logo       

Fatwas on Vegetarianism: msg#00375

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Fatwas on Vegetarianism

Saya ingin menganjurkan pada yang menamakan DABLEX SCALI dan JOHNNY LONE agar dapat melanjutkan diskusi mengenai hal yang dipermasalahkan tsb secara pribadi saja dan dialamatkan ke japrinya masing masing karena saya mengkuatirkan perdebatan ini akan menimbulkan pro & kontra yang bisa menjurus ke SARA dan saya rasa hal tsb tentu tidak dikehendaki kita semua dan juga rasanya tidak sesuai dengan tujuan milis kita yang kita cintai ini.
 
Rahardjo
 
    
----- Original Message -----
Sent: Sunday, August 27, 2006 11:20 PM
Subject: Re: [Mayapada Prana] Fatwas on Vegetarianism

Dear,

Saya sudah melupakan perkataan anda tentang hal itu. Saya hanya tidak ingin anda terjebak dalam sesuatu yg bermanfaat.

Benar, saya tidak mengatakan anda mewakili Buddhist, tapi dasar pemikir dan tolak pikir anda adalah Buddhist khan ?

Saya hargai pendapat anda yg tidak ingin terkotak2x, dan semua juga sebenarnya seperti itu. Tapi pada dasarnya memang, agama itu berbeda2x. Bila menurut anda hanya kulitnya yg berbeda tapi hakekatnya sama, saya juga hargai. Anda bisa tidak jelaskan perbedaan kulit luarnya itu apa saja dan persamaan hakekatnya itu apa saja ? bila memang menurut anda sama, berani tidak anda menyeberang menjadi umat Islam, Kristen, Hindu, Yahudi dll ?

Menurut saya, agama itu berbeda, hanya dengan perbedaan itu tidak perlu dibentur2xkan satu sama lain. Di agam kami sudah jelas dan menghargai perbedaan "Agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku".

Anda mengatakan : "Tapi apa boleh buat sifat manusia itu memang suka mengkotak-kotakkan, sehingga mereka cenderung menutup mata pada apa yang diluar agama mereka, dan secara tidak sadar melihat bahwa kebenaran agama A berbeda dengan kebenaran agama B, padahal sebenarnya kebenaran itu sama dan universal dimanapun. Sebagai tambahan, saya percaya dunia ini bakal lebih baik bila pengkotak-kotakkan agama itu dihapuskan."

Tapi menurut saya, kenyataannya adalah anda yg mengkotak2xan. Bila anda tidak mengkotak2xan, maka anda tidak akan mengatakan vegetarian lebih baik dari non vegetarian. Tidak ada pernyataan yg kurang lebih artinya dunia akan lebih baik dengan vegetarian dll.

Pada dasarnya saya tidak mengkotak2xan vegetarian dan non vegetarian. Yang saya sorot dari awal adalah keseimbangan. Karena dunia ini berjalan berdasarkan keseimbangan. Memang keseimbangan itu sendiri relatif. Keseimbangan yg saya maksud adalah tidak hanya mengkonsumsi tumbuh2xan saja atau mengkonsumsi hewan2x saja. Seandainya suatu saat manusia mengkonsumsi dan ada yg menganjurkan mengkonsumsi hewan saja maka saya juga akan tidak setuju.

Agama anda cinta kasih ? Wah perlu didaftar ke Depag tuh...:)
Semua agama dasarnya mengajarkan cinta kasih, hanya penterjemahannya mungkin berbeda dan tidak bisa sama 100%.

Anda mengatakan : "Agama saudara Dablex tidak melarang mengkonsumsi hewan, namun tidak melarang bukan berarti menyetujui ataupun membenarkan. Setahu saya, agama Islam juga mengajurkan untuk menghindari pembunuhan dan menghindari makan daging."
Jawaban saya : Benar, agama saya tidak melarang, namun bila anda artikan tidak melarang bukan berarti menyetujui atau membenarkan adalah kurang tepat. Kesimpulan itu anda dapat dari mana ? Anda juga dapat dari mana "Agama Islam juga menganjurkan untuk menghindari pembunuhan dan menghindari makan daging" ? Di Islam ada hari raya Idhul Qorban, jadi kurang tepat bila tidak dianjurkan mengkonsumsi daging. Di Islam boleh mengkonsumsi daging, tapi banyak syaratnya. Jadi di Islam yg dianjurkan bukan makan daging atau tumbuhan tapi yg dianjurkan adalah makan makanan yg sehat, karena walaupun daging, tapi daging ikan juga banyak yg menyehatkan.

