logo       

Re: Psikologi Poligami: msg#00393

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Re: Psikologi Poligami

Boleh saya menanggapi pak ... !???

Psikologi Poligami

Poligami sesungguhnya merupakan fitrah hidup, artinya
dibenci dan
dimusuhi seperti apapun praktek poligami selalu ada.
Pada
masayarakat Barat yang melarang poligami secara hokum,
maka
prakteknya banyak suami punya wanita selingkuhan. Jika
ada kelompok
wanita yang memiliki seterotip kepada laki-laki dengan
mengatakan
dasar laki-laki nggak boleh lihat jidat licin, maka
perlu diketahui
bahwa semua isteri muda adalah perempuan juga. Artinya
pada sebagian
perempuan, poligami merupakan jalan keluar, apaboleh
buat menjadi
isteri kedua daripada tidak.Dalam hidup tidak semua
yang kita terima
itu yang kita inginkan. Inginnya menjadi isteri
satu-satunya, eh
malah jadi isteri ketiga.

--> bila anda mengatakan poligami adalah fitrah hidup,
maka anda harus
mencari makna arti fitrah itu ... ! menurut anda
apakah fitrah itu ?
mungkin kalau saya menanggapi fitrah itu artinya
kembali keasal yang
artinya anda mengatakan pada dasarnya adalah manusia
itu berpraktek
poligami.
disini dilihat bahwa anda tidak bijaksana dan tidak
adil,
disatu pihak boleh poligami dipihak lain tidak
mengupas masalah poliandri ?
jadi pertanyaan saya, bolehkah poliandri ? bila
poliandri tidak boleh
maka tidak boleh poligami. tentusaja bila kita
melarang poligami maka
saudara kita akan menuduh kita sesat karena Nabi
MUHAMMAD SAW penganut
poligami dan kita dianggap menghalangi niat orang itu
untuk mengikuti
jejak nabi.



Agama Islam menempatkan poligami sebagai pintu
darurat, bukan pintu
yang selalu terbuka, maknanya ada memang lelaki
tertentu yang
memiliki potensi lebih, yang tidak cukup dengan satu
isteri, atau
ada kasus, yang mengantar poligami menjadi solusi,
misalnya
isterinya mandul. Islam menyalurkan fitrah manusia
dengan aturan dan
etika. Etika bagi laki-laki yang apa boleh buat
menjalani poligami,
ia harus berlaku adil terhadap isteri-isterinya meski
adil itu
sangat berat. Ada orang yang berpoligami secara jujur
dan terbuka,
ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang berpoligami
sekedar menuruti
syahwat seksual tanpa tanggungjawab.

-> kata-kata ini bermakna bahwa anda menyetujui
poligami dengan
pembenaran-pembenaran anda sendiri. menurut anda
apakah pintu darurat
itu ? yang saya tahu pintu darurat yang anda katakan
menjadi
pintu utama para pelaku untuk menjalani poligami.
anda mengatakan bahwa hanya Allah saja yang adil ?
namun tahukah bila
manusia juga bisa bertindak adil. karena keadilan
bersifat subjektif
dan tidak objektif.


Berikut ini kasus rumah tangga yang menjurus pada
poligami, tetapi
akhirnya si lekaki mengurungkan niatnya karena sadar
akan
tanggungjawab. Waktu itu saya sebagai konselor
keluarga, dan dia
datang kepada saya sebagai klient. Kasus ini saya
rekam dan saya
muat di buku saya Konseling Agama Teori dan Kasus.
Silahkan dibaca:
Seorang pegawai perusahaan swasta bermaksud poligami.
Ia seorang
sarjana ekonomi yang baru akrab dengan agama setelah
bergaul dengan
rekan sekerja yang kebanyakan taat beragama dan
agak "fundamentalis". Lingkungan pergaulannya adalah
masyarakat
professional, tetapi mereka mempunyai corak
keberagamaan yang cukup
kental, dengan menonjolkan simbol-simbol tertentu,
seperti salat
awal waktu, memelihara jenggot dan juga poligami. Di
lingkungan grup
pengajiannya, poligami dipandang sebagai sunah Nabi
yang dianjurkan,
sehingga dia dengan semangat mengikuti sunnah Nabi
juga bermaksud
nikah lagi. Isterinya berasal dari lingkungan
masyarakat pesantren,
yang juga taat beragama, tetapi simbol-simbol
keberagamaannya
berbeda dengan lingkungan pengajian suaminya.
Isterinya lebih respek
kepada kyai di pesantrennya dibanding guru ngaji
suaminya yang
Insinyur.

Dalam hal rencana nikah lagi, terjadi peselisihan
hebat antara suami
isteri itu, dan menariknya masing-masing berdalil
dengan agama.
Suami menganggap rencana nikah lagi itu sebagai
perwujudan dari
mengikuti sunnah Rasul, sementara isteri memandangnya
sebagai akal
bulus, yakni menjadikan agama sebagai kedok untuk
mencari kepuasan
syahwat. Karena keduanya memang orang yang patuh
kepada agama, maka
pertentangan pendapat suami isteri itu disepakati
untuk mencari
pembenarannya. Suami memanggil guru ngajinya untuk
menasehati
isterinya agar patuh kepada suami, sementara isterinya
mengajak
suaminya silaturrahmi kepada gurunya di pesantren,
sekaligus untuk
meminta nasehatnya tentang rencana nikah lagi itu.
Sang isteri pergi
dengan semangat karena yakin pasti pak kyai, gurunya
di pesantren
itu pasti ada di pihaknya, dan sang suami juga
semangat, karena
yakin bahwa pak kyai itu lebih mengerti tentang
keharusan mengikuti
sunnah Rasul, apa lagi pak kyai juga berpoligami.


Anatomi masalah
Sebenarnya, sang isteri tidak bersedia dimadu, lebih
didorong oleh
perasaanya sebagai wanita. Ia tidak begitu antipati
terhadap
poligami, karena ia sendiri adalah puteri dari isteri
muda seorang
kyai, dan ia merasa OK-OK saja berhubungan dengan
saudara-saudara
tiri dan bahkan ibu tirinya. Akan tetapi dalam hal
rencana nikah
lagi suaminya, disamping secara naluriah ia tidak bisa
menerima, ia
juga tidak percaya terhadap otoritas guru ngaji
suaminya yang selalu
menekankan kewajiban seorang isteri harus patuh kepada
suami. Di
mata sang isteri guru suaminya itu bukan orang 'alim,
sebagaimana
juga suaminya, meskipun mereka itu sarjana dan
professional, tetapi
bukan dalam bidang agama.

Sementara itu, sang suami yang baru kenal agama
setelah berada di
lingkungan kerja baru itu merasa bahwa poligami itu
mengandung nilai
keutamaan agama. Ia bermaksud nikah lagi dengan
semangat ibadah, dan
sudah barang tentu ada juga motif kepada pengalaman
baru hubungan
seksual, tetapi ia sama sekali tidak mau terima jika
dituduh
isterinya bahwa rencana nikah lagi itu hanya akal
bulus saja untuk
mencari kepuasan seksual. Ia bahkan tidak pacaran
dengan calon
isteri keduanya itu, karena calon isterinya itu adalah
orang yang
dikenalkan oleh guru ngajinya. Oleh karena itu ia
tanpa ragu
sedikitpun untuk memenuhi permintaan isterinya
silaturrahmi kepada
pak kyai di pesantren.

Pasangan suami isteri itu kemudian mendatangi penulis,
dan meminta
penulis untuk mengantar mendampingi mereka ke desa di
mana kyai itu
memimpin pesantrennya. Solusi yang ditawarkan. Ketika
tiba menghadap
pak kyai, setelah basa-basi seperlunya, mereka
mengemukakan
masalahnya. Suami mengetengahkan maksudnya dan mohon
nasehatnya, dan
isteri mengemukakan keberatan dan mohon bantuan agar
menasehati
suaminya.

Pak kyai yang 'alim ini nampaknya sangat bijak dalam
menasehati
mereka berdua. Pak kyai bilang, poligami itukan ajaran
Islam, ada
dalam al Qur'an lagi. Ayahmu kan juga isterinya dua,
kata pak kyai
kepada tamu wanitanya, nah, seorang muslim jika memang
mampu, agama
sudah barang tentu membolehkan, asal jujur. Maka
nasehatku kepada
anda, coba kau tanyakan kepada hati nuranimu, istafti
qalbak. Nanti
jika nuranimu, bukan syahwatmu sudah menjawab, ya itu
artinya
nasehat agama. Mendengar nasehat pak kyai itu, sang
suami berseri-
seri wajahnya, sementara isterinya diam agak masam
muka.
Tetapi menjelang tamunya pamitan, pak kyai berkata:
Memang ada tiga
orang yang bisa berpoligami. Mendengar kata-kata pak
kyai itu, baik
sang suami maupun sang isteri nampak sangat antausias
ingin
mendengar lanjutannya.

---> benarkan kata saya, sebenarnya anda juga setuju
poligami,
ndak usah munafik dan memberi jawab yang
berbelit-belit
dengan bawa-bawa pintu darurat segala. kadang pintu
darurat dijadikan
alasan sebagai pintu gerbang.

nb: om, omong-omong bininya udeh berapa pak ??!



Pertama, penguasa, penguasa politik atau penguasa
harta, atau
penguasa apa saja, karena kekuasaannya, maka ia bisa
mengelola dan
mengatur isteri-isterinya.
Kedua, Orang berilmu, termasuk Ulama, karena ilmu yang
dalam maka ia
mampu mengatasi problem yang timbul dari kehidupan
berpoligami. Yang
ketiga, Orang mbelosondo atau orang ngawur, dan dengan
ngawurnya ia
bisa saja mempunyai isteri dua, tiga atau empat
sekalian.

Sekarang tanyakan kepada hati nuranimu, sampeyan
termasuk yang mana.
Nasehat pak kyai yang cespleng itu nampaknya
benar-benar mengena.
Sepanjang pulang ke rumah dan bahkan sampai
berhari-hari di rumah,
laki-laki itu merenung bekerja keras bertanya kepada
hati nuraninya,
apakah ia termasuk orang pertama, kedua atau ketiga.
Pada akhirnya
ia tidak berani meneruskan rencananya, karena secara
sadar nuraninya
mengatakan bahwa ia tidak termasuk nomor satu dan
bukan pula nomor
dua. Untuk menjadi nomor tiga, ahhh...... no way
katanya.

Wassalam,
agussyafii



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise