logo       

Fwd: Religiusitas dan Ketahanan Bangsa: msg#00353

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Fwd: Religiusitas dan Ketahanan Bangsa

--- In kmnu2000-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, "Mukhlisin" wrote:

Religiusitas dan Ketahanan Bangsa
Author: SALAHUDDIN WAHID(*)
Source: http://www.kompas.co.id/
================================

Seorang kopral marinir Amerika Serikat bertugas membantu korban
gempa di Bantul, DI Yogya- karta. Dia menyaksikan rakyat mengalami
penderitaan dahsyat, kehilangan harta dan kerabat. Tetapi ternyata,
banyak di antara mereka menunjukkan ketahanan diri yang amat luar
biasa.

Rakyat kecil yang tengah menderita itu amat tabah dan tetap
optimistis. Mereka masih mampu tersenyum, menunjukkan keramahan,
saling membantu di antara sesama korban. Dibandingkannya sikap
mereka dengan sikap penduduk negara bagian Lousiana, kampung
halamannya, yang mengalami topan Kristina, yang menurutnya tidak
ramah dan "cengeng".

Sikap positif itu amat memesona sehingga sang marinir membuat
tulisan di Kompas (4/8/ 2006) untuk mengungkapkan kekagumannya. Apa
yang membuat rakyat kecil yang penuh penderitaan itu bisa begitu
tabah menghadapi cobaan?

Menurut saya, ketahanan diri rakyat kecil yang menderita akibat
bencana alam itu adalah refleksi dari religiusitas mereka, khususnya
dalam penyerahan diri secara total dan prasangka baik kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Bagaimana rakyat bisa punya kemampuan itu?

Penyerahan diri

Tanggal 6 Agustus malam lalu saya hadir pada Mujahadah Kubro Penyiar
Sholawat Wahidiah di Jombang, yang dihadiri sekitar 30.000 orang,
dari seluruh Indonesia, dan berlangsung sampai pagi. Di situ hadirin
berselawat kepada Rasulullah SAW dan berdoa untuk keselamatan diri
dan bangsa serta negara.

Mereka betul-betul menghayati kalimat laa khaula walaa quwwata illa
billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah) dan laa
yukallifullaaha nafsan illa wushaha (Allah tidak akan membebani
seseorang di luar batas kemampuannya). Untuk sampai pada tingkat
penyerahan diri seperti itu, selain selawat, sebagian umat Islam
mengikuti kegiatan tarekat mu'tabaroh.

Selain itu, ada juga sema'an Al Quran -kegiatan membaca Al Quran
sampai tamat- dilakukan oleh para huffadz (penghafal Al Quran), yang
dimulai ba'dha shubuh dan berakhir pada sekitar isya'. Penutupannya
dihadiri oleh ribuan orang, adakalanya puluhan ribu orang. Sebagian
besar peserta sema'an, selawatan, dan tarekat itu adalah rakyat
kecil. Jadi bisa dipahami, rakyat kecil punya ketahanan diri yang
kuat.

Bagaimana dengan kelas menengah? Cukup banyak kelas menengah yang
aktif dalam kegiatan rohani di atas, tetapi jauh lebih sedikit jika
dibandingkan dengan rakyat di lapisan akar rumput. Apakah itu
berarti religiusitas kelas menengah kita kurang dibandingkan dengan
rakyat kecil? Perlu pengkajian mendalam untuk bisa menjawabnya.
Sekilas terkesan, religiusitas masyarakat kelas menengah kota tidak
setinggi rakyat kecil di pedesaan. Kehidupan masyarakat kota
cenderung serba-materi. Mungkin reaksi kebanyakan kelas menengah
kita tidak banyak berbeda dengan warga Lousiana yang diceritakan
kopral marinir AS itu.

Beberapa tahun terakhir kita melihat fenomena majelis zikir yang
dihadiri kelas menengah perkotaan yang ditayangkan stasiun TV. Dalam
majelis yang antara lain dipimpin oleh Ustadz Arifin Ilham itu, kita
bisa menyaksikan banyak yang berzikir dengan khusyuk sampai
menangis. Setelah berzikir khusyuk seperti itu rasanya beban kita
menjadi jauh berkurang, seperti diambil alih oleh Allah.

Penyerahan diri secara total dan keikhlasan terhadap ketentuan Tuhan
itu pasti bukan monopoli agama Islam saja. Penganut agama-agama lain
dan aliran kepercayaan tentu mempunyai praktik olah batin serupa.

Paradoks

Di dalam masyarakat (terutama) perkotaan, terdapat paradoks antara
perilaku sehari-hari dan ritual keagamaan. Bagaimana pertentangan
itu bisa terjadi?

Seharusnya shalat mencegah kita dari berlaku keji dan mungkar.
Ternyata shalat pelaku korupsi itu tidak memenuhi syarat untuk bisa
mencegah dirinya berbuat korupsi. Shalatnya hanya ragawi, tetapi
tidak mengandung aspek rohani. Artinya itu bukan shalat, tetapi
olahraga dengan gerakan seperti orang bershalat. Mungkin hal serupa
juga berlaku untuk agama di luar Islam.

Korupsi bukan hanya mengambil uang negara untuk diri sendiri, tetapi
juga semua bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Mencari dana untuk
partai dengan merugikan negara adalah salah satu bentuk korupsi.
Memberikan izin kepada pengusaha untuk melakukan kegiatan yang
merugikan negara/rakyat dengan menerima imbalan, kalau kita mau
jujur, juga korupsi (penyalahgunaan kekuasaan).

Banyak pejabat dan pemimpin partai menyalahgunakan kekuasaan seperti
itu, yang menunjukkan bahwa banyak tokoh tidak punya ketahanan diri
sekuat masyarakat kecil di pedesaan. Padahal, ketahanan bangsa
adalah integrasi dari ketahanan diri. Ketahanan bangsa di kalangan
rakyat kecil tinggi, sedangkan ketahanan bangsa di kalangan
elite/pejabat dan kelas menengah tidak. Padahal, yang dibutuhkan
adalah ketahanan seluruh elemen bangsa.

(*)Salahuddin Wahid Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang








Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise