logo       
Bookmark and Share

Aku anak Pelacur!: msg#00042

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Aku anak Pelacur!

Pernahkan Anda dihina, dicibirkan ato dijadikan gunjingan, bahkan selalu
dipojokkan, karena profesi dari ortu? Hal ini pasti akan Anda rasakan,
apabila Anda dilahirkan dari rahim seorang pelacur, sundal, lonte, PSK,
perek, atau nama lain apa sajalah yang dapat mewakili sebutan seorang
penjaja tubuh dan cinta.

Aku memang anak seorang pelacur, walaupun aku sendiri tidak ingin menjadi
anak pelacur. Bila aku boleh memilih, pasti aku akan memilih mempunyai orang
tua yang baik-baik, lahir dari suatu perkawinan yang sah. Tapi, apakah aku
punya pilihan? Hidup memang sebuah pilihan, tetapi tidak untuk memilih dari
siapa dan dimana manusia dilahirkan. Ini sudah takdir dan keinginan yang
sudah ditentukan dari sononya oleh Sang Pencipta. Kita manusia hanya bisa
meng-Amin-kannya saja!

Orang sekampung memperlakukan kami sekeluarga seperti juga penderita
penyakit AIDS. Bukan hanya dicibirkan saja, tetapi dalam keadaan apapun juga
aku selalu disalahkan. Cemohan dan hinaan sebagai anak pelacur sudah
merupakan makanan aku sehari-hari. Dan ini sudah melekat di tubuhku sejak
kecil yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi seperti juga bayangan.

Apabila aku bertengkar dengan anak tetangga, pasti aku yg selalu disalahkan
dgn cemohan, "pantas saja anak ini nakal sebab ibunya juga seorang pelacur.
Betapa pedih dan sakitnya hatiku mendengar hinaan seperti itu, tapi aku
tidak bisa membela diri. Apakah seorang anak pelacur harus selalu salah?
Apakah aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus selalu dikaitkan
dengan pekerjaan ibuku? Hinaan ini bukannya hanya berlaku dirumah saja,
tetapi disekolahan atau dimanapun juga aku berada.

Apabila aku menceritakan kesedihanku kepada Ibu, Ibu hanya bisa membelai
kepalaku dengan lembut, sambil turun air matanya berlinang, karena ia bisa
turut merasakan betapa pedihnya penderitaanku. Walaupun aku tidak dididik
menjadi anak soleh, tetapi Ibu selalu berharap agar anaknya bisa menjadi
seorang wanita karir yg berpendidikan. Ia tidak ingin aku terjerumus,
sehingga mengikuti jejaknya. Nasehat Ibuku selalu terngiang dikupingku:
"Janganlah tiru jejak kehidupan Emak yang suram ini. Cukup hanya emak
sendiri saja yang terperosok dalam kegelapan, hidup dalam kehinaan, tak
punya harga diri."

Aku tidak pernah mengenal ayahku, sedangkan Ibu sendiripun tak mengerti
siapa bapak sahnya. Ibu menjadi pekerja seks, sebab dia tidak memiliki
apa-apa. Dia tidak mempunyai ijasah atau ketrampilan yang bisa digunakan
untuk mencari uang. Aku yakin menjadi seorang pekerja seks bukanlah pilihan
ibuku, tapi sebuah keterpaksaan.

Jika ada pilihan pekerjaan lain, aku yakin ibu pasti akan meninggalkan
pekerjaan itu, karena kehidupan serba kekurangan inilah yang memaksanya
menjalani profesi terkutuk. Dan aku tetap mengasihi Ibuku seperti juga
layaknya anak2 lain mengasihi ibunya, aku tidak pernah merasa jijik ataupun
muak terhadap Ibuku, apakah ini salah? Walaupun demikian aku selalu berdoa,
apapun yang akan terjadi didalam kehidupanku, aku tidak ingin anakku
mengalami nasib yg sama dengan mendapatkan Ibu seorang pelacur.

Tetapi rupanya takdir dan jalan kehidupan seseorang itu bukanlah pilihan
sendiri, suatu hari aku di perkosa oleh para pemuda sekampung, karena mereka
menilai apabila Ibunya seorang pelacur pasti anaknyapun sudah tidak perawan
lagi, padahal usiaku baru saja 15 tahun. Betapa sakitnya badanku terlebih
lagi hati dan perasaanku, sehingga aku mulai merasa jijik terhadap diriku
sendiri. Aku sudah menilai diriku kotor dan hina, walaupun ini bukannya
keinginanku melainkan karena hasil dari pemerkosaan para pemuda yg menilai
aku sama seperti Ibuku. Apakah dalam hal ini aku bisa menyalahkan Ibuku?

Hancurlah sudah harapanku maupun harapan Ibuku untuk menjadikan aku beda
daripada Ibuku. Karena satu-satunya mahkota kehidupanku telah direnggut dgn
paksa, mahkota yang menjadikan diriku lebih terhormat dibanding dengan Ibuku
di mata masyarakat. Sesuatu yang diharapkan dapat menghapus citra jelek anak
seorang pelacur telah hilang dalam waktu sekejap. Apakah Tuhan telah
mentakdirkan aku untuk mengikuti jejak Ibuku menjadi seorang pelacur? Apakah
Tuhan telah merencanakan bertambahnya seorang pelacur di muka bumi ini
dengan hancurnya kebanggaan hidupku? Dan apakah Tuhan masih mau mengangkatku
dari lembah kegelapan hidup yang selama ini mengikuti ke manapun langkahku
pergi?

Malapetaka yg menimpa diriku ini diketahui oleh orang sekampung. Apakah ada
rasa iba atau prihatian akan kejadian yg menimpa diriku? Boro-boro bahkan
aku semakin dipojokan oleh mereka, mereka menilai apa yg terjadi dgn diriku
itu hal yg sewajarnya sebagai hukuman karma atas dosa ibuku. Hal ini membuat
harga diriku semakin jatuh terpuruk, aku merasa malu, sehingga jangankan
pergi ke sekolah keluar rumah pun aku merasa malu.

Dua bulan kemudian sejak kejadian yg mengenaskan tsb Dr menyatakan bahwa aku
hamil. Kehamilan yang sama sekali tidak kuinginkan, kehamilan karena
peristiwa tragis itu. Diperkosa!

Anakku akan lahir sebagai anak haram, walaupun ia memang tidak berdosa, tapi
dia pasti akan menanggung segala beban yang tidak seharusnya ditanggung
olehnya kelak. Seperti halnya aku yang tak tahu siapa bapakku, hal seperti
itu pulalah yang akan dialaminya nanti, dikucilkan, dicela, dijauhi, seperti
halnya yang terjadi dgn diriku sendiri.

Tak ada seorang anakpun yang mau lahir sebagai anak haram. Aku juga tak mau
dia menderita, karena mungkin jika dia boleh memilih, dia pasti akan memilih
untuk tidak dilahirkan. Karena kelahirannnya tidaklah diinginkan terutama
oleh masyarakat yang serba munafik ini.

Apakah masih ada masa depan untuku, setelah lahirnya bayi tsb? Apakah aku
akan mampu mengasihi bayi yg tak berdosa tsb, seperti layaknya seorang Ibu
mengasihi anaknya?

Aku sudah tidak memiliki masa depan lagi, usiaku masih muda belia,
pendidikanpun tidak kumiliki, sehingga rupanya aku sudah ditakdirkan untuk
mengikuti jejak dari Ibuku! Tetapi dilain pihak aku tidak ingin bayi ini
nanti mengalami nasib yang sama seperti yang juga pernah kualami sampai saat
ini.

Mungkin jalan satu2nya yang terbaik ialah memilih agar bayi ini tidak
dilahirkan, seperti juga apa yang dianjurkan oleh emak! Apakah Tuhan itu
benar2 mengasihi umat-Nya? Apakah masih ada masa depan untukku maupun untuk
bayiku? Apakah mungkin takdir yang sedang kualami ini merupakan hukum karma,
karena prilaku dari emak? Apakah aku bisa menyalahkan emak ataupun
membencinya, karena aib yg menimpa diriku ini?

Sehingga tersirat dalam pikiranku mungkin ada baiknya untuk bunuh diri saja,
sehingga dengan demikian, anak yang tak berdosa inipun tidak perlu
dilahirkan dan akupun tidak perlu mengikuti jejak dari emak, mungkin inilah
keinginan Tuhan dariku untuk mati dalam usia 15 tahun.

Dari Rita (Bukan nama sebenarnya)

Mungkin ada pembaca yg bersedia memberikan saran maupun bantuan doa untuk
Rita yang merasa sedang berada di jalan kehidupan yang buntu.

Mang Ucup
Email: mang.ucup-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx
Homepage: www.mangucup.net




Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | Mail Home | sitemap | FAQ | advertise