|
Fwd: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( I ): msg#00119culture.religion.healer.mayapada
Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote: Date: Sun, 21 Jan 2007 10:47:28 -0800 (PST) From: Sastra Pembebasan <lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> Subject: KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S "BULEMBANGBU" Oleh N. Syam. H ( I ) KISAH PAHIT SEORANG TAHANAN G30S BULEMBANGBU Oleh N. Syam. H Kata pengantar Kisah ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis sendiri sebagai seorang tapol yang selama 13 tahun berada di dalam tahanan, penjara dan pembuangan. Sebenarnya penulis tidak ingin mengisahkan pengalaman itu, mengenang pengalaman pahit bisa menimbulkan traum
a, selain itu penulis pada dasarnya bukanlah seorang pengarang atau pun seorang penulis,
penulis juga tidak mempunyai data atau catatan, terutama yang berkaitan dengan ketepatan waktu kejadian. Penulis menyadari bahwa untuk mengerjakan sesuatu yang bukan bidangnya itu sangatlah sulit. Dan kalau pada akhirnya penulisan kisah ini terjadi itu semata-mata karena permintaan anak, cucu, saudara dan para keluarga, dan semua itu demi generasi keluarga mendatang. Oleh karena itu tulisan yang tidak lebih dari cerita dan dongeng kecil ini penulis angkat dan ceritakan kembali walau hanya berdasarkan pada ingatan penulis belaka. Penulis sangat menyadari bahwa ingatan tentu saja bisa salah, apa lagi cerita ini penulis ungkapkan kembali setelah 26 tahun sejak waktu pembebasan, dan di saat usia penulis yang telah mencapai 75 tahun. Oleh karena itu jika dalam bertutur cerita kisah ini tidak kronologis dan terasa muter-muter tent
unya hal itu dapat dimaklumi dan dipahami. Dalam kisah
ini penulis ada pula menyebutkan nama-nama orang, baik yang sudah penulis kenal sebelum peristiwa terjadi atau pun selama dalam tahanan. Tak ada maksud penulis untuk mencemarkan nama-nama beliau tersebut, melainkan penulis hanya ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya, banyak sikap dan perilaku positif dari beliau-beliau yang dalam keadaan sulit saekalipun masih mampu dan mau membantu sesama teman dan menolong yang lemah. Kepada beliau-beliau ini tak ada kata yang pantas penulis ucapkan selain terima kasih yang mendalam. Tetapi jika pemuatan nama-nama beliau ini dianggap tidak baik dan tidak etis karena tanpa ijin, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kalau pun penulis harus meminta ijin terlebih dahulu penulis tak tahu harus ke mana, karena sejak pembebasan penulis otomatis terputus hubungan dengan beliau-beliau ini. Akhirukalam, apa pun b
entuk dan wujudnya, tulisan ini adalah suatu kenyataan yang pernah terjadi dan penulis
ketahui, alami dan rasakan sendiri. Dan dengan senang hati penulis serahkan sepenuhnya tulisan ini kepada anak, cucu, saudara, keluarga, dan kerabatku. Jakarta, Mei 2005. DAFTAR ISI & ; ;nbs p; &
nbsp; KATA PENGANTAR???????????????????????.. 1 DAFTAR ISI ?????????????????????????..? 3 PENDAHULUAN ???????????????????..?????. 5 BUDI KEMULIAAN ?.????????????????????...... 14 SALEMBA ????????????????????????..??. 28 - Menjadi Tukang Pijat ..????????????????.....??.. 36 - Pertemuan Dengan Keluarga...????????????????. 41 - Santi Aji ?????????..???????????????? 44 - Pertemuan Keluarga Yang Kedua ....... ????????????. 50 NUSA KAMBANGAN ?????????????????????.. 63 PULAU BURU ??????????????????????.??. 78 - Unit II ????????????.?.???????????. 83 - Anak Kucing Mengisi
Rantang ??.????????.???.. 84 - Mengerek Bendera Merah Putih .?.???????????... 86 - Nyolong Garam ????????..?.?????????...? 91 - Menjadi Penganyam Atap Kena Hukuman ???????.?? 92 - Apel Malam ??????????????.???????.? 96 - Menjadi Satgas Pemukul Sagu ??????..???????. 97 - Sayur Perwira ??????????????.?????.?? 99 - Dinas Di Dapur B
arak ???????????,???..??? 100
- Barak II menyunati anak pedesaan ???????????.. 115 - Anakku kirim surat dengan fotonya ?????.?????.?. 118 - Dilema Pembebasan ...???????????.?????.. 126 PULANG ?????????????????????.?????? 129 PENUTUP ?????.???????????????.??????. 137 *** PENDAHULUAN - hal: 5 - 14 Bulembangbu, ya kata bulembangbu rasanya kok susah diucapkan. Terasa asing dan aneh didengar. Bulembangbu seolah seperti nama suatu kerajaan dalam cerita wayang. Suatu kerajaan dengan raksasa rajanya. Raksasa segede gunung anak2an. Matanya
seperti surya kembar, hidungnya seperti buritan perahu, mulut menganga bak goa, gigi runcing bak gigi senso (gergaji mesin) pemotong pohon besar di hutan, taring mencuat bak pisang ambon. Kalau batuk seperti gluduk, kalau bersin kaya bledeg, siap menelan melintang apa saja yang ada di depannya. Kata-kata untuk menggambarkan sesuatu seperti di atas, adalah kata-kata yang diucapkan seorang dalang dalam suatu pagelaran wayang, waktunya tengah malam atau sudah larut malam, namanya janturan, diiringi alunan tembang oleh ibu sinden dengan iringan siter, rebab dan lainnya, serba lirih. Ah indah sekali. Aku bangga menjadi bangsa Indonesia yang mempunyai seni budaya begitu indah, khususnya bagi suku Jawa. Seni wayang purwa yang sekarang sudah diakui keindahannya dan su
dah menjadi milik dunia, adalah suatu bentuk seni yang kompleks. Seni pahat, seni rupa,
seni tata warna, seni tari tercermin dalam bentuk wayangnya. Seni suara dan sastra ada dalam diri seorang pesinden dan ki dalang. Seni musik alangkah indah dan membanggakannya. Instrumennya mempunyai bentuk dan keindahannya sendiri. Ia dibentuk, dicipta dan diproduksi secara tradisionil, tidak bisa dibeli di sembarang tempat, di toko misalnya. Sementara ada yang mempercayai intrumen Jawa ini mempunyai kekuatan gaib, sebab dibuat secara khusus oleh pembuatnya dengan melakukan laku (tirakat, puasa, meditasi dan lain-lainnya). Gamelan juga diberi julukan. Satu pangkon (unit) gamelan atau gongso di Keraton Mangkunegaraan diberi gelar Kyai Kanyut (laras selendro) dan Kyai Mesem untuk laras pelog. Yang kadang-kadang ada rasa sayang, yang namanya orang Jawa nggak ngerti dan nggak menyukai seni wayang dan gamelannya. Musik Jawa bikin orang ngantuk dan lapar katany
a. Pernah aku baca di suatu rubrik koran (Kompas) bahwa
gamelan beserta grup-grupnya banyak terdapat di manca negara. Di Amerika, ada tidak kurang dari 300 unit gamelan, di Perancis dan di Inggris, sedikitnya ada puluhan di sana , bahkan ditulis dalam rubrik itu gamelan tidak hanya bisa dimainkan dalam bentuk seni saja tetapi gamelan juga bisa dipakai sebagai sarana terapi kejiwaan. Di penjara misalnya, gamelan bisa digunakan untuk membantu mengubah watak dan perilaku para narapidana. Mereka bisa memainkannya, memainkan musik Jawa tidak perlu waktu lama untuk mempelajarinya. Memainkan saron kenong dan kempul tidak terlalu sulit. Memainkan secara bersama dengan irama yang runtut serta suara yang nyaring dan bening, bukan tidak mungkin suara dan irama gamelan itu bisa mengubah watak dan perilaku seseorang. Begitu kata tulisan dalam rubrik itu. Pernah aku tanyakan pada seorang teman pecandu wayang, bahkan dia pern
ah belajar seni pedalangan, Bulembangbu tidak ada dalam cerita wayang, itu cuma karangan
dan tidak ada dalam pakem. Didengarnya saja sudah nggak enak, diucapkan juga susah. Oh begitu ya?, ya sudah. Aku bilang, lha wayang purwa dengan segala tetek bengeknya itu apa bukan hasil suatu karangan?. Mahabrata dan Ramayana juga hasil karangan Wiyasa dan Walmiki. Saking pinternya sang pengarang, seolah-olah cerita tersebut pernah ada dan pernah terjadi. Wayang berasal dari India tetapi berkembang di Indonesia . Begitu rupa perkembangannya, orang Jawa khususnya tidak merasa kalau wayang berasal dari India . Orang Jawa yang fanatik pada wayang, tetap bersikukuh wayang adalah asli dari Indonesia . Mereka bisa menunjukkan bukti, bahwa wayang murni berasal dari Ind
onesia (Jawa). Ada suatu tempat di
kampungku, di tempat itu ada gundukan tanah, oleh warga setempat gundukan tanah itu dinamakan Gedibal Seno. Ceritanya, waktu terjadi pertempuran turun hujan deras, telapak kaki Bratasena jadi penuh lumpur dan endut, lumpur dan endut itu dikibaskan oleh sang Bratasena, maka tertinggalah gundukan itu, lalu dinamai Gedibal Seno. Ada lagi, suatu desa yang namanya Cakaran, ceritanya waktu Hanoman akan bertarung melawan raksasa Alengka, ia mengasah kukunya di satu pohon, layaknya seperti kucing mengasah kukunya, maka disebutlah tempat itu Cakaran. Satu lagi, di kampungku, di belakang sekolahku, ada satu kuburan, di situ juga ada gundukan tanah, orang setempat menamakan makam itu Bokerno, mungkin berasal dari nama tokoh wayang dalam cerita Ramayana, nama satria raksasa Alengka, Kumbakarna. Ceritanya telinga Kumbakarna kepagas (terpotong) senjata pamun
gkas Prabu Ramawijaya, senjata itu namanya Gowawijaya. Dan tempat jatuhnya ceceran darah
dari telinga Kumbakarna itu katanya menjadi suatu gundukkan tanah, yang seterusnya disebut makan Bokerno. Mengapa kok begitu?.Itulah fanatisme, khasanah legenda Indonesia kaya akan cerita-cerita semacam itu. Indahkan? Budayawan-budayawan besar sanggup mengarang dan menciptakan suatu cerita-cerita yang sangat indah. Barangkali saja para pengarang-pengarang besar itu ketika menulis dan menciptakan cerita, diilhami oleh situasi dan kondisi setempat saat itu, atau mereka menuangkan dan menumpahkan angan-angan dan pikirannya atas dasar pengalaman hidupnya. Tembang Sinom (Jaman Edan dalam kitab Kalatido) ditulis oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito. Barangkali juga Raden Ngabehi saat menulisnya diilhami oleh kondisi dan situasi diwaktu itu. Raden Ngabehi Ronggowarsito yang nama aslinya a
dalah Raden Mas Burhan mengalami situasi jaman yang sudah gila, jaman yang penuh dengan
kemaksiatan, kemunafikkan, penipuan, penyalah gunaan jabatan dan lain sebagainya. Raden Ngabehi menyampaikan kritik dan sindirannya dalam bentuk tembang. Seperti sudah menjadi kebiasaan atau pun hukum yang tak tertulis, para pengarang-pengarang ternama selalu menyampaikan kritiknya dalam bentuk karya seni yang indah. Nampaknya memang hanya satu pupuh tembang tetapi penuh dengan makna yang hakiki. Seandainya kritik itu disampaikan secara terus terang atau blak-blakan mungkin bisa berakibat fatal bagi pengarangnya. Ada yang pernah aku dengar dari satu cerita, Raden Mas Burhan tahu persis hari dan tanggal kapan ia akan mati, rupanya rezim yang berkuasa saat itu menjatuhkan vonis mati padanya dan bukan tidak mungkin tanggal dan hari kapan eksekusi akan dilaksanakan bocor hingga sempat terdengar dan diketahui oleh R. Mas Burhan. Itu kata tutur cerita, tapi lain lagi dengan apa yang pernah ak
u baca dari surat kabar KOMPAS, sebuah artikel yang ditulis oleh Aryo Wisanggeni
Genthong mengatakan bahwa karya Raden Ng. Ronggowarsito, ?Serat Sabdajati? meramalkan dengan tepat kapan saat kematiannya sendiri akan terjadi, yaitu ?Hari Rebo Pon, 24 Desember 1878?. Jadi kalau begitu mana yang benar?. Terserah saja pada mereka mana yang diyakini kebenarannya. Selain ?Serat Sabdajati? beliau juga menulis ?Serat Joko Lodhang? yang meramalkan tentang kemerdekaan Indonesia . Raden Ng. Ronggowarsito kelahiran 15 Maret 1802, di desa Pasar Kliwon adalah pujangga penutup sastra Jawa klasik Keraton Surakarta. Tidak kurang dua belas buku tentang Filsafat Jawa, Primbon dan lainnya telah ditulisnya, yang semuanya tersimpan dalam Museum Radya Pustaka, Surakarta . Selanjutnya artikel itu berbicara tentang kemampuan Raden Ng. Ronggowarsito tentang ?Daya Linuwih? (kelebihan
) yang beliau miliki untuk melompati ranah, ruang dan waktu. Terbukti bahwa karya-karya
beliau selalu mendapatkan konteksnya dalam mengisi ramalan situasi politik dan sosial negeri ini. Beliau bukan wali, bukan malaekat. Dia hanya manusia biasa, yang berbeda mungkin hanya filing dan analisanya yang tajam. Lalu bagaimana kebenarannya? Wallah hualam bisawab!. Penilaian terhadap orang-orang ternama itu biasanya suka dilebih-lebihkan. Satu cerita lagi misalnya, Sunan Kali Jaga yang sangat menonjol kecerdasannya diantara para wali songo lainnya, saat akan menentukan arah kiblat Mesjid Agung, Demak, kelompok wali ini bingung mereka tak tahu dimana arah kiblat. Akhirnya mereka hanya menunggu kedatangan Sunan Kali Jaga untuk menentukan arah kiblat, karena hanya beliau sajalah yang bisa menentukannya. Sunan Kali Jaga yang mempunyai nama kecil Raden Said adalah putra dari Bupati Tuban, Raden Wilotikto, sebelum bergelar wali beliau adalah seorang
perampok, pembegal kecu gento (julukkan bagi penjahat). Beliau terpaksa taubat dan
bersimpuh menyembah telapak kaki Kanjeng Sunan Bonang, gara-gara saat ia akan merampok Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan berkata, ?Hai Said, benda atau harta apakah yang akan kau peroleh dariku?. Kalau kau akan merampokku itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena aku tidak mempunyai apa-apa. Kalau kau mau harta, panjatlah pohon aren (enau) itu, kau akan mendapatkan emas yang tak terhingga banyaknya.? Raden Said pun melakukan apa yang diperintahkan Kanjeng Sunan. Benar saja, ternyata buah aren (kolang-kaling) telah berubah menjadi emas seluruhnya. Itulah sepenggal cerita tentang Sunan Kali Jaga. Kebenarannya?. Wallah hualam bisawab. Kalau mau ditambahkan cerita tentang wali songo, ada lagi. Syech Siti Jenar yang menolak dan membangkang perintah-perintah (mbalelo) wali songo, setelah mati, kepala mayatnya berubah menjadi kepala anjing. Kebenarannya
bagaimana? Ya sekali lagi Wallah hualam bisawab. Syech Siti Jenar memang kritis,
barangkali karena sikap kritis dan sikap mbalelonya kepada para wali itulah yang menyebabkan beliau tersingkir dan mati, lalu kepala mayatnya berubah menjadi kepala anjing. Kalau kita simak sejarah kekuasaan feodal, selamanya selalu terjadi saling menjatuhkan. Berebut pengaruh dan kekuasaan. Begitulah makhluk yang namanya manusia. Manusia tak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, mereka selalu ingin mendapatkan sesuatu sebanyak-banyaknya, mereka tak pernah puas dengan apa yang telah mereka peroleh. Kaya itu tidak ada batasannya. Di atas yang kaya masih ada lagi yang lebih kaya. Kalau miskin itu jelas dapat dilihat. Kalau Sunan Kudus ndombani (memberi semangat) kepada Bupati Lasem, Surayata, bapak dari Arya Penangsang untuk merebut kekuasaan Demak, itu adalah wujud dari ketamakan manusia, sekalipun ia sudah be
rgelar wali. Nah, kembali kepada judul tulisanku ini.
Bulembangbu itu ada dan betul-betul ada. Bulembangbu bukan suatu cerita khayalan, ia nyata keberadaannya. Di sana juga ada penguasanya, ada rajanya, ada buta-butanya. Buta Ijonya juga banyak. Ada kekerasan, ada perampokan, dan ada penindasan. Tingkah dan perilaku diluar batas kemanusiaan pun sering terjadi setiap saat. Dengarkan!. Tanggal 11 Agustus 1966, jam sesudah waktu magrib. Datang seorang anak lelaki kerumahku, membawa secarik kertas bertuliskan, "Harap saudara datang kerumah saya, penting!," tanda tangan ketua RT. Aku agak kaget, biasanya kalau urusan ke-RT-an dan penting, maka ketua RT sendirilah yang datang kerumah. Oh, barangkali ada urusan tentang pesanan makanan kecil dalam rangka menyambut 17 Agustusan. Ah, rejeki datang, lumayan!. Saat itu posisiku berubah 180° , sejak tanggal 2 Oktober 1965, dua hari setelah p
eristiwa besar, pembunuhan Dewan Jendral itu, perusahaan percetakan tempat aku bekerja
ditutup dan disegel, praktis aku sudah tidak bekerja lagi, bahkan sempat kami tidak boleh meninggalkan kantor selama 17 hari. Makan hanya ala kadarnya menurut sisa bama (bahan makanan) yang masih ada. Selama 17 hari pula kami tidak berganti pakaian. Derita pertama, mulai menerpa hidupku. Sebelum itu, aku pun sempat menjadi pegawai negri. Tahun 1954 aku sudah menjadi pegawai negri. Saat itu sangat mudah untuk menjadi pegawai negri. Aku menjadi pegawai negri tanpa melamar. Prosesnya sangat cepat, hanya dengan membawa ijazah lulusan SMP, hari itu juga aku langsung menjadi pegawai negri. Tempatku bekerja bernama Jawatan Pharmasi, baru kemudian di belakang hari aku tahu kalau Pharmasi itu adalah kantor yang ada hubungannya dengan obat-obatan, maklum ak
u baru datang dari kampung. Jawatan Pharmasi ada di bawah Departemen Kesehatan. Di sana
sisa-sisa budaya Belanda terasa masih kental, bisa dimaklumi karena umur republik ini belum genap 10 tahun. Bahasa Belanda adalah bahasa sehari-hari bagi para kepala bagian. Panggilan menir untuk para kepala bagian menjadi suatu keharusan Aku ditempatkan di ruang kepala kantor, menjadi pembantunya (pesuruh). Namanya saja pesuruh, kerjanya ya apa saja, menyapu lantai, mengelap meja tempat beliau bekerja dan lain-lainnya. Di sana juga ada pegawai lainnya, seorang wanita, orangnya cantik, tinggi semampai, suaranya halus, bening enak didengar, panggilannya adalah Mbak Dian Pertiwi. ?Dik,? aku dipanggilnya, ?Menir Sastro, memerintahkan saya untuk mengajarkan adik cara bekerja di afdeling sini, juga cara dan kebiasaan-kebiasaan di kantor ini. Nah ini buku namanya agenda book. Di lembar-lembar buku ini digaris menjadi beberapa
kolom. Kolom pertama berisi nomer urut, kolom kedua berisi nomer tanggal surat , lihat
nih, setiap surat mesti ada nomernya dan tanggalnya. Kolom ketiga berisi perihal surat, nih lihat, surat ini perihalnya tentang kenaikkan pangkat. Kolom keempat berisi kepada, artinya sesudah surat ini diperiksa oleh menir Sastro, nantinya surat ini akan diberi disposisi, kemana surat ini harus diteruskan. Biasanya karena surat ini perihal kenaikkan pangkat, tentu surat ini akan diteruskan ke afdeling personalia. Ngerti ya?, gampang kok. Dan ini, buku panjang kecil ini namanya expedisi book, untuk mengirim surat-surat ini ke afdeling yang bersangkutan.? Sambil menggandeng tanganku, aku diantarnya kesemua bagian. Hiy, baru kali ini ada seorang perempuan menggandeng tanganku, selain ibu dan saudara-saudara perempuanku tentunya. Tangannya terasa halus sekali dan bau parfumnya, uh, amit-amit deh wangi banget!. Muter, seluruh bagian kami kunjungi.
?Nah ini, ruang kepala Jawatan, menir Ir. Hardiman, ini ruang
Drs, Lukito, ini ruang kepala keuangan menir Machmud.? Kami terus berjalan sampai pada bagian arsip, gudang dan logistik dan akhir kunjungan sampai pada ruang kepala bagian urusan pegawai menir Wage Amin. Di bagian ini aku ditahan dan dipersilahkan duduk. ?Saudara Sam, atas perintah menir Sastro, saudara hari ini diterima menjadi pegawai di kantor ini dengan status tenaga harian dengan gaji Rp.9.500,-/hari, dan saudara ditempatkan di ruang menir Sastro, menjadi pembantunya (opas), saudara harus mematuhi semua aturan yang berlaku di sini, saudara harus melayani dengan sebaik-baiknya segala keperluan dan kebutuhan menir Sastro. Manakala saudara tidak bisa melaksanakan dengan baik ketentuan ini, kemudian menir Sastro tidak puas dengan pekerjaan saudara, maka saudara boleh dipecat zonder debat. Paham?? ?Ya, sekarang saudara boleh mulai
bekerja.? Opas ya opas, setahuku yang namanya opas itu di jaman aku masih anak-anak, opas itu ya pegawai sipil, pakaiannya berwarna hijau keputihan, begitu juga celananya, topinya kayak topi koboi, dibuat dari anyaman bambu, dilipat miring, pakai ikat pinggang yang digantungi pemukul dari karet keras, tidak pakai sepatu. Kerjanya memukul lonceng kantor (genta, kayak genta gereja, ditarik tali kebawah), suaranya nyaring terdengar sampai jauh ke kampung-kampung. Yang paling kenceng suaranya, adalah lonceng Kanjengan (Kabupaten), nggak siang nggak malam, pak opas kerjanya menarik tali lonceng. Tetanggaku ada yang menjadi seorang opas namanya pak Tikno, ya namanya juga manusia, suatu saat mungkin karena terlalu capek atau ngantuk, ia salah memukul lonceng , mestinya jam 12 malam ditarik 12 kali, tetapi ia malah menariknya sampai
13 kali. Rupanya ada yang mencatat kesalahannya itu lalu dilaporkan pada atasannya,
sehingga pada pagi harinya dia pun dihukum, disel oleh kepalanya. Mungkin suatu saat nasibku bisa juga seperti pak Tikno. Waktu itu hari Jumat, jam kerja hanya sampai jam 11 siang. Aku belum mulai bekerja. Hari pertama, hanya kuisi dengan bersantai sambil mendengarkan arahan mbak Dian. ?Dik,? katanya, ?Bekerja di sini harus rajin tidak boleh malas, pakaiannya harus rapi dan bersih. Lihat itu menir-menir, pakainnya necis dan rapi, semuanya memakai dasi. Tentu adik nggak perlu pakai dasi. Kalau adik rajin, patuh dan nurut nanti cepet naik pangkat. Adik tamatan SMP kan ?, itu nanti kalau sudah menjadi pegawai tetap, pangkatnya Clerk golongannya CII/II.? Aku jadi teringat, ketika aku masih di kampung di jaman Belanda dulu, ada tetanggaku yang pangkatnya Clerk Pos. Orang kampung memanggilnya Ndoro Cl
erk. Yang lebih tinggi lagi adalah Ndoro Comis Pos, suatu pangkat yang susah dicapai
oleh orang kampung di saat itu. Mereka pergi pulang ke kantor tidak dijemput antar dengan mobil, cukup dengan berkendaraan sepeda onthel, merek Fongres. Merek sepeda yang paling terkenal di jaman itu dan jarang dimiki oleh orang biasa. Anak-anak mereka bisa sekolah di HIS, sekolah dasar bagi anak-anak amtenar, sampai dengan kelas VI, tamat. Di sekolah itu diajarkan bahasa Belanda, bahasa kebanggaan mereka. Panggilan mereka adalah den bagus untuk anak lelaki dan den roro untuk anak perempuan. Bahasa Indonesia belum ada, yang ada hanyalah bahasa Melayu, itu saja diajarkan di sekolah rakyat (ongko loro) pada tingkat kelas IV, sedang bahasa pengantar untuk di sekolahan memakai bahasa daerah. Murid-murid pun masih banyak yang memanggil gurunya dengan sebutan ndoro guru. Jabatan guru saat
itu adalah jabatan terhormat. Den guru, ndoro guru atau mas guru adalah panggilan
hariannya. Ada seorang nenek yang kebetulan anaknya menjadi guru desa (sekolah rakyat sampai kelas 3), pak guru biasa berpakaian jas tertutup dengan kain panjang dan udeng blangkon, jalan kaki pakai sandal. Sang nenek kalau dipanggil dengan sebutan mbah Satirah akan marah setengah mati. Ia akan mencaci si pemanggil itu, ?Anak nggak tahu sopan, apa orang tuamu nggak pernah ngajarin, manggil mbah guru apa nggak bisa.? Si nenek ini pekerjaannya pagi dan sore adalah berjualan serabi. Serabinya memang enak sekali. Aku biasa membeli serabinya setengah sen (sak ndil) dengan menyebutnya; mbah guru beli serabinya setengah sen atau satu sen. Beliau sangat senang sekali pada sebutan itu dan serabi untukku pun ukurannya menjadi lebih gede. ?Nanti kalau adik rajin dan bisa melayani bapak kepala dengan
baik, dari Clerk adik bisa jadi Comis, golongannya DII/II. Tentu saja prosesnya lama
bisa tahunan. Dik, ini hampir jam 11 siang. Sebentar lagi kita pulang, tapi hari ini ada undangan. Kita diundang oleh kantor Philip. Itu kantornya di sebelah kiri kantor kita. Kita akan nonton film.? Benar juga kami nonton film, cuma film tentang alat-alat kedokteran, tentang bagaimana alat-alat tersebut diproduksi. Kalau sekarang film seperti itu ya tidak lebih dari film iklan. Buat aku yang nggak ngerti tentang alat-alat itu, film itu jadi nggak ada artinya apa-apa. Hanya karena alat-alat ini sangat erat hubungannya dengan kantorku, dan itu merupakan promosi serta penawaran, maka hidangan pun keluar, walau hanya berupa makanan kecil, minuman dan rokok Comodor. Lain hari mbak
Dian bercerita tentang pengalamannya yang lain di kantor ini. ?Adik bisa lihat ya,
di kantor ini berapa jumlah pegawai wanitanya jika dibandingkan dengan pegawai prianya?. Dik, saya kadang-kadang kepingin segera keluar dari kantor ini. Nggak enak dik, teman wanitanya jarang sekali, apalagi saya bekerja di ruangan tertutup, berduaan sama bapak kepala, rasanya kok gimana ya, ada rasa takut. Adik ngerti ya maksud saya? Mungkin ada perkiraan yang bukan-bukan dari teman-teman yang lain. Cobalah bayangkan, satu ketika saya pernah diminta sama bapak (kepala bagian) untuk menemani beliau makan siang dan beliau tidak mau dipanggil menir atau bapak. Ya, sekedar makan siang saja tidak ada apa-apa. Lha tapi kalau yang begitu sering terjadi, bisa itu karena biasa lho dik. Kalau sering-sering dan kebetulan ada setan lewat kan bisa fatal. Nah mumpung belum terlanjur, saya ingin mengajukan permoho
nan berhenti. Oleh karena itu, saat adik diterima bekerja di bagian ini saya senang
sekali dan berucap syukur. Ingatlah baik-baik apa yang pernah saya ajarkan tentang cara bekerja di sini,? begitu kata mbak Dian, sangat telaten dan sabar. Cocok dengan namanya Dian Pertiwi. Dian Pertiwi, kalau diartikan maknanya adalah ?Penerang Bumi?. Orangnya memang cantik bahkan yang tercantik diantara pegawai-pegawai wanita di kantor ini. Ukuran besar dan tinggi tubuhnya seimbang, semampailah. Memakai pakaian berwarna dan potongan apa saja serba pas dan baik. Orang Jakarta bilang wanita semacam ini disebut badan sampiran. Namanya saja sampiran dikasih gombal juga terlihat bagus. Tidak lebih dari sebulan aku bekerja, sesuai dengan petunjuk mbak Dian, beliau tak tampak lagi bekerja, tidak ada di kantor ini lagi. Kemana?, nggak tahu. Meneruskan kuliah
barangkali, dia memang mahasiswi tingkat III, jurusan Sosiologi, atau mungkin ia pindah
bekerja di tempat lain, atau bisa jadi ia telah menikah. Nggak tahu, segalanya bisa mungkin. Aku sudah bisa bekerja sendiri, kemudian kantorku pindah alamat, yang tadinya ada di bilangan Harmoni, sekarang pindah dan ada di bilangan Salemba. Berhadapan dengan rumah penjara, yang di kemudian hari, aku pernah menjadi penghuninya. Namanya saja pegawai bawahan, ya harus nurut pada perintah atasannya. ?Patuhi perintahnya,? pesan mbak Dian, ?Laksanakan apa yang diperintahkan bapak kepala dengan baik jika ingin tetap bekerja dan tidak ingin dipecat,? tekan bapak kepala urusan personalia. Bukan sekarang saja yang namanya menyalah gunakan jabatan dan korupsi dilakukan, tapi sudah ada dan biasa terjadi sejak dulu. Bahkan di jaman VOC pun korupsi sudah ada. ?Sam,? bapak kepala biasa memanggilku
begitu. ?Coba buatkan saya daftar perjalanan. Begini, kau
tahu kan , setiap kali saya keluar kantor untuk keperluan dinas.? ?Ya menir? ?Jangan panggil menir, panggil saja pak? ?Ya pak? ?Saya nilai kau telah bekerja dengan baik. Nah, kalau saya pergi untuk keperluan dinas, mesti menggunakan mobil, itu perlu bensin. Coba kau perhitungkan jarak perjalanan dinas itu. Dari kantor ini ke Departemen, lalu ke Departemen Keuangan, lalu ke Siemens, Philip, Heist dan terus ke Bank Indonesia . Yang jelas setiap bulannya perjalanan dinas saya jangan kurang dari 1000 km. Sesudah itu teruskan kepada kepala Jawatan, untuk ditanda tangani. Kemudian ajukan ke Jawatan Perjalanan untuk dimintakan uangnya. Ngerti ya?.? ?Pak, Jawatan Perjalanan alamatnya di
mana?? ?Oh ya kau belum tahu ya?, ya ya, alamatnya di
Gambir, di Jalan Merdeka Selatan, nyeberang rel kereta sedikit. Jangan lupa temui pak Bambang di sana .? Begitulah setiap bulannya, salah satu tugas kerja yang harus aku lakukan. Membuat perjalanan dinas fiktif sepanjang 1000 km. Kemana saja?. Aku jadi bingung, mobilnya mobil dinas, bensinnya dari kantor, supirnya juga pegawai negri, kok ya tega-teganya bilang dan memberi perintah, buatkan saya daftar perjalanan dinas jangan kurang dari 1000 km, setiap bulan!. Apa boleh buat, bawahan harus melaksanakan segala perintah atasan. Mulai dari mereka-reka perjalanan beliau dari sini kesana, dari sana kesini lalu kesana lagi, kesini lagi dan seterusnya sampai pada jumlah jarak 1000 km, lalu kuteruskan daftar itu kepada kepala Jawatan, sesudah itu terus ke Jawatan Perjalanan menemui yang namanya Pak Bambang, untuk menerima uangnya. Aku tanda tangani daftar penerima
aan uang itu. Tidak kurang dari tiga lembar kertas yang harus aku tanda tangani. Dari
daftar tersebut barulah aku tahu, ternyata ada berbaris-baris nama beliau-beliau yang menerima uang perjalanan ini. Kalau begitu ternyata bapak kepala di tempat aku bekerja bukanlah satu-satunya orang yang melakukan perjalanan dinas semu. Karena sudah biasa dilakukan maka tidaklah menjadi suatu masalah lagi. Sesudah aku hitung jumlah uang sesuai dengan daftar, lalu kumasukkan kedalam amplop dan kemudian aku serahkan kepada bapak kepala. Beliau menerimanya, terus dimasukan ke kantongnya tanpa komentar. Selamat tidak ada apa-apa. Dengan kejadian-kejadian semacam itu dan mungkin masih banyak lagi korupsi lain dengan bentuk yang lain pula. Aku jadi ingat pada satu dagelan wayang kulit yang dibawakan oleh dalang ternama dari Banyumas, Ki Surono namanya, klasifikasinya adalah dalang nasional. Beliau memainkan adegan antara Togog dan Bilung, keduanya adalah
tokoh batur raksasa; ?Lung,? kata si Togog ?Apa kang Togog?? kata si Bilung ?Kowe mrene mau opo diajak karo bendaramu?? (kau kemari tadi, apa diajak oleh tuanmu?) ?Lha iyo ngono, wong batur? (lha iya begitu orang pembantu) ?Bendaramu jare mlebu pedesaan, grasak lan njarah rajah, kowe yo melu?? (tuanmu katanya masuk pedesaan merampok harta rakyat, kamu ya ikut?), ?Yo melu wong batur? (ya ikut orang pembantu) ?Lha kowe yo dibagi?? (lha kamu ya diberi bagian?) ?Yo ora wong batur!? (ya enggak orang pembantu!) ?Oh Allah, gusti Allah nasibmu Lung, Bilung, kok kebangetan amat wong melu ngerampok kok ora melu mbadog? Begitulah kira-kira kedudukkanku, menjadi pegawai bawahan, tidak lebih dari Bilung
si batur. Ya enggak apa-apa. Jalan terus sampai pada saatnya aku berhenti menjadi pegawai negri dan pindah bekerja ke sebuah percetakan swasta. Aku termasuk penggemar wayang kulit. Dulu radio swasta belum ada, rekaman wayang dalam kasetpun belum ada. RRI adalah radio tunggal. Kalau ada siaran wayang di RRI, aku lebih suka menontonnya secara langsung, atau kadang-kadang jika ada pagelaran wayang di Istana Negara, aku juga sering menontonnya. Memasuki Istana Negara saat itu sangat mudah, setiap warga bisa, tentu saja hanya jika Istana sedang mengadakan pertunjukkan. Undangannya disediakan oleh bagian Rumah Tangga Kepresidenan. Sangat mudah mendapatkannya. Hanya dengan menunjukkan kartu identitas, setiap warga bisa masuk ke Istana. Tidak ada rasa curiga dan buruk sangka. Istana bukan tempat yang angker dan sakral, Istana adalah tempat kediaman orang bia
sa dan Presiden hakikinya juga orang biasa. Bung Karno
adalah penggemar wayang sejati. Tokoh wayang yang menjadi idolanya adalah Ksatrya Pringgodani, Raden Gatutkaca, karena ia gagah, ganteng dan jiwa patriotismenya, dan Raja Mandura, karena kegagahan dan keberaniannya dengan suaranya yang keras, lantang dalam menghadapi musuh-musuhnya. Dalam setiap kali pidatonya, yang dapat memberikan semangat pada rakyat, bung Karno sering menggunakan ucapan pedalangan. Terlebih pada saat pidato Komando Dwikora, dalam rangka merebut kembali Irian Barat. Sikap dan ucapan Baladewa, diucapkan secara baik. Layaknya seorang dalang sedang memegang tokoh si Baladewa. ?Hai Nekolim, ingatlah kami bangsa Indonesia, bukan bangsa tempe, kami bukan bangsa yan
g melempem, kami bukan bangsa yang pandai berucap semuhun dawuh, kami bukan bangsa sesen
loro sebenggol papat loro sekudon telu sakurupan, (bukan bangsa murahan, bangsa yang bisa dibeli dengan uang satu sen atau sebenggol, dan bisa ditukar dengan beras sebatok). Ayo mana dadamu, ini dadaku, ayo kopat-kapito kaya ulo tapak angin kekejero, kaya manuk branjangan, majuo sak cindil abangmu legane atiku, rakyat Indonesia telah bersatu padu ayo maju!, bepuk limpung alugara jojoh nenggala sumjur kuwandamu.? Rakyat pun bertepuk tangan dan semangatnya benar-benar menyala. Kalau sudah demikian, mati untuk republik tercinta ini bukanlah apa-apa, bukan suatu pengorbanan berat. Bukan main!. Bergegas aku datang ke rumah pak RT, dengan menggunakan sarung dan alas gapyak aku berangkat. Sampai di rumah pak RT telah ada tamu lainnya, tiga orang laki-laki, s
atu orang bertubuh pendek-kekar, satu orang berukuran sedang dan satu orang lagi
berwajah Tionghoa. Pak RT menyilahkan aku duduk, seraya katanya, ?Pak Sam, ini ada tamu yang ingin ketemu dengan pak Sam. Apa urusannya saya nggak ngerti. Silahkan pak ini orangnya yang bapak-bapak inginkan," lanjutnya kepada tamu yang lain. ?Saudara benar bernama Nursamhari?? ?Ya pak? ?Gini saudara, saya sangat perlu dengan saudara malam ini juga, ada urusan sedikit. Kalau bisa selesai malam ini, nanti malam juga bisa pulang, ya selambat-lambatnya besok pagi.? Dugaanku untuk dapat rejeki dari pak RT meleset sama sekali, yang terjadi adalah aku harus berurusan dengan tiga orang yang tidak aku kenal. Melihat gelagatnya sesuai dengan situasi saat itu, aku di tangkap. Benar juga dugaanku ini. Aku ditangkap
oleh satuan tim, yang kemudian di belakang hari kuketahui satuan ini bernama Tim Kalong.
Tim Kalong adalah tim yang ganas dan produktif. Sesuai dengan namanya, kerja operasinya di waktu malam. Jelas sudah aku digondol kalong!. ?Pak saya izin ganti baju dulu,? dengan dikawal oleh ketiga orang itu aku pulang berganti baju, sekalian ingin pamit pada orang rumah. ?Oh ini toh rumahnya, kalau tahu ini rumahnya kan nggak perlu melalui RT segala? kata si Tionghoa. ?Eh, ya nggak boleh begitu dong, kita ini kan orang timur yang penuh dengan sopan santun. Dia ini warga RT sini, jadi kita ya harus seizin ketua RT-nya? Aku pergi meninggalkan rumah dengan pakaian seadanya, saat itu istriku dengan bayi kami kelahiran 22 Desember 1965, sedang pergi ke rumah kakaknya di bilangan Grogol. Satu-satunya orang yang bisa kupamiti adalah kakak perempuanku yang pa
ling tua. ?Yu, aku ditangkap? hanya itu yang bisa
kukatakan padanya. Kakakku nggak bisa ngomong apa-apa, dia hanya mbengong dan ngelus dada. Landlover menanti, si tamu yang berukuran sedang adalah sopir. Si gempal duduk di samping sang supir sedang si Tionghoa duduk di belakang bersamaku. Kendaraan tidak langsung menuju kantor, tetapi ternyata diarahkan kemana saja mereka mau. Si Tionghoa tak lepas-lepas dari rokoknya, rokok pun ditawarkan padaku, aku menolak. Selama berputar-putar itu mereka tidak pernah berhenti dengan omongan porno yang sangat menjijikkan. Si gempal pernah menghabiskan enam orang wanita dalam satu malam, sedang si Tionghoa yang tak mau kalah pernah melakukan sex oral dengan segala variasinya. Kendaraan jalan terus, tetap belum menuju kantor. Ngalor arahnya Harmoni, ngalor lagi sampai Ketapang, belok kiri. Ngulon sampai perapatan, belok kiri lagi ke arah Cideng. Supir menger
em kendaraan, si gempal dan si Tionghoa turun, nggak tahu mau kemana.
Yang pernah aku dengar daerah ini terkenal dengan wanita-wanita simpanan orang-orang gede dan orang-orang berduit, dan wanita-wanita simpanan itu sangat profesional. Di depan gedung terpancang papan ?Panti Pijit? atau ?Ayam Bakar/Goreng Kalasan atau Prambanan?. Apa pun namanya pada hakekatnya adalah prostitusi terselubung. Bahkan diceritakan, ada yang memiliki dokter spesialis kelamin pribadi. Mungkin saja si gempal dan si Tionghoa ke sana untuk mendapatkan servis dari wanita-wanita itu, malam ini. Melihat cara dan perilaku mereka, bisa aku perkirakan aku ditangkap bukan karena aku orang penting, orang yang sangat mereka cari. Kalau aku orang yang sangat dicari, tentu sesudah aku ditemukan mestinya langsung dibawa ke kantor untuk diinterogasi, disel dan lain sebagainya. Kenyaatannya nggak begitu. Dari Cideng k
endaraan balik ngidul arah Mester, sebelum gedung bioskop Central kendaraan belok ke
kanan, belok ke kiri nerobos viadeg, belok kiri lagi arah Bukit Duri. Kendaraan berhenti lagi. Aku disuruh turun, si gempal dan si Tionghoa juga turun, aku disuruh jalan dan mereka berjalan di belakangku. Kami masuk gang, keadaan sekitarnya gelap, belum banyak rumah warga yang berlampu listrik. Semua rumah sudah terkunci, waktu sudah larut malam, mungkin malah sudah dini hari. Aku nggak pernah punya jam tangan, kalau pun punya toh aku nggak sempat memakainya saat aku dijemput. Si gempal tanya padaku, ?Kau tahu rumah siapa ini?. Apa bener ini rumahnya Dahono? ? ?Saya nggak tahu pak? ?Kapan ini orang satu kantor denganmu?? ?Ya pak, tapi bagiannya kan lain-lain.Lagi pula mana saya tahu alamat rumahnya? ?Ya baik, kita teruskan saja besok
di kantor.? Rupanya karena waktu sudah larut tengah
malam, pertanyaan tidak diteruskan. Kami balik ke mobil, si gempal memerintahkan supir mengarahkan mobil ke arah utara lagi, kali ini langsung menuju kantor. ***** Bersambung ke II - BUDI KEMULIAAN hal 14 - 28 Lembaga SASTRA
PEMBEBASAN Address: Postbus 2063, 7301 DB Apeldoorn ? Netherlands E-Mail: lembaga_sastrapembebasan-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65: http://www.progind.net/ Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/ http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. __._,_.___ Mayapada Prana Quotes: "Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God" - Sathya Sai Baba Mayapada Prana Links: <*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere http://www.kryon.com/ <*> Yoga Leaf Bandung http://www.yogaleaf.com/ <*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination http://www.spiritual-endeavors.org/
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe __,_._,___ |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Fwd: [Kajian] www.dakwatuna.com - Menuju Cahaya Islam: 00119, Eduard de Grave |
|---|---|
| Next by Date: | OOT: Lowongan Kerja: 00119, siao jin |
| Previous by Thread: | Fwd: [Kajian] www.dakwatuna.com - Menuju Cahaya Islami: 00119, Eduard de Grave |
| Next by Thread: | OOT: Lowongan Kerja: 00119, siao jin |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |