya Allah!, aku kenal betul sama dia. Kepalanya nggak bulat lagi, berbenjolan dibeberapa bagian, mukanya hampir rata dengan hidung, rahang kanannya agak mengek ke kiri, kedua matanya hampir tertutup oleh pelupuk mata yang membeng kak, berwarna biru kehitaman karena darah yang membeku. Barangkali teman ini membuat berang petugas pemeriksa, dengan memberi jawaban yang berputar-putar, atau ia tak mau mengakui segala tuduhan yang dijatuhkan padanya, atau bahkan ia sama sekali tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan si petugas pemeriksa. Aku makin cemas, kejadian semacam itu bukan tidak mungkin akan terjadi pada diriku kelak. Tunggu saja pada saatnya kelak kau pun akan tahu.
 
Masa penahanan berjalan terus, seminggu dua minggu, terus berjalan. Aku belum juga dipanggil dan diperiksa. Kecemasanku mulai mereda, ya bagaimana nanti saja.
Setiap sore, keluarga yang sudah nyambung datang membesuk, tentu bagi yang mampu mengirim tambahan makanan yang sama sekali tak memadai. Apa artinya nasi 100 gram dengan sepotong tempe atau ikan asin?, kotor lagi. Umumnya keluarga datang membesuk dengan membaw a ?makanan yang penting kenyang?, soal kwalitas gizi itu nomer dua atau bahkan nomer tiga.
 
Di rumah sakit bersalin juga nampak keluarga pasien datang membesuk. Tapi tentu lain besukkan di sana dengan besukkan di sini. Kalau keluarga tahanan datang dengan besukkan apa adanya, besukkan asal kenyang, serta rasa cemas memikirkan, kapan suami, bapak, kakak, atau adik dapat bebas, kembali pulang kerumah?.
 
Besukkan di rumah sakit bersalin tentunya lain, mereka datang dengan membawa makanan pilihan, walaupun menu jatah makan pasien sendiri sudah sangat baik, lagi pula keluarga datang dengan wajah yang penuh keceriaan, penuh kegembiraan karena menyambut datangnya anggota keluarga baru, si cucu mungil, keponakan yang lucu dan montok, dan si buah hati yang bakal menambah keceriaan rumah tangga.
 
Terbayang dalam benak, seorang calon ibu berbaring menanti kelahiran si buah hati. Perutnya mas ih menjuluk, dadanya mendelong, mukanya agak pucat. Ada rasa cemas juga barangkali, kadang matanya terpejam, sambil komat-kamit bibirnya, mungkin ia sedang berdoa agar dirinya dapat melahirkan dengan selamat dan lancar, dan si jabang bayi lahir dengan sehat, sempurna tanpa kurang satu apa. Si calon bapak duduk di samping mendampingi, untuk menghilangkan rasa tegang dan was-was sang istri, yang baru pertama kali akan melahirkan, si calon bapak menghibur, seraya bertanya ;
 
?Adik sudah punya calon nama buat anak kita??
 
?Sudah mas, tapi hanya calon nama untuk perempuan, kalau lelaki nggak punya, susah aku mencari nama yang baik untuk anak lelaki?
 
?Siapa??
 
?Nawangwulan mas, kalau mas bagaimana, sudah punya calon nama belum??
 
?Tentu, aku sudah menyiapkan nama-nama yang menurutku sangat baik dan bagus?
 
?Siapa mas??
 
?Kalau anak kita nanti lahir laki-laki akan kuberi nama dia Paranugroho atau Widagsuh, tapi kalau yang lahir perempuan akan kunamai dia Anggraeni?
 
?Elok mas dua-duanya. Ada artinya nggak mas?. Paranugroho atau Widagsuh itu aku seneng mas, nanti panggilannya Nug atau Dag, bagus mas?
 
?Ada , tentu ada artinya. Orang Jawa biasanya kasih nama anak itu mengku suroso, misalnya Rahayu, Rahajeng, Slamet atau Slamet Raharjo, dan masih banyak lagi nama-nama yang bermakna baik. Paranugroho itu terdiri dari dua kata, Paran artinya rantau atau perantauan dan Nugroho itu artinya adalah karunia. Lha kita ini kan orang perantauan, adik dari Jogya dan aku dari ujung timur Jawa, kita ketemu di Jakarta lalu mendapat anugrah dipertemukan menjadi suami istri, anugrah selanjutnya adalah kita bakal mempun yai anak, si buah hati yang sebentar lagi akan lahir, pas kan??
 
?Ya mas?
 
?Ada pun Widagsuh itu adalah salah satu nama dari sekian banyak nama yang di punyai oleh Raden Harjuna. Nama-nama lainnya adalah Raden Pamadi atau Permadi, Dananjoyo, Kumbangaliali, Pandu Putra atau Pandu Hawa dan masih banyak lagi?
 
?Tapi anu mas?
 
?Apa, anu apa??
 
?Raden Harjuna itu kan tukang kawin, istrinya banyak, ini yang tidak simpatik?
 
?Nanti dulu toh, aku kasih tahu arti Harjuna itu, mau nggak??
 
?Ya, gimana??
 
?Harjuna atau Herjuna itu juga nama yang terdiri dari dua kata. Her artinya air dan Jun artinya tempat air. Tahu nggak jun atau klenting yang bentuknya seperti periuk tapi pakai leher pendek, mulutnya lebih kecil dari periuk. Ibu-ibu atau gadis-gad is kampung dulu mengambil air dari sumur atau dari sendang dengan menggunakan jun, kalau sudah diisi penuh dibawa pulang dikempit menempel di  lambung kering?
 
?Ah, sampeyan kalau cerita kok nggak cak-cek, belok-belok sok kaya sastrawan, ada lambung kering segala, nggak ngerti aku ah?
 
?Namanya juga ngomong sama istri, santai saja kenapa sih?. Kalau santai kan enak didengarnya, jelas urut,? sempat juga si suami mengelus perut sang istri yang masih menjuluk. ?Lambung kering itu artinya adalah pinggang sebelah kiri, wong ayu, heh kowe,? bibir sang istri diselentiknya halus. ?Jadi Herjuna yang digambarkan sebagai ksatrya tampan itu hakekatnya adalah lambang dari bersatunya antara ?her? dan ?jun?. Setiap jun bisa diisi air atau her, dan setiap her bisa mengisi jun. Her itu adalah lambang seorang pria, sedang jun adalah lambang dari seorang wanita. Trep kan . Lebih jelas lagi, seorang pria mencintai wanita begitu j uga sebaliknya, itu sudah sunatullah. Setiap jantan mencari betina. Pria gandrung pada wanita, si wanita kantil sama pria. Nggak aneh kan.?
 
?Aneh juga mas?
 
?Di mana anehnya??
 
?Nggak adil bener, di mana adilnya jika seorang pria bisa mencintai dan mengawini banyak wanita??
 
?Ah, itu kan dalih lama?
 
?Mau lama, mau nggak, kenyataannya memang begitu, ayo mau apa??
 
?Ngko? sik toh!, dengar dulu, penjelasanku belum selesai. Di sini si her tadi bisa mengisi setiap jun. Lha jun itu kan volumenya terbatas, kalau sudah penuh diisi ya sudah, tapi kalau her kemampuannya tidak terbatas, dia bisa mengisi sepuluh, dua puluh sampai ratusan jun. Inilah sebabnya dikatakan seorang pria itu mempunyai kelebihan dari seorang wanita?
?Kelebihan apa?, wanita juga banyak mempunyai kelebihan dari pria?
 
?Memang, banyak pula wanita yang mempunyai kemampuan melebihi pria, dalam hal apa?. Kelebihan di sini adalah kelebihan secara hakiki, kelebihan fisik, umumnya pria lebih kuat, itu jelas. Lebih dari itu, kelebihan secara biologis. Coba kau perhatikan, di dalam soal biologis kapan saja pria mau, dia bisa. Beda dengan wanita, wanita itu mempunyai kemampuan yang terbatas, terbatas oleh kondisi fisik wanita itu, misalnya saat hamil tua, habis bersalin, atau sedang menstruasi, itu merupakan halangan bagi wanita untuk melakukan kegiatan biologis. Seorang pria mempunyai dua, tiga atau lebih dari empat istri, kalau sang istri melahirkan seorang anak, maka akan jelas siapa bapak dan ibu dari anak itu. Lha kalau seorang wanita yang mempunyai suami lebih dari satu, jika ia mempunyai anak, ibunya memang jelas diketahui, tapi bagaimana mengetahui siapa bapaknya, sulit kan ??
 
?Mas, sulit kan bukan berarti tidak bisa, bisa hanya sulit, ya kan ??
 
?Ya bener, sulit bukan berarti tidak bisa, namanya saja sulit, ya pasti repot. Mungkin nanti kalau ilmu kedokteran sudah begitu rupa majunya, barangkali bisa. Lewat jenis darahnya, A,B,O nya darah si anak dan bapaknya misalnya, atau melalui kromosom (pembawa sifat) dan lain-lainnya. Pokoknya repot deh!?
 
?Ah, orang laki maunya menang sendiri, kalau begitu, seperti aku ini lagi hamil tua begini nih, menunggu kelahiran, apa mas akan menggunakan kesempatan dari kelebihan itu ya??
 
?Ah ya nggak manis, aku kan bukan Raden Harjuna. Kelebihanku ya hanya untukmu seorang, heh kowe?
 
?Saya selalu berdoa mas, kalau diizinkan anak kita perempuan saja, gampang mengasuhnya terus akan kunamakan dia Nawangwulan?
 
?Ah aku kurang pas dengan nama itu, sekalipun dia seorang bidadari dari khayangan?
?Lho kok begitu??
 
?Nawangwulan itu kan seorang bidadari yang kendo kembene, setidaknya dia bidadari yang sembrono, kurang hati-hati, sehingga kembene gedodoran bahkan hilang?
 
?Maksudnya gimana sih mas, ada kendo gedodoran segala??
 
?Weh lha priyayi Jogya kok nggak ngerti kendo kembene, payah nih!. Kendo kembene itu senepo, cah ayu, satu pribahasa yang artinya sang bidadari tadi gampang dan mudah memberikan harta miliknya yang paling berharga atau kehormatannya kepada siapa pun, paham?. Orang Jawa itu penuh dengan sopan santun. Anak yang suka mencuri disebut clemer atau dowo tangane, seorang suami yang suka keluyuran di tempat prostitusi dikatakan nakal?
 
?Ya mas, tapi dalam ceritanya kan Nawangwulan itu kecelakaan. Itu kan perbuatannya si Joko Tarub yang terbilang clutak. Kenapa pakaian si Nawangwulan diumpetin, coba kalau nggak karena pakaiannya diumpetin, tentu akan lain jadinya?
 
?Lha itu gene ngerti clutak segala??
 
?Denger-denger dari orang ngomong, katanya kucingnya cluthak, suka gondoli ikan di meja makan?
 
?Ya baiklah, sekarang aku mau tanya, siapa sih orang yang tidak rontok imannya, melihat pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan itu?, coba bayangkan. Joko Tarub itu bukan malaikat, dia manusia biasa. Kalau malaikat itu mahkluk Allah yang berakal kaya kita, manusia, tapi tak mempunyai nafsu. Sebaliknya kalau binatang, mereka juga mahkluk Allah, tapi mereka tidak berakal, mereka hanya punya nafsu. Sedang kita manusia adalah mahkluk Allah yang sempurna, komplit, ya berakal, ya bernafsu. Nafsu itu baik, penting dan perlu. Kalau nafsu itu terpelihara, terkendali dan tersalur melalui jalan yang bener, sangat bermanfaat. Nafsu untuk mencari ilmu agar menjadi pintar dan berguna bagi masyarakat, nafsu untuk menolong sesama, na fsu untuk beribadah itu baik sekali. Tapi kalau nafsu itu tadi lepas liar dan tidak terkendali, wah ini ya sangat berbahaya, kalau sudah begitu mahkluk yang namanya manusia itu tidak lebih dari seekor binatang, namanya dan wujudnya saja yang manusia tapi hakekatnya dia adalah hewan berakal?
 
?Lha sekarang kalau mas mau memberikan nama Anggraeni untuk anak kita, dasarnya apa??
 
?Baik dengerin ya!. Di suatu kerajaan yang bernama Paranggelung, rajanya masih sangat muda dan cakep, dia punya istri tercinta bernama Dewi Anggraeni. Orangnya cantik sekali, terlalu amat sangat cantiknya, malah mungkin lebih cantik dari Dewi Nawangwulan. Sang raja ini punya kepandaian memanah, kepandaiannya ini adalah hasil dari ketekunan dan gladi yang tiada hentinya. Tapi dasar manusia, tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Sang raja ingin lebih pandai dan lebih pandai lagi dalam memanah. Suatu saat sang raja mendengar tembang rawat-rawat bakul sinambiwara?
 
?Ah, macam-macam saja ini orang ceritanya, pakai bakul tembang segala, aku banyak yang nggak ngerti maaas!?
 
?Ha ha ha, namanya saja cerita wong manis, sedikit-sedikit ya pakai ilustrasi lah. Diteruskan nggak?, mbosen??
 
?Nggak,nggak bosen, bener, teruskan deh?
 
?Nah sang raja mendengar tembang rawat-rawat bakul sinambiwara, bahwa di suatu negri yang bernama Hastina, ada seorang guru yang sangat kesohor akan kepandaiannya dalam memberikan ilmu olah krida perang. Ia sangat pandai memperagakan macam-macam senjata, terutama ilmu memanah. Sebelum sang raja bertemu dengan sang guru, dia mereka-reka, membuat patung sang guru, dari mana dia tahu bentuk dan profil sang guru itu?. Seperti halnya patung Gajah Mada yang gagah itu, apa bener maha patih dan bayangkara Majapahit itu profilnya seperti itu?, apakah itu bukan hasil rekayasa belaka?, nggak tahu, mudah-mudahan saja memang begitulah profil sang maha patih itu.
 
Cerita selanjutnya, sang raja melakukan semadi di hadapan patung sang guru, dipuja dan disembahnya sang patung itu. Terus dan terus disembah patung sang guru. Ternyata dari pemujaan dan penyembahaan yang dilakukan oleh sang raja, kepandaian memanahnya makin bertambah-tambah. Oleh karena itu sang raja pun berpikir, alangkah hebatnya kepandaian memanahku kelak kalau aku bisa terlaksana berguru secara langsung dengan sang guru yang sebenarnya. Baru menyembah patungnya saja, kepandaianku sudah bertambah hebat seperti ini. Maka bulatlah tekad sang raja untuk pergi mencari sang guru.
 
Dia pergi bersama istri tercintanya. Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan, memasuki hutan belukar, naik turun gunung, nyebrang kali melalui lembah ngarai, sampailah mereka di hutan yang sangat teduh, penuh dengan burung dan satwa lain nya. Sang raja bersama istrinya pun berhenti, mereka beristirahat, mengeringkan keringat. Dengan bersender pada sebatang pohon besar sang raja pun beristirahat, sang istri tetap menyertai di sisinya. Walaupun Dewi Anggraeni sendiri juga merasa lelah tapi ia tetap menyempatkan diri untuk memijit-mijit kaki sang suami. Hebatkan?, siapa yang tidak bangga memiliki istri seperti Anggraeni?. Mudah-mudahan kelak kalau anak kita perempuan dia bisa memiliki sifat seperti Anggraeni..
 
Nah, saat beristirahat sang raja ingin tidur barang sejenak, tapi sang raja terganggu oleh suara gonggongan anjing yang tiada hentinya. Si anjing menyalak dan menyalak terus. Sang raja jengkel. Keparat anjing ini menyalak dan menggonggong tanpa henti, apa maumu he?, ayo tampakkan dirimu, biar kuhajar kau!. Si anjing tetap tak menampakkan diri, dia berada dalam kerimbunan semak belukar di sebelah sana . Anjing adalah binatang yang mempunyai daya penciuman yang tajam . Dia bisa merasakan adanya orang lain, selain tuannya. Si anjing pun terus saja menggonggong dan menyalak. Habislah kesabaran sang Palgunadi, diambilnya busur dan anak panah, dibidikkannya anak panah ke arah suara gonggongan anjing berasal. Jebret!, anak panah pas tepat mengenai sasarannya, menancap di mulut sang anjing. Ngantuk dik?, kok diam saja?
 
?Nggak, nggak ngantuk, teruskan ceritanya bagus, mas. Nanti kalau aku ngomong katanya, kok interupsi terus?
 
?Ya, cep klekep, gongggongan anjing berhenti, datanglah persoalan baru. Si empunya anjing mendatangi sang raja muda. Dengan suara pelan tapi mantap dan pasti, si pendatang menuduh sang raja sebagai pembunuh anjing miliknya. Sang raja muda tidak mimpi, tidak menduga, bahwa pemilik anjing itu adalah sang Raden Harjuna nan kesohor ketampanannya, ksatrya bagus tanpa cacat. Terjadilah dialog antar mereka, sang raja muda langsung menyembah dan memperkenalkan diri, nama dan asal negaranya, serta mohon maaf dan penyesalan atas matinya anjing beliau. â??Raden, sekali lagi maaf raden, saya tidak menyangka anjing itu milik raden, saya merasa terganggu dengan gonggongan anjing itu, serta istri saya juga ketakutan, raden. Saya datang dari jauh, saya ingin menuju negri Astina, raden. Saya ingin bertemu dengan seorang guru yang mempunyai nama besar. Guru itu bernama Dhanyuang Durna, apakah raden mengenal beliau?, tolonglah saya raden , di mana arah negri Astina itu?, saya sangat ingin berguru kepada beliau. Wahai raden tolonglah saya.?
 
Harjuna merasa kaget juga, lalu ujarnya, ?Wahai ki sanak, ketahuilah bahwa seorang guru yang kau maksud itu, adalah guru pribadiku. Tidak mungkin ki sanak bisa berguru kepadanya tanpa syarat.?
 
?Ya, baiklah raden, apa syaratnya??
 
?Sebagai ganti anjingku yang kau bunuh, batang lehermu kupatahkan dulu. Hayo ka lau sampeyan jantan, adu kekuatan, tandingi keprawiraanku, kalau aku kalah, keinginanmu akan kukabulkan?
 
Bak singa dibangunkan dari tidurnya, Palgunadi pun hilang kesabarannya, kejantanannya bangkit, ia pun berujar, ?Hai ksatrya bagus tanpa cacat!, aku ini juga manusia sepertimu, besar atau pun kecil aku adalah seorang raja, aku mempunyai harga diri. Hayo, kalau itu  yang menjadi maumu, aku siap melayani.?
 
Peperangan pun tak terelakkan, singkat cerita Raden Harjuna kalah, ia pun protes pada sang guru, ternyata Harjuna bukanlah satu-satunya manusia tanpa tanding, di dalam soal panah memanah dia kalah dari Palgunadi. Bayangkan saja, kalau dia bisa membunuh anjing dengan cara membidikkan anak panah hanya berdasarkan pada asal sumber suara gonggongan si anjing, dan anak panah itu bisa tepat mengenai sasarannya sedang si anjing sendiri tak nampak sosok tubuhnya. Hebat kan !.
 
Sang g uru pada akhirnya menerima protes sang murid kesayangan. Palgunadi memang ditemui dan keinginannya untuk menjadi muridnya pun diterima, tapi dengan syarat, ibu jari tangan kanan Palgunadi harus dipotong dan kemudian dicangkokkan ke tangan kanan Harjuna.
 
Maka habislah riwayat si raja muda itu. Nah kemudian bagaimana dengan Anggraeni?. Ternyata diam-diam Harjuna berkeinginan untuk memiliki Dewi Anggraeni, tetapi sayangnya ia bertepuk sebelah tangan, cintanya ditolak mentah-mentah oleh sang Dewi.
 
Sekali lagi Harjuna mengajukan protes, tapi kali ini dia tidak protes pada sang guru, melainkan ia mengajukan protes pada Batara Guru. Katanya dia itu adalah lanange jagat, tapi kenapa cintanya ditolak oleh seorang wanita.
 
?Interupsi mas, mas bilang setiap jun perlu air dan setiap air bisa mengisi jun, lalu kenapa cintanya Harjuna ditolak Anggraeni, ayo di mana trepnya??
 < /DIV>
?Ngerti yo den ayu, yang namanya mutlak itu tidak ada dalam diri mahkluk, yang mutlak itu hanya milik yang segala maha, yaitu Allah. Yang ada pada mahkluk adalah relatif. Nah, di sinilah keteguhan Anggraeni, imannya tak tergoyahkan oleh apapun?
 
?Lha, lalu nasib Anggraeni seterusnya gimana??
 
?Di dalam cerita diterangkan, bahwa Dewa Narada akhirnya turun ke bumi dengan membawa seorang Anggraeni yang lain. Sekarang ada dua Anggraeni, kembar tanpa beda serambut pun. Sang Harjuna dipersilahkan memilih salah satu, jika pilihannya tepat, maka mau tak mau Anggraeni harus menjadi istri Harjuna. Ternyata Harjuna salah pilih, Anggraeni pilihan sang Harjuna berubah menjadi setangkai bunga. Di sini keadilan datang, dewa penolong telah datang, Anggraeni dihindarkan dari aib. Itulah buah bagi seorang istri yang berbakti pada suami. Anggraeni pun dibawa ke khayangan, dipertemukan kembali dengan Palgunadi, sang sua mi tercinta. Nah, sekarang setuju nggak jika anak kita yang lahir perempuan, kita beri nama Anggraeni??
 
?Setuju mas. Tapi kalau yang lahir nanti laki-laki jangan diberi nama Widagsuh ah, Widagsuh kan Harjuna juga, Paranugroho saja, aku lebih cocok.?
 
Obrolan mereka terhenti, kandungan sang istri mulai bergejolak, tanda-tanda akan melahirkan terjadi. Sang suami segera pergi melapor kapada suster dan dokter. Benar juga, tak lama sang istri pun melahirkan sang buah hati dengan selamat, begitu juga dengan bayinya. Keluarga yang datang membesuk bergembira, sang suami dan sang istri sama-sama menitikkan air mata bahagia. Saat itulah mereka resmi menjadi seorang bapak dan seorang ibu muda. Dipeluknya sang istri, diciumnya pipi dan kening sang istri, sebagai ungkapan rasa kasih. Seminggu kemudian, si ibu baru ini meninggalkan rumah sakit bersalin, keluarga datang menjemputnya, tentu saja sang bapak baru tak ketinggalan.
 
Nampak sekali sang bapak muda sangat bahagia, dibimbingnya sang istri. Dalam hatinya berkata: ?Istriku kelihatan makin cantik saja, seminggu yang lalu perutnya masih menjuluk dan dadanya ngendelong, tapi sekarang yang terjadi adalah kebalikannya, perutnya kini kempes, rata agak tertarik ke belakang, dadanya menonjol ke depan penuh isi, siap dihisap si buah hati, bak sepasang cangkir gading menghias dada, kalau berjalan kedua cangkir bergoyang pelan. Metamorphosa telah terjadi, kepompong yang dulu tiada bentuknya kini telah menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat molek.?
 
Di kamp tahanan juga terjadi besuk membesuk, tetapi muka para pembesuk tidak nampak ceria, yang nampak hanya muka-muka yang penuh dengan kecemasan. Metamorphosa pun terjadi di sini, seorang tahanan yang dulu masuk dengan tubuh sehat dan wajah utuh, sesudah diin terogasi, kepala yang bulat menjadi penuh benjolan, bibir tipis menjadi tebal, mulut pun menjadi monyong dan masih banyak perubahan lainnya yang terjadi. Dua tempat yang hanya berjarak beberapa puluh meter saja tetapi memiliki perbedaan yang benar-benar jungkir balik. Sungguh ironis!.
 
Di benakku terbayang kebahagian si bapak dan si ibu muda saat menggendong buah hati mereka. Aku sendiri belum kenyang menggendong anakku, anakku baru saja bisa tengkurap saat aku tinggalkan masuk tahanan. Terbayang saat istriku datang tergopoh-gopoh menghampiri anak kami yang menangis keras karena terbangun dari tidurnya, untuk memberikan ASI-nya (Air Susu Ibu). Ya, kapan aku bisa pulang, berkumpul kembali dengan anak dan istriku?.
 
Ingin aku berpanjang-panjang melamun, tetapi mendadak lamunanku terhenti, pak RT kamp mendatangiku, ?Ada panggilan ke depan, dik.?
 
Deg!, jantungku bergoncang keras, aku dip anggil, apa yang akan terjadi?. Berusaha aku menahan goncangan di dada, kutekan dan kudekap dadaku. Ku siapkan mental, aku harus tetap menjawab ?tidak? untuk setiap pertanyaan yang memang aku tak tahu, tak mengerti dan tak kukenal. Bulat sudah tekadku, aku siap.
 
?Tenang dik,? kata pak RT, ?Kancane akeh kok!?
Ternyata ucapan ?kancane akeh kok?  cukup memberikan semangat dan kekuatan mental bagiku.
 
Jam 10 pagi, jatah makan siang belum datang, praktis aku belum makan, tapi aku nggak lapar. Jam 10 pagi adalah saat-saat sibuknya orang bekerja, setiap pegawai sipil atau militer sudah duduk membelakangi meja kerjanya masing-masing.
 
Aku masuk ke sebuah ruangan dengan diantar oleh seorang petugas. Nampak di sebelah kiri pintu masuk si gempal sudah duduk menanti. Di samping kanannya seseorang berpangkat Letnan mendampingi, dan sepucuk pistol Fecrus tampak tergeletak di a tas meja.
 
?Nah duduk bung,? katanya. ?Sehat, nggak sakit kan ?, krasan di sini?? layaknya kayak  ngomong dengan kenalan lama saja.
 
?Sehat pak?
 
?Sudah sarapan?, kalau belum nanti sarapan di sini, ya?
 
?Ya pak?
 
?Begini, saya mau tanya sama bung, kenapa bung ditangkap??
Bukan main pertanyaannya, aneh!, dia yang menangkapku, tapi sekarang malah dia yang tanya kenapa aku ditangkap. Luar biasa!.
 
?Maaf pak, saya nggak ngerti maksud bapak, mestinya yang perlu tanya itu justru saya pak, mengapa saya ditangkap??
 
?Boleh, boleh juga jawaban bung, baik saya teruskan pertanyaan saya. Bung, bekerja di sebuah percetakan koran, betul kan ?, percetakkan itu juga mencetak buku-buku PKI kan ?. Nah, waktu terjadi peristiwa G.30. S/PKI, apa yang dilakukan Harian Rak yat?, masih aku simpan HR terbitan 1 Oktober 1965,bung. Nih lihat!?
 
Ku lihat sebuah karikatur, seorang bertuliskan Dewan Jendral dipukul roboh oleh sebuah kepalan tangan yang bertuliskan Dewan Revolusi.
 
?Bung kan sudah belajar dialektika?. Kalau bung, bekerja di percetakkan HR, yang PKI itu dan HR menyokong pemberontak dan bung adalah orang yang mengirimkan, menyebarkan dan membagikannya keseluruh negri, kok nggak ngerti kenapa ditangkap. Di mana dialektikanya??
 
?Ya pak, soal saya mengedarkan koran itu kan memang pekerjaan saya setiap hari, karena itu memang tugas saya sebagai pegawai di bagian expedisi. Jadi apa pun isi dan berita HR itu ya saya mesti mengedarkan, mengantar dan mengirimnya. Lha kalau soal mengedarkan, kan bukan saya saja pak, agen-agen dan penjaja koran juga mengedarkan?
 
?Ya saya ngerti, tetapi bagi agen atau penjaja kor an, mereka itu kan tidak lebih dari kerja cari makan, lain dengan bung, bung mempunyai kesadaran politik. Bung dan kelompok bung itu tidak bisa dipisahkan dengan HR?
 
?Pak, pada hakekatnya saya juga  cari makan, saya hanya pekerja yang digaji?
?Sama bung dengan saya, saya juga cari makan sebagai TNI, saya juga digaji, tetapi sebagai seorang prajurit RI saya sadar, saya harus melaksanakan tugas, menyelamatkan Republik ini. Baik bung, ngerti atau tidak ngerti bung sudah ditangkap. Bung, saya ini adalah salah satu orang yang tahu benar isi perutnya PKI, saya ngerti semua, apa yang ada di kantor CC di Kramat 81 itu. Bung tahu 81 sudah kecolongan. Dulu saya biasa membebaskan kawan-kawan bung yang ditahan oleh DPKN. Jadi kalau saya menyakan itu ini, itu hanya semata-mata untuk menguji kejujuranmu?
 
Kata ?bung?nya sudah hilang kini berganti dengan ?mu?.
 
?Kamu kenal orang y ang bernama Baho, nggak??
 
?Kenal pak?
 
?Di mana dia??
 
?Nggak tahu pak, saya kenal dia bukan dalam arti bergaul, saya kenal hanya sebatas rupa dan namanya saja, saya kenal hanya semata-mata karena satu kantor, yang setiap harinya bertemu. Dia seorang kepala, sedang saya hanya pegawai bawahan. Sama halnya kalau saya kenal nama dan rupa presiden, tetapi presiden tidak kenal saya?
 
?Boleh juga orang ini, sudah diindoktrinasi ya?, kamu dengar suara apa di ruang sebelah itu??
 
Dari ruang sebelah terdengar suara orang berteriak-teriak  ?Ampun,pak!?, lalu suara bak buk, dar der dor, grobyak!, ?ayo ngaku nggak!? Rupanya mereka sedang berusaha menjatuhkan mentalku. Aku nggak tahu apakah suara-suara itu benar-benar suara seorang tahanan yang sedang diinterogasi dan disiksa atau hanya sebuah sandiwara saja. Aku nggak p eduli, bermodalkan kata ?kancane akeh kok?, tekadku makin bulat dan mengeras. Hayo silahkan!.
 
?Kamu kenal sepasang suami istri yang bernama Marzuki??
 
?Kenal pak?
 
?Mereka ini pernah ngumpet di rumahmu kan ?. Kamu tahu, kalau mereka sedang diburu  oleh aparat?, kenapa nggak kamu laporkan mereka pada aparat setempat??
 
?Mereka itu sebagai ganti orang tua saya, pak. Mereka telah membesarkan dan menyekolahkan saya. Saya ingin membalas budi, lagi pula mereka datang kerumah saya semata-mata hanya untuk menengok istri saya yang baru melahirkan, waktu mereka mau pulang, turun hujan deras, jadinya mereka terpaksa menginap. Saya tidak ada urusan dengan soal lapor melapor?
 
?Kamu ngerti catur??
 
?Ya pak, cuma ngerti, tapi tidak pintar?
 
?Kamu tahu, kalau rajanya sud ah mati, apa guna dan fungsi pion dan lain-lainnya?, nggak ada!, kamu kok ngotot mau melawan terus, percuma!?
Aku diam tak menjawab.
 
?Kamu pernah ketemu dengan bu Marzuki di rumah si Kasim, di bilangan Polonia, ada urusan apa?, dapat tugas ya??
 
"Aneh, tahu semua dia?"
 
?Saya ditawari untuk bekerja di pabrik tahu?
 
?Bagaimana caranya kamu bisa menemui bu Marzuki di rumahnya si Kasim??
 
?Ibu Marzuki yang datang ke rumah saya?
 
?Kamu tahu di mana persembunyian dia??
 
?Dia tidak pernah ngomong soal di mana dia menginap?
 
?Kalau kamu tidak tahu di mana persembunyiannya, bagaimana caranya kamu bisa sering ketemu??
 
?Kasim yang sering datang ke pabrik tahu menemui saya?
 
?Berani kamu, aku konfrontir dengan si Kasim??
 
?Berani pak?
Tapi ternyata sampai selesai interogasi dengan segala bentuk siksaannya, orang yang bernama Kasim itu tak pernah dihadirkan.
 
?Semua yang kamu katakan itu bohong, aku yakin kamu tahu benar tentang di mana ibu Marzuki ini bersembunyi, kamu sudah melaksanakan GTM (Gerakan Tutup Mulut) dengan baik. Tapi kamu masih aku beri kesempatan, pikir baik-baik, kamu sebagai pion yang sudah tidak berfungsi akan aku fungsikan kembali. Bantu saya, waktunya lima menit?
 
?Bantu apa pak?, kalau membantu untuk keperluan kantor seperti mengetik misalnya atau nyapu dan bebenah saya bisa pak?
 
?Eh, bener-bener ulet gombal amoh ini. Itu bantuan fisik monyet!, yang kuminta adalah kamu membantuku secara moril, beri aku informasi, ngerti bangsat!?
 
Rupanya kesabarannya mulai men ipis, keberangan mulai tampak di mukanya. Seorang pekerja sipil dipanggilnya.
 
?Eh, Madori sini!, ada tugas untukmu?
Yang dipanggil datang, orangnya biasa-biasa saja, cuma bermuka cemberut.
 
?Siap be, ada tugas apa??
Si gempal yang dipanggil ?be? kependekan dari kata ?babe?, tampak makin besar kepala.
 
?Ambil kerokkan itu di atas lemari, saudara kita ini belum sarapan, dia masuk angin rupanya, perlu kerokkan?. Dia mengambil apa yang diperintahkan. Benda keras sepanjang kira-kira setengah meteran lebih sedikit. Kuperhatikan, ternyata benda itu adalah buntut seekor ikan pari, yang kasar seperti kikir.
 
?Saya kasih lagi kesempatan waktu tiga menit lagi?
Waktu tiga menit pun berlalu, aku tetap diam seribu bahasa. Lalu di bawah komando hitungan satu , dua, tiga. Madori dengan buntut ikan pari di tangannya mulai beraksi.
 
Aku diperintahkan membuka baju, telanjanag dada, hanya tinggal celana dalam saja yang menempel. Dengan posisi kaki tetap berdiri, dada telungkup di meja, dengan kedua tanganku menjadi bantalnya. Mula-mula betis kanan dan kiri yang menerima hajaran, jebret!.
 
Terasa panas sekaligus pedih bukan main. Kedua betisku terus dihajar dan dihajar, kedua kakiku mancal-mancal. Sabetan diteruskan, sekarang buntut ikan pari bergerak menuju ke atas, kini kedua pahaku yang dihantam, sabet terus berulang-ulang. Buntut pari gremet ke atas  lagi, sekarang punggungku yang telungkup di meja seperti alas mencacah daging untuk bedel goreng yang jadi sasaran. Setiap sabetan pertama yang mengenai bagian tubuhku terasa panas, pedes dan nyerinya tujuh kali lipat dibanding bagian tubuh lain yang sudah berkali-kali menerima sabetan. Daging betis, paha dan punggungku terasa kebal bila diraba, kayak nggak terasa lagi, barangkali saraf-sarafnya sudah mati rasa.
 
?Bangun!? bentak Madori.
Aku bangun dari posisi telungkup, mukaku tepat berhadapan dengan mukanya. Tiba-tiba, bet!, tanpa komando tinju kanannya mengenai bibir atasku bagian kiri, glosor!, aku jatuh terlentang. Kemudian tanganku ditariknya, pundaknya menyangga dadaku. Kembali tanpa peringatan, tubuhku dilemparnya ke arah pintu, brak!. Punggung dan kepalaku berbenturan keras dengan pintu. Terakhir kali ibu jari kedua kakiku diinjak sekeras-kerasnya dengan hak sepatu. Tidak usah diomong lagi soal rasa sakitnya, setengah kelenger!.
 
Kembali dengan bermodalkan kata ?kancane akeh kok?, hatiku bicara: ?ayo teruskan, legane atiku, kau tak akan memperoleh kakap dari seekor cacing, jangankan kakap, seekor teri pun tak akan pernah kau dapatkan! ?
Puas nampaknya si algojo, Madori,menghajarku, den gan santai ia bertanya pada si gempal,
 
?Diteruskan nggak be??
 
?Berhenti dulu, kasih kesempatan si bangsat ini untuk berpikir?
Lalu aku disuruh berpakaian dan kembali ke kamp untuk beristirahat, aku dikawal menuju kamp tahanan kembali. Sampai di halaman kantor, ada sebuah jip mogok, badan yang sudah tak karuan rasanya, masih juga disuruh bantu mendorong jip itu.
 
Di pagar tembok yang membatasi jalan besar dengan kantor Kodim, tampak seseorang berdiri bertolak pinggang, postur tubuhnya sebesar aku juga. Saat aku melintas, aku menengok ke arahnya, orang itu tersenyum seraya berkata, ?He bung!, bagaimana kabarnya zus Mul (istriku) di rumah??
 
Aku tak menjawab, ternyata dia adalah si Kasim, pemilik rumah di Polonia. Hatiku berkata,
 
?Bangsat kau!, kau jebloskan aku demi keselamatan dirimu sendiri. Yah tunggu sajalah akan nasibmu nanti, bangsat!. Akan berapa lama kau bisa menjadi manusia yang bebas malang-melintang di negri ini, mungkin selama kau masih bisa dan mampu menyerahkan orang-orang yang dicari oleh penguasa, selama itu kau boleh bebas berkeliaran. Tapi manakala kemampuanmu telah habis, kau sendiri yang akan menjadi gantinya.
 
Benar juga adanya, di kemudian hari aku dengar si bangsat Kasim ini, akhirnya menjadi penghuni penjara juga, menyusul teman-teman yang telah dikhinatinya dan ia mengalami nasib yang jauh lebih hina. Betapa tidak, setiap tahanan yang melewati selnya yang selalu tertutup itu, selalu saja memberi hinaan yang sangat nista, perkataan, ?Sudah mandi bung?, nih air buat mandimu!? yang diikuti dengan siraman seember air kotor ke dalam selnya melalui jendela, adalah sapaan sehari-harinya atau seringkali tahanan lain melemparkan puntungan rokok ke dalam selnya. Satu saat ada yang sengaja melemparkan bangkai tikus kepadanya, bahkan ada juga yang menyiramkan air kencing kedalam selnya. Begitulah kehinaan yang didapat bagi seorang pengkhianat. Penguasa sudah tak membutuhkannya lagi, di dalam penjara mendapat cacian dan hinaan dari sesama tahanan. Dan kehinaan ini pun harus ditanggung pula oleh anak dan istrinya. Dasar pengecut!.
 
Penguasa tetap penguasa, cecunguk tetap cecunguk, tempatnya tetap, masing-masing ada pagar sekatnya. Penguasa tidak pernah puas dengan pemberian cecunguk. Hari ini dia minta satu, besok dia minta dua, jika hal ini dipenuhi oleh si cecunguk maka, lusa dia akan minta empat, sepuluh, dua puluh dan seterusnya, hingga akhirnya mentok, jika kemampuan si cecunguk untuk memberi sudah habis ludes, maka habis pulalah kebebasannya.    
 
Sesampai aku di kamp, aku disambut oleh Pak Jul, dia seorang redaktur luar negri HR, ditempelkannya bibirnya ke telingaku, lalu bisiknya , ?Kowe lanang tenan?.
 
Ya, cuma itu bisiknya. Dia melihat mulutku yang menjadi monyong dan kepala yang penuh benjolan. Dari ceritanya aku tahu, Pak Jul masuk kamp tahanan ini bukan karena ditangkap oleh tim Kalong, tetapi ia terpaksa menyerahkan diri, sebagai pengganti anak perempuannya yang disandera oleh aparat.
 
Rasa kebal kulitku mulai berkurang, panas dingin mulai terasa menjalari seluruh tubuhku. Seorang teman menghampiri, memberiku  minuman beras kencur, segar sekali rasanya. Dalam keadaan darurat, beras kencur adalah obat yang memadai, beras kencur selalu tersedia di kamp ini, diperoleh dari keluarga yang datang membesuk. Airnya enak diminum dan ampasnya bisa dipakai untuk melulur tubuh yang sakit.
 
Oleh teman bajuku dilepaskan, lalu seluruh tubuh mulai dari kaki sampai tengkuk dibalurnya dengan ampas beras kencur.
 
?Jangan kenceng-kenceng bung balurnya, nyeri dan sakit ras anya?
Saat kulit terasa kebal, dipegang memang nggak terasa, tapi sekarang setelah rasa kebal berkurang, jangankan dipegang, diraba saja sakitnya bukan main.
 
Begitulah keadaanku, setelah diinterogasi dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore, jadi tidak kurang dari 6 jam aku harus menghadapi singa-singa lapar.Ternyata waktu aku sedang diinterogasi oleh si gempal, keluargaku datang membesuk, karena aku belum kembali, tentu saja aku tak ketemu. Dengan keadaan seperti itu, makanan kiriman dari keluarga akhirnya tak termakan, apa lagi jatah makan dari Kodim, karena mulutku yang nyonyor susah sekali dipakai untuk mengunyah, akhirnya aku hanya menyeduh kopi dan menghisap bako lintingan. Rasanya kok nikmat sekali. Tembakau lintingan biasa disebut ?rara ireng?.
 
Sahabat karibku yang tinggal di dekat rumah suka menitipkan rara ireng untukku, setiap kali besukkanku datang pasti ada rara irengnya, sehingga besukkanku dikenal dengan sebutan besukkan rara ireng. Kalau sudah begitu, berdatanganlah teman-teman sekamp, ngeriung ramai-ramai ngisep rara ireng.
 
Waktu berjalan terus tanpa henti, aku belum dipanggil lagi, walaupun sudah lebih dari sebulan aku beristirahat. Kesehatanku mulai pulih, canda, nyanyi, nembang serta saling bercerita menjadi pengisi waktu, sambil menunggu nasib yang tak menentu..
 
Sebenarnya sebelum aku masuk kamp tahanan, keadaan di luar sudah berbalik arah. Gerakan September hanya berumur sehari- semalam. Masa yang tadinya berteriak,
 
?Kembalikan Soekarno!, Langkahi dulu bangkai kami sebelum menyinggung Soekarno!?, sekarang telah berganti dengan kata-kata, ?Mundur Soekarno!, Ganyang, dan Gantung Soekarno!? Berulangkali para demonstran itu berunjuk rasa di sekitar kamp. Di depan Kodim pun teriakan-teriakan histeris para demonstran berlangsung terus, ?Babat dan sikat hab is tahanan PKI?, kami pun cemas, kami bersiap diri, kami persiapkan pikiran dan mental kami.
 
Apa boleh buat, apa pun jadinya seandainya para demonstran itu masuk, menyerbu ke dalam untuk membunuh kami, sedapat kami buat, kami akan mempertahankan diri. Syukurlah penyerbuan yang kami khawatirkan itu tak pernah terjadi.
 
Lebih dari empat bulan aku menghuni kamp tahanan Kodim Budi Kemuliaan. Rupanya kami akan segera dipindahkan. Perintah mengosongkan kamp segera dilaksanakan, kami pun bersiap-siap pindah, kemana?, nggak tahu. Kalau si bapak dan si ibu muda dalam lamunanku, meninggalkan rumah sakit Budi Kemuliaan menuju ke rumah tinggalnya, bersama si kecil dalam dekapan. Sedang kami menuju kemana?. Tunggu pada saatnya akan kau ketahui.
                        
                                                        *****
Bersambung ke nr. III - SALEMBA ...  28
 

 


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65click: http://www.progind.net/  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/


Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba

Mayapada Prana Links:
<*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere
http://www.kryon.com/

<*> Yoga Leaf Bandung
http://www.yogaleaf.com/

<*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination
http://www.spiritual-endeavors.org/




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise