dan parasit-parasit ini saling meng-kafirkan satu sama lain, tidak sadar bahwa di mata Sang Sumber, evolusinya masih sebatas virus yang belum mencapai kemuliaan tertinggi.
Salam.
The Newsletter Frenzy <newsletter.frenzy-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> forward:
Date: Sun, 27 Aug 2006 16:54:11 +0700
From: "The Newsletter Frenzy" <newsletter.frenzy-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>
To: red_conjurer-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx
Subject: Fwd: [4W4RENESS] Bertrand Russell: Mimpi Buruk Sang Teolog
---------- Forwarded message --------
--
From: ANS <PHOEN1X-ktR7oAotx3zQT0dZR+AlfA@xxxxxxxxxxxxxxxx>
Date: 2006 Agu 23 21:46
Subject: [4W4RENESS] Bertrand Russell: Mimpi Buruk Sang Teolog
To: 4W4RENESS-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
MIMPI BURUK SANG TEOLOG
oleh: Bertrand Russell
dari: Fact and Fiction, 1961
Sang teolog kenamaan, Dr. Thaddeus, bermimpi bahwa ia meninggal dunia dan berjalan menuju surga. Penelitiannya telah mempersiapkannya dan ia tidakmenemui kesulitan menemukan jalannya. Ia mengetuk pintu surga, dan
menghadapi pemeriksaan yang jauh lebih teliti daripada yang diharapkannya.
"Saya minta masuk," katanya, "karena saya manusia baik dan membaktikan
hidup saya demi kemuliaan Tuhan." "Manusia?" tanya penjaga pintu surga,
"Apa itu? Dan bagaimana sebuah makhluk lucu seperti Anda berbuat sesuatu untuk meningkatkan kemuliaan Tuha
n?" Dr. Thaddeus tercengang. "Anda tentu bukan tidak tahu tentang manusia. Anda tentu
tahu bahwa manusia adalah karya Sang Pencipta yang paling luhur." "Mengenai itu," kata penjaga pintu surga, "saya mohon maaf kalau menyinggung perasaan Anda, tetapi apa yang Anda katakan adalah hal baru buat saya. Namun, karena Anda tampak tidak senang dan gelisah, Anda boleh berkonsultasi dengan ahli perpustakaan kami."
Sang ahli perpustakaan, suatu makhluk bundar dengan seribu mata dan satu
mulut, menyorotkan beberapa matanya kepada Dr Thaddeus. "Apa ini?" tanyanya kepada penjaga pintu surga. Jawab penjaga pintu surga, "Ini berkata bahwa ia anggota suatu spesies yang disebut 'manusia', yang hidup di sebuah planet bernama 'Bumi'. Ia mempunyai pengertian aneh bahwa Sang Pencipta berminat khusus terhadap tempat itu dan terhadap spesies itu. Saya rasa Anda dapat menjelaskan kepadanya." "Yah," kata sang ahli perpustakaan dengan ramah kepada sang teolog, "mungkin Anda dapat
menjelaskan kepada saya di mana tempat yang Anda sebut 'Bumi' itu." "Oh," kata sang
teolog, "itu bagian dari Tata Surya kami."
"Dan apa itu Tata Surya?" tanya sang ahli perpustakaan.
"Oh," kata sang teolog dengan agak bingung, "bidang saya adalah Pengetahuan Suci, tetapi pertanyaan yang Anda ajukan termasuk bidang pengetahuan profan. Namun, saya cukup banyak belajar dari rekan-rekan saya di bidang astronomi dan dapat mengatakan bahwa Tata Surya adalah bagian dari Bima Sakti."
"Dan apakah Bima Sakti itu?" tanya sang ahli perpustakaan.
"Oh, Bima Sakti adalah salah satu dari Galaksi-Galaksi, yang saya dengar jumlahnya beberapa ratus juta buah."
"Baiklah, baiklah," kata sang ahli perpustakaan, "Anda tidak bisa mengharapkan saya mengingat salah satu dari begitu banyak. Tetapi saya ingat, dulu pernah mendengar kata 'galaksi' itu. Bahkan, salah seorang asisten ahli perpustakaan kami mengkh
ususkan diri di bidang galaksi. Marilah kita panggil dia dan lihat apakah dia bisa
membantu."
Tidak berapa lama kemudian, asisten ahli perpustakaan galaktik itu muncul.
Wujudnya makhluk berbidang dua belas. Jelas bahwa permukaan tubuhnya pernah cemerlang, tetapi debu rak-rak perpustakaan telah membuatnya gelap dan buram. Sang ahli perpustakaan menjelaskan kepadanya bahwa Dr. Thaddeus, dalam mencoba menjelaskan tempat asalnya, menyebut-nyebut 'galaksi', dan ia mengharapkan bisa memperoleh informasi dari bagian galaktik di perpustakaan
itu. "Yah," kata sang asisten ahli perpustakaan, "saya rasa lama kelamaan
bisa, tetapi karena ada ratusan juta galaksi, dan masing-masing mempunyai
bukunya sendiri, perlu beberapa waktu untuk menemukan buku yang sesuai.
Manakah yang diinginkan oleh molekul aneh ini?" "Galaksi yang disebut
'Bima Sakti'," jawab Dr. Thaddeus terbata-bata. "Baiklah," kata asisten
ahli perpustakaan, "Saya akan mencarinya kal
au dapat."
Sekitar tiga minggu kemudian ia kembali, dan menjelaskan bahwa sistem
kartu indeks yang amat efisien dari seksi galaktik perpustakaan itu
memungkinkannya menemukan galaksi itu sebagai nomor QX 321.762. "Kami telah mengerahkan," katanya, "seluruh kelima ribu staf seksi galaktik untuk pencarian ini. Mungkin Anda ingin bertemu dengan staf yang khusus
berkepentingan dengan galaksi yang dipermasalahkan ini?" Staf itu
dipanggil, dan ternyata merupakan makhluk berbidang delapan dengan satu
mata di setiap bidang dan satu mulut di salah satu bidang. Ia terkejut dan
nanar mendapati dirinya di ruangan yang berkilauan itu, jauh dari
keremangan rak-rak bukunya.
Sambil menenangkan diri, ia bertanya dengan agak kemalu-maluan, "Apakah yang ingin Anda ketahui tentang galaksi saya?" Dr. Thaddeus menjawab: "Yang saya inginkan ialah mengetahui tentang Tata Surya, suatu kumpulan benda langit yang beredar mengelilingi s
uatubintang di galaksi Anda. Bintang yang dikelilingi oleh benda-benda langit itu
disebut 'Matahari'." "Hmmm," kata staf ahli Bima Sakti itu, "sungguh sulit menemukan galaksi yang dimaksud, tetapi menemukan bintang yang dimaksud di dalam galaksi itu jauh lebih sulit lagi. Saya tahu ada sekitar tiga ratus milyar bintang di galaksi ini, tetapi saya sendiri tidak mempunyai pengetahuan untuk membedakan satu bintang dari bintang yang lain. Namun, saya rasa, suatu daftar dari seluruh tiga ratus milyar bintang itu pernah diminta oleh pihak Administrasi, dan mungkin daftar itu masih tersimpan di ruang basement. Jika Anda menganggap itu bermanfaat, saya akan mengerahkan tenaga dari Tempat Lain untuk mencari bintang ini."
Maka diputuskan, karena masalah itu telah muncul dan Dr Thaddeus jelas
tampak gelisah, mungkin itu jalan terbaik yang perlu diambil.
Beberapa tahun kemudian, suatu makhluk berbidang empat yang tampak amat lelah dan tidak be
rsemangat datang ke hadapan asisten ahli perpustakaan bagian galaktik. Katanya,
"akhirnya saya berhasil menemukan bintang yang dicari itu, tetapi saya sama sekali tidak mengerti mengapa bintang itu
membangkitkan minat begitu besar. Ia mirip dengan sejumlah besar bintang
lain di galaksi yang sama. Berukuran sedang dan bersuhu sedang, ia
dikelilingi beberapa benda langit yang jauh lebih kecil, disebut 'planet'.
Setelah diteliti dengan saksama, saya mendapati bahwa setidak-tidaknya
beberapa planet ini mempunyai parasit, dan saya rasa makhluk yang melakukan penyelidikan ini tentulah salah satu dari parasit itu."
Di situ, Dr. Thaddeus meletup dalam ratapan yang kuat dan penuh amarah:
"Mengapa, oh mengapa, Sang Pencipta menyembunyikan dari kami, penghuni Bumi yang malang ini, bahwa bukan kamilah yang mendorong-Nya untuk menciptakan Surga? Sepanjang hidup saya yang lama, saya telah melayaninya dengan rajin, dan merasa yakin bahwa Ia akan meliha
t layanan saya dan mengganjar saya dengan Kebahagiaan Abadi. Dan sekarang, tampak bahwa
Dia bahkan tidak tahu saya ada. Anda berkata bahwa saya merupakan jasad renik yang amat kecil pada suatu benda kecil yang beredar mengelilingi salah satu anggota dari kumpulan tiga ratus milyar bintang, yang hanya merupakan salah satu dari jutaan kumpulan-kumpulan bintang seperti itu. Saya tidak bisa menerima itu, dan tidak bisa lagi memuja Pencipta saya." "Baiklah," kata penjaga pintu surga, "kalau begitu Anda boleh pergi ke Tempat Lain."
Lalu terbangunlah sang teolog itu. "Kuasa Setan terhadap imajinasi kita di
waktu tidur sungguh mengerikan," gumamnya.
terjemahan: Hudoyo
- Fire up a more powerful email and get things done faster.