|
Kitab Angin Hening (Complete & Rev. Ed.): msg#00325culture.religion.healer.mayapada
KITAB ANGIN HENING (COMPLETE & REVISED EDITION) Daftar Isi: ___________ I. Kata Pengantar oleh Juswan Setyawan II. KITAB ANGIN HENING oleh Leonardo Rimba II.1. In the Beginning was the Word II.2. And the Word was with God II.3. And the Word was God II.4. Penutup III. Komentar oleh Jeni Sudarwati Tentang Para Penulis: _____________________ Penulis Kitab Angin Hening, Leonardo Rimba, adalah alumnus Universitas Indonesia dan the Pennsylvania State University, seorang professional tarot reader. Media massa yang pernah meliputnya antara lain: Koran Tempo, RCTI, AnTV, dan TransTV. Leo sering muncul dalam acara bakti sosial, baik bagi kalangan lokal maupun ekspatriat di Jakarta, dan bisa dihubungi di HP: 0818-183-615. Email: <leonardo_rimba-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Penulis Kata Pengantar, Juswan Setiawan (Mang Iyus), adalah moderator di milis-milis <komunikasi_empati-/JYPxA39Uh5TLH3MbocFFw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, <komunikasi_empati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, <vincentliong-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Kitab Angin yang ditulisnya bisa didownload dari bagian files di milis <http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati> Jeni Sudarwati adalah moderator di milis <jenisudarwati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Jeni adalah eksponen Komunikasi Empati yang paling vokal suaranya di internet. She is the feminine part of the Vincent Liong phenomenon, albeit full of manners. Diskusi terbuka, transparan, dan ON THE RECORD tentang Komunikasi Empati dilakukan di milis-milis <psikologi_transformatif-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, <vincentliong-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, <komunikasi_empati-/JYPxA39Uh5TLH3MbocFFw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, dan <komunikasi_empati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Everybody is welcome to join! I. Kata Pengantar oleh Juswan Setyawan ______________________________________ Leonardo Rimba adalah salah seorang protagon Komunikasi Empati yang belum melengkapkan tulisannya ke dalam satu Kitab apapun. Memang pada permulaannya nama Komunikasi Empati belum muncul ke permukaan. Waktu itu semuanya masih rancu dengan berbagai konsep seperti Pineal Reprogramming yang menjadi cikal-bakal konsep "dekonstruksi dan rekonstruksi" ala Vincent dan sebagainya. Sedangkan "metode blanking" atau "thin slicing" masih terlalu menekankan metode klasik yang menjemukan yaitu melalui "crystal meditation" dan "pineal meditation"; keduanya konsep yang diperkenalkan dan ditekuni oleh Leonardo Rimba. Dengan demikian Leonardo Rimba yang sangat kuat dalam unsur Air sebenarnya lebih tepat kalau menulis Kitab Air. Namun, dari sifat konsepsinya sendiri yang lebih amorf dan filosofis maka ia lebih tepat kalau dinobatkan menjadi empu Kitab Angin. Terutama lewat kontribusinya tentang konsep "ego-less love" atau "bahasa ketulusan hati" sebagai prasyarat yang menentukan keberhasilan bagi setiap bentuk Komunikasi Empati. Karena sifat hembusannya yang halus, cool, dan bebas dari elemen api, maka Kitab Angin yang ditulis Leonardo Rimba lebih tepat diberi sub-judul menjadi Kitab Angin Hening. Saya mengenal Leonardo Rimba untuk pertama kalinya di tempat kediaman Vincent sekitar dua tahun yang lampau. Kesan pertama saya ia adalah seorang yang tenang, agak sober dan rendah hati, walaupun konon pada saat itu ia sedang mengalami masalah yang cukup berat bagi kehidupan pribadinya tetapi yang ditanggungnya dengan sikap pasrah sebagai "salib kehidupan"- untuk tidak menyebutnya sebagai wujud "karma" masa lalu yang harus dipikulnya - karena istilah yang terakhir ini agak beraroma mistisisme. Melalui perkenalan dan pergaulannya dengan Guru Besar dan pakar Kundalini Yoga, Ir. Putu Ngurah Ardika dari Bali, spiritualitasnya semakin berkembang, sejalan dengan kemujurannya sehingga prakteknya mulai mendapat beberapa klien bangsa asing. Maka Leo menjadi terkenal sebagai salah seorang pakar Tarot yang profesional dan kini mampu lebih mandiri lagi lewat praktek konsultasi lewat profesi tersebut. Leonardo Rimba mengakui bahwa Tarot hanyalah salah satu sarana yang dipilihnya untuk 'scanning' karena ia sudah terbiasa dengan media itu. Sama seperti para 'vincentis' lainnya melakukan 'scanning' melalui kartu ceki, ciamsi, ataupun "fruit thin slicing" -bahkan tanpa media sama sekali. Kini beliau sudah mampu melakukan 'scanning' tanpa memakai alat apapun. Tengah malam hari ini, Jum'at, 7 Juli 2006, pada siaran talk show Fenomena pada jam 24.00 wib stasiun Trans-TV akan