logo       

Fwd: Terjemahan Indonesia Kuliah Paus Benediktus 16 di Jerman: msg#00241

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Fwd: Terjemahan Indonesia Kuliah Paus Benediktus 16 di Jerman

--- In aliansi-kebebasan-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "merapi08"
wrote:

Dear All, di bawah saya sajikan terjemahan kuliah Paus Benediktus
XVI di Jerman. Terjemahan dikerjakan oleh Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ
dari teks aslinya bahasa Jerman.
------------

KULIAH PAUS BENEDICTUS XVI:
"Iman, Akal Budi dan Universitas"
12.9.2006

Bagiku merupakan saat mengharukan, bahwa saya berdiri lagi di
mimbar Universitas ini dan sekali lagi boleh memberikan kuliah .
Dalam pada itu pikiranku kembali ke tahun-tahun, ketika saya
menerima tugas sebagai guru akademis di Universitas Bonn setelah
suatu kurun waktu indah di Sekolah Tinggi Freising. Waktu itu -
1959 ? masih jaman tata Universitas lama. Untuk setiap mata kuliah
tidak ada asisten atau sekretaris: tetapi untungnya malah ada
perjumpaan yang amat langsung dengan mahasiswa dan terutama juga
antara para Profesor satu sama lain.

Di ruang dosen kami dapat ketemu sebelum atau sesudah kuliah.
Kontak antara ahli sejarah, filsuf, filolog dan tentu saja juga
antara para teolog dari kedua fakultas teologi (Protestan dan
Katolik) sangat akrab. Tiap semester ada Hari Akademi: pada saat itu
Profesor dari semua fakultas memperkenalkan diri kepada para
mahasiswa seluruh Universitas dan dengan demikian menjadi
mungkinlah untuk mengalami Universitas benar-benar. Bahwa kami
(dengan semua spesialisasinya kadang kala membuat kami
tidak dapat bicara satu sama lain), toh merupakan satu kesatuan
dan semuanya bekerja dengan satu akal budi dengan aneka dimensinya
serta sama-sama mengalami pertanggungjawaban penggunaan akal budi
secara benar. Universitas juga bangga dengan kedua fakultas
teologinya (Protestan dan Katolik). Jelas, bahwa kedua fakultas
itu, dengan mengajukan pertanyaan rasional kepada iman, yang perlu
agar menjadi bagian dari seluruh 'Universitas scientiarum', pun
kalau imannya tidak dapat sama, mendorong para teolog untuk sama-
sama menggunakan akal budi. Kesatuan batin dalam dunia akal budi itu
tidak juga terganggu, tatkala pernah terdengar, katanya ada kolega
dosen yang berucap: di Universitas kita katanya ada
hal aneh, yaitu bahwa ada 2 fakultas yang mempelajari 'sesuatu yang
tidak ada' (yaitu Allah). Bahwa di tengah sikap skepsis seperti ini
tetap perlu dan rasional saja, mengajukan pertanyaan secara rasional
tentang Allah dan melakukannya dalam kaitan dengan Tradisi iman
katolik, tidaklah dipermasalahkan di seluruh Universitas. Semua itu
muncul dalam kesadaranku lagi, ketika belum lama ini saya membaca
bagian dialog yang diterbitkan oleh Prof Th. Khoury (Muenster): di
situ: dialognya dari tahun 1391 di suatu barak musim dingin dekat
Ankara antara Kaisar terpelajar Manuel II Palaeologos dengan sang
bijak dari Persia mengenai agama kristiani dan Islam dan mengupas
soal kebenaran keduanya.

Kaisar mungkin menuliskan dialog itu saat pengepungan Konstantinopel
antara 1394 dan 1402 (maka ia menguraikan pendiriannya sendiri jauh
lebih rinci daripada jawab sang ahli dari Persia.) Dialog itu
mencakup seluruh jaringan iman dalam Alkitab dan Al Qur'an serta
terutama berkisar tentang citra Allah dan gambaran manusia, tetapi
juga tentu saja lagi dan lagi mengenai hubungan antara ketiga Kitab
Hukum Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al Qur'an.

Dalam kuliah ini saya hanya akan menyebut satu butir (yang juga
tidak merupakan inti dialog itu): satu butir yang menarik perhatian
saya dalam kaitan dengan tema "Iman dan Akal Budi" dan dapat
bermanfaat untuk menjadi pangkal pemikiran saya. Dalam buku yang
diterbitkan Prof Khoury itu pada lingkaran diskusi yang ketujuh,
Kaisar sampai pada tema Jihad (Perang Suci). Kaisar pasti tahu,
bahwa dalam Surah 2, 256 dikatakan mengenai tiadanya paksaan untuk
urusan iman - itu satu di antara Surah-surah pertama dari masa,
ketika Muhammad sendiri dalam kondisi lemah dan terancam. Kaisar
tentu tahu juga akan yang tertulis dalam Al Qur'an - kelak
tersusunnya - ketentuan mengenai Perang Suci. Tanpa mau masuk ke
dalam rinci-rincian, bagaimana hubungan antara umat Ahli Kitab dan
Orang Tak Beriman, Kaisar secara mengherankan memakai cara langsung
ke dalam pertanyaan utama tentang hubungan antara agama dan
kekuasaan kepada rekan bicaranya. *Ia berkata "Tunjukkanlah, apa
yang dibawa Muhammad dan Anda hanya akan menemukan yang buruk dan
tidak manusiawi, seperti bahwa ia memerintahkan agar iman yang
diwartakannya disebarluaskan dengan pedang. Hal itu bertentangan
dengan kodrat Allah dan kodrat jiwa".

"Allah tidak mencintai darah dan tidak bertindak rasional itu
bertentangan dengan hakikat Allah. Iman itu buah jiwa, bukan dari
tubuh. Maka siapa yang menyuruh orang untuk beriman, perlu
menggunakan argumentasi yang baik dan cara berpikir yang benar,
bukan kekuatan dan ancaman . Untuk meyakinkan seseorang
yang rasional, perlulah orang bukan tangan atau alat kekerasan atau
sesuatu alat, yang dapat mengancamkan kematian".*

*Kalimat yang menentukan dalam argumentasi terhadap pentobatan
dengan kekerasan berbunyi: "bertindak tidak secara rasional, itu
bertentangan dengan kodrat Allah".*
Si penyunting (Th. Khoury) memberi komentar sbb: Bagi Kaisar itu
(yang dibesarkan sebagai orang Byzantium dalam filsafat Yunani)
kalimat itu sudah jelas. Sebaliknya bagi ajaran Islam, Allah itu
mutlak transenden. KehendakNya tidak terikat pada kategori-kategori
kita mana pun, termasuk rasionalitas. Untuk itu Khoury mengutip
suatu karya dari Islamolog Perancis yang terkenal (R. Arnaldez),
yang mengatakan, bahwa Ibn Hazn sampai menyatakan, bahwa Allah
tidak dibatasi oleh SabdaNya sendiri dan tak ada yang mewajibkanNya
untuk mewahyukan kebenaran. Bila ia menghendaki itu, mestinya bisa
menyembah berhala.

Di sini terkuaklah perbedaan cara orang memahami Allah dan dengan
demikian juga dalam secara konkret melaksanakan agama, yang
sekarang merupakan tantangan langsung bagi kita. Hanya cara
Yunanikah utk berpendapat bhw "bertindak tak rasional itu
bertentangan dengan hakikat Allah", ataukah itu berlaku selalu dan
memang secara hakiki demikian? Saya pikir, di sini ada nada sama
antara apa yang secara Yunani tepat dan apa yang tampak dalam
Alkitab mendasari iman akan Allah.

Seraya mengubah ayat pertama Kitab Kejadian, Yohannes membukan
Prolog Injilnya dengan kata: "Pada awal mula ada Sabda". Itulah
yang persis dipakai oleh Kaisar: Allah bertindak dengan Sabda. Sabda
itu akal budi dan sekaligus kata - suatu akal budi, yang kreatif
dan dapat mengkomunikasikan diri tetapi memang secara rasional.
Dengan demikian Yohannes memberi kata penutup pada paham alkitabiah
ttg Allah: di situ semua jalan yang sering sulit dan samar2
mengenai iman alkitabiah sampai di tujuan akhir dan menemukan
sintesisnya. Pada awal mula ada Sabda, dan Sabda adalah Allah:
begitulah kata Pengarang Injil. Ketemunya pesan Alkitab dengan
pemikiran Yunani tidaklah kebetulan. Visi St. Paulus, (yang
tertutup jalannya ke Asia dan yang kemudian melihat wajah orang
Macedonia dan mendengarnya memanggilnya utk datang dan menolong -
Kis 16: 6-10) - visi itu dapat menjadi pengentalan perjumpaan batin
antara iman alkitabiah dan pertanyaan hidup pola Yunani. Sementara
itu, perjumpaan seperti itu sesungguhnya sudah lama berlangsung.

Nama Allah yang penuh misteri dari Semak Berduri yang terbakar, yang
mengkhususkan Allah ini dari banyak nama dan menyebut sebagai Sang
Ada adalah penolakan Mitos, sangat analog dengan cara jaman
Socrates mengatasi dan melampaui mitos. Proses yang dimulai di
Semak Berduri menjadi masak lagi dalam Perjanjian Lama sewaktu
Pengungsian: di situ Allah Israel yang tanpa negeri dan tanpa bakti
diwartakan sebagai Allah bumi-langit dan diperkenalkan dengan
istilah sederhana ? meneruskan kata-di-Semak-Berduri yi "Akulah Yang
Ada". Bersama dengan pengenalan baru Allah ini terjadilah suatu
pencerahan ttg Dewa2 yang secara merendahkan disebut "buatan
manusia" (bdk. Mzm 115).

Demikianlah, pada masa hellenistik, dalam ketegangan tajam kepada
para penguasa Yunani, yang mau memaksakan cara hidup dan cara bakti
hellenistik, iman alkitabiah bersentuhan dengan segi terbaik
pemikiran Yunani dari dalam - sebagaimana khususnya
akan terwujud dalam Sastra Kebijaksanaan. Sekarang kita tahu, bahwa
terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang terwujud di Alexandria -
Septuaginta - itu lebih daripada sekedar terjemahan teks Ibrani
(pun kalau dinilai sedikit lebih positif): malah merupakan saksi
sastra yang mandiri dan langkah penting tersendiri dari Sejarah
Perwahyuan: di situ perjumpaan itu terlaksana dengan suatu cara,
yang untuk berdirinya agama Kristiani dan persebarannya mempunyai
arti yang menentukan. Pada lapisan terdalam terjadilah pertemuan
antara iman dan akal budi, antara pencerahan dan religi. Manuel II
telah dapat berkata sungguh dari kedalaman hakikat iman kristiani
dan sekaligus dari hakikat budaya Yunaninya, yang menyatu dengan
iman: bertindak "tidak bersama Logos" itu bertentangan dengan
hakikat Allah.

Di sini, demi kejelasan perlu disebutkan bahwa pada akhir
Abad Pertengahan berkembang kecenderungan2 dalam
teologi, yang merombak sintesis antara Yang Yunani dan
Yang Kristiani itu. Berhadapan dengan yang disebut
intelektualisme Agustinus dan Tomas,
mulailah Duns Scotus dengan Voluntarisme,
yang kemudian sampai mengatakan, bahwa mengenai
Allah kita hanya mengenal kehendakNya, voluntas ordinata.
Lebih jauh daripadanya, ada kehendak bebas Allah:
karena kekuatan itu, Ia sesungguhnya dapat melakukan
dan bertindak bertentangan dengan segala yang telah
dilakukannya. Di situ terkuaklah pendirian-pendirian,
yang dekat dengan Ibn Hazn dan dapat mengarah pada
Serba-bebasnya Kehendak Allah, yang malah tidak terikat
pada kebenaran dan kebaikan. Transendensi dan
keberbedaan Allah sedemikian dilampaui, sehingga akal
budi, prarasa kita akan kebenaran dan kebaikan bukan lagi
citra sejati Allah, yang kemampuan dasarNya di balik
segala keputusanNya yang nyata itu memang bagi kita
tidak terjangkau dan akan tetap tersembunyi.
Terhadap hal itu, iman Gereja selalu berpegangan,
bahwa antara Allah dengan kita, antara Roh PenciptaNya
yang abadi dan akal budi kita yang tercipta sungguh ada
analogi nyata: di situ 'ketidak-miripan' secara mutlak lebih
besar dari pada kemiripan; namun di situ analogi dan
bahasa tidak akan disingkirkan (bdk Lat IV).
Allah tidaklah menjadi lebih ilahi karena kita desak menuju
pada Voluntarisme yang murni dan tak terbayangkan.
Allah yang sungguh ilahi adalah Allah, yang menunjukkan
diri sebagai Logos dan sebagai Logos dengan penuh kasih
telah bertindak dan senantiasa bertindak sekarang.
Tentu saja cintakasih "mengatasi 'pemahaman' dan karena
itu lebih menangkap dari pada sekedar berpikir saja"
(bdk Ef 3: 19). Namun cinta tetaplah kasih Logos Allah,
asal dari ibadat kristiani ... - ibadat, yang sesuara dengan
Sabda Abadi dan dengan akal budi kita (bdk Rom 12:1).
Tindak saling mendekat yang disiratkan di sini, yaitu yang
terjadi antara iman alkitabiah dan pertanyaan-pertanyaan
filosofis Yunani, bukanlah hanya peristiwa yang
menentukan dari sudut keagamaan saja, melainkan juga
dari sejarah dunia. Bila kita menangkap perjumpaan ini,
tidaklah mengherankan bahwa iman kristiani,
memang bermula dan tumbuh di Timur namun toh
ternyata memberi meterai yang menentukan secara
historis di Eropa. Kita dapat juga mengatakan sebaliknya:
perjumpaan itu, yang masih ditambah warisan romawi,
telah menciptakan Eropa dan tetap menjadi dasar dari
yang secara sebenarnya disebut Eropa.
Tesis, yang menyatakan bahwa warisan Yunani yang
dimurnikan secara kritis itu merupakan bagian dari iman
kristiani, sesungguhnya membawa tuntutan bahwa Yang
Kristiani harus dibersihkan dari Yang Yunani: suatu
gerakan yang sejak Jaman Baru mempengaruhi refleksi
teologis. Bila diperhatikan lebih jauh lagi,
dapatlah dicermati adanya 3 gelombang, yang memang
berkaitan satu sama lain, tetapi toh jelas terbedakan dasar
dan sasarannya.

Pembersihan dari sifat Yunani muncul pertama-tama
dalam keprihatinan dasar Reformasi abad 16.
Para Reformator melihat dari sudut filsafat, dalam tradisi
sekolah2 teologis suatu sistematisasi iman tertentu:
hal yang asing terhadap iman bertolak dari cara berpikir
tertentu. Di situ iman tampil tidak lagi sebagai Sabda yang
secara historis hidup, melainkan ditancapkan sebagai
sistem filosofis. Sebaliknya 'Sola scriptura' mencari wujud
perdana iman, sebagaimana Sabda alkitabiah pada awalnya.
Metafisik tampil sebagai masukan dari luar: orang beriman
harus membebaskan diri darinya agar dapat menjadi
dirinya lagi. Dengan cara yang bagi kaum Reformator tidak
terbayangkan radikalnya, Kant telah melangkah jauh
dengan mengatakan bahwa ia harus menyingkirkan
pikiran, agar dapat memberi tempat kepada iman.
Akhirnya ia menempatkan akar iman pada akal budi
praktis dan tidak mengaitkannya dengan keseluruhan
kenyataan.

Teologi Liberal abad 19-20 membawa gelombang baru
dalam program pembersihan sifat2 keyunanian.
Bagi mereka, Adolf von Harnack menjadi tokoh utamanya.
Pada tahun studi dan masa awal pelayanan akademis saya,
program itu sangat tampak dalam Gereja.
Pascal membedakan Allah para filsuf dan Allah Abraham,
Isak dan Yakub: itu menjadi titik pangkal pemikirannya.
Dalam kuliah saya mengawali masa bakti di Bonn (1959)
saya telah mencoba mengupas masalah tersebut.
Sekarang tidak akan saya telaah lagi. Namun saya
sekurang2nya akan secara ringkas mencoba,
memperlihatkan hal baru pada gelombang kedua
dibanding gelombang pertama. Inti gagasan bagi Harnack
rupanya adalah kembali ke Jesus, si manusia dan inti pesan
Yesus, yang ada sebelum teologisasi atau helenisasi:
pesan dasar itu menyebutkan tingkatan perkembangan
sejati kemanusiaan. Katanya Yesus menyisihkan kultus
untuk digantikan moral. Ia diketengahkan sebagai bapak
pesan moral yang penuh cinta kepada manusia.
Sebenarnya pada dasarnya kekristenan disejajarkan
dengan akal budi modern: yaitu dengan melepaskannya
dari unsur2 filosofis dan teologis, seperti iman akan
keilahian Kristus dan Tritunggal. Sejauh itu tafsir
historis-kritis atas Alkitab menempatkan teologi dalam
universitas:
bagi Harnack, teologi secara hakiki historis dan ilmiah.
Yang dihasilkannya dengan kritik atas Yesus adalah
semacam ungkapan akal budi praktis dan dengan demikian
dapat ditempatkan di universitas. Di latar belakang kita
temukan akal budi masa baru yang membatasi diri,
sebagaimana ditemukan dalam Kant dan kemudian
diradikalkan lagi oleh pemikir filsafat alam.
Ringkasnya, paham modern mengenai akal budi ini
bersandar pada hasil sintesis antara Platonisme
(Cartesianisme) dan Empirisme. Di satu fihak,
diandaikan struktur matematik materia (katakanlah
rasionalitas batinnya), yang memungkinkan kita dapat
memahami dan memakainya. Pengandaian dasar itu bisa
disebut unsur platonis dari pemahaman modern tentang
alam. Di sisi lain, ada soal tentang dapat berfungsinya alam
untuk tujuan kita: kepastian baru kita peroleh kalau dapat
dibenarkan atau disangkal dengan eksperimen.
Bobot antara keduanya dapat saja berada di salah satu sisi.
Seorang pemikir yang sedemikian positivistik seperti
Monod telah menyebut diri sebagai seorang Platonis atau
Cartesian yang sadar dan yakin. Di sini kita mendapat 2
orientasi dasar bagi permasalahan kita. Hanya bentuk
kepastian yang diperoleh dari matematik dan empirik yang
memungkinkan orang bicara mengenai sifat ilmiah.
Bila mau disebut ilmiah ya harus dapat diukur dengan
matematik dan empirik. Maka berusahalah ilmu-ilmu
seperti sejarah, psikhologi, sosiologi dan filosofi mendekati
tata-kanon keilmuan (positivstik) ini.
Namun, untuk pemikiran kita masih penting bahwa
metode ini menyisihkan masalah keallahan dan
menyiratkan penilaian bahwa soal itu tidak ilmiah atau
hanya pra-ilmiah. Dengan demikian kita ditatapkan pada
penyempitan radius Ilmu dan Akal Budi: itu harus
dipermasalahkan. Kita akan kembali lagi nanti.
Sementara itu harus diperjelas, bahwa dengan cara
pandang ini, usaha untuk menjadikan teologi itu ilmu,
tinggallah kepingan upaya kecil saja. Kita harus
mengatakan lebih lanjut: si manusia sendiri diperkerdil
dengan cara pandang itu. Sebab, masalah-masalah yang
khas manusiawi, yaitu pertanyaan mengenai dari mana
dan ke mana manusia itu, pertanyaan tentang religi dan
etos, tidaklah dapat mengambil tempat bersama, yang oleh
akal budi dikatakan bernama ilmu dan harus ditaruh di
bagian 'subyektif'. Si subyek menentukan dengan
pengalamannya, apa yang agaknya dapat disebut religi dan
suara hati subyektif menjadi satu-satunya instansi etis
terakhir. Kalau demikian etos dan religi kehilangan
kekuatannya membentuk persekutuan dan jatuh pada
sifat sewenang-wenang subyektif. Keadaan ini bagi
manusia berbahaya: kita melihatnya dalam ancaman
patologi religi dan akal budi, yang harus meledak,
di mana akal budi disempitkan, sehingga masalah religi dan
etos tidak bergandengan lagi. Tidak cukup lagilah
usaha-usaha etis dari pengaturan evolusi, psikhologi dan
sosiologi.

Sebelum saya sampai pada kesimpulan, haruslah saya
dengan singkat menyebutkan gelombang ketiga dari
pembersihan unsur hellenistik masa kini.
Berkaitan dengan perjumpaan banyak kebudayaan,
jaman sekarang orang biasa mengatakan, sintesis dengan
kebudayaan Yunani yang terlaksana dalam Gereja Perdana,
itu kan inkulturasi awal iman kristiani: kita tidak boleh
memancangkan kebudayaan lain di situ. Adalah hak
kebudayaan lain untuk masuk ke masa sebelum inkulturasi
pertama itu: sampai ke pesan awal Perjanjian Baru,
untuk berinkulturasi lebih lanjut. Tesis ini tidak keliru,
namun terlalu kasar dan kurang akurat. Sebab Perjanjian
Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani dan
di dalamnya bersentuhanlah dengan semangat keyunanian,
yang sudah matang pada masa sebelumnya waktu
Perjanjian Lama berkembang.
Tentu saja ada lapisan-lapisan dalam proses terjadinya
Gereja Perdana, yang tidak dalam semua kebudayaan
masuk. Tetapi keputusan-keputusan dasar, yang berkaitan
dengan iman dalam pertemuannya dengan akal budi
manusia, itu merupakan bagian dari iman sendiri dan
perkembangannya.

Sekarang kesimpulan akhirnya: Kritik diri atas akal budi
modern yang baru dilakukan, tidaklah mencakup pendirian,
seakan-akan manusia harus masuk ke balik pencerahan
dan meninggalkan masa modern. Besarnya perkembangan
budi modern diakui tanpa dikecilkan. Kita semua
bersyukur untuk kemungkinan2 besar, yang terbuka bagi
manusia dan untuk kemajuan2 bagi umat manusia,
yang dianugerahkan bagi kita. Pada dasarnya etos
keilmiahan adalah kehendak untuk taat pada kebenaran
dan sejauh itu merupakan ungkapan sikap dasar,
yang merupakan bagian dari pengambilan keputusan
kristiani. Bukan menarik kembali atau kritik negatiflah
yang kita maksudkan, melainkan soalnya adalah mengenai
perluasan faham tentang akal budi dan pemakaian akal
budi. Sebab kita memang bersukacita dengan
kemungkinan2 baru, namun kita juga melihat ancaman2
yang terbit dari kemungkinan2 itu dan kita harus
mempertanyakan, bagaimana kita dapat mengatasinya.
Kita hanya dapat melakukannya, bila akal budi dan iman
saling bertemu dengan cara baru; bila kita dapat
mengatasi pembatasan diri akal budi atas hal-hal yang
dapat dibuktikan keliru dengan eksperimen dan kembali
membuka akal budi secara luas lagi. Dalam arti ini,
teologi termasuk tidak hanya sebagai ilmu historis dan
manusiawi, melainkan sebagai khas teologis,
sebagai pertanyaan akal budi terhadap iman di universitas
dan dalam dialognya dengan ilmu2 lain.
Hanya dengan demikian kita akan mampu mengadakan
dialog sejati antara kebudayaan dan religi, yang amat kita
butuhkan. Sejauh ini di dunia barat tersebar pendirian,
hanyalah akal budi positivistis dan bentuk2 filosofis yang
serupa sajalah yang bersifat universal. Tetapi dari kultur
religius dunia justru dikeluarkannya Yang Ilahi dari
universalitas akal budi menjadi pelanggaran terhadap
keyakinan-keyakinan batin yang terdalam. Akal budi,
yang tuli terhadap Yang Ilahi dan Religi yang terdesak
bersembunyi dalam subkultur saja, tidaklah mampu
mendorong dialog lintas budaya.
Sementara itu, saya baru saja mencoba menunjukkan,
bagaimana akal budi ilmu alam modern dengan unsur
platonis di dalamnya membawa-serta pertanyaan,
yang menjangkau melebihi dirinya dan mengatasi
kemungkinan2 metodisnya. Akal budi modern sendiri
harus menerima kehadiran struktur rasional materi,
sebagai saling bertemunya budi manusia dan struktur
rasional yang ada dalam alam: di situlah jalan metodisnya
harus berkembang.

Namun pertanyaan, mengapakah semuanya itu: itu tetap
ada dan harus diserahkan oleh ilmu alam kepada tingkat
lain dan cara lain manusia berpikir - kepada filsafat dan
teologi. Bagi filsafat dan dengan cara lain untuk teologi,
"mendengarkan pengalaman-pengalaman besar dan
faham-faham tradisi religius manusia, khususnya iman
kristiani, adalah suatu sumber pencerahan, yang menolak
segala penyempitan mendengar dan menjawab bisikan
alam".

Saya teringat satu kata dari Socrates dalam tulisannya
Phaidon. Dalam percakapan-percakapan yang lalu orang
sering menyinggung pandangan2 filosofis yang keliru,
dan kemudian Socrates berkata: Haruslah difahami,
kalau karena jengkel atas sekian banyak kesalahan
sepanjang hidupnya orang benci akan segala percakapan
tentang Ada dan mencercanya. Namun kalau demikian ia
hanya akan melecehkan kebenaran dan mengalami
kerugian yang besar. Dunia Barat telah membahayakan
akal budi dengan menghindari pertanyaan-pertanyaan
mendasar ini dan dapat dengan demikian hanya
mengalami kerugian besar. Berani memasuki keluasan
akal budi, tidak menolak keagungannya - itulah program,
yang harus dilaksanakan oleh teologi yang memiliki
komitmen pada iman alkitabiah dalam perjumpaan dengan
masa kini: "Bertindak tidak rasional (dengan Logos) itu
bertentangan dengan hakikat Allah", itulah inti ucapan Manuel II
mengenai citra Allah yang difahaminya sebagai orang
kristiani kepada rekan bicaranya sang bijak dari Persia.
Dalam Logos yang agung ini, dalam keluasan akal budi ini
kami mengundang para rekan bicara kami untuk berdialog.
Tugas universitas adalah senantiasa menemukan hal itu.

-BS Mardi-








Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -

Mayapada Prana Links:

<*> The Internet Sacred Texts Archive
http://www.sacred-texts.com/index.htm

<*> The Theosophical Society
http://www.theosociety.org/

<*> Yoga Leaf
http://www.yogaleaf.com/




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise