Yth. Saudari Mira
Lydia kawanku yang hilang, sangat bagus menurut pikiran saya, saya senag dapat membacanya, entah realita atau fiktif, itu tak penting yang pasti saya selalu menunggu sambungannya. Thanks ya untuk berbagi pengalaman kepada saya dan yang lainya. God blessed u
Mira Wijaya Kusuma <la_luta-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
Lydia kawanku yang hilang..... (1)
Lydia kukenal pertama kali pada awal bulan Januari 1973. Ketika itu aku baru mulai masuk sekolah menengah pertama di sekolah katolik jakarta selatan. Entah kenapa mbakyuku mendaftarkan aku ke sekolah katoli
k padahal keluarga kami berasal dari keluarga Islam. Dan, aku sejak kecil selalu diajari
mbahku sembahyang 5 waktu serta diajari pula untuk melakukan ibadah puasa di setiap bulan Ramadhan. Bahkan mbakyuku sangat taát menjalani sholat 5 waktu dan tirakat melakukan puasa senin dan kamis. Sholat Tahajud disetiap malamnya tak pernah terlewatinya. Memang aku pernah meminta khusus ke mbakyuku untuk dicarikan sekolah di luar daerah pemukiman rumah kami. Aku bilang padanya bahwa semua tetangga dan orang-orang yang bermukim di daerah kami telah mengetahui latar belakang keluarga kami. Sehingga aku merasa tidak aman lagi untuk hidup normal seperti anak-anak sekolah lainnya.
Pengalamanku hidup dilingkungan sekolah dasar, yang jarak antar rumah dan sekolah masih berdekatan telah membuat nasib hidupku menjadi runyam karena mengalami tekanan lahir dan batin bagaikan hidup dalam neraka. Rasa kesepian hidup tanpa perkawanan telah membuat hidupku tidak
bahagia.
Kehidupan rumah tangga kami tanpa orang tua
sepertinya dianggap suatu kehidupan yang aneh dan dipandang liar. Dianggapnya kehidupan kami ini tidak punya tata cara krama dalam norma kehidupan berkeluarga. Padahal langgam hidup rutin kesehariannya kuanggap tak berbeda dengan cara hidup keluarga lainnya. Tentu patronnya berbeda lantaran anak-anak yang mempunyai orang tua pastinya memiliki peranan orang tua, yang mana pula setiap harinya ayahnya pergi bekerja sementara itu Ibunya menyibukan diri mengatur urusan rumah tangga serta mengurus anak-anaknya dan suaminya. Sedangkan di kami memiliki patron lain sama sekali dengan mereka. Mbakyu tertuaku setiap harinya pergi bekerja di biro arsitek swasta dan ke 5 adik-adiknya pergi kesekolah. Sedangkan mbah Putri kami senantiasa mendampingi serta mengajari cucu-cucunya mengatur dan mengurus urusan tanggung jawab rumah tangga. Sejak tahun 1972 taraf kehidupan ekonomi kami relatief berkecukupa
n. Waktu itu mbakyuku berusia 22 tahun tapi karier pekerjaannya mulai menanjak dengan
mendapat salari yang lumayan cukupan buat menghidupi keluarga dan untuk membiayai sekolah kami.
Sekolah baruku di SMP ? Asisi kuanggap sebagai lembaran awal buat membangun suatu lingkungan yang baru. Karena jarak antar sekolah dan rumahku relatief jauh, yang memakan waktu kira-kira setengah jam. Aku masuk di kelas 1A sedangkan Lydia duduk di kelas 1B. Jadi kami tidak satu kelas tapi proses perkenalan kami berdua berlangsung cepatnya menjadi lebih akrab. Ketika itu kondisi kesehatanku masih belum pulih sama sekali dari penyakitku yang kuanggap aneh. Kepalaku sering terasa pusing dan bagian sebelah badanku terasa sakit-sakit. Kupingku yang sebelah kanan rasanya agak tuli. Dengan begitu aku merasa tidak bisa optimal menyerap pelajaran-pelajaran sekolah. Sedangkan para guru kalau sedang mengajar di kelas, perhatiannya tak pernah lepas dari pandang
annya kearahku. Sikap perhatian khusus para guru inilah yang juga membuatku bertambah
takut dan tidak betah berlama-lama duduk di dalam kelas. Di setiap ruangan kelas aku menjadi orang yang murung dan pendiam serta tak suka bergaul. Tapi di setiap waktu istirahat Lydia selalu menghampiriku serta berusaha menghiburku untuk mengobrol atau mengajak ku keluar untuk jalan-jalan mengelilingi kompleks biarawati.
Sebenarnya perkenalan pertamaku dengan Lydia di awali dengan pertemuan kami di gereja. Waktu itu adalah hari pertamaku masuk sekolah, dan untuk pertama kalinya aku berjalan menelusuri arah jalan sampai melewati pintu gerbang sekolah. Kemudian disebelah kirinya kulihat ada gereja yang pintunya sedang terbuka lebar. Aku penasaran ingin melihat kedalam ruangan serta menghampiri gereja tersebut. Lalu aku masuk kedalam gereja dan langsung duduk bersimpuh dengan menaruh kedua dengkulku diatas bantalan kursi rendah sambil memandang patung Yesus.
Terasa olehku suasana keheningan yang memberi kenyamanan. Entah sudah berapa lama aku
bermeditasi di bangku misa tersebut, tiba-tiba kurasakan ada seseorang menghampiriku dan duduk disebelahku.
?Upacaranya sudah hampir selesai kau engga masuk kelas??
?Ya....aku tahu tapi duduk sini lebih nyaman rasanya.?
?betul rasanya tenang dan adem yah??
?Kau sendiri ngapain disini??
?Aku memang datengnya terlambat tapi aku tengok diruangan ini lantas melihatmu duduk begitu seriusnya berdoa. Memang agamamu katolik??
?Aaah...engga memang ruangan ini hanya untuk orang katolik saja??
?bukan gituh...tapi sepertinya kau ini serius banget berdoanya.?
?kau sendiri agamanya apa??
?wah...agamaku agama bingung! Habis Bapakku dari keluarga Islam sedangkan Ibuku dari keluarga Katolik.?
?Eehm...?
?Padahal orang tuaku berasal dari keluarga Minang. Mereka lahir di Padang tapi Ibuku masih ada keturunan Belandanya.?
?Jadi kau diajari apa dirumah??
?Engga dapet
apa-apa cuma Papaku mengancamku kalau aku masuk katolik.?
?Terus ...Ibumu ke
gereja??
?Engga juga tuh!
?Engga jalanin Sholat 5 waktu??
?Engga tuh...? Tak lama kemudian seorang Suster masuk ke ruangan gereja serta langsung menghampiri kami. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan dengan raut wajah ramahnya langsung menggandeng kami berjalan menuju keluar gereja. Lantas kami dibawanya ke kelas kami masing-masing. Setelah itu kami selalu bertemu di gereja tapi kami sering berjalan bersama tidak hanya menuju ke sekolah.
Bersambung.....
MiRa,
Amsterdam, 12 Oktober 2006