mengadakan siaran tunda dengan pakar Tarot, Leonardo Rimba. Menurut pengakuan Leonardo Rimba, ia mengadakan kontak langsung dengan Yang Mahabenar yang mengungkapkan "secuplik kebenaran" bagi dirinya dalam melakukan "scanning". Kemampuan ini memang sudah mencapai tingkat "advanced" karena pada umumnya para 'scanner' baru biasanya masih berhubungan dengan Reticular Activating System, di mana sebenarnya fungsi RAS ini juga untuk mampu mengatur akses kepada Yang Mahabenar. Jikalau para pemula masih dihinggapi masalah kepercayaan diri dan cenderung menjadi tidak PD, maka hal tersebut sama sekali tidak tampak pada pribadi Leonardo Rimba pada setiap penampilannya. Beberapa tulisan Leonardo Rimba di masa lampau akan disunting kembali untuk dijadikan bagian-bagian dari Kitab Angin Hening. Tentunya juga dengan tulisan- tulisan baru yang akan ditulisnya. Selamat menikmati hembusannya yang sepoi-sepoi basah dan menyegarkan. Jakarta, 7 Juli 2006. Mang Iyus II. KITAB ANGIN HENING oleh Leonardo Rimba __________________________________________ II.1. In the Begining was the Word __________________________________ "In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God." (John 1:1) Rekan-Rekan yang Berbahagia: Komunikasi Empati bisa juga dinamakan sebagai "Mind Reading" atau membaca pikiran. Biasanya istilah itu diartikan sebagai membaca pikiran orang lain, walaupun sebenarnya yang kita baca adalah pikiran kita sendiri. Kita membaca pikiran orang lain melalui pikiran kita sendiri. We read other people's minds through our own minds. Tidak ada yang kita baca selain pikiran kita sendiri di dunia ini. Segala sesuatu yang kita lihat, kita rasakan, kita dengar, kita baca, kita pahami? segalanya itu melalui pikiran kita sendiri. Tidak ada sesuatupun yang datang begitu saja tanpa melalui saringan di kepala kita yang kita kenal sebagai jaringan otak. Dan counterpart-nya di alam nir ruang dan waktu yang kita sebut sebagai "pikiran" atau "mind". We read other people's minds through our own minds. Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa membaca pikiran orang lain melalui pikiran kita sendiri? Jawabannya mudah saja: Kita harus mulai dari awal kembali, membayangkan ketika pertama kali kita mengenal apa yang dinamakan kesadaran itu. Apakah yang pertama kita sadari itu? Bukankah pertama kali kita sadar bahwa diri kita adalah diri kita setelah beberapa saat (bulan, tahun?) setelah kita terlahir di dunia dalam kehidupan kali ini? Bukankah pertama kali yang kita sadari bukanlah diri kita sendiri tetapi orang lain? Ibu kita, ayah kita, lingkungan kita? Sebagai seorang bayi kita tidak menyadari diri kita sebagai kita, tetapi diri kita sebagai orang lain, terutama sebagai ibu kita. Atau, lebih tepat, kita sebagai bagian dari ibu kita. Tidak ada yang namanya "ego" itu selain kebutuhan-kebutuhan fisikal yang dirasakan oleh kita sebagai seorang bayi. Selanjutnya, segalanya adalah ibu kita, dan kita sebagai bagian dari ibu. Dan apapun yang dirasakan oleh ibu kita akan kita rasakan: emosi-emosinya, kegalauannya, kegembiraannya. Setelah itu kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang dekat yang ada di sekitar kita: ayah, saudara-saudari, lingkungan sekitar, ? walaupun saat itu kita masih seorang bayi yang belum bisa berkomunikasi dengan kata-kata. Kita sadar bahwa kita sadar, tetapi kesadaran kita adalah kesadaran orang lain. Kesadaran yang ada di manusia-manusia dewasa yang berada di sekitar kita. Setelah berlalunya waktu, sedikit demi sedikit lingkungan akan mengajarkan bahwa kita beda, bahwa kita adalah seorang entitas yang berdiri sendiri. Sebagai manusia modern, inilah sosialisasi yang kita alami, walaupun kita juga menyadari bahwa banyak manusia yang budayanya primitif tetap mengalami identitas komunal sepanjang hidupnya. Sebagai manusia modern kita akhirnya dibiasakan untuk berpikir bagi diri kita sendiri, untuk menyatakan kebutuhan kita, untuk mengartikulasikan kepentingan kita. Dan lahirlah "ego". Ego adalah kita, diri kita vis a vis orang-orang lain. Tetapi ego adalah perkembangan lanjutan dari diri kita yang asli ketika lahir di dunia ini. Kita lahir tanpa ego, dan ego itu adalah bentukan budaya, dan ego itu adalah superficial. Setelah kita dewasa, kita akan terbiasa untuk berpikir dalam konteks kita vs. mereka. Diri kita vs. diri orang-orang lain. Yang kita lihat dan kita rasakan hanyalah diri kita sendiri karena kita disosialisasi seperti itu. Tidak ada lagi yang namanya merasakan melalui orang-orang lain itu karena kita tahu bahwa setelah tahap bayi berlalu, kita harus menghadapi orang-orang lain sebagai orang lain, sebagai the others. The others are not me, and I have to state my own interests as opposed to those of the others'. Kepentingan saya sebagai seorang entitas tersendiri dinyatakan sebagai terpisah dari kepentingan orang-orang lain: baik orang dekat, orang jauh, lingkungan dekat, lingkungan jauh, masyarakat, maupun dunia luas. Empati masih ada, karena kita masih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang lain itu, kalau kita mau. Tetapi, itu "tidak normal". Tidak normal dalam tanda kutip. Yang dianggap normal itu adalah dipertahankannya mode saya vs. orang lain itu. --- Saya selalu mengatakan bahwa Komunikasi Empati adalah bakat alam dari tiap orang. Artinya itu apa? Artinya adalah bahwa Komunikasi Empati adalah sesuatu yang telah dimiliki oleh tiap orang sebagai mode awal dari interaksi kita sebagai manusia ketika terlahir ke dunia. Komunikasi Empati telah kita lakukan dengan fasih ketika kita masih bayi dan belum bisa berkata-kata. Komunikasi Empati telah mendarah-daging di diri kita ketika segala konsep tentang kepentingan diri sendiri belum ditanamkan ke diri kita oleh lingkungan budaya dimana kita dibesarkan. Lalu apa susahnya? Susahnya adalah untuk menguraikan benang kusut antara "saya" dan "mereka" itu. Antara impressi-impressi yang masuk ke dalam pikiran saya. Impressi-impressi itu tetap sebagai impressi, dan selalu ada di pikiran atau "mind" milik saya, tetapi saya merasa kesulitan untuk membedakan apakah impressi itu mengenai saya atau mengenai orang lain. Yang menghalangi tentu saja ego saya. Dan ego itu tidak lain adalah konsep diri saya yang ditanamkan oleh budaya dimana saya dibesarkan. Saya dan Anda dibesarkan dengan pengertian bahwa ego harus dipertahankan demi kewarasan pikiran. Kalau tidak demikian, maka akan bisa terombang-ambing antara kepentingan saya sendiri dan kepentingan orang lain yang saya lihat sebagai saya juga. Memang benar akan ada kemungkinan seperti itu, terutama bagi mereka yang lemah mentalnya. Tetapi disini saya akan berbicara tentang hal-hal yang umum dan berlaku bagi semua orang, dan bukan tentang psikologi klinis yang menyelidiki tentang hal schizophrenia, paranoia, dan sebagainya. Ada orang yang lemah mentalnya dan tidak bisa melakukan komunikasi empati tanpa jatuh ke dalam kategori tidak waras. Dan ada orang yang sehat jasmani dan rohani dan mampu untuk melakukan komunikasi empati sebagaimana komunikasi umumnya. Apa adanya dan tanpa dipaksakan. Secara gamblang, Komunikasi Empati adalah mengkomunikasikan apa yang kita baca dari pikiran kita sendiri tentang apa yang dirasakan oleh orang lain, apa aspirasinya, apa ketakutannya, apa kepentingannya. Dan itu bisa kita lakukan apabila kita mau kembali menelaah situasi yang terjadi ketika kita masih bayi sebelum konsep ego ditanamkan oleh lingkungan kita. Kita akan bisa melihat orang lain seperti kita melihat diri kita sendiri. Kita akan bisa merasakan orang lain seperti kita merasakan diri kita sendiri. Tetapi ada bedanya dibandingkan dengan ketika kita masih bayi ketika kita belum bisa menerangkan apa sebenarnya yang kita lihat dan rasakan tentang orang-orang lain itu. Sekarang, kita akan bisa membedakan bahwa sesuatu yang kita lihat itu adalah mengenai orang lain. The others. Dan bukan kita sebagai diri kita yang merupakan entitas terpisah dari orang-orang lain itu. Ketika kita masih bayi, hal itu tidak bisa kita lakukan. You could give it a try even now! Try to think and feel as if you were somebody else: your close friend, your mate, your brother, sister, neighbor, anybody. Ucapkanlah, tuliskanlah? cobalah untuk diperiksa dengan orangnya apakah benar demikian. Dan Anda telah melakukan Komunikasi Empati! II.2. And the Word was with God _______________________________ Di bahagian sebelumnya telah saya tuliskan bahwa tahap pertama dalam penguasaan Komunikasi Empati versi saya adalah dengan mencoba membayangkan diri kita sendiri sebagai orang lain. Seolah-olah kita adalah orang lain itu. As if we were the other person with whom we are having an empathetic communication Caranya memang mudah, dan bahkan tahap-tahap selanjutnya juga sama mudahnya. Tahap berikutnya dijalankan dengan melakukan Osmosis. Osmosis adalah istilah ilmu alam yang berarti menyamakan isi dari sesuatu yang kosong dengan sesuatu yang berisi. Kalau saya merupakan satu kertas kosong, dan di sebelah saya ada satu kertas berisi tulisan, maka isi dari kertas bertulisan itu bisa berpindah ke kertas kosong yang merupakan diri saya. Istilah lainnya adalah "Copy Paste". Copy Paste adalah istilah yang digunakan oleh Vincent Liong. Istilah saya sendiri adalah Osmosis. Maksud dari istilah itu adalah penyerapan pengetahuan dari seseorang tanpa melalui cara-cara umum; tanpa perlu diajari secara formal, walaupun tetap harus ada komunikasi intensif. Menurut saya, sampai saat ini orang yang paling bisa melakukan Osmosis adalah Vincent sendiri. Tanpa saya mengajari segala teknik pembacaan kartu tarot, suatu saat tiba-tiba Vincent mau membeli kartu tarot dan memberikan bacaan-bacaan berdasarkan tarot terhadap orang yang bertanya kepadanya. Saat itu saya juga langsung tahu bahwa teknik yang digunakan oleh Vincent berbeda dari teknik yang saya gunakan, walaupun secara sepintas terlihat tidak ada bedanya. Bagaimana cara Vincent melakukan Osmosis atau Copy Paste itu bukanlah sesuatu yang aneh bagi kita manusia-manusia normal. Bukankah kita sudah melakukan Osmosis atau Copy Paste itu sepanjang hidup kita? Bukankah kita sudah menyerap segala nilai-nilai budaya dari masyarakat kita tanpa kita merasa mempelajarinya secara sungguh-sungguh: nilai-nilai budaya dari orang tua kita, dari teman sepergaulan kita, dari teman sekolah kita, dari segalanya yang kita temui sepanjang hidup kita? Dan kita telah melakukannya sejak kita sadar bahwa kita sadar. Sejak kita sadar bahwa kita memiliki kesadaran sebagai seorang entitas. Tidak ada cara lain bagi kita dalam mempelajari sesuatu selain melakukan Osmosis atau Copy Paste. Bisa saja kita melanjutkan sekolah dan mempelajari segala teknik itu, tetapi yang terutama kita lakukan adalah Osmosis atau Copy Paste. Osmosis dari dosen-dosen kita, dari pengajar kita, dari penulis yang kita kagumi... Segala teknik yang dipelajari itu cuma pengisi waktu saja, cuma sebagai bukti empirik bahwa ada metode yang diajarkan dan dipelajari. Tetapi untuk bisa dan memahami mau tidak mau kita harus melakukan Copy and Paste. Osmosis. --- Setelah Osmosis atau Copy Paste itu Anda jalankan, dengan mudah Anda akan bisa mengembangkan teknik Anda sendiri, bahkan pengertian Anda sendiri. Pengertian tarot yang dimiliki Vincent beda sama sekali dengan pengertian yang saya miliki, walaupun mulanya adalah Copy Paste. Mulanya Vincent mengamati cara saya membacakan tarot bagi ratusan orang dalam waktu beberapa bulan. Dan tiba-tiba, dia bisa membacakan tarot untuk orang-orang lainnya. Saya diam saja, mengamati, dan saya lihat memang benar seperti itu caranya. Pengertian-pengertiannya beda total, dan cara membacakannya juga berbeda, tapi hasil akhirnya bisa sama. Hasil akhir dalam pembacaan tarot adalah pemberian solusi bagi orang yang bertanya. Selama hasil akhirnya bisa diterima dan valid, maka segala teknik itu cuma bersifat aksesorial belaka. Segala teknik itu cuma penghias belaka. Mungkin apa yang saya tulis kali ini terasa mengejutkan bagi sebagian rekan-rekan. Mungkin juga ada sebagian rekan yang telah bisa meraba secara intuitif bahwa pada akhirnya saya akan menuliskan hal ini juga, apapun konsekwensinya. Apapun konsekwensinya, saya harus menuliskan terus terang bahwa Komunikasi Empati adalah bakat alam dari tiap orang yang bisa dipelajari sendiri asalkan mau membuka hati dan pikiran terhadap fenomena alamiah yang telah kita alami dalam perkembangan hidup kita sendiri sebagai manusia. Pertama, seperti disebutkan dalam posting sebelumnya, kita bisa memulai Komunikasi Empati dengan cara membayangkan diri kita seolah-olah kita adalah orang lain itu: teman, pasangan hidup, atasan, bawahan, kolega bisnis, teman kuliah, dsb.... Dan kedua, dengan mulai melakukan Osmosis atau Copy Paste dari orang-orang yang Anda anggap telah mahir melakukan Komunikasi Empati. Memang istilah Komunikasi Empati ini sendiri baru akhir-akhir ini saja digunakan oleh Vincent Liong, baru dua bulan terakhir ini saja. Sebelumnya, Vincent dan saya menggunakan bermacam-macam istilah yang sebenarnya maksudnya sama saja. Misalnya, Vincent akan bertanya kepada saya: "Bagaimana feeling lo?". Atau dia akan bilang: "Gw merasa harus... Kenapa ya? Kalo lo rasa gimana? Apa memang begitu?". Dst, dst. Segala percakapan dengan menggunakan bahasa sehari-hari ini adalah Komunikasi Empati dengan aliran-aliran Osmosis atau Copy Paste yang bergerak dari alam bawah sadar orang yang satu ke bawah sadar orang yang satunya lagi. Dan bergerak kembali dengan input, output, dan feedback yang tidak berkesudahan. Hasil akhirnya adalah pemenuhan isi dari seseorang yang tidak memiliki dengan isi dari orang lainnya yang memiliki. Osmosis juga berlaku dua arah, dan tidak pernah hanya berlaku searah. Vincent melakukan Osmosis atau Copy Paste dari saya, dan saya juga melakukan Osmosis atau Copy Paste dari Vincent. Akibatnya, kami bisa saling membaca isi pikiran masing-masing bahkan tanpa melakukan komunikasi secara lisan. Nah, bukankah Osmosis atau Copy Paste ini adalah sesuatu yang natural atau alamiah bagi Anda? Anda telah melakukannya sepanjang hidup Anda. Waktu Anda kuliah, Anda bisa menangkap maksud hati seorang dosen hanya dengan mengamatinya. Waktu Anda masih pacaran, Anda bisa tahu bahwa pacar Anda serius atau tidak dalam berhubungan dengan Anda. Waktu Anda telah menikah seperti sekarang, Anda bahkan bisa tahu kalau pasangan Anda hanya mempertahankan formalitas belaka karena segala desir romantik telah habis terpakai. Jadi, Komunikasi Empati juga mengandalkan Osmosis atau Copy Paste yang tidak berkesudahan ini antara Anda dan orang-orang lainnya dengan mana Anda melakukan komunikasi. Apabila Anda merasa bahwa sebagai seorang komunikator Vincent termasuk seorang pakar, dan Anda merasa sudah waktunya untuk melakukan Osmosis dari Vincent, that's fine. Just, do it! Aturlah waktu untuk bertemu dengan orangnya atau, kalau tidak bisa, cukup hanya dengan chatting atau saling berkirim e-mail. Kalau Anda merasa bahwa perlu melakukan Osmosis dari saya, that's fine too. Aturlah waktu untuk bertemu dengan saya atau saling berkirim e-mail dan SMS! Saya sendiri tidak melakukan chatting. Cuma sesederhana itu. Cuma... Tetapi tentu saja masih banyak lagi pernak-perniknya. Sekali bertemu saja tidak cukup; Anda perlu bertemu berulang-ulang untuk bisa menghilangkan trauma atau schock setelah pertama kali bertemu Vincent. Banyak yang schock setelah pertama kali bertemu. Kalau bertemu dengan saya mungkin tidak terlalu schock, tetapi Osmosis memang memerlukan interaksi berkali-kali. Tidak cukup sekali bertemu atau berinteraksi, tetapi perlu waktu berulang-ulang sampai Osmosis atau Copy Paste itu tuntas. Kalau bertemu, mungkin cuma berjalan-jalan di Mall saja, mungkin cuma minum-minum di cafe saja, apapun bisa dilakukan. Yang penting Osmosis atau Copy Paste itu bisa berjalan, dan Anda bisa mulai mempraktekkan apa yang Anda bisa "serap" secara langsung itu. II.3. And the Word was God __________________________ Tulisan ini adalah yang terakhir dalam tiga serangkai posting "Kitab Angin Hening" yang mengambil tema dari Alkitab bagian Perjanjian Baru; Injil Yohannes, pasal 1, ayat 1. Saya merasa bahwa Injil Yohannes adalah yang paling gamblang mengajarkan Komunikasi Empatik, dan bahkan terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk membacanya. Dan bahkan bisa dibaca dan dipelajari tanpa ada pengantar sama sekali dan rekomendasi dari saya. So much for the Gospel of John. Di bagian ini saya akan menulis tentang apa yang kerap ditulis oleh Vincent sebagai "hardware". Apakah hardware itu? Apakah hardware bukan perangkat keras semacam pesawat TV, computer, DVD player, dsb... Tentu saja jawabnya ya. Hardware adalah perangkat keras semacam alat-alat elektronik tersebut. Tetapi perangkat keras tidak bisa bekerja tanpa adanya software. Software adalah program. Program yang ditanamkan oleh siapa saja yang memiliki hardware itu. Software bisa dipasang oleh pabrik pembuat hardware, bisa juga di-install oleh Anda dan saya apabila telah memiliki hardware-nya. Apabila Anda dan saya memiliki pesawat computer, maka software apapun yang kompatibel akan bisa di-install, dan kita akan bisa menjalankan programnya. Programnya mungkin baru sama sekali, tetapi hardware-nya, pesawat computer-nya sama. Yang dimaksud oleh Vincent sebagai hardware adalah perangkat keras yang ada di diri Anda. Yang ada di diri Anda dan saya. Yang ada di diri Vincent juga. Itu berupa kemampuan dasar kita untuk ber-empatik dengan orang lain, untuk bisa mengerti apa yang ada di pikiran dan perasaan orang lain. Caranya adalah dengan membayangkan diri kita sebagai orang lain itu (lihat posting pertama dengan subject "In the Beginning was the Word"), dan dengan melakukan osmosis atau copy paste dari apa yang ada di diri orang lain itu sehingga kita bisa membaca apa yang ada di diri orang lain itu melalui pikiran kita sendiri (lihat posting kedua dengan subject "And the Word was God"). Dalam posting ketiga dan terakhir di seri ini, saya akan berbicara tentang hardware atau perangkat keras yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri Anda sendiri. Ketika bertemu dengan Anda, Vincent akan memasangkan hardware itu di diri Anda sehingga Anda akan bisa melihat sebagaimana dia melihat. Apabila ternyata benar ada fenomenon anak indigo yang akan membawa perubahan revolusioner di dalam dunia kita saat ini, maka itu berarti bahwa Anda juga akan menjadi seorang anak indigo. Ya atau tidak? Menurut saya, apabila hardware seorang anak indigo telah terpasang di dalam hardware Anda, maka otomatis Anda telah menjadi seorang anak indigo pula. Nah, hardware itu apa dalam konteks kita sebagai manusia-manusia normal yang biasa apabila bukan kemampuan mental kita. Hardware itu adalah kemampuan mental kita untuk ber-empati dengan sesama, untuk melakukan Komunikasi Empatik dengan orang lain. Bisa saja Kemampuan Empatik itu dijabarkan dengan agak sensasional seperti kemampuan mengetahui isi suatu buku hanya dengan meletakkan telapak tangan ke atas buku itu. Atau kemampuan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan seseorang hanya dengan membelah buah tertentu. Bisa buah apa saja: ketimun, tomat, mangga, apapun... Bisa juga didefinisikan dengan kemampuan memberikan solusi terhadap masalah-masalah hidup yang dihadapi oleh orang-orang lain yang bertanya hanya dengan mencabut satu kartu saja. Bisa kartu tarot, bisa kartu remi, bisa kartu ceki, bisa kartu domino. Bisa dengan apa saja, bahkan tanpa menggunakan apapun. Mereka itu semua adalah kemampuan empatik, kemampuan untuk mengerti sesama dengan mendalam tanpa memerlukan segala pemeriksaan empirik seperti dilakukan oleh mereka yang bergerak di bidang medik atau psikologi. Ya, seorang ahli psikologi bahkan perlu memeriksa kasus seseorang secara bertele-tele sebelum mampu memberikan solusi dengan malu-malu. Kita praktisi Komunikasi Empatik tidak seperti itu. Kita berbicara apa adanya sesuai apa yang kita rasakan. Apa yang kita rasakan itulah yang kita katakan atau kita tulis. Dan kita mampu untuk melakukannya karena ada "virus" Komunikasi Empatik yang tertanam di dalam hardware atau kemampuan mental kita. Saya sebut hal itu "virus"; virus dalam tanda kutip karena hal itu bisa disebarkan, bisa ditularkan dengan cara Osmosis atau Copy Paste. Memang dalam trilogi ini dengan sengaja saya tidak menulis secara "ilmiah". Buat apa membuat tulisan ilmiah kalau tidak bisa membuat mereka yang membacanya menjadi praktisi pula? Tujuan saya adalah meng-convert mereka yang membaca trilogi ini menjadi para praktisi Komunikasi Empatik. Caranya bisa dengan berjumpa dahulu dengan Vincent, saya, atau praktisi-praktisi sebelumnya. Bahkan bisa juga tanpa berjumpa sama sekali dengan kami-kami ini. Cukup dengan membaca tulisan ini saja, saya cukup yakin bahwa Anda akan menjadi seorang praktisi Komunikasi Empati. Apalagi kalau Anda nanti berkesempatan untuk berjumpa dengan kami: dengan Vincent, dengan Bimo, dengan Mang Iyus, dengan Mbak Cornelia Istiani, dengan saya. --- Komunikasi Empatik itu adalah bakat alam dari tiap orang. Bacalah kembali posting yang pertama. Komunikasi Empatik itu berjalan dengan Osmosis atau Copy Paste dari praktisi sebelumnya. Bacalah kembali posting yang kedua. Dan Komunikasi Empatik itu akan mulai berjalan di diri Anda setelah Anda mempraktekkannya sendiri. Mulailah mempraktekkannya. Tariklah melalui Osmosis apa yang Anda bisa tarik dari postingan-postingan saya. Dari postingan-postingan Vincent, dari postingan-postingan Mang Iyus. Mungkin ada yang merasa lebih sreg dengan melakukan Osmosis atau copy paste dari tulisan Vincent. That's fine! Ada pula yang merasa lebih sreg dengan melakukan Osmosis dari postingan Mang Iyus, postingan Bimo, dll... That's fine too. Dan ada pula yang mungkin merasa lebih sreg dengan melakukan Osmosis dari postingan Mas Leo. Ha ha... that's fine too! Anda cukup mengingat bahwa hardware itu adalah kemampuan mental Anda sendiri. Dan Anda mampu untuk membayangkan diri Anda ketika Anda belum memiliki ego seperti ketika Anda masih bayi. Dan Anda mampu untuk melakukan Osmosis atau Copy Paste dari kami-kami ini yang disebut sebagai praktisi Komunikasi Empatik. Memang Osmosis atau Copy Paste itu tidak berjalan sekaligus tetapi sedikit demi sedikit. Tetapi apabila prosesnya telah dimulai, maka hal itu akan berjalan terus-menerus. Terus menerus tanpa henti sampai saatnya berhenti sendiri ketika Osmosis atau Copy Paste itu telah tuntas. Yang penting Anda telah memulainya dengan menetapkan ingin melakukan Osmosis dari siapa: bisa dari Vincent, dari saya, atau dari siapa saja. Bahkan dari orang-orang yang Anda kagumi sebagai praktisi-praktisi kenamaan yang tidak pernah muncul di milis ini. Itu bisa saja. Why not? Setelah Anda memulainya, maka proses itu akan berjalan dengan sendirinya. Dan Anda akan bisa untuk mulai mempraktekkan Komunikasi Empatik. Katakanlah apa yang Anda rasakan harus Anda katakan ketika berjumpa dengan orang-orang lain. Tuliskanlah apa yang Anda rasakan harus tuliskan ke milis. Betapapun mustahilnya terasa impressi itu, katakanlah atau tuliskanlah! Tidak ada cara lain lagi untuk mempraktekkan Komunikasi Empatik sampai mahir selain mulai mempraktekkannya. Mula-mula akan terasa canggung. Saya mengerti itu, saya juga mengalaminya. Tetapi lama kelamaan Anda akan merasa segalanya berjalan dengan lancar. Seolah-olah tidak ada batas antara diri Anda dan diri orang-orang lain. Seolah-olah Anda bisa membaca orang-orang lain itu seperti membaca diri sendiri. Dan memang seperti itulah keadaan alamiah kita. Tidak ada yang membatasi komunikasi antara kita manusia selain prosedur-prosedur protokoler yang diprasyaratkan oleh budaya modern kita. Secara aural, tidak ada batas-batas itu. Dan kita memang transparan seperti gelas-gelas kaca. Mulailah mempraktekan apa yang Anda bisa tangkap dari tiga posting saya dalam serial yang mengambil tema dari Yohannes 1:1 ini, dan Anda akan menjadi seorang praktisi Komunikasi Empatik hanya dalam waktu singkat saja. Mudah bukan? Memang mudah. Bahkan lebih mudah untuk menjadi empatik daripada kebalikannya. Komunikasi Empatik jauh lebih mudah daripada Komunikasi non-Empatik. Saya rasa saya sudah menulis segala yang penting tentang Komunikasi Empatik menurut saya. Saya bahkan yakin bahwa sebagian dari Anda akan menjadi Komunikator Empatik yang lebih handal daripada saya. Why not? Dan tidak ada buku apapun yang akan bisa memuat segala sesuatu yang bisa dan akan bisa ditulis tentang Komunikasi Empatik. Saya menulis apa adanya seperti penulis Injil Yohannes itu menulis di akhir bukunya. Tidak ada buku apapun yang akan bisa memuat apa yang akan ditulis oleh segala praktisinya. Tidak akan ada habis-habisnya. Worlds without end. II.4. Penutup _____________ Dalam tiga posting sebelumnya dengan subjects: 1. In the Beginning was the Word 2. And the Word was with God 3. And the Word was God, saya telah menuliskan segala sesuatu yang dapat saya tuliskan tentang Komunikasi Empati. Mungkin sebagian rekan akan bertanya kepada saya: Apakah cuma sebegitu saja? Dan saya akan menjawab: Ya, memang cuma sebegitu saja. Apalagi yang mau dituliskan apabila tujuan Anda adalah menjadi seorang komunikator empatik? Cara menjadi seorang praktisi Komunikasi Empatik cuma satu: be an empathetic communicator? Just that! Segala macam teori tentang Komunikasi Empatik akan Anda bisa tuliskan sendiri, akan Anda bisa cari dari segala macam teori tentang komunikasi dan psikologi dari yang terawal sampai yang terkini. Tetapi itu semua tidak akan ada gunanya apabila Anda sendiri tidak mempraktekkan Komunikasi Empati itu. Apabila Anda cuma paham teori dan tidak mampu menjadi praktisi. Seperti saya tuliskan di dalam teks Kitab Angin Hening yang terbagi dalam tiga bagian itu, tujuan saya adalah meng-convert Anda yang merasa bahwa menjadi seorang Komunikator Empatik adalah salah satu hal yang bisa membawa kebaikan bagi hidup Anda, pekerjaan Anda, profesi Anda, pergaulan sosial Anda. Apabila yang saya tuliskan ternyata bisa membawa Anda menjadi seorang Komunikator Empatik seperti yang Anda inginkan, maka saya telah mencapai tujuan saya. Tujuan Anda tercapai, dan tujuan saya juga. Hanya ada satu pengantar untuk Kitab Angin Hening ini yang ditulis oleh rekan tercinta saya Juswan Setiawan. Dan itu cukup. Dan hanya ada satu Kitab Angin Hening yang berisikan instruksi untuk menguasai Komunikasi Empati versi saya; plus Komentar oleh Jeni Sudarwati. Dan itu cukup. Kitabnya memang singkat sekali. Saya tidak merasa bahwa yang saya tuliskan lebih panjang daripada Injil Yohannes yang menginspirasikannya. Tetapi saya juga merasa bahwa karena inspirasinya berasal dari Alam Bawah Sadar kolektif, maka dampaknya juga akan terasakan disana. Akan terasakan di Alam Bawah Sadar dari Anda sendiri yang merasa bahwa Anda memiliki koneksi personal dengan apa yang saya tulis. Yang saya tuliskan muncul begitu saja ketika tangan saya menyentuh keyboard. Satu kata yang muncul berulang-ulang di kepala saya adalah: "In the beginning... God" "In the beginning... God" "In the beginning... God" Saya tahu bahwa ada dua kitab di Alkitab yang kita kenal yang memiliki pembuka dengan kata-kata itu, yaitu kitab Kejadian (Genesis), dan Injil Yohannes. Saya diam saja berhari-hari sampai menyentuh keyboard untuk mulai menulis. Dan ternyata energi yang datang berasal dari Injil Yohannes. Ada energi-energi yang datang dan mengalir begitu saja. Saya hanya perantaranya saja. Energi itu berasal dari penulis Injil Yohannes yang telah bertahan selama 2000 tahun sebagai saksi Komunikasi Ter-Empatik yang pernah dilakukan oleh seorang anak manusia. Dan Anda bisa menjadi satu lagi anak manusia yang melakukan Komunikasi Empatik itu. Dan Anda akan dikenal sebagai seorang Komunikator Empatik. Saya hanyalah perantara saja bagi Anda untuk mengenalnya. Tidak perlu ada synopsys dari tulisan saya yang begitu singkat. Seperti rekan-rekan bisa membacanya sendiri, definisi-definisi semuanya mengalir begitu saja di kitab itu. Dan saya tidak perlu menuliskannya sendiri dalam suatu synopsys atau ringkasan. Kalau saya menyediakan ringkasannya, maka ada sebagian rekan yang akan tidak membaca teks-nya. Dan itu akan bersifat self-defeating, akan mensabot maksud dari teks itu sendiri. Ada energi-energi yang ditransfer, dan energi-energi itu terdapat di dalam teks. Anda harus membacanya untuk menerimanya. Setelah Anda menerima energi-energi itu, Anda bisa mulai mempraktekkannya. Dan Anda bisa pula membuat synopsys atau ringkasan dari tulisan itu. Mengapa tidak? Anda bisa membuat synopsys dari tulisan saya itu dan mengirimkannya kepada saya. Dan saya akan menerimanya dengan gembira. Dan saya akan berkata "Amin". Amin bahwa apa yang diinginkan telah dikabulkan. Dan apa yang diniatkan telah terlaksana. Amin karena Anda telah menjadi seorang praktisi Komunikasi Empati. --- Dalam acara Fenomena tentang Tafsir Mimpi di TransTV, pendekatan saya disebut sebagai "Pendekatan Mistik". So what? Apakah pendekatan mistik negatif? Apakah pendekatan mistik menjadikan Anda seorang yang negatif? Menurut saya tidak. Menurut saya, setiap orang sedikit banyak adalah seorang "mistik", seorang yang bisa melakukan hubungan langsung dengan yang Illahi. Dengan Alam Bawah Sadar Kolektif. Dengan medium kolektif dimana kita semua berkomunikasi secara transparan, terbuka, tanpa ada sekat-sekat itu. Silahkan kirimkan kesan dan pengalaman Anda kepada saya setelah membaca tulisan itu. Everything is possible with God! Damai di Bumi, Drs. Leonardo Rimba, MBA Jakarta, Juli 2006 III. Komentar oleh Jeni Sudarwati _________________________________ Tulisan Mas Leo ini sampai membawa tulisan kata pengantarnya menjadi hampir serupa. Karena tulisan di dalamnya yang tenang jadi pembaca maupun penulis kata pengantarnya menuliskan dengan tenang pula. Dan kadang-kadang kalau saya amati anda hampir- hampir "menghilangkan" diri anda sendiri. Di lain sisi juga seperti Seraphita - sifatnya berbeda dengan manusia lain. Misterinya bukan terletak pada unsur gelap dari masa lampaunya, tetapi pada unsur kodrat keberadaannya. Anda mungkin pernah mengalami sesuatu hal yang sungguh berat untuk anda atasi, yang tidak mudah dibagi dan diceritakan kepada orang lain karena mungkin tidak akan dipahami begitu saja. Mungkin itulah yang mengantarkan anda ke kedewasaan yang seperti ini, kedewasaan yang dalam hal ini anda adalah orang yang tenang. Mengenai tulisan anda, Dalam Bagian Pertama: In the Begining was the Word. Anda mengatakan bahwa Komunikasi empati adalah bakat alam dari tiap orang. Dan sepertinya memang begitu bahkan tanpa mengetahui namanya (bahwa itu empati) sekalipun, atau kalau naif dan serampangannya bisa disebut flip-flop. Sahabat dekat saya pernah satu kali tiba- tiba datang ke rumah tanpa keperluan apapun padahal sudah malam apalagi dia perempuan, rumah saya sudah gelap dan pagar sudah dikunci. Tapi dia tidak telpon, hanya katanya diam didepan rumah lalu pergi. Padahal waktu itu saya belum tidur. Ketika di hari lain saya tanya ada perlu apa waktu itu,katanya "tiba-tiba ingin ketemu aja". Saya tidak bilang kalau sebenarnya waktu itu perasaan saya memang sedang tidak enak alias sedih begitu. Dalam hati saya, apa dia merasakan apa yang saya rasakan. Yang lucu yang barusan tanggal 27 Juli ini, ketika saya merasa terlalu banyak beban dan sendirian. "Tak ada angin, tak ada hujan" seorang teman yang lain SMS, Mungkin anda akan menganggapnya konyol tapi ini benar-benar terjadi, saya sendiri hampir tidak percaya memangnya dia sedang melamunkan apa... Saya keras kepala sedangkan dia selalu mengalah, dia selalu menjelek-jelekkan saya secara terang-terangan begitu juga sebaliknya. Kita hampir tak pernah sama. Begini SMS-nya: "Hai Jelo mgkn km akn anggap SMSku ni aneh tapi aku akn bcr jujur. Walaupun aku br knl km & kita g sberapa dkt tp aku senang & brsyukur bs ktm km wlp kadng aku iri ma km krna km pnya kelebhn yg mrupakn kelemahanku. Tp aku sadr klo stp mansia pny positif & negatif. Jd iriku tu kujadikn sbg pegangan ato ptnjuk bwt aku agr aku lbh baek lg. Kdg aku jg sebel ma skp jelek km & aku pengen marah & nendang km tp aku sadar lg klo aku jg pny skp yg lbh2 jelek dr km. Apapun itu aku bersyukur krna Allah tlah pertemukan kita. Sory y klo kata2 ku nyinggung km. Makasih bnyk buat segalany." Meski terlihat konyol tapi ini adalah ungkapan yang paling jujur yang pernah saya terima justru ketika saya tidak tahu harus bicara dengan siapa. Mengenai impressi - bagi saya yang ini sedikit rumit. Semoga saya bisa menyambungnya lain waktu. Salam, Jeni Sudarwati Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com Quotes : " Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through the practice of meditative way of life." - Anand Krishna - |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Lho Gíla sebaiknya Lho Mati !: 00325, mangucup88 |
|---|---|
| Next by Date: | FW: Dawn of the New Realities: 00325, Yan Rezky |
| Previous by Thread: | Lho Gíla sebaiknya Lho Mati !i: 00325, mangucup88 |
| Next by Thread: | FW: Dawn of the New Realities: 00325, Yan Rezky |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |