logo       

[Dokumen Tercecer]: SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Se: msg#00278

culture.religion.healer.mayapada

Subject: [Dokumen Tercecer]: SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah (3)

 
SEPINTAS Gerakan Wanita Indonesia Dalam Perkembangan Sejarah (3)
 
Oleh Rusiyati
 
3. Periode Persatuan Nasional (1929-1941)
 
Periode ini ditandai dengan makin banyaknya jenis gerakan wanita dan makin terbuka wawasannya. Pada periode sebelumnya lingkup kegiatan hampir semua organisasi wanita hanya meliputi masalah emansipasi dan usaha menjadikan wanita lebih sempurna dalam menjalankan peran tradisionilnya sebagai wanita.
Pada periode ini mulai muncul organisasi-organisasi yang membuka wawasan melebihi lingkup rumahtangga dan keluarga. Organisasi-organisasi baru ini menjadikan masalah-masalah politik dan agama sebagai pokok perhatiannya.
 
Padahal sebelumnya semua organisasi yang b ergabung dalam PPPI (Perikatan perkumpulan Perempuan Indonesia) menolak mencampuri urusan politik dan agama.
Perkembangan terakhir ini sebenarnya telah dirintis jauh sebelumnya, yaitu pada tahun 1919 ketika Siti Soendari mendirikan organisasi "Putri Budi Sejati". Di Surabaya Organisasi ini merupakan  organisasi wanita yang cukup besar serta berdikari, dan mendasarkan perjuangannya pada cita-cita kebangsaan. Arah baru ini diikuti oleh ?Istri Sedar? yang didirikan di Bandung pada tahun 1930.
Istri Sedar berjuang untuk kemerdekaan Indonesia di mana penghargaan dan kedudukan wanita dan laki-laki sama dan sejajar. Organisasi ini juga bersikap kritis terhadap norma-norma adat, tradisi dan agama yang pada prakteknya merugikan kaum wanita. Istri Sedar bersikap anti dan selalu dengan pedas menyerang imperialisme dan kolonialisme.
 
Pada bulan Juni 1932 beberapa organisasi yang tidak beazaskan agama bergabung menj adi satu dengan nama Istri Indonesia yang memperjuangkan Indonesia merdeka dengan dasar demokrasi. Organisasi baru ini giat berusaha agar wanita bisa duduk dalam dewan-dewan kota, selain juga memperhatikan masalah perkawinan dan perceraian yang pada waktu itu pengaturannya banyak merugikan kaum wanita.
Pada kongresnya yang ke dua, tiga dan empat (1935, 1938 dan 1941), PPPI membicarakan sekitar kewajiban kebangsaan (walaupun tetap dengan tekanan pada kewajiban menjadi Ibu Bangsa), masalah hak memilih dalam badan-badan perwakilan dan dewan kota, serta beberapa masalah politik lainnya.
 
Selain organisasi-organisasi tersebut diatas, mulai muncul juga organisasi yang anggautanya terdiri atas para wanita yang bekerja di luar rumah. Demikianlah untuk pertama kali dibentuk di Jakarta pada tahun 1940 ?perkumpulan pekerja Perempuan Indonesia" yang beranggautakan para wanita yang bekerja di kantor baik pemerintah ataupun swasta sebagai guru, perawat, pegawai kantor, dsb. Namun, dilihat dari kegiatannya, organisasi organisasi tersebut belum dapat dikatakan sebagai organisasi profesi, karena pada umumnya kegiatan mereka ditekankan pada pendidikan ketrampilan kewanitaan dan pemupukan kesadaran kebangsaan, tidak beda dengan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi wanita lainnya.
 
II. Zaman Pendudukan Bala Tentara Jepang (1942 ? 1945)
 
Dengan menyerahnya Jendral Ter Poorten tanpa syarat di Kalijati pada tanggal 9 Maret 1942 kepada Jendral lmamura, berakhirlah penjajahan Belanda atas lndonesia. Dengan demikian dioperkan begitu saja nasib bangsa lndonesia kepada penjajah yang baru Jepang. Belanda tidak pernah percaya kepada ajakan tokoh-tokoh politik bangsa lndonesia untuk bersama-sama berjuang anti fasis, sebaliknya Belanda lebih percaya kepada Jepang. Padahal sudah tahu lebih dulu, bahwa Jepang sudah mengincar ln donesia untuk memperoleh kekayaannya, terutama minyak yang sangat dibutuhkannya untuk keperluan industrinya.
Dalam pada itu, kekejaman fasis Jepang selama pendudukannya di lndonesia bahkan makin membulatkan tekad seluruh bangsa untuk membebaskan diri dari setiap penjajahan asing dan memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya.
 
Salah satu tindakannya yang pertama-tama yalah Jepang melarang semua organisasi yang ada dan membubarkannya. Bersamaan dengan itu, dengan bantuan orang-orang bekas pegawai dinas rahasia Belanda yang bernama P.l.D. menangkapi elemen-elemen anti fasis dikalangan bangsa indonesia. Tidak dikecualikan organisasi-organisasi wanita juga dibubarkan. Kemudian dibentuk organisasi-organisasi baru dengan dalih sebagai propaganda untuk kepentingan dan kemakmuran bangsa-bangsa Asia Timur Raya. Dengan sendirinya organisasi-organisasi yang tidak mau masuk perangkap kerjasama dengan penguasa fasis, terpaksa bergerak dibawah tanah.  Taktik Jepang merangkul Bangsa Indonesia dapat dituturkan sbb.:
1. Bahasa Belanda dilarang dan bahasa Indonesia secara resmi digunakan sebagai bahasa komunikasi umum.
2. Sistim sekolah Belanda seperti ELS, HIS, HCS dan lainnya dibubarkan, dan diganti dengan sekolah Rakyat 6 tahun, SMP, SMA dan sekolah Guru dan kejuruan.
Penguasa baru mendirikan organisasi umum yang bernama ?Tiga A? pada bulan April 1942, dengan bagian wanitanya yang bernama ?Gerakan Istri Tiga A?, sedangkan bagian pemudinya disebut ?Barisan Putri Asia Raya?. Gerakan Tiga A tidak berumur panjang, karena pada bulan Maret 1943 digantikan oleh organisasi ?PUTERA? (Pusat Tenaga Rakyat) yang bagian wanitanya Barisan Pekerja Perempuan Putera. Disamping itu juga dibentuk organisasi wanita untuk para Isteri yang disebut ?Fujinka? yang dibentuk di daerah-daerah dengan ketuanya istri masing-masing kepala daerah.
Ketika Putera akhirnya dilebur dalam organisa si baru ?Jawa HOKOKAI? (Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa), maka Fujinkai dijadikan bagian wanitanya dengan cabang-cabang didaerah-daerah.
Kegiatan Fujinkai dibatasi hanya pada urusan-urusan kewanitaan dan peningkatan ketrampilan domestik selain kegiatan menghibur tentara yang sakit dan kursus butahuruf. Bagi para wanita yang mempunnyai wawasan luas, pembatasan ini merisaukan dan mereka tidak ikut masuk Fujinkai. Kenyataan ini menjadikan adanya dua jenis orientasi di kalangan aktivis wanita yaitu mereka yang berkoöperasi dengan pemerintah Balatentara Dai Nippon dan yang non-koöperatif serta memilih bergerak diam-diam dibawah tanah.
 
Tentara pendudukan Jepang juga membentuk pasukan tempur wanita yang disebut ?Barisan Srikandi? yang anggautanya terdiri atas anak-anak gadis berumur antara 15-20 tahun dan belum menikah. Mereka dilatih pelatihan kemiliteran untuk dapat maju ke medan perang membela Jepang, sewaktu-waktu bilamana dibut uhkan. Sepanjang ingatan saya, masih ada latihan-latihan militer bagi para gadis indonesia bernama ?Sementai?. Untuk pemudanya bernama ?Seizendang?. Gerak badan atau ?Taigo? sangat digalakkan. Latihan kemiliteran di ?Seisendo? juga diajarkan untuk menggunakan senjata.  Latihan ?latihan kemiliteran yang diberikan Jepang ternyata dikemudian hari ada manfaatnya dalam perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan tanahair. Pada pokoknya, seluruh kehidupan masyarakat Indonesia di militerisir untuk kepentingan ekonomi perang Jepang dan untuk memperkuat angkatan perangnya dengan melatih tenaga-tenaga cadangan untuk digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan. Padaa periode ini, sifat gerakan wanita mengalami kemunduran, karena organisasi wanita hanya boleh berdiri bila ada komando dari penguasa.
 
Bersambung...


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65click: http://www.progind.net/  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/


Want to be your own boss? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -

Mayapada Prana Links:

<*> The Internet Sacred Texts Archive
http://www.sacred-texts.com/index.htm

<*> The Theosophical Society
http://www.theosociety.org/

<*> Yoga Leaf
http://www.yogaleaf.com/






Yahoo! Groups Links

__,_._,___
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise