logo       

Komentar Ulil tentang Indonebia, Nabi Muhammad dan kapak: msg#00022

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Komentar Ulil tentang Indonebia, Nabi Muhammad dan kapak

Salam,

Soal citra Nabi Muhammad yang didiskusikan oleh teman-teman di milis ini
gara-gara "provokasi" INDONEBIA, bagi saya, harus ditanggapi dengan
sungguh-sungguh.

Sebagai Muslim, tentu saya sudah selayaknya memberikan penghormatan kepada
Nabi Muhammad. Sudah tentu saya bisa memahami jika seorang Muslim merasa marah
karena tokoh yang dicintainya dilecehkan oleh masyarakat lain.

Tetapi cara menghormati Nabi Muhammad sebagaimana dilaksanakan oleh umat
Islam saat ini perlu dipikirkan kembali:

(1) Apakah kita, umat Islam yang hidup pada abad 21 saat ini, masih perlu
memegang fatwa yang dikemukakan oleh Al-Qadli 'Iyadl (1083-1149 M) dalam
kitabnya yang
terkenal "Al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Mustafa" masih perlu kita pertahankan
hingga saat ini?

Fatwa itu mengatakan bahwa siapapun yang menghina Nabi harus dibunuh.
Sebagian ulama bahwa berpendapat, bahwa hukum bunuh itu tetap harus
dilaksanakan walau yang bersangkutan telah meminta maaf dan bertobat. Kalau pun
fawa ini pernah berlaku dan dianggap relevan pada saatnya dulu, tetapi jelas
fatwa itu sama sekali
bermasalah pada zaman ini. Saya kira, banyak di kalangan umat Islam saat ini
yang masih percaya pada fatwa semacam ini, sebab al-Qadli 'Iyadl dianggap
sebagai rujukan dan otoritas penting di kalangan umat Islam, terutama dalam hal
yang berkaitan dengan bagaimana cara umat Islam menghormati Nabi.

Jika fatwa ini tetap dipertahankan oleh umat Islam, atau dianut oleh sebagian
umat Islam, apakah salah jika umat agama lain beranggapan bahwa Islam adalah
agama yang "brutal"? Jangan sampai kita, umat Islam, bersikap, "buruk muka,
cermin ditampar".

(2) Umat Islam gampang sekali menuduh seseorang sebagai melecehkan Nabi hanya
karena mengemukakan satu atau lain pendapat. Kebiasaan seperti ini sangat buruk
dan berdampak negatif terhadap suasana diskusi dalam tubuh umat Islam.

Selama kebiasaan ini masih bertahan, dan selama umat Islam tidak
mengembangkan sikap yang lebih positif dalam menghapadi pendapat-pendapat yang
berkembang
berkaitan dengan figur Nabi, maka jangan salahkan jika umat agama lain
mempunyai kesan buruk tentang umat Islam.

Pesan ini bukan saja berlaku untuk umat Islam, tetapi umat agama manapun.

(3) Apakah mengemukakan pendapat yang kritis tentang Nabi adalah sama dengan
menghina Nabi? Kecenderungan umat Islam memang mengarah ke sana. Setiap
pendapat yang agak kritis berkaitan dengan Nabi langsung dituduh menghina Nabi.
Ini adalah sikap beragama yang kekanak-kanakan yang jelas tidak dikehendaki oleh
Islam sendiri.

Sejak dulu saya berpendapat bahwa Islam sebagaimana dicontohkan oleh Nabi
adalah hasil dari kompromi antara cita-cita ideal Islam dengan realitas historis
pada zaman itu. Hasilnya adalah Islam yang ideal pada zaman itu, tetapi tidak
berarti ideal untuk segala zaman. Sebagai manusia, Nabi jelas dibentuk oleh
situasi dan konteks, meskipun ada wahyu di sana. Sebab wahyu juga dibentuk oleh
konteks.

Menerapkan secara mentah-mentah apa yang dicontohkan oleh Nabi dalam keadaan
sekarang, tanpa reinterpretasi yang cerdas, jelas sama sekali tak mungkin, dan
hanya akan membawa citra buruk bagi Islam sebagai agama.

Saya juga yakin bukan sikap "mencontoh mentah-mentah" seperti itu yang
dikehendaki oleh Kanjeng Nabi. Dengan seluruh keterbatasan yang timbul karena
konteks historis yang spesifik, Nabi adalah tokoh yang telah memberikan teladan
dan inspirasi bagi umat Islam.

Tugas umat Islam saat ini adalah bagaimana menerjemahkan semangat meneladani
Nabi dalam konteks modern yang sudah berubah. Melarang perempuan menjadi kepala
negara atau anggota parlemen, atau bahkan sekedar menyetir mobil, dengan
alasan bahwa itu semua adalah meneladani Nabi, sebagaimana kita lihat pada
sebagian umat Islam saat ini, adalah contoh meneladani Nabi yang menurut saya
sama sekali kurang tepat.

Menghardik sesama Muslim hanya karena tidak memanjangkan jenggot, atau tak
memakai jilbab, atau karena memanjangkan ujung celana hingga menyentuh mata
kaki, atau karena membiarkan perempuan dan laki-laki campur baur dalam
pengajian, dengan alasan bahwa semua itu adalah meneladani Nabi, adalah contoh
lain
bagaimana umat Islam saat ini meneladani Nabi dengan cara-cara yang, sekali
lagi, kurang tepat.

Menuduh umat Islam lain sebagai "kafir" atau "murtad" karena menganggap bahwa
demokrasi adalah sesuai dengan Islam, dan mendasarkan serta menjustifikasi
tuduhan seperti itu pada dan dengan ajaran Nabi, juga contoh lain yang
menyedihkan.

(4) Apakah umat Islam tidak bisa mencontoh kedewasaan umat Kristen, di mana
kajian-kajian yang kritis (kadang-kadang bahkan terlalu "nyinyir") yang
berkembang di kalangan akademik di Barat terhadap tokoh Yesus diterima dengan
sikap yang biasa-biasa saja, tanpa kemarahan yang berlebihan.

Kehormatan Nabi tidak akan berkurang hanya karena kritik-kritik yang
ditujukan oleh sebagian kalangan atas beliau. Kehormatan Nabi juga tidak akan
bertambah hanya karena kita marah-marah saat orang lain mengkritik Nabi.

Bisakah kecintaan kita pada Nabi membunuh seluruh kebencian kita pada orang
lain yang kita anggap meremehkan Nabi?

Ulil
Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University

==================================================

Berani menghina Nabi? Kapak bicara!

*Alhamdulillahhirabbil'alamin, wa sholatu wa salamu'alal asyrofil
anbiya-i wal mursalin, sayyidina, wa habibina, wa qudwatina, wa maulana Muhammad
shalallahu'alaihi wassalam*

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Wahai akhwan wa ikhwat yang senantiasa tabayyun,

Di tengah maraknya perbincangan kasus kartun Nabi Muhammad SAW beberapa
waktu lalu, Ukthi Ade Suerani, sohibah ana di Kendari mengirimkan hadits
via email. Isi hadits tersebut berkisah tentang kewajiban umat Islam untuk
membunuh para penghina Rasulullah dengan cara apapun. Menurut hadits
tersebut, Nabi Muhammad pun menghalalkannya.

Berikut isi emailnya tentang Ayat dan Hadits terkait:
Allah SWT mengazab mereka yang menyakiti Nabi SAW dengan FirmanNya:
WALDzYN YWaDzWN RSWL ALLH LHM 'ADzAB ALYM (S. ALTWBt, 9:61)

Dibaca:
walladzi-na yu'dzu-na rasu-laLla-hi lahum 'adza-bun ali-m, artinya:
Mereka yang menyakiti RasuluLlah, akan diberi azab yang pedih.
Imam Asy-Syaukani (Nayl al-Awthar, VII/213-215) mengemukakan dua hadis
tentang hukuman bagi penghina Rasulullah SAW Amirul Mukminin Ali bin
Abi Thalib ra:

"Sesungguhnya pernah ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan
menjelek-jelekkan Nabi SAW. Oleh karena perbuatannya, perempuan itu
lalu dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah
SAW menghalalkan darahnya". (HR. Abu Dawud).

Ibnu Abbas juga telah meriwayatkan sebuah hadis sebagai berikut:
"Pernah ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan
menjelek-jelekkan Nabi SAW . Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan
agar istrinya itu tidak melakukannya."

Sampai pada suatu malam (seperti biasanya) istrinya itu mulai lagi mencela
dan
menjelek-jelekkan Nabi SAW. Merasa tidak tahan lagi, lelaki itu lalu
mengambil kapak kemudian menebaskannya ke perut istrinya. Ia menghunjamkannya
dalam-dalam sampai istrinya itu mati.

Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah SWT kepada
Rasulullah SAW yang menjelaskan kejadian tersebut. Hari itu juga beliau
kemudian mengumpulkan kaum muslim dan bersabda, "Dengan menyebut nama
Allah, aku meminta kepada orang yang melakukannya, yang sesungguhnya
tindakan itu adalah hakku, untuk berdiri."

Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan
meraba-raba sampai ia turun di hadapan Rasulullah SAW, kemudian ia
duduk seraya berkata, "Akulah suami yang melakukan hal tersebut, ya
Rasulullah SAW. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan
menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu
mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku
mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu
sayang kepadaku. Akan tetapi, kemarin ketika ia (kembali) mencela dan
menjelek-jelekkan dirimu, aku lalu mengambil kapak, kemudian
menebaskannya ke perut istriku, menghujamkan kuat-kuat ke perut
istriku, dan menghujamkan kuat-kuat sampai ia mati."

Rasululah SAW kemudian bersabda, "Saksikanlah bahwa darah wanita itu
halal. (H.R Abu Dawud dan An-Nasa'i).

Ada beberapa sohib dan sohibah ana yang, maaf, "kurang islami", amat kaget
dan terheran-heran kala menyimak hadits-hadits yang berdarah-darah itu. Namanya
juga "kurang islami", ya lalu banyak bertanya-tanya sambil 'nggerundel' tak
karuan.
Islam kok kejam dan mengerikan? Islam kok 'sangar' begitu? Nabi yang menurut
kisah-kisah itu berbudi luhur kok menyetujui pembunuhan manusia? Apalagi
pengirimnya adalah seorang ferempuan muslimah yang mustinya lemah lembut,
syukur-syukur cantik plus lemah gemulai bak Siti Nurhaliza. Mereka lalu
mempertanyakan kesahihan hadits tersebut, mengingat mereka
tak pernah dengar sebelumnya, dan juga susah dinalar oleh akal sehat.
Sohib-sohib ana yang kurang ajar karena doyan 'dugem' berkomentar, Islam itu
kok jadi seperti agama yang sadis. Menurutnya, pada Al-Quran di satu sisi
terdapat ajaran baik tentang moral kehidupan, tapi di sisi lain
bertebaran juga ayat-ayat yang bisa ditafsirkan oleh umatnya untuk berbuat
kejahatan dan melanggar HAM. Mereka bertanya: "Agama apa itu?"
Ukthi Ade lalu menjelaskan bahwa hadits tersebut diambil dari Kitab Kuning
yang juga diajarkan di berbagai pondok pesantren dan menjadi referensi di
Universitas Paramadina juga. Menurutnya, nama kitab itu adalah Kitab Nayl
al-Awthar. Menurut Ukthi Ade, Ibnu Abbas adalah sahabat dan bocah pilihan
Rasulullah SAW. "Siapa yang meragukan kecerdasannya?

Di usianya yang ketigabelas tahun, Ibnu Abbas sudah mampu menghafal
1.660 hadits. Karena itu ana amat percaya sama beliau," jelas Ukthi Ade
yang anggota KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Daerah di Kendari.
Ya Allah Ya Robb, ana sungguh bangga punya sohibah yang selalu berjuang
keras menegakkan Syariat Islam hingga titik darah penghabisan. Untuk
membela Nabi, apa pun juga bisa kita lakukan: dengan jalan racun, dengan
jalan cekik, dengan jalan pedang, dengan jalan kapak, dengan jalan celurit,
dengan jalan arit, atau dengan jalan pacul. Itu mah udah biasa. Justru aneh
kalau cuma teriak-teriak:
"Boikot produk-produk kafir! Putuskan hubungan diplomatik! Sweeping orang-orang
kafir! Usir dubes ini, pulangkan segera dubes itu! Buat ana dan sohib-sohib
ana yang tersebar dan berkiprah dimana-mana, itu mah terlalu lembek.
Ana sendiri, waktu baca hadits tersebut beratus-ratus kali-kali, tidaklah
heran bin kaget.
Seperti kerap diomongkan para wartawan: "tak ada kesalahan redaksional".
Pasalnya, jelek-jelek gini ana itu dari sononya sudah Islami dan sudah
tercerahkan seperti halnya Ukhti Ade yang tak pernah lepas dari jilbab itu,
juga Abu Munarman dari HTI yang mantan aktivis LSM itu.
Jadi sekali lagi, ini peringatan keras buat ente-ente semua: Siapa pun
juga dilarang menghina Rasulullah dan sanak kerabatnya, kalau tidak mau
dikapak seperti dialami istri dari seorang lelaki buta itu, atau dicekik
sampai mati seperti dialami perempuan Yahudi itu. Demi membela Nabi
sekeluarga serta sohib-sohibnya, membunuh itu dihalalkan.
Lalu orang-orang kafir, sekuler, liberalis, ateis, abangan dan agnostik
bertanya: "Should holiness mean horrifying?"
Ana jawabnya gini: "Oh, No....Oh, Yes...ups sorry, Oh No, No, No!"
*Jazakumullahu khairan katsira*
Wassalammu'alaikum wr wb
INDONEBIA (Indonesia-Arabia)
Pendukung tegaknya Syariat Islam di Indonesia!
Website:
www.indonebia.com
(under construction)
-------------
Ensiklopedi tentang PKS:
http://pks-anz.org/pkspedia
(bagaimana menggunakan istilah ana, abu, antum, ikhwan, ikhwah, akhi,
sukron, khalwat dsb. secara tepat, benar dan baik)
-------------
Antum jangan coba-coba buka situs ini! Blog bikinan antek-antek kafir yang
cuma ingin menjelek-jelekkan PKS:
pkswatch.blogspot.com
Na'udzubiLLAH......neraka jahanam menantimu!
-------------
Milis yang ana sarankan untuk tidak diikuti:
Islam Liberal: islamliberal-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Zamanku: zamanku-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
-------------
Lebih baik antum ikutan milis-milis Islami yang tidak sesat:
PKS:
partai-keadilan-sejahtera-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Sabili: sabili-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Jamaah-Islamiyah:
jamaah-islamiyah-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
Indonebia: indonebia-subscribe-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
-------------
Bacaan wajib ummat:
Era Muslim web: www.eramuslim.com
Hidayatullah web: www.hidayatullah.com

================================================================
<ade.suerani-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
Link sekadar info aja, who is Abu Dawud.
wassalam,
ade suerani
----------------
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Dawud
http://www.sunnah.org/history/Scholars/imam_abu_dawud.htm
Imam Abu Dawud (202 - 275H)
by Alimah Alisha Akaloo
In the name of Allah, The Beneficient, The Merciful.
Name, Genealogy and Lineage Imam Abu Dawud Sulaiman ibn Ash`ath ibn Ishaq ibn
Bashir ibn Shaddad
ibn `Umar ibn `Imran al-Azdi Sajastani.
Year and Place of Birth
Imam Abu Dawud was born in Sajistan, a famous city in Khurasan in the
year 202 A.H. He belonged to the Arab tribe, Azd. Even though he was
born in Sajistan he spent the greater part of his life at Basrah which
was the seat of Islamic learning in his time. Imam Abu Dawud also
travelled for collecting hadith. Many times he visited Bagdad. He also
went to Hijaz, Egypt, al-Jazirah, Nishapur, Syria and Isfahan.
Special Attributes
He was blessed with an exceptional mind. Imam Abu Dawud had to read a
book only once to commit its entire contents to memory. He was well
versed in the criticism of hadith and an expert in distinguishing the
sound hadith from the weak and defective ones.
Only four persons are reported to have earned their names for the
criticism of hadith. They are: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu
Dawud and Imam Nasa'i. Imam Abu Dawud lived during the time when the Muslim
world was full of eminent scholars. He had so much command over hadith,
he was considered by many as Imam al-muhaddithin of his time.
Besides his expertise in hadith he was also a great jurist. He had keen
insight in fiqh and ijtihad. He was a religious man. He led a pious and
ascetic life. He devoted most of his time for worship, devotion and
remembrance of Allah. He always kept away from men of rank, the company
of sultans and courtiers.
It is stated that Imam Abu Dawud used to wear one of his sleeves wide
and the other correctly sized. When he was asked for the reason of this
oddity he replied, "To store notes on hadith. I consider widening the
other sleeve unnecessarily as an extravagance". It is not clear to
which school of thought he belonged. Some scholars say he was a Hanbali
jurist, others regarded him as a Shafi'i jurist.
His Work
Imam Abu Dawud heard hadith from 300 persons who were his teachers.
Some were: Imam Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaiy, Abu Thaur, Yahya ibn
Ma'in. For one to grasp his elevated status, he narrated hadith to the
teachers of Imam Ahmad. Imam Ahmad ibn Hanbal also narrated one hadith
from him. Among the students of Imam Abu Dawud are great personalities
like: Ibn Arabi, Abu `Isa al-Tirmidhi and Abu `Abdur-Rahman An Nasa'i.
They were transmitters of his famous work Sunan Abu Dawud. Imam Muslim
was also one of his pupils. Imam Abu Dawud's works are:
Kitab Al Radd Ala' Ahl al Qadar
Kitab Al Masa'il
Musnad Malik
Kitab Al Marasil
Sunan Abu Dawud
Sunan Abu Dawud
His most famous of all his works is Sunan Abu Dawud. It contains 4800
traditions which were taken out from a collection of 500,000 hadith.
He completed its compilation at Bagdad in 241 A.H. He presented the
completed compilation to his beloved teacher Imam Ahmad ibn Hanbal who
was greatly pleased at this collection.
Sunan Abu Dawud is an important collection of hadith: Most of the
scholars have assigned it to third position among the six authentic
books of hadith. It is only after the compilation of Sahih Bukhari and
Sahih Muslim.
A few statements from scholars of hadith concerning Sunan Abu Dawud:
Al-Khattabi said:
Sunan Abu Dawud is an excellent book. No such parallel work has been
produced so far in religious sciences. It has gained popularity amongst
the people. It has a decisive position among various classes of
scholars and jurists. All have benefited equally from it. The people of Iraq,
Eygpt, Maghrib and most of the countries depended upon it.
Ibn al-Jawzi said:
Abu Dawud was an eminent doctor of hadith and an outstanding scholar.
No one has compiled a book like his Sunan.
Ibn Kathir remarked:
Sunan Abu Dawud is considered to be a famous and popular work among
scholars.
Imam Abu Dawud himself has stated:
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise