|
|
Fwd: [Anand Krishna E Study Circle] Laporan Diskusi Buku Confession of Econ: msg#00299
culture.religion.healer.mayapada
|
Subject: |
Fwd: [Anand Krishna E Study Circle] Laporan Diskusi Buku Confession of Economic Hit-Man - 15 Sept 2006 |
Note: forwarded message attached. "Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing there is a field. I'll meet you there.'"
~ Rumi
Do you Yahoo!?
Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail.
__._,_.___
Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -
Mayapada Prana Links:
<*> The Internet Sacred Texts Archive
http://www.sacred-texts.com/index.htm
<*> The Theosophical Society
http://www.theosociety.org/
<*> Yoga Leaf
http://www.yogaleaf.com/
Yahoo! Groups Links
__,_._,___
--- Begin Message ---
|
Subject: |
[Anand Krishna E Study Circle] Laporan Diskusi Buku Confession of Economic Hit-Man - 15 Sept 2006 |
*/_Confessions of An Economic Hit-Men.-_/*15 Sept 2006
*/__/* Apa yang pernah diramalkan oleh Soekarno, tentang Neoimperialisme
dan Neokolonialisme ternyata terbukti dengan terbitnya sebuah pengakuan
oleh John Perkins (JP), salah seorang pembunuh ekonomi bayaran (EHM). JP
seorang muda yang brillian, direkrut oleh NSA (/National Security
Agency/), dan dilatih oleh MAIN untuk menjadi professional yang bersedia
memanipulasi data-data ekonomi sebuah negara berkembang demi kepentingan
perusahaan dan negaranya sendiri, biarpun upaya ini disadari akan
merusak sendi-sendi kehidupan alam & masyarakat di negara (berkembang) itu.
Caranya sangat sederhana. Mereka (EHM) datang ke negara-negara
berkembang untuk mengadakan penelitian. Kemudian data-data hasil
penelitian (yang telah dimanipulasi) ini akan dijadikan referensi bagi
lembaga-lembaga keuangan dunia seperti World Bank, ADB, USAID, IMF untuk
menentukan besarnya dana pinjaman yang disalurkan dalam membangun
infrastruktur di negara-negara peminjam. Kemudian, negara-negara
peminjam baru dikucurkan dana pinjaman bila memberikan proyek-proyek
pembangunan dan kontruksi infrastruktur raksasa-nya kepada
perusahaan-perusahaan konstruksi barat seperti MAIN, Bechtel,
Halliburton, Mosanto, Stone&Webster atau Brown&Root. Chas.T.Main Inc
(MAIN) tempat di mana John Perkins bekerja, akhirnya bangkrut karena
mismanagemen di tahun 1992 dan dibeli oleh Parsons Corporation of
Pasadena, California.
Jadi tugas EHM, selain membenarkan pinjaman internasional yang besar
untuk disalurkan kembali kepada perusahaan-perusahaan Amerika, mereka
juga harus bekerja untuk membangkrutkan negara-negara peminjam itu
(setelah negara-negara itu membayar jasa perusahaan-perusahaan Amerika
itu) sehingga negara-negara itu akan selamanya berhutang kepada kreditor
mereka, dan menjadi sasaran empuk ketika Amerika memerlukan dukungan
mereka, seperti pendirian pangkalan militer, hak suara di PBB atau akses
(eksploitasi) kepada sumber energi dan sumber daya alam di negara tersebut.
Ironisnya, banyak orang yang bekerja pada perusahaan seperti MAIN,
seperti juga kebanyakan masyarakat Amerika, adalah orang-orang
terpelajar yang sangat baik dan bersungguh-sungguh dalam bekerja untuk
memerangi kemiskinan dan melakukan kebajikan. Mereka tidak sadar bahwa
mereka sebenarnya dimanfaatkan oleh segelintir orang-orang serakah dan
pemerintah mereka sendiri untuk mengeksploitasi orang-orang di
negara-negara dunia ketiga. Misalnya, faktor penentu kemajuan ekonomi
sebuah negara adalah Produk Nasional Bruto atau GNP (/Gross National
Product/). Kemajuan pada GNP tidak berarti kemajuan satu (atau tiap)
orang dalam negara tersebut. Bisa saja, yang kaya tambah kaya, dan yang
miskin tambah miskin. Tapi dari sudut pandang statsitik (GNP), hal itu
bisa dicatat sebagai kemajuan ekonomi. Mirip seperti keadaan Indonesia
saat ini di mana hampir semua indikator ekonomi positif tapi kehidupan
ekonomi masyarakat secara riil semakin susah.
Jadi banyak orang terpelajar Amerika (dan bahkan orang Indonesia
berpendidikan Barat) yang heran atas sikap anti-Amerika yang digelar
para pengunjuk rasa di negara-negara dunia ketiga karena mereka selalu
berpikir bahwa mereka telah bekerja keras sepenuh hati dalam membangun
jalan, pelabuhan, dan pembangkit tenaga listrik, tapi yang diterima
bangsa Amerika adalah kebencian dan ketidakpuasan. Mereka tidak sadar
bahwa justru Amerika sendiri yang berkepentingan untuk tetap ada di
negara-negara dunia ketiga tersebut untuk terus mengekploitasi sumber
daya alam dan memeras tenaga penduduk negara dunia ketiga. Kejadian ini
mirip-mirip seperti kejadian di daratan Amerika sendiri ketika para
pendatang eropa di abad ke-20 menyakini pembenaran bahwa ketika mereka
sedang memerangi para Indian (yang sebenarnya sedang berjuang untuk
mempertahankan tanah mereka), mereka juga sedang memerangi para abdi
setan, dan mereka yakin Tuhan merestui perbuatan mereka.
Pendidikan di Indonesia memang sangat menyedihkan seperti yang baru-baru
dilaporkan Newsweek seperti yang dikatakan Maya dalam pembahasan buku
ini. Tapi yang lebih menyedihkan adalah ketika kita berpikir bahwa
ketrampilan (/skill/) itu adalah pendidikan. Di Indonesia, banyak sekali
orang-orang yang terampil dalam bidang-bidang tertentu, tapi apakah
mereka berpendidikan? Belum tentu. Seorang Dosen seperti Dr. Azhari
jelas terampil merakit bom, mungkin trampil dalam membaca ayat-ayat
Kitab Suci, tapi apakah dia berpendidikan sehingga mampu membunuh
orang-orang tak berdosa dengan bom-bom yang dirakitnya?
Di tahun 1970-an, JP sempat mengunjungi Indonesia untuk melakukan
penelitian guna mendapatkan data-data perkiraan pertumbuhan ekonomi. JP
sempat mengunjungi kota Bandung dan menonton wayang bersama
mahasiswa-mahasiswa waktu itu. Pertunjukan Wayang itu bercerita tentang
bagaimana AS akan mendominasi dunia, termasuk Indonesia dan
mengekploitasinya. Skenario yang sedang mulai dijalankan oleh Pemerintah
Amerika. JP kaget, tapi sekaligus kagum akan sikap ramah dan tidak
bermusuhan para mahasiswa kepada dirinya. Itulah salah satu ciri dari
mahasiswa yang berpendidikan karena orang berpendidikan tahu membedakan
sesuatu yang dilakukan oleh pribadi seorang warga suatu negara dengan
sesuatu yang sedang dilakukan pemerintah bangsa itu. Dan sikap itu jelas
tertanam dalam pikiran JP (kalo tidak, JP tidak akan menceritakan
pengalamannya di Indonesia) dan mungkin menjadi salah satu pendorong
bagi nuraninya untuk menulis buku ini.
JP juga menjelaskan bila EHM gagal melakukan tugas-nya, maka bukan
berarti Pemerintah Amerika akan berhenti di tahap itu. Mereka akan
melakukan tahap berikutnya, yaitu membunuh pemimpin-pemimpin
negara-negara dunia ketiga yang menolak bekerja sama dengan mereka lewat
tangan agen-agen inteligen seperti CIA. Presiden Ekuador-Jamine Roldos
dan Presiden Panama-Omar Torrijos adalah salah-satu korban. Mereka
meninggal karena tidak ingin menuruti kehendak para kreditor dunia dan
EHM. Mungkin teknik pelaksanaannya seperti yang kita bisa tonton dalam
film “/Syrianna/” yang juga pernah diputar di One Earth. Bila cara
(/assasination/) ini pun tidak berhasil, maka pilihan terakhir adalah
menginvasi negara-negara tersebut seperti yang baru-baru ini Amerika
lakukan terhadap Saddam Hussein dan Irak.
“Ternyata, apapun yang kita dapatkan di media belum tentu
benar,”demikian komentar David. Tapi rasanya bukan hanya apa yang ada di
media, tapi begitu juga /conditioning-conditioning/ di dalam pikiran
kita sendiri. Kalau kita lihat dari waktu dan cara AS mencoba pertama
kali mendominasi Indonesia, maka mungkin saja lewat apa yang kita pikir
sebagai Pendidikan (padahal itu mungkin saja adalah Propaganda Politik,
Inflitrasi Budaya/Gaya Hidup, Manipulasi Sejarah atau Doktrin Agama)
Kita yang lahir di Indonesia sejak 1970-an telah ditanamkan
/conditioning-conditioning/ tertentu untuk dijadikan Budak, tanpa kita
sendiri sadari. Kadang-kadang kalau dipikir-pikir berengsek juga.
David juga baru saja menyadari bahwa ternyata selama ini negara
Indonesia sudah terlanjur dilemahkan dan kemudian dipastikan masuk ke
dalam perangkap hutang yang tak mampu kita bayar. Tapi, kalau
dipikir-pikir, Amerika Serikat juga adalah negara penghutang terbesar di
dunia. Neraca Perdagangan mereka selalu defisit, sehingga APBN-nya
selalu tertambal investasi asing yang masuk atau hutang luar negeri.
Dari salah satu artikel yang dapat diperoleh di Internet, Neraca
Perdagangan AS per-tahunnya bisa mencapai defisit US$400 milyar. Dan,
mereka masih terus saja Spending (Konsumsif) karena itulah yang akan
membuat ekonomi AS lebih kuat. Tapi dari mana uang-nya? Tentu saja dari
dari negara-negara lain yang menabung (dan mengalami surplus
perdagangan) seperti Jepang, China dan bahkan India.
Jepang mengalami surplus perdagangan hampir US$100 milyar per tahun dan
mempunyai cadangan devisa triliyunan US$ dalam surat-surat berharga AS.
China sendiri punya US$160 M. Dan , India lebih dari US$50 M. Hasilnya,
AS telah mengambil lebih dari US$ 5 triliyun dari seluruh dunia setahun.
Jadi ketika dunia menabung, Amerika yang menghabiskannya. Sekarang
negara-negara di dunia harus “menyetor” dana ke AS setiap harinya
sebesar US$2 milyar. Kalau tidak, maka ekonomi AS akan stagnan dan
seluruh dunia akan merasakan perlambatan pertumbuhan ekonomi atau bahkan
resesi ekonomi. Hal yang sama akan terjadi bila tingkat konsumsi AS
berkurang.
Mungkin terlintas, kenapa Jepang, China dan India menabung dalam surat
berharga AS atau mata uang US Dollar? Karena, negara-negara ini perlu
membeli minyak dan gas untuk keperluan mereka & Arab Saudi (dengan
pertukaran perjanjian untuk selalu melindungi kekuasaan Keluarga Saud di
Arab Saudi), sebagai produsen minyak terbesar di dunia, hanya menerima
mata-uang Dollar Amerika sebagai pembayaran. Demikian 2 Bursa Minyak
Dunia yang terletak di New York dan London. Bahkan motivasi sebenarnya
dari Amerika menyerang Irak karena Saddam Hussein tidak menerima US$
sebagai pembayaran atas minyak Irak dan mungkin karena alasan yang sama
akan terjadi pada Iran yang sedang berusaha membuat Bursa Minyak Baru di
Teheran yang akan menerima pembayaran dengan Euro dan Yen di masa
mendatang (“The Proposed Iranian Oil Bourse” by Krassimir Petrov)
Jadi pertumbuhan ekonomi dunia saat ini sangat tergantung dari sifat
konsumtif konsumen AS. Dan, disadari atau tidak, AS telah membuat
seluruh dunia membiayai kebiasaan konsumtif mereka. Jadi ini seperti
sebuah lingkaran setan yang tak pernah terputus, sehingga ada pemikiran
dari seorang ekonom AS keturunan India, Dr. Jagdish Bhagwati yang
mengatakan pada PM India, Manmohan Singh bahwa menabung adalah kebiasaan
yang sia-sia. Sebuah negara takkan tumbuh perekonomiannya jika
masyarakatnya tidak konsumtif. Tidak hanya konsumtif, tapi meminjam dan
konsumtif. Mottonya adalah "/Saving is sin, and spending is virtue/."
Tapi Indonesia pun punya kemiripan dengan Amerika Serikat. Neraca
Perdagangan Indonesia pun selalu defisit--yang tertambal
hutang/investasi luar negeri, dan punya masyarakat yang cenderung
konsumtif juga. Masyarakat AS jarang menabung, tapi demikian pula
Indonesia, yang karena budaya konsumtif, telah menjadi negara dengan
tingkat tabungan nasional terendah di Asia Pasifik. (Kompas, 23 Sept
2006). Tapi kenapa bisa beda nasib?
Jawabannya mungkin terletak pada barang apa yang dibeli. Masyarakat AS
lebih banyak mengkonsumsi produk-produk mereka sendiri, biarpun
dimanufaktur di luar Amerika. Sedangkan, masyarakat Indonesia lebih suka
mengkonsumsi produk-produk negara lain. Kenapa begitu? Mungkin karena
masyarakat Indonesia telah kehilangan jati diri mereka sehingga mereka
perlu /brand-brand/ internasional sebagai sarana untuk mengangkat harga
diri (/self-esteem/) mereka. Freud dalam sudut Psikologis dinamis
menyebut fenomena ini sebagai /Identification-Self Defense Mechanism/.
(Psychology Themes & Variations – Wayne Weiten).
Kehilangan jati diri masyarakat Indonesia ini erat kaitannya telah
tercabutnya akar budaya Indonesia akibat inflitrasi budaya yang kadang
kerap dibiayai dan dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri, dengan
disadari ataupun tidak disadari. Akibatnya, kebanggaan terhadap budaya
dan negara sendiri menjadi sirna dan masyarakat akan secara otomatis
mencari identitas lain dari budaya-budaya asing. Salah satu contoh
adalah, sejak kapan Indonesia punya kebiasaan mengkonsumsi mie-instan?
Apakah ada makanan pokok daerah yang berbasis terigu/gandum? Padahal
berapa luas ladang gandum di Indonesia? (Gandum jadi Terigu yang bahan
baku mie-instan). Coba bandingkan dengan makanan tradisional berbahan
sagu yang berasal dari tapioka (singkong)? Dan berapa banyak luas ladang
singkong di Indonesia? Kemudian, kenapa Gandum lebih dihargai sebagai
makanan yang lebih “berkualitas” daripada singkong seperti kaos bermerek
asing Calvin Klein jauh lebih dihargai daripada kaos bermerek lokal
Djoger? Padahal menurut penelitian kandungan gizi singkong tidak kalah
dengan gandum, seperti juga kaos bermerek Calvin Klein pun mampu dan
pernah dibuat di pabrik-pabrik lokal di Indonesia. Aneh bukan?
Tapi inflitrasi budaya pastinya bukan datang dari kebudayaan barat saja,
tetapi juga dari kebudayaan lainnya, seperti budaya Arab, budaya Cina,
budaya India, dll. Eratnya hubungan Keluarga Bush dengan Dinasti Saud
mungkin membuat taktik Arab Saudi tidak begitu berbeda dalam hal
menyebarkan paham wahabisme dengan mendirikan dan membiayai Islamic
Centers di dunia, termasuk di Indonesia, untuk menetralisir
budaya-budaya lokal. (Diskusi NIM-Budaya & Integrasi Bangsa di tengah
Ancaman-8 April 2006).
Menurut Roy, dalam pembahasan buku ini, parlemen Amerika, yang kita
asumsikan dikuasai oleh lobi yahudi, sebenarnya telah lama dikuasai oleh
pengaruh Arab Saudi. Demikian pula perbankan Amerika. JP memperkuat
dugaan itu karena mnurutnya, para EHM berhasil meyakinkan Penguasa Saudi
untuk menginvestasikan dana hasil penjualan minyak dalam surat berharga
AS dan bunganya untuk membangun Saudi Arabia dari sebuah kampung menjadi
metropolitan yang megah. Demikian kuat pengaruh itu sehingga pada masa
pemerintahan President Clinton, sebuah gagasan dari Presiden untuk
memberi pelajaran pada Osama Bin Laden dan Taliban sempat dialihkan
dengan munculnya skandal Monica Lewinsky sehingga gagasan itu tinggal
menjadi wacana sampai terjadi peristiwa 11 September.
Di akhir buku ini, JP menulis bahwa amat susah bagi setiap orang di
dunia (terutama di negara-negara dunia ke-3) untuk melawan
/corporatocracy/ ini, termasuk juga dirinya. “/Bagaimana Anda akan
memberontak melawan suatu sistem yang tampaknya memberi Anda rumah dan
mobil, makanan dan pakaian,, listrik dan perawatan kesehatan-bahkan jika
Anda tahu bahwa sistem itu juga menciptakan suatu dunia di mana 24 ribu
orang mati kelaparan setiap hari dan berjuta-//j//uta orang lainnya
membenci Anda, atau sedikitnya membenci kebijakan yang dibuat oleh
wakil-wakil yang telah Anda pilih? Bagaimana Anda d//a//pat mengumpulkan
keberanian untuk menentang dan menantang konsep yang Anda dan tetangga
Anda telah sela//l//u terima sebagai kebenaran, bahkan// //ketika Anda
mencurigai bahwa sistem itu siap untuk menghancurkan dirinya sendiri?/
“(Hal 250)
Bapak Anand Krishna, dalam kata penutupnya, bertanya : “Jadi Solusinya
apa?” Dulu Soekarno punya visi yang sangat jelas, tapi beliau tak mampu
menjelaskan dengan nalar dan logika. Jadi beliau sampai mengirim
beberapa kali utusan untuk menjelaskan maksud beliau pada PM India J.
Nehru. Ketika Nehru mengerti, maka bersama PM China Chao En Lai,
Soekarno menjadi penggerak Konferensi Asia Afrika (AA) di Bandung dengan
Joseph Tito dari Yugoslavia dan Natsir dari Mesir sebagai pelengkap dari
benua Eropa dan Afrika. Setelah konferensi AA, banyak daerah di Asia dan
Afrika yang terlepas dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme barat.
Maka dari itu, Visi dan Misi yang sama, baru akan menghasilkan kekuatan
yang dahsyat untuk merubah keadaan. Prof. Dr. Syafii Maarif jelas
seorang nasionalis dan punya misi yang sama dengan NIM, tapi visi beliau
berbeda dengan kita karena visi beliau tentang Indonesia bersumber dari
bangsa yang lahir tahun 1928, sedangkan visi kita dari bangsa yang sudah
ada sejak jaman Sriwijaya.
Orang-orang Indonesia yang pintar dan berani, belakangan ini, selalu
dipisahkan dari kelompoknya dan dijauhkan dari Indonesia. Entah dengan
cara disekolahkan ke luar negeri atau diberi dana untuk melakukan
penelitian-penelitian yang akhirnya pun data-datanya diambil oleh
pemberi dana tanpa kita tahu akan dipergunakan untuk keperluan/tujuan
apa. Atau, /standard of living/ orang-orang ini ditingkatkan dengan
pemberian gaji-gaji/bonus yang tinggi sehingga ketika dana-dana
aktivitas mereka dihentikan, maka mereka langsung kehilangan gigi.
Negara seperti Amerika jelas tahu berapa kandungan emas dan minyak di
Freeport maupun di Blok Cepu karena teknologi yang mereka miliki.
Indonesia tidak tahu dan hanya menerka-nerka. Salah satu alasan Kwik
Kian Gie menolak menandatangani kontrak Blok Cepu dengan Exxon karena
ada pasal yang mengharuskan Indonesia membayar semacam kompensasi kepada
Exxon bila ternyata cadangan minyak di Blok Cepu tidak sebanyak yang
diperkirakan. Indonesia pun karena terikat dengan hutang yang tak
terbayar diharuskan secara halus untuk hanya berdagang dengan
negara-negara kreditor. Jadi memang ada konspirasi yang luar biasa untuk
menghancurkan Indonesia.
Dan pesan-pesan ini, entah bagaimana, harus sampai pada
mahasiswa-mahasiswa kita. Dan mahasiswa kita harus bergerak karena kita
tidak bisa mengharapkan dari pemerintah yang sudah tidak dapat
diandalkan karena tekanan-tekanan politik yang mereka hadapi untuk hanya
mempertahankan kedudukan mereka. Parpol-parpol pun harus diyakinkan
tentang konspirasi-konspirasi yang sedang dihadapi Indonesia. PDI-P dan
Golkar di tahun 2009 harus bergabung dan menjadi suatu kekuatan politik
yang mampu mempersatukan NKRI. Tapi itu pun susah terjadi.
Satu-satunya solusi bagi Indonesia adalah bagaimana membuat masyarakat
Indonesia menjadi lebih sadar secara kolektif. Tanpa kesadaran dari
rakyat, amat mustahil untuk kebangkitan ekonomi. Sekarang ini hanya
orang-orang asing yang gila spekulatif saja yang mau menanamkan
investasi di Indonesia.
Keadaan di Indonesia sekarang ini sudah sangat kacau, dan ini pernah
terjadi di Kerajaan Majapahit dulu dan sekarang terulangi kembali.
Ketika Majapahit gagal, maka Nusantara jatuh ke dalam jaman perbudakan
selama 350 tahun. Kita sudah melakukan segala cara termasuk mencoba
membentuk Human Mandala, lewat latihan Tantra, guna menghalau serangan
dari luar agar Indonesia selamat. Tapi upaya itu pun gagal. Jadi
sekarang satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan bangsa adalah
kesediaan kita-kita untuk berkorban. Jangan lupa bahwa Apa yang telah
direncanakan Keberadaan tidak pernah gagal.
Yoga dan Meditasi yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, sekarang
telah menjadi mata pelajaran wajib bagi tentara Amerika, yang
diharapkan, menjadi petarung yang keras dan tidak pernah ragu untuk
membunuh orang lain. Yang mempersatukan AS sekarang ini adalah yang
materi, dan tentara-tentara mereka telah dipersiapkan untuk
mempertahankan hegemoni AS atas ekonomi dunia karena atas dasar materi
lah AS sekarang bisa bersatu dan ada. Dan dulu, barat menyebarkan
imperalisme lewat agama, tapi sekarang AS berusaha menyebarkan
imperalisme lewat inflitrasi budaya dan globalisasi.
Ketika kita bertemu Dubes India untuk Indonesia, Dubes berkata bahwa
Indonesia tidak pernah mengimpor agama Hindu dari Indonesia. Bahkan di
tahun 1970-an, muslim India yang pergi naik haji ke tanah Mekkah,
biasanya dipanggil orang Hindu oleh orang-orang Arab. Itulah bukti bahwa
Hindu memang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan sebagai sebutan suatu
aliran kepercayaan atau agama, tetapi sebagai sebutan sebuah peradaban.
Dan peradaban baru bisa ada bila masyarakatnya berbudaya. Budaya itulah
yang harus mengakar dan menahan serangan dari budaya asing lain.
Pembahasan buku ini dilakukan di One Earth, 15 Sept 2006, dipimpin oleh
Ketua Torchbearer Dian Martin.(j/b)
=======================================
RUU APP: Judul dan Isi tidak Terkait!
P0rn0grafi: NO! RUU APP: NO!! Indonesia BERSATU: YES!!!
=======================================
--- End Message ---
|
|