Anda mengatakan : "Lagipula kalimat-kalimat itu bukan saya yang katakan, itu dari hasil penelitian yang hanya saya terjemahkan ke bahasa Indonesia."
Saya jawab : saya berterima kasih atas masukan anda, saya bukan tidak percaya dengan anda. Saya hanya tidak mau menerima tulisan2x peneliti dari luar dan menelan bulat2xbegitu saja, karena kita juga seharusnya dan perlu membuktikan juga. Khan di Buddha sendiri diajarkan untuk tidak mudah percaya, walaupun dari pendeta anda sendiri (CMIIW)...:)

Pertanyaan anda : "Lalu saya heran bagaimana bisa saudara Dablex menyamakan rasa sakit antara upacara-2 keagamaan ditimur dengan rasa sakit pada ikan-ikan"

Saya jawab, sama seperti manusia apakah menurut anda hewan tidak bisa memanipulasi diri ? anda seharusnya melihat juga banyak binatang2x yg bisa memanipulasi diri seperti Bunglon, pari, ikan buntal dll. Khan banyak pakar mengatakan, manusia juga sebenarnya adalah jenis hewan yg hanya mempunyai kelebihan akal  (bukan otak saja. ). Kenapa anda katakan hanya manusia yg bisa memanipulasi rasa ? Apakah anda sudah membuktikan hewan tidak bisa memanipulasi diri bila dari contoh bunglon dll tersebut diatas ? Jadi saya justru balik bertanya, darimana anda bisa menilai rasa itu ?

Anda bertanya : "Saya sarankan saudara Dablex tidak menggunakan kata 'kami' yang mewakili orang-orang lain, karena belum tentu orang-orang kaum anda sependapat dengan anda."

Saya jawab : memang saya menjawab tidak mewakili agama saya, tapi saya menjawab berdasarkan pemahaman agama saya. Bila menurut anda ada orang Islam yg tidak sepaham dengan saya, silahkan anda beritahu dia atau saya dan saya akan coba berdiskusi. Karena pemahaman itu adalah pemahaman umum yg diterima secara seragam oleh umat Islam. Jadi sekali lagi,  walaupun saya tidak menjawab mewakili Islam tapi tolong beritahu saya bila ada orang Islam yg tidak setuju dengan pernyataan saya bahwa " semua yg ada didunia ini milik Tuhan".

Pertanyaan anda : "Apakah anda bisa menjamin seluruh daging yang sampai ke meja makan anda adalah berasal dari penyembelihan dengan menyebutkan nama Allah? Bagaimana dengan daging import? Bagaimana dengan daging yang dari peternakan-peternakan milik kaum non-muslim?"

Saya jawab : Saya bisa jamin, karena sebelum diimport juga pasti ada perwakilan yg mengawawsi pemotongan. Seandainya ketahuan ada daging import yg tidak halal (karena kecurangan pihak importir), saya jamin  maka tidak akan dimakan atau dibeli oleh orang Islam yg taat. Seandainya masih kelolosan juga, kami ketika akan makan juga tetap mengucapkan doa, dan karena ketidak tahuan (benar2x tidak tahu dan bukan pura2x tidak tahu) maka masih dibolehkan.
Maaf juga bila anda artikan pernyataan saya bahwa anda mewakili Buddha, tapi pernyataan anda didasarkan ajaran agama Buddha khan ?

Apa maksud pertanyaan anda : "Bagaimana dengan daging yang dari peternakan-peternakan milik kaum non-muslim" ? , semoga bukan  pertanyaan yg mengkotak2xan. Saya jawab, boleh saja daging dari peternakan non muslim asal hewannya, cara pemeliharaan hingga pemotongan memenuhi syarat2x Islam.

Pertanyaan anda : "
Saudara minta ijin dahulu dari Tuhan untuk mencabut nyawa si hewan, tapi apakah Tuhan ada memberikan jawaban 'iya, silahkan' kepada saudara? kalau belum dijawab 'iya', maka mana bisa dikatakan itu minta ijin. Sama saja seperti saya mengambil milik orang lain namun saya tinggalkan pesan, 'barang ini saya ambil'. Si pemilik belum menjawab, namun sudah kita colong."

Saya jawab : Sebelumnya saya hanya mau menyatakan bahwa pertanyaan anda terlalu harfiah sekali. Tapi bila harus menjelaskan secara harfiah akan saya coba. Ibaratnya begini, bila anda sering lihat di luar negeri atau di arab, maka anda akan melihat ada beberapa penjual yg tidak menunggu tokonya (mereka hanya meninggalkan tulisan 'bila ingin membeli barang, tinggalkan uang senilai barang'. Jadi bila anda membeli misalkan bensin atau baju, maka anda tinggal ambil bensin / baju itu asal meninggalkan uang jadi tidak perlu ada jawaban dari penjual asal kita memenuhi syarat penjual sudah cukup. Bila diumpamakan contoh diatas, maka doa itu sebagai pembayarannya (mohon jgn diartikan harfiah lagi) jadi bila kita berdoa maka transaksi sah, sedangkan pernjanjian itu sudah tertulis di kitab suci. Di kitab suci di bolehkan makan daging yg tidak haram asal memenuhi syarat (seperti doa dll), bila sudah memenuhi maka sah. Jadi Tuhan juga sudah meninggalkan sistem. Mungkin nanti juga anda pertanyaan, bagaimana bila tidak doa ? Saya jawab silahkan, itu artinya sama seperti pencuri. Bedanya kalau didunia anda bisa mungkin menghindar dari polisi atau hukum, bila dengan Tuhan pasti lain.

Pertanyaan anda : "Sebelumnya saudara sempat mengatakan bahwa segala sesuatunya itu adalah milik Tuhan, dengan demikian, kenapa tidak minta ijin saja kepada Tuhan untuk mencuri ayam tetangga? Toh kan pemilik dari ayam tetangga itu Tuhan. Lagipula bagaimana cara anda untuk mendengarkan jawaban Tuhan?"

Jawab saya : sekali lagi anda menanyakan sesuatu secara harfiah.  Benar, pemilik ayam tetangga juga milik Tuhan, tapi mohon pertama-tama anda jangan campur adukan  pengertian dan istilah dunia dengan non dunia. Kedua, bila anda mengerti prosedur atau aturan maka anda tidak aka bertanya seperti itu. Contohnya bila anda anda kerja disebuah perusahaan anda sebagai manajer produksi, dan anda memerlukan barang, apa anda minta ke Komisaris / Presdir ? Tentu tidak, anda cukup ajukan Purchasing Request ke Departemen Purchasing khan ? Nanti tembusannya baru ke Presiden Direktur.  Secara logika, apa barang yg dibeli Departemen Purchasing bukan milik Presdir ? Secara tidak langsung, Tuhan juga mengajarkan manajemen dan pendelegasian.

Terima kasih untuk data asupan anak. Tapi saya masih belum melihat data omega-3: LNA (asam alfa-linolenat), EPA (eikosapentaenoat), serta DHA (dokosaheksaenoat). HDL dll.

Anda mengatakan : "Saya sendiri merasakan perubahan-perubahan demikian ketika beralih menjadi seorang vegetarian. Terutama otak saya, saya merasa lebih cepat menangkap informasi dan mengolah fakta, dan merasakan menjadi lebih cerdas, hehe. Percaya atau tidak, itu terserah saudara-saudari sekalian."

Saya jawab : "Saya percaya dengan pernyataan anda, mungkin anda "merasakan" lebih cerdas.  Saya hanya berpikir, apakah orang tua anda seorang vegetarian ? Apakah anda tidak merasakan kecerdasan anda ini salah satunya akibat karena perkembangan otak di masa janin yg orang tuanya mendapat cukup asupan omega-3: LNA (asam alfa-linolenat), EPA (eikosapentaenoat), serta DHA (dokosaheksaenoat) yg berasal dari hewan ?

Kasus lain adalah, orang mengatakan daging kambing menyebabkan darah tinggi, padahal duren pun  menyebabkan darah tinggi.  Jadi antara tumbuhan dan hewan ada yg punya persamaan dan ada yg berbeda sehingga bisa saling mengisi.

Betapun juga Allah telah memberi petunjuk seperti yang tercantum di Alquran. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumput, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakanmu. ('Abasa: 24-32)

Sama seperti yg anda katakan
sejauh apa yang telah saya baca, saya teliti, saya pelajari, semuanya semakin meyakinkan saya bahwa  jalan menuju kehidupan yang lebih baik bagi kita tidak ditentukan hanya oleh vegetarian atau non vegetarian saja, tapi lebih ditentukan kemampuan akal untuk menjaga keseimbangan dan kebutuhan tubuh.

Semoga tidak ada pengkotak-kotakan antara vegetarian dan non vegetarian lagi.


Peace



Johnny Lone <tomatofly1-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> wrote:
Salam kasih,
 
Mengenai apa yang saya katakan tempo dulu itu, saya akui itu memang kekhilafan saya, oleh karena itu saya minta maaf kepada saudara-saudari sekalian, namun dari awalnya saya tidak bermaksud demikian. Hal itu hanya kekhilafan semata, saya sendiri berpandangan tidak ada yang namanya hati iblis, hehe, jadi harap pengertian saudara-saudara yang tersinggung.
 
Saudara perlu mengetahui bahwa saya menyampaikan hal-hal yang telah sampaikan sebelumnya bukan saya sebagai perwakilan dari ajaran agama manapun, tidakpun Buddhist. Sebelumnya mungkin saudara perlu ketahui bahwa saya tidak dikekang agama apapun, walaupun banyak dari pemikiran saya yang sejalan dengan ajaran Buddhist. Ajaran dari agama ataupun faham mana saja saya terima dan saya pelajari dan saya tidak setuju bila ada orang yang mengatakan bahwa ajaran tiap agama itu berbeda. Memang berbeda, itu bila dilihat dari kulit luarnya, namun orang bijak pasti mengerti bahwa ajarannya hakekatnya sama. Tapi apa boleh buat sifat manusia itu memang suka mengkotak-kotakkan, sehingga mereka cenderung menutup mata pada apa yang diluar agama mereka, dan secara tidak sadar melihat bahwa kebenaran agama A berbeda dengan kebenaran agama B, padahal sebenarnya kebenaran itu sama dan universal dimanapun. Sebagai tambahan, saya percaya dunia ini bakal lebih baik bila pengkotak-kotakkan agama itu dihapuskan.
Jika anda bertanya, jadi agama atau ajaran apa yang mendasari pemikiran-pemikiran saya? Maka saya akan menjawab: Ajaran cinta kasih.
 
Manusia zaman sekarang seringkali terlalu terkekang pada yang namanya 'agama'. Saya memandang hal demikian termasuk pada belenggu jiwa, ataupun keterikatan, dan itu tentunya tidak baik.
Agama saudara Dablex tidak melarang mengkonsumsi hewan, namun tidak melarang bukan berarti menyetujui ataupun membenarkan. Setahu saya, agama Islam juga mengajurkan untuk menghindari pembunuhan dan menghindari makan daging.
Dalam Buddhist sendiri, tidak ada yang namanya larangan ataupun perintah, karena Sang Buddha tidak pernah melarang ataupun mewajibkan, hanya saja umat manusia yang mengartikannya larangan ataupun perintah. Jadi dalam Buddhisme, tidak ada keharusan menjadi vegetarian, namun bervegetarian itu dianjurkan, sebagaimana agama-agama lainnya yang juga menganjurkan.
 
Mengenai penelitian tentang rasa sakit, saya tidak ingin mempeributkan lebih jauh. Kalaupun saya jawab balik, saudara Dablex barangkali tetap tidak akan menerima apa yang saya sampaikan. Lagipula kalimat-kalimat itu bukan saya yang katakan, itu dari hasil penelitian yang hanya saya terjemahkan ke bahasa Indonesia.
Jika anda memang tidak setuju dengan para ilmuwan dan para sarjana diluar sana, dan tidak setuju dengan data hasil penelitian ilmiah ini, silahkan saudara menghubungi mereka dan berdiskusi lebih lanjut dengan para pakarnya.
 
Lalu saya heran bagaimana bisa saudara Dablex menyamakan rasa sakit antara upacara-2 keagamaan ditimur dengan rasa sakit pada ikan-ikan...Jelas-jelas berbeda, pada upacara-upacara keagamaan ditimur, para praktisinya memanipulasi ataupun menguasai medan pikirannya sehingga rasa sakit itu bisa dipersepsikan sebagai tidak sakit ataupun teknik-teknik lainnya. Namun pada ikan atraksi demikian tidaklah mungkin, dan bagi mereka sakit itu adalah sakit, dan sakit itu adalah menderita.
 
Dan satu lagi perbedaan mendasar antara ajaran anda dengan pemahaman kami adalah semua yg ada didunia ini milik Tuhan, sedangkan pemahaman ini tidak ada diajaran anda.
Saya sarankan saudara Dablex tidak menggunakan kata 'kami' yang mewakili orang-orang lain, karena belum tentu orang-orang kaum anda sependapat dengan anda.
"Pemahaman ini tidak ada pada ajaran anda", ajaran manakah yang anda maksud(barangkali Buddhisme), karena saya tidak mewakili agama apapun.
 
Dari apa yang saya dengar mengenai Islam, lebih kurang mengatakan, daging itu halal bila didapat dari hasil penyembelihan dengan menyebutkan nama Allah. Apakah anda bisa menjamin seluruh daging yang sampai ke meja makan anda adalah berasal dari penyembelihan dengan menyebutkan nama Allah? Bagaimana dengan daging import? Bagaimana dengan daging yang dari peternakan-peternakan milik kaum non-muslim?
 
Saudara minta ijin dahulu dari Tuhan untuk mencabut nyawa si hewan, tapi apakah Tuhan ada memberikan jawaban 'iya, silahkan' kepada saudara? kalau belum dijawab 'iya', maka mana bisa dikatakan itu minta ijin. Sama saja seperti saya mengambil milik orang lain namun saya tinggalkan pesan, 'barang ini saya ambil'. Si pemilik belum menjawab, namun sudah kita colong.
 
Jadi mencabut nyawa mahluk lain tidak dikatakan 'mencuri' asal berdoa terlebih dahulu kecuali yg dicabut nyawanya adalah ayam tetangga tanpa seijin tetangga itu maka dikatakan mencuri walaupun kita sudah berdoa.
Sebelumnya saudara sempat mengatakan bahwa segala sesuatunya itu adalah milik Tuhan, dengan demikian, kenapa tidak minta ijin saja kepada Tuhan untuk mencuri ayam tetangga? Toh kan pemilik dari ayam tetangga itu Tuhan. Lagipula bagaimana cara anda untuk mendengarkan jawaban Tuhan?
Saya sendiri sih lebih setuju bila kita mengatakan bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan.
 
Berikut data yang saudara Dablex inginkan, dibawah adalah perbandingan asupan nutrisi antara anak2 yang diet vegan murni dengan asupan nutrisi anak-anak pemakan daging:
Untuk data yang lebih lanjut silahkan baca di:
Growth and development of vegan children
TAB Sanders & J Manning, J Hum Nutr Diet 1992;5: 11-21
 Nutrient
 Vegan
 children
 6-13 years of age
 (n=18)
 Standard
 deviation
 Omnivorous
 children
  7-12 years of age
 (n=194)
 Energy (% of RDA) 83 ± 15.7 82
 Protein (g/1000kcals) 31.0 ± 5.12 30.8
 Fat (g/1000kcals) 35.0 ± 6.4 41.1
 Carbohydrate(g/1000kcals) 148 ± 36.9 135
 Fibre (g/1000kcals) 21.8 ± 4.42 9.2
 Calcium (mg/1000kcals) 270 ± 48.3 400
 Iron (mg/1000kcals`) 12.6 ± 7.1 5.7
 Zinc (mg/1000kcals) 4.3 ± 0.85 3.9
 Copper (mg/1000kcals) 0.96 ± 0.14 0.96
 Vitamin A (re/1000kcals) 546 ± 202 370
 Thiamin (mg/1000kcals) 0.98 ± 0.22 0.64
 Riboflavin (mg/1000kcals) 1.00 ± 0.49 0.82
 Niacin (ne/1000kcals) 14.0 ± 3.02 14.1
 Vitamin B6 (mg/1000ckals) 0.79 ± 0.19 0.66
 Vit B12(mcg/1000kcals) 1.3 ± 1.18 1.64
 Folate (mcg/1000kcals) 146 ±29.6 77
 Biotin (mcg/1000kcals) 10.9 ±2.95 7.9
 Vitamin C (mg/1000kcals) 54 ±24.2 38.2
 Vitamin D (mcg/1000kcals) 1.1 ± 0.60 0.9
 Vitamin E (mg/1000kcals) 4.4 ± 0.81 2.5
 
As you will see, with the exception of vitamin B12 and calcium, the intake of essential nutrient s was similar or greater in the vegan children than those reared on mixed diets. Protein intake for the vegan and omnivorous children was the same.
 
Terjemahan:
Seperti yang anda lihat, dengan pengecualian akan vitamin B12 dan kalsium, asupan nutrisi esensial pada anak-anak vegan sama banyak ataupun lebih tinggi daripada anak-anak omnivora. Asupan protein pada anak-anak vegan dan omnivora sama banyaknya
 
Masih banyak penelitian-penelitian lain yang dapat saudara cari di internet mengenai perbandingan anak-anak vegan murni dengan anak-anak omnivora. Sayangnya belum ada tes stamina ataupun daya tahan pada anak-anak dibawah umur tersebut, yang tersedia umumnya tes asupan nutrisi.
Namun demikian, tidak sedikit testimony-testimony dari masyarakat bahwa anak-anak vegetarian lebih cerdas, lebih kuat dan lebih sehat.
Saya sendiri merasakan perubahan-perubahan demikian ketika beralih menjadi seorang vegetarian. Terutama otak saya, saya merasa lebih cepat menangkap informasi dan mengolah fakta, dan merasakan menjadi lebih cerdas, hehe. Percaya atau tidak, itu terserah saudara-saudari sekalian.
 
Terima kasih saudara Dablex atas tambahan informasinya antara diet rendah lemak dengan diet biasa. Namun tidak heran bagi saya bahwa diet rendah lemak atau tidak tidak membawa perubahan signifikan pada resiko terkena kanker, karena hanya mengurangi asupan lemak tidaklah banyak membantu. Saya pun tahu  bahwa masih banyak faktor-faktor nutrisi lain yang perlu diubah untuk mendatangkan perubahan bagi resiko terkena kanker, demikian pula faktor-faktor luar.
Namun hal ini tidak banyak kaitannya dengan vegetarianisme, anda salah jika beranggapan bahwa hanya faktor tinggi-rendah lemak saja yang membedakan diet vegetarian dengan diet omnivora. Masih banyak, terlampau banyak perbedaan diet vegetarian dengan diet omnivora dari segi nutrisi.
 
Akhir kata, sulit sekali bagi saya jika saya diminta memberikan alasan untuk tidak bervegetarian. Dari sejauh apa yang telah saya baca, saya teliti, saya pelajari, semuanya semakin meyakinkan saya bahwa bervegetarianisme itu adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri dan semua makhluk di seluruh aspek kehidupan, dari segi fisik, emosional, etik, spiritual, dan lain-lain.
Sekian. Terima kasih ^_^
 
Salam kasih
Lone the Sleeping Dragon
 
 
 
__._,_.___

Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -






Yahoo! Groups Links

__,_._,___
<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise