logo       

Hati Tak Berjendela: msg#00107

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Hati Tak Berjendela

Hati Tak Berjendela

Suatu hari sekitar jam dua siang, tiba-tiba datang se­orang wanita
muda sekitar usia 30 tahun, datang ke rumah penulis. Dari
penampilannya diduga bahwa wanita itu adalah seorang mahasiswa.
Setelah berbasa basi sebentar akhirnya dia mengaku bukan mahasiswa
tetapi seorang ibu rumah tangga. Setelah ditanyakan apa maksud keda­
tangannya, dengan terbata-bata dan berlinangan air mata ia mengatakan
bahwa hampir saja ia bunuh diri menenggak obat serangga. Baygon.

Mendengar pengakuannya yang mengejutkan itu akhir­nya penulis
membiarkan kepadanya untuk membuka se­luruh isi hatinya, dan penulis
menjadi pendengar yang baik.

1. Mengapa Datang Kepada Penulis?
Menurut ceriteranya, pagi itu wanita tersebut sedang kusut fikiran
dan saking kalutnya ia bermaksud bunuh diri dengan cara meminum
baygon. Pada saat itu aliran listrik di lingkungan tempat tinggalnya
sedang mati, dan ketika baygon sudah dituang ke gelas, ketika sedang
dipegang untuk diminum, tiba-tiba listrik menyala dan radio langsung
berbunyi. Seperti diatur sutradara, suara di radio ternyata berisi
siaran pengajian dari radio Assyafi'iyyah dan pak kyai dalam pidato
itu menyebut dosanya orang bunuh diri.

Katanya selanjutnya, wanita itu tersentak kaget dan langsung timbul
kengerian serta takut melihat gelas yang sudah dituangi baygon.
Secara reflek wanita itu kemudian lari keluar rumah tanpa ingat
mengunci pintu dan lang­sung naik metro mini yang kebetulan sedang
berhenti, juga tanpa mengetahui entah mau ke mana. Ternyata metro
mini itu jurusan Pulo Gadung- Taman Mini, dan ketika lewat
Jatiwaringin, wanita itu melihat papan nama Pesantren Assyafi'iyyah,
nama yang mengingatkan suara radio yang telah "menyelamatkannya" dari
maut. Wanita itu kemudian minta turun dan langsung menuju kantor
pesantren.

Di halaman kantor, wanita itu berpapasan dengan se­orang guru dan
dengan tidak sabar langsung mengatakan bahwa ia perlu bertemu dengan
orang yang bisa memberinya nasehat agar ia tidak bunuh diri.
Mendengar penuturan yang mengejutkan itu, pak guru yang kebetulan
juga se­orang dosen dan seniman bermaksud memperdaya penulis dengan
mengatakan bahwa di sini ada orang yang biasa menangani kasus-kasus
semacam itu, dan ia menyebut nama penulis, dan langsung memberi
alamat rumah penulis yang tidak terlalu jauh dari Pesantren. Ketika
itu penulis kebetulan menjabat sebagai dekan Fakultas Dakwah dan juga
sekretaris Pesantren. Dengan olok-olok teman dosen itulah akhirnya
tanpa sengaja penulis kemu­dian menjadi konselor yang harus
memberikan layanan konseling agama.

2. Mengapa Wanita Itu Mau Bunuh Diri?
Dari penuturan wanita itu dapat disimpulkan bahwa problem kejiwaan
klien merupakan problem perkawinan, problem hubungan interpersonal
suami dan isteri. Mereka telah menempuh bahtera rumah tangga selama
delapan tahun, belum dikaruniai keturunan. Ekonomi rumah tang­ga
mereka relatip tercukupi, terbukti bahwa mereka telah memiliki rumah
yang layak huni, suaminya bekerja di peru­sahaan swasta dengan gaji
yang mencukupi. Isterinya, meskipun pernah mengecap pendidikan tinggi
sampai sarjana muda tetapi tidak bekerja. Praktis setiap hari kerja,
isterinya hanya tingal sendirian, sementara suami pulang kerja
sekitar jam enam-tujuh sore.

Barangkali pasangan suami isteri itu sudah sangat me­rindukan
keturunan, tetapi diantara mereka tak pernah secara serius
membicarakan problem itu. Sang isteri adalah tipe wanita yang sangat
setia dan percaya kepada suami. Menurut ceriteranya selama delapan
tahun hidup sebagai suami isteri tidak pernah cekcok. Sang isteri
meski harus selalu sendirian di rumah setiap hari pada jam-jam kerja
suaminya, tetapi kepercayaan dan kesetiaannya kepada suami membuatnya
tetap tenang. Rasa percaya diri dan ke-tenangan isteri antara lain
diperkuat oleh sejarah masa lalu, ialah bahwa sang suami adalah
mahasiswa yang dahulu kost di rumah orang tuanya, dan ketika kiriman
biaya kuliah terputus dari kampungnya di luar Jawa, orang tua wanita
itu kemudian menolong membiayai kuliahnya sampai selesai, dan
selanjutnya diambil mantu.

Tanpa ada tanda-tanda mencurigakan, tiba-tiba suaminya menjadi acuh,
dan sering tidak menyentuh kopi dan makanan yang disediakan oleh
isteri yang setia itu. Ia berusaha mencari tahu problem apa yang
sedang meng­ganggu suaminya, samar-samar terdengar berita bahwa
suaminya pacaran dengan wanita teman sekerja di kantor. Tetapi setiap
ditanyakan, suaminya diam membisu, semakin ditanya semakin membisu.
Sang isteri sebagai orang yang selalu berfikir positip tentang
suaminya, masih belum per­caya bahwa suaminya ada main dengan wanita
lain, tapi didiamkan oleh suami selama seminggu merupakan beban yang
sangat berat, apa lagi di rumahnya yang cukup besar itu memang tidak
ada orang lain yang bisa diajak bicara.

Ketika kebisuan suami mencapai hari yang ke lima belas, kekalutan
fikiran itu tak tertanggungkan. Ia tidak tahu harus apa, karena
selama ini hatinya tertumpah seluruh­nya untuk suaminya. Di diamkan
suami adalah kiamat baginya. Kekalutan fikiran dan perasaannya
membuatnya lupa siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Dunia terasa
gelap, dan kaki tak bisa lagi menginjak bumi. Pada hari ke lima
belas itulah, ketika jiwanya tak mampu lagi menang­gung derita
didiamkan, ia mengambil keputusan untuk menyudahi problemnya dengan
meminum baygon. Untung­lah suara radio yang tiba-tiba terdengar
setelah listrik di rumah menyala mengembalikan kesadarannya, dan
menye­lamatkannya dari mati sia-sia.

3. Bagaimana Terapi Yang Tepat Untuknya?
Dari penuturan yang disampaikan wanita itu sambil terisak-isak
menangis tetapi lancar, nampak jelas bahwa penyebab kekalutan
fikiran itu lebih banyak disebabkan oleh kapasitas jiwanya yang
sempit untuk menampung derita. Ia termasuk tipe wanita yang lugu,
halus perasaan­nya dan tak pernah berfikir negatip pada suaminya.
Baginya suami adalah segalanya yang tak mungkin melakukan sesuatu
yang menyakiti hatinya. Jika samar-samar mende­ngar issu minor tentang
suaminya, ia lebih dahulu menepis dengan berkata dalam hati bahwa
issu itu pasti tak benar. Baginya kepulangan suami, teguran sapa
suami sudah merupakan bukti bahwa issu dari luar itu tidak benar. Ia
lebih percaya kepada suami dibanding kepada orang lain. Ia hanya
mendengar kata-kata suami dan menutup rapat kedua telinganya dari
kata-kata orang lain. Hal itulah yang menyebabkan bahtera rumah
tangga berjalan aman selama delapan tahun meski belum dikaruniai
seorang anak.

Oleh karena itu ketika suaminya mulai cuek kepada­nya, ia merasa
tertekan karena ia tidak memiliki jendela lain untuk berkomunikasi.
Pusat perhatiannya dalam meng­hadapi kecuekan suaminya hanya satu,
yaitu menunggu kapan kekakuan itu mencair. Ketika kecuekan suaminya
meningkat menjadi membisu, perasaan tertekan itu men­jadi semakin
dalam, seperti balon yang selalu ditiup, menunggu meledak. Pada hari
ke lima belas dari membi­sunya suami itulah "balon" jiwanya meledak,
mencari penyelesaian dengan cara bunuh diri. Ia tidak menemukan jalan
lain selain bunuh diri, karena jiwanya tidak mempunyai jendela, tidak
mempunyai ventilasi, karena salurannya hanya satu yaitu kepada suami
tercinta. Jika saluran satu-satunya itu rapat, maka hanya ada satu
jalan keluar, yaitu meledak. Untunglah suara radio yang tiba-tiba
berbunyi "menyelamatkannya".

Melihat tipologi kejiwaan wanita itu maka saya selaku konselor
menanyakan kembali; sudah berapa lama suami mendiamkannya. Dengan
sangat antusias ia menyebut angka lima belas, seakan angka lima belas
itu adalah jumlah yang sangat besar. Mengapa angka lima belas itu
dipandang sebagai jumlah yang sangat besar adalah karena wanita itu
tidak memiliki bandingan angka lain.

Saya sebagai konselor agama berusaha untuk mengubah pandangan wanita
itu tentang ukuran besar dan kecil. Saya mengatakan bahwa lima belas
hari itu waktu yang sangat pendek, sebab ada orang lain yang
didiamkan suaminya sampai tiga bulan, dan setelah dilewati dengan
sabar akhirnya keadaan pulih kembali seperti sedia kala. Saya
menasehati wanita itu agar sabar menanggung perasaan itu sampai tiga
bulan, Insya Allah nanti jalan ke luar akan datang dengan sendirinya.

Rupanya, angka tiga bulan itu kemudian menjadi jen­dela yang meniupkan
harapan baginya, sehingga setelah pertemuan hari itu, ia sering
melaporkan perkembangan hubungannya dengan suaminya kepada saya
melalui surat. Ia selalu menghitung hari-hari yang dilewatinya, dan
dengan cemas menunggu habisnya waktu tiga bulan itu. Saya tahu bahwa
tidak ada jaminan setelah tiga bulan itu kebisuan suaminya akan
mencair, tetapi kurun waktu itu sekurang-kurangnya memberikan peluang
kepada wanita itu untuk melihat dunia lain, bahwa dalam hidup itu
banyak kemungkinan, ada pertemuan, ada perpisahan, ada perte­muan
kembali, ada juga pertemuan dengan yang baru dan sebagainya, dan
bahwa kesemuanya itu mengandung hikmah asal bisa memetiknya. Ia harus
bisa melihat bahwa hidup itu bukan hitam putih, tetapi berwarna-warni.

Konseling itu juga saya berikan secara tertulis, dengan menulis surat
disertai kata-kata mutiara, ayat Qur'an dan hadis yang relevan dengan
keharusan sabar menanggung derita, dan bahwa orang yang sabar
senantiasa disertai rahmat Tuhan. Kehausannya kepada bimbingan sampai-
sampai - katanya lewat surat - ia membaca nasehat tertulis saya
sampai lima kali, dan bahkan surat konseling saya itu selalu dibawa
di dalam tas, untuk selalu dibaca ulang jika fikirannnya sedang kusut.

Rumah tangga pasangan itu akhirnya tidak dapat di­selamatkan, tetapi
wanita itu dapat menerima kenyataan. Setelah ia berpindah kota,
korespondensi dengan saya tetap berlangsung, ia selalu melaporkan
perkembangan perasa­annya dalam menghadapi problema hidupnya, dan saya
pun sering membalasnya dengan konsisten memberikan layanan konseling
agama. Ketika ia mengambil keputusan untuk tinggal di Eropa dengan
maksud mencari dunia baru dan melupakan kegetiran hidup rumah
tangganya, saya memberikan saran agar ia jangan lupa salat lima waktu
dan usahakan menggunakan jilbab (busana muslimah) sebagai identitas
diri, ternyata dari Eropa ia berkirim surat bahwa ia melaksanakan
saran saya.

Perjalanan hidup yang berliku-liku akhirnya mengan­tarnya untuk
menikah lagi dengan laki-laki muslim Eropa, dan selama ini, sekurang-
kurangnya kartu lebaran masih selalu dikirimkan kepada saya, Al
hamdulillah.

Wassalam,
agussyafii
http://mubarok-institute.blogspot.com






Mayapada Prana Quotes:
"Think Good, Feel Good, Do Good. This is the way to God"
- Sathya Sai Baba

Mayapada Prana Links:
<*> Kryon: This website is presented for Lightworkers everywhere
http://www.kryon.com/

<*> Yoga Leaf Bandung
http://www.yogaleaf.com/

<*> Spiritual Endeavor: Many Paths - One Destination
http://www.spiritual-endeavors.org/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:mayapadaprana-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
mailto:mayapadaprana-fullfeatured-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
mayapadaprana-unsubscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://asia.docs.yahoo.com/info/terms




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise