logo       

Kitab Angin Hening (Complete & Rev. Ed.): msg#00325

culture.religion.healer.mayapada

Subject: Kitab Angin Hening (Complete & Rev. Ed.)

KITAB ANGIN HENING (COMPLETE & REVISED EDITION)

Daftar Isi:
___________
I. Kata Pengantar oleh Juswan Setyawan
II. KITAB ANGIN HENING oleh Leonardo Rimba
II.1. In the Beginning was the Word
II.2. And the Word was with God
II.3. And the Word was God
II.4. Penutup
III. Komentar oleh Jeni Sudarwati

Tentang Para Penulis:
_____________________

Penulis Kitab Angin Hening, Leonardo Rimba, adalah
alumnus Universitas Indonesia dan the Pennsylvania
State University, seorang professional tarot reader.
Media massa yang pernah meliputnya antara lain: Koran
Tempo, RCTI, AnTV, dan TransTV. Leo sering muncul
dalam acara bakti sosial, baik bagi kalangan lokal
maupun ekspatriat di Jakarta, dan bisa dihubungi di
HP: 0818-183-615. Email:
<leonardo_rimba-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx>.

Penulis Kata Pengantar, Juswan Setiawan (Mang Iyus),
adalah moderator di milis-milis
<komunikasi_empati-/JYPxA39Uh5TLH3MbocFFw@xxxxxxxxxxxxxxxx>,
<komunikasi_empati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>,
<vincentliong-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Kitab Angin yang
ditulisnya bisa didownload dari bagian files di milis
<http://groups.yahoo.com/group/komunikasi_empati>

Jeni Sudarwati adalah moderator di milis
<jenisudarwati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>. Jeni adalah eksponen
Komunikasi Empati yang paling vokal suaranya di
internet. She is the feminine part of the Vincent
Liong phenomenon, albeit full of manners.

Diskusi terbuka, transparan, dan ON THE RECORD tentang
Komunikasi Empati dilakukan di milis-milis
<psikologi_transformatif-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>,
<vincentliong-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>,
<komunikasi_empati-/JYPxA39Uh5TLH3MbocFFw@xxxxxxxxxxxxxxxx>, dan
<komunikasi_empati-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>.

Everybody is welcome to join!



I. Kata Pengantar oleh Juswan Setyawan
______________________________________

Leonardo Rimba adalah salah seorang protagon
Komunikasi Empati yang belum melengkapkan tulisannya
ke dalam satu Kitab apapun. Memang pada permulaannya
nama Komunikasi Empati belum muncul ke permukaan.
Waktu itu semuanya masih rancu dengan berbagai konsep
seperti Pineal Reprogramming yang menjadi cikal-bakal
konsep "dekonstruksi dan rekonstruksi" ala Vincent dan
sebagainya. Sedangkan "metode blanking" atau "thin
slicing" masih terlalu menekankan metode klasik yang
menjemukan yaitu melalui "crystal meditation" dan
"pineal meditation"; keduanya konsep yang
diperkenalkan dan ditekuni oleh Leonardo Rimba.

Dengan demikian Leonardo Rimba yang sangat kuat dalam
unsur Air sebenarnya lebih tepat kalau menulis Kitab
Air. Namun, dari sifat konsepsinya sendiri yang lebih
amorf dan filosofis maka ia lebih tepat kalau
dinobatkan menjadi empu Kitab Angin. Terutama lewat
kontribusinya tentang konsep "ego-less love" atau
"bahasa ketulusan hati" sebagai prasyarat yang
menentukan keberhasilan bagi setiap bentuk Komunikasi
Empati. Karena sifat hembusannya yang halus, cool, dan
bebas dari elemen api, maka Kitab Angin yang ditulis
Leonardo Rimba lebih tepat diberi sub-judul menjadi
Kitab Angin Hening.

Saya mengenal Leonardo Rimba untuk pertama kalinya di
tempat kediaman Vincent sekitar dua tahun yang lampau.
Kesan pertama saya ia adalah seorang yang tenang, agak
sober dan rendah hati, walaupun konon pada saat itu ia
sedang mengalami masalah yang cukup berat bagi
kehidupan pribadinya tetapi yang ditanggungnya dengan
sikap pasrah sebagai "salib kehidupan"- untuk tidak
menyebutnya sebagai wujud "karma" masa lalu yang harus
dipikulnya - karena istilah yang terakhir ini agak
beraroma mistisisme.

Melalui perkenalan dan pergaulannya dengan Guru Besar
dan pakar Kundalini Yoga, Ir. Putu Ngurah Ardika dari
Bali, spiritualitasnya semakin berkembang, sejalan
dengan kemujurannya sehingga prakteknya mulai mendapat
beberapa klien bangsa asing. Maka Leo menjadi terkenal
sebagai salah seorang pakar Tarot yang profesional dan
kini mampu lebih mandiri lagi lewat praktek konsultasi
lewat profesi tersebut.

Leonardo Rimba mengakui bahwa Tarot hanyalah salah
satu sarana yang dipilihnya untuk 'scanning' karena ia
sudah terbiasa dengan media itu. Sama seperti para
'vincentis' lainnya melakukan 'scanning' melalui kartu
ceki, ciamsi, ataupun "fruit thin slicing" -bahkan
tanpa media sama sekali. Kini beliau sudah mampu
melakukan 'scanning' tanpa memakai alat apapun. Tengah
malam hari ini, Jum'at, 7 Juli 2006, pada siaran talk
show Fenomena pada jam 24.00 wib stasiun Trans-TV akan
mengadakan siaran tunda dengan pakar Tarot, Leonardo
Rimba. Menurut pengakuan Leonardo Rimba, ia mengadakan
kontak langsung dengan Yang Mahabenar yang
mengungkapkan "secuplik kebenaran" bagi dirinya dalam
melakukan "scanning". Kemampuan ini memang sudah
mencapai tingkat "advanced" karena pada umumnya para
'scanner' baru biasanya masih berhubungan dengan
Reticular Activating System, di mana sebenarnya fungsi
RAS ini juga untuk mampu mengatur akses kepada Yang
Mahabenar. Jikalau para pemula masih dihinggapi
masalah kepercayaan diri dan cenderung menjadi tidak
PD, maka hal tersebut sama sekali tidak tampak pada
pribadi Leonardo Rimba pada setiap penampilannya.

Beberapa tulisan Leonardo Rimba di masa lampau akan
disunting kembali untuk dijadikan bagian-bagian dari
Kitab Angin Hening. Tentunya juga dengan tulisan-
tulisan baru yang akan ditulisnya. Selamat menikmati
hembusannya yang sepoi-sepoi basah dan menyegarkan.

Jakarta, 7 Juli 2006.
Mang Iyus


II. KITAB ANGIN HENING oleh Leonardo Rimba
__________________________________________


II.1. In the Begining was the Word
__________________________________

"In the beginning was the Word, and the Word was with
God, and the Word was God."
(John 1:1)

Rekan-Rekan yang Berbahagia:

Komunikasi Empati bisa juga dinamakan sebagai "Mind
Reading" atau membaca pikiran. Biasanya istilah itu
diartikan sebagai membaca pikiran orang lain, walaupun
sebenarnya yang kita baca adalah pikiran kita sendiri.
Kita membaca pikiran orang lain melalui pikiran kita
sendiri. We read other people's minds through our own
minds.

Tidak ada yang kita baca selain pikiran kita sendiri
di dunia ini. Segala sesuatu yang kita lihat, kita
rasakan, kita dengar, kita baca, kita pahami?
segalanya itu melalui pikiran kita sendiri. Tidak ada
sesuatupun yang datang begitu saja tanpa melalui
saringan di kepala kita yang kita kenal sebagai
jaringan otak. Dan counterpart-nya di alam nir ruang
dan waktu yang kita sebut sebagai "pikiran" atau
"mind".

We read other people's minds through our own minds.

Pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa membaca
pikiran orang lain melalui pikiran kita sendiri?

Jawabannya mudah saja: Kita harus mulai dari awal
kembali, membayangkan ketika pertama kali kita
mengenal apa yang dinamakan kesadaran itu. Apakah yang
pertama kita sadari itu? Bukankah pertama kali kita
sadar bahwa diri kita adalah diri kita setelah
beberapa saat (bulan, tahun?) setelah kita terlahir di
dunia dalam kehidupan kali ini? Bukankah pertama kali
yang kita sadari bukanlah diri kita sendiri tetapi
orang lain? Ibu kita, ayah kita, lingkungan kita?

Sebagai seorang bayi kita tidak menyadari diri kita
sebagai kita, tetapi diri kita sebagai orang lain,
terutama sebagai ibu kita. Atau, lebih tepat, kita
sebagai bagian dari ibu kita. Tidak ada yang namanya
"ego" itu selain kebutuhan-kebutuhan fisikal yang
dirasakan oleh kita sebagai seorang bayi. Selanjutnya,
segalanya adalah ibu kita, dan kita sebagai bagian
dari ibu. Dan apapun yang dirasakan oleh ibu kita akan
kita rasakan: emosi-emosinya, kegalauannya,
kegembiraannya.

Setelah itu kita akan merasakan apa yang dirasakan
oleh orang-orang dekat yang ada di sekitar kita: ayah,
saudara-saudari, lingkungan sekitar, ? walaupun saat
itu kita masih seorang bayi yang belum bisa
berkomunikasi dengan kata-kata. Kita sadar bahwa kita
sadar, tetapi kesadaran kita adalah kesadaran orang
lain. Kesadaran yang ada di manusia-manusia dewasa
yang berada di sekitar kita.

Setelah berlalunya waktu, sedikit demi sedikit
lingkungan akan mengajarkan bahwa kita beda, bahwa
kita adalah seorang entitas yang berdiri sendiri.
Sebagai manusia modern, inilah sosialisasi yang kita
alami, walaupun kita juga menyadari bahwa banyak
manusia yang budayanya primitif tetap mengalami
identitas komunal sepanjang hidupnya.

Sebagai manusia modern kita akhirnya dibiasakan untuk
berpikir bagi diri kita sendiri, untuk menyatakan
kebutuhan kita, untuk mengartikulasikan kepentingan
kita. Dan lahirlah "ego". Ego adalah kita, diri kita
vis a vis orang-orang lain. Tetapi ego adalah
perkembangan lanjutan dari diri kita yang asli ketika
lahir di dunia ini. Kita lahir tanpa ego, dan ego itu
adalah bentukan budaya, dan ego itu adalah
superficial.

Setelah kita dewasa, kita akan terbiasa untuk berpikir
dalam konteks kita vs. mereka. Diri kita vs. diri
orang-orang lain. Yang kita lihat dan kita rasakan
hanyalah diri kita sendiri karena kita disosialisasi
seperti itu. Tidak ada lagi yang namanya merasakan
melalui orang-orang lain itu karena kita tahu bahwa
setelah tahap bayi berlalu, kita harus menghadapi
orang-orang lain sebagai orang lain, sebagai the
others. The others are not me, and I have to state my
own interests as opposed to those of the others'.

Kepentingan saya sebagai seorang entitas tersendiri
dinyatakan sebagai terpisah dari kepentingan
orang-orang lain: baik orang dekat, orang jauh,
lingkungan dekat, lingkungan jauh, masyarakat, maupun
dunia luas. Empati masih ada, karena kita masih bisa
merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang lain
itu, kalau kita mau. Tetapi, itu "tidak normal". Tidak
normal dalam tanda kutip. Yang dianggap normal itu
adalah dipertahankannya mode saya vs. orang lain itu.

---

Saya selalu mengatakan bahwa Komunikasi Empati adalah
bakat alam dari tiap orang. Artinya itu apa? Artinya
adalah bahwa Komunikasi Empati adalah sesuatu yang
telah dimiliki oleh tiap orang sebagai mode awal dari
interaksi kita sebagai manusia ketika terlahir ke
dunia. Komunikasi Empati telah kita lakukan dengan
fasih ketika kita masih bayi dan belum bisa
berkata-kata. Komunikasi Empati telah mendarah-daging
di diri kita ketika segala konsep tentang kepentingan
diri sendiri belum ditanamkan ke diri kita oleh
lingkungan budaya dimana kita dibesarkan. Lalu apa
susahnya?

Susahnya adalah untuk menguraikan benang kusut antara
"saya" dan "mereka" itu. Antara impressi-impressi yang
masuk ke dalam pikiran saya. Impressi-impressi itu
tetap sebagai impressi, dan selalu ada di pikiran
atau "mind" milik saya, tetapi saya merasa kesulitan
untuk membedakan apakah impressi itu mengenai saya
atau mengenai orang lain. Yang menghalangi tentu saja
ego saya. Dan ego itu tidak lain adalah konsep diri
saya yang ditanamkan oleh budaya dimana saya
dibesarkan. Saya dan Anda dibesarkan dengan pengertian
bahwa ego harus dipertahankan demi kewarasan pikiran.
Kalau tidak demikian, maka akan bisa terombang-ambing
antara kepentingan saya sendiri dan kepentingan orang
lain yang saya lihat sebagai saya juga.

Memang benar akan ada kemungkinan seperti itu,
terutama bagi mereka yang lemah mentalnya. Tetapi
disini saya akan berbicara tentang hal-hal yang umum
dan berlaku bagi semua orang, dan bukan tentang
psikologi klinis yang menyelidiki tentang hal
schizophrenia, paranoia, dan sebagainya. Ada orang
yang lemah mentalnya dan tidak bisa melakukan
komunikasi empati tanpa jatuh ke dalam kategori tidak
waras. Dan ada orang yang sehat jasmani dan rohani dan
mampu untuk melakukan komunikasi empati sebagaimana
komunikasi umumnya. Apa adanya dan tanpa dipaksakan.

Secara gamblang, Komunikasi Empati adalah
mengkomunikasikan apa yang kita baca dari pikiran kita
sendiri tentang apa yang dirasakan oleh orang lain,
apa aspirasinya, apa ketakutannya, apa kepentingannya.
Dan itu bisa kita lakukan apabila kita mau kembali
menelaah situasi yang terjadi ketika kita masih bayi
sebelum konsep ego ditanamkan oleh lingkungan kita.

Kita akan bisa melihat orang lain seperti kita melihat
diri kita sendiri. Kita akan bisa merasakan orang lain
seperti kita merasakan diri kita sendiri.

Tetapi ada bedanya dibandingkan dengan ketika kita
masih bayi ketika kita belum bisa menerangkan apa
sebenarnya yang kita lihat dan rasakan tentang
orang-orang lain itu. Sekarang, kita akan bisa
membedakan bahwa sesuatu yang kita lihat itu adalah
mengenai orang lain. The others. Dan bukan kita
sebagai diri kita yang merupakan entitas terpisah dari
orang-orang lain itu. Ketika kita masih bayi, hal itu
tidak bisa kita lakukan.

You could give it a try even now! Try to think and
feel as if you were somebody else: your close friend,
your mate, your brother, sister, neighbor, anybody.
Ucapkanlah, tuliskanlah? cobalah untuk diperiksa
dengan orangnya apakah benar demikian. Dan Anda telah
melakukan Komunikasi Empati!


II.2. And the Word was with God
_______________________________

Di bahagian sebelumnya telah saya tuliskan bahwa tahap
pertama dalam penguasaan Komunikasi Empati versi saya
adalah dengan mencoba membayangkan diri kita sendiri
sebagai orang lain. Seolah-olah kita adalah orang lain
itu. As if we were the other person with whom we are
having an empathetic communication Caranya memang
mudah, dan bahkan tahap-tahap selanjutnya juga sama
mudahnya.

Tahap berikutnya dijalankan dengan melakukan Osmosis.
Osmosis adalah istilah ilmu alam yang berarti
menyamakan isi dari sesuatu yang kosong dengan sesuatu
yang berisi. Kalau saya merupakan satu kertas kosong,
dan di sebelah saya ada satu kertas berisi tulisan,
maka isi dari kertas bertulisan itu bisa berpindah ke
kertas kosong yang merupakan diri saya. Istilah
lainnya adalah "Copy Paste".

Copy Paste adalah istilah yang digunakan oleh Vincent
Liong. Istilah saya sendiri adalah Osmosis. Maksud
dari istilah itu adalah penyerapan pengetahuan dari
seseorang tanpa melalui cara-cara umum; tanpa perlu
diajari secara formal, walaupun tetap harus ada
komunikasi intensif. Menurut saya, sampai saat ini
orang yang paling bisa melakukan Osmosis adalah
Vincent sendiri. Tanpa saya mengajari segala teknik
pembacaan kartu tarot, suatu saat tiba-tiba Vincent
mau membeli kartu tarot dan memberikan bacaan-bacaan
berdasarkan tarot terhadap orang yang bertanya
kepadanya. Saat itu saya juga langsung tahu bahwa
teknik yang digunakan oleh Vincent berbeda dari teknik
yang saya gunakan, walaupun secara sepintas terlihat
tidak ada bedanya.

Bagaimana cara Vincent melakukan Osmosis atau Copy
Paste itu bukanlah sesuatu yang aneh bagi kita
manusia-manusia normal. Bukankah kita sudah melakukan
Osmosis atau Copy Paste itu sepanjang hidup kita?
Bukankah kita sudah menyerap segala nilai-nilai budaya
dari masyarakat kita tanpa kita merasa mempelajarinya
secara sungguh-sungguh: nilai-nilai budaya dari orang
tua kita, dari teman sepergaulan kita, dari teman
sekolah kita, dari segalanya yang kita temui sepanjang
hidup kita? Dan kita telah melakukannya sejak kita
sadar bahwa kita sadar. Sejak kita sadar bahwa kita
memiliki kesadaran sebagai seorang entitas.

Tidak ada cara lain bagi kita dalam mempelajari
sesuatu selain melakukan Osmosis atau Copy Paste. Bisa
saja kita melanjutkan sekolah dan mempelajari segala
teknik itu, tetapi yang terutama kita lakukan adalah
Osmosis atau Copy Paste. Osmosis dari dosen-dosen
kita, dari pengajar kita, dari penulis yang kita
kagumi...

Segala teknik yang dipelajari itu cuma pengisi waktu
saja, cuma sebagai bukti empirik bahwa ada metode yang
diajarkan dan dipelajari. Tetapi untuk bisa dan
memahami mau tidak mau kita harus melakukan Copy and
Paste. Osmosis.

---

Setelah Osmosis atau Copy Paste itu Anda jalankan,
dengan mudah Anda akan bisa mengembangkan teknik Anda
sendiri, bahkan pengertian Anda sendiri. Pengertian
tarot yang dimiliki Vincent beda sama sekali dengan
pengertian yang saya miliki, walaupun mulanya adalah
Copy Paste. Mulanya Vincent mengamati cara saya
membacakan tarot bagi ratusan orang dalam waktu
beberapa bulan. Dan tiba-tiba, dia bisa membacakan
tarot untuk orang-orang lainnya.

Saya diam saja, mengamati, dan saya lihat memang benar
seperti itu caranya. Pengertian-pengertiannya beda
total, dan cara membacakannya juga berbeda, tapi hasil
akhirnya bisa sama. Hasil akhir dalam pembacaan tarot
adalah pemberian solusi bagi orang yang bertanya.
Selama hasil akhirnya bisa diterima dan valid, maka
segala teknik itu cuma bersifat aksesorial belaka.
Segala teknik itu cuma penghias belaka.

Mungkin apa yang saya tulis kali ini terasa
mengejutkan bagi sebagian rekan-rekan. Mungkin juga
ada sebagian rekan yang telah bisa meraba secara
intuitif bahwa pada akhirnya saya akan menuliskan hal
ini juga, apapun konsekwensinya.

Apapun konsekwensinya, saya harus menuliskan terus
terang bahwa Komunikasi Empati adalah bakat alam dari
tiap orang yang bisa dipelajari sendiri asalkan mau
membuka hati dan pikiran terhadap fenomena alamiah
yang telah kita alami dalam perkembangan hidup kita
sendiri sebagai manusia.

Pertama, seperti disebutkan dalam posting sebelumnya,
kita bisa memulai Komunikasi Empati dengan cara
membayangkan diri kita seolah-olah kita adalah orang
lain itu: teman, pasangan hidup, atasan, bawahan,
kolega bisnis, teman kuliah, dsb.... Dan kedua, dengan
mulai melakukan Osmosis atau Copy Paste dari
orang-orang yang Anda anggap telah mahir melakukan
Komunikasi Empati.

Memang istilah Komunikasi Empati ini sendiri baru
akhir-akhir ini saja digunakan oleh Vincent Liong,
baru dua bulan terakhir ini saja. Sebelumnya, Vincent
dan saya menggunakan bermacam-macam istilah yang
sebenarnya maksudnya sama saja.

Misalnya, Vincent akan bertanya kepada saya:
"Bagaimana feeling lo?". Atau dia akan bilang: "Gw
merasa harus... Kenapa ya? Kalo lo rasa gimana? Apa
memang begitu?". Dst, dst.

Segala percakapan dengan menggunakan bahasa
sehari-hari ini adalah Komunikasi Empati dengan
aliran-aliran Osmosis atau Copy Paste yang bergerak
dari alam bawah sadar orang yang satu ke bawah sadar
orang yang satunya lagi. Dan bergerak kembali dengan
input, output, dan feedback yang tidak berkesudahan.
Hasil akhirnya adalah pemenuhan isi dari seseorang
yang tidak memiliki dengan isi dari orang lainnya yang
memiliki.

Osmosis juga berlaku dua arah, dan tidak pernah hanya
berlaku searah. Vincent melakukan Osmosis atau Copy
Paste dari saya, dan saya juga melakukan Osmosis atau
Copy Paste dari Vincent. Akibatnya, kami bisa saling
membaca isi pikiran masing-masing bahkan tanpa
melakukan komunikasi secara lisan.

Nah, bukankah Osmosis atau Copy Paste ini adalah
sesuatu yang natural atau alamiah bagi Anda? Anda
telah melakukannya sepanjang hidup Anda. Waktu Anda
kuliah, Anda bisa menangkap maksud hati seorang dosen
hanya dengan mengamatinya. Waktu Anda masih pacaran,
Anda bisa tahu bahwa pacar Anda serius atau tidak
dalam berhubungan dengan Anda. Waktu Anda telah
menikah seperti sekarang, Anda bahkan bisa tahu kalau
pasangan Anda hanya mempertahankan formalitas belaka
karena segala desir romantik telah habis terpakai.

Jadi, Komunikasi Empati juga mengandalkan Osmosis atau
Copy Paste yang tidak berkesudahan ini antara Anda dan
orang-orang lainnya dengan mana Anda melakukan
komunikasi. Apabila Anda merasa bahwa sebagai seorang
komunikator Vincent termasuk seorang pakar, dan Anda
merasa sudah waktunya untuk melakukan Osmosis dari
Vincent, that's fine. Just, do it! Aturlah waktu untuk
bertemu dengan orangnya atau, kalau tidak bisa, cukup
hanya dengan chatting atau saling berkirim e-mail.

Kalau Anda merasa bahwa perlu melakukan Osmosis dari
saya, that's fine too. Aturlah waktu untuk bertemu
dengan saya atau saling berkirim e-mail dan SMS! Saya
sendiri tidak melakukan chatting.

Cuma sesederhana itu. Cuma... Tetapi tentu saja masih
banyak lagi pernak-perniknya. Sekali bertemu saja
tidak cukup; Anda perlu bertemu berulang-ulang untuk
bisa menghilangkan trauma atau schock setelah pertama
kali bertemu Vincent. Banyak yang schock setelah
pertama kali bertemu. Kalau bertemu dengan saya
mungkin tidak terlalu schock, tetapi Osmosis memang
memerlukan interaksi berkali-kali. Tidak cukup sekali
bertemu atau berinteraksi, tetapi perlu waktu
berulang-ulang sampai Osmosis atau Copy Paste itu
tuntas.

Kalau bertemu, mungkin cuma berjalan-jalan di Mall
saja, mungkin cuma minum-minum di cafe saja, apapun
bisa dilakukan. Yang penting Osmosis atau Copy Paste
itu bisa berjalan, dan Anda bisa mulai mempraktekkan
apa yang Anda bisa "serap" secara langsung itu.


II.3. And the Word was God
__________________________

Tulisan ini adalah yang terakhir dalam tiga serangkai
posting "Kitab Angin Hening" yang mengambil tema dari
Alkitab bagian Perjanjian Baru; Injil Yohannes, pasal
1, ayat 1. Saya merasa bahwa Injil Yohannes adalah
yang paling gamblang mengajarkan Komunikasi Empatik,
dan bahkan terbuka bagi siapa saja yang berminat untuk
membacanya. Dan bahkan bisa dibaca dan dipelajari
tanpa ada pengantar sama sekali dan rekomendasi dari
saya. So much for the Gospel of John.

Di bagian ini saya akan menulis tentang apa yang kerap
ditulis oleh Vincent sebagai "hardware". Apakah
hardware itu? Apakah hardware bukan perangkat keras
semacam pesawat TV, computer, DVD player, dsb... Tentu
saja jawabnya ya. Hardware adalah perangkat keras
semacam alat-alat elektronik tersebut. Tetapi
perangkat keras tidak bisa bekerja tanpa adanya
software. Software adalah program. Program yang
ditanamkan oleh siapa saja yang memiliki hardware itu.
Software bisa dipasang oleh pabrik pembuat hardware,
bisa juga di-install oleh Anda dan saya apabila telah
memiliki hardware-nya. Apabila Anda dan saya memiliki
pesawat computer, maka software apapun yang kompatibel
akan bisa di-install, dan kita akan bisa menjalankan
programnya. Programnya mungkin baru sama sekali,
tetapi hardware-nya, pesawat computer-nya sama.

Yang dimaksud oleh Vincent sebagai hardware adalah
perangkat keras yang ada di diri Anda. Yang ada di
diri Anda dan saya. Yang ada di diri Vincent juga. Itu
berupa kemampuan dasar kita untuk ber-empatik dengan
orang lain, untuk bisa mengerti apa yang ada di
pikiran dan perasaan orang lain. Caranya adalah dengan
membayangkan diri kita sebagai orang lain itu (lihat
posting pertama dengan subject "In the Beginning was
the Word"), dan dengan melakukan osmosis atau copy
paste dari apa yang ada di diri orang lain itu
sehingga kita bisa membaca apa yang ada di diri orang
lain itu melalui pikiran kita sendiri (lihat posting
kedua dengan subject "And the Word was God").

Dalam posting ketiga dan terakhir di seri ini, saya
akan berbicara tentang hardware atau perangkat keras
yang tidak lain dan tidak bukan adalah diri Anda
sendiri. Ketika bertemu dengan Anda, Vincent akan
memasangkan hardware itu di diri Anda sehingga Anda
akan bisa melihat sebagaimana dia melihat. Apabila
ternyata benar ada fenomenon anak indigo yang akan
membawa perubahan revolusioner di dalam dunia kita
saat ini, maka itu berarti bahwa Anda juga akan
menjadi seorang anak indigo. Ya atau tidak?

Menurut saya, apabila hardware seorang anak indigo
telah terpasang di dalam hardware Anda, maka otomatis
Anda telah menjadi seorang anak indigo pula. Nah,
hardware itu apa dalam konteks kita sebagai
manusia-manusia normal yang biasa apabila bukan
kemampuan mental kita. Hardware itu adalah kemampuan
mental kita untuk ber-empati dengan sesama, untuk
melakukan Komunikasi Empatik dengan orang lain.

Bisa saja Kemampuan Empatik itu dijabarkan dengan agak
sensasional seperti kemampuan mengetahui isi suatu
buku hanya dengan meletakkan telapak tangan ke atas
buku itu. Atau kemampuan untuk mengetahui jawaban dari
pertanyaan seseorang hanya dengan membelah buah
tertentu. Bisa buah apa saja: ketimun, tomat, mangga,
apapun... Bisa juga didefinisikan dengan kemampuan
memberikan solusi terhadap masalah-masalah hidup yang
dihadapi oleh orang-orang lain yang bertanya hanya
dengan mencabut satu kartu saja. Bisa kartu tarot,
bisa kartu remi, bisa kartu ceki, bisa kartu domino.
Bisa dengan apa saja, bahkan tanpa menggunakan apapun.

Mereka itu semua adalah kemampuan empatik, kemampuan
untuk mengerti sesama dengan mendalam tanpa memerlukan
segala pemeriksaan empirik seperti dilakukan oleh
mereka yang bergerak di bidang medik atau psikologi.
Ya, seorang ahli psikologi bahkan perlu memeriksa
kasus seseorang secara bertele-tele sebelum mampu
memberikan solusi dengan malu-malu. Kita praktisi
Komunikasi Empatik tidak seperti itu. Kita berbicara
apa adanya sesuai apa yang kita rasakan. Apa yang kita
rasakan itulah yang kita katakan atau kita tulis. Dan
kita mampu untuk melakukannya karena ada "virus"
Komunikasi Empatik yang tertanam di dalam hardware
atau kemampuan mental kita. Saya sebut hal itu
"virus"; virus dalam tanda kutip karena hal itu bisa
disebarkan, bisa ditularkan dengan cara Osmosis atau
Copy Paste.

Memang dalam trilogi ini dengan sengaja saya tidak
menulis secara "ilmiah". Buat apa membuat tulisan
ilmiah kalau tidak bisa membuat mereka yang membacanya
menjadi praktisi pula? Tujuan saya adalah meng-convert
mereka yang membaca trilogi ini menjadi para praktisi
Komunikasi Empatik. Caranya bisa dengan berjumpa
dahulu dengan Vincent, saya, atau praktisi-praktisi
sebelumnya. Bahkan bisa juga tanpa berjumpa sama
sekali dengan kami-kami ini. Cukup dengan membaca
tulisan ini saja, saya cukup yakin bahwa Anda akan
menjadi seorang praktisi Komunikasi Empati. Apalagi
kalau Anda nanti berkesempatan untuk berjumpa dengan
kami: dengan Vincent, dengan Bimo, dengan Mang Iyus,
dengan Mbak Cornelia Istiani, dengan saya.

---

Komunikasi Empatik itu adalah bakat alam dari tiap
orang. Bacalah kembali posting yang pertama.
Komunikasi Empatik itu berjalan dengan Osmosis atau
Copy Paste dari praktisi sebelumnya. Bacalah kembali
posting yang kedua. Dan Komunikasi Empatik itu akan
mulai berjalan di diri Anda setelah Anda
mempraktekkannya sendiri. Mulailah mempraktekkannya.
Tariklah melalui Osmosis apa yang Anda bisa tarik dari
postingan-postingan saya. Dari postingan-postingan
Vincent, dari postingan-postingan Mang Iyus. Mungkin
ada yang merasa lebih sreg dengan melakukan Osmosis
atau copy paste dari tulisan Vincent. That's fine! Ada
pula yang merasa lebih sreg dengan melakukan Osmosis
dari postingan Mang Iyus, postingan Bimo, dll...
That's fine too. Dan ada pula yang mungkin merasa
lebih sreg dengan melakukan Osmosis dari postingan Mas
Leo. Ha ha... that's fine too!

Anda cukup mengingat bahwa hardware itu adalah
kemampuan mental Anda sendiri. Dan Anda mampu untuk
membayangkan diri Anda ketika Anda belum memiliki ego
seperti ketika Anda masih bayi. Dan Anda mampu untuk
melakukan Osmosis atau Copy Paste dari kami-kami ini
yang disebut sebagai praktisi Komunikasi Empatik.
Memang Osmosis atau Copy Paste itu tidak berjalan
sekaligus tetapi sedikit demi sedikit. Tetapi apabila
prosesnya telah dimulai, maka hal itu akan berjalan
terus-menerus. Terus menerus tanpa henti sampai
saatnya berhenti sendiri ketika Osmosis atau Copy
Paste itu telah tuntas. Yang penting Anda telah
memulainya dengan menetapkan ingin melakukan Osmosis
dari siapa: bisa dari Vincent, dari saya, atau dari
siapa saja. Bahkan dari orang-orang yang Anda kagumi
sebagai praktisi-praktisi kenamaan yang tidak pernah
muncul di milis ini. Itu bisa saja. Why not?

Setelah Anda memulainya, maka proses itu akan berjalan
dengan sendirinya. Dan Anda akan bisa untuk mulai
mempraktekkan Komunikasi Empatik. Katakanlah apa yang
Anda rasakan harus Anda katakan ketika berjumpa dengan
orang-orang lain. Tuliskanlah apa yang Anda rasakan
harus tuliskan ke milis. Betapapun mustahilnya terasa
impressi itu, katakanlah atau tuliskanlah! Tidak ada
cara lain lagi untuk mempraktekkan Komunikasi Empatik
sampai mahir selain mulai mempraktekkannya.

Mula-mula akan terasa canggung. Saya mengerti itu,
saya juga mengalaminya. Tetapi lama kelamaan Anda akan
merasa segalanya berjalan dengan lancar. Seolah-olah
tidak ada batas antara diri Anda dan diri orang-orang
lain. Seolah-olah Anda bisa membaca orang-orang lain
itu seperti membaca diri sendiri. Dan memang seperti
itulah keadaan alamiah kita. Tidak ada yang membatasi
komunikasi antara kita manusia selain
prosedur-prosedur protokoler yang diprasyaratkan oleh
budaya modern kita. Secara aural, tidak ada
batas-batas itu. Dan kita memang transparan seperti
gelas-gelas kaca.

Mulailah mempraktekan apa yang Anda bisa tangkap dari
tiga posting saya dalam serial yang mengambil tema
dari Yohannes 1:1 ini, dan Anda akan menjadi seorang
praktisi Komunikasi Empatik hanya dalam waktu singkat
saja. Mudah bukan?

Memang mudah. Bahkan lebih mudah untuk menjadi empatik
daripada kebalikannya. Komunikasi Empatik jauh lebih
mudah daripada Komunikasi non-Empatik.

Saya rasa saya sudah menulis segala yang penting
tentang Komunikasi Empatik menurut saya. Saya bahkan
yakin bahwa sebagian dari Anda akan menjadi
Komunikator Empatik yang lebih handal daripada saya.
Why not? Dan tidak ada buku apapun yang akan bisa
memuat segala sesuatu yang bisa dan akan bisa ditulis
tentang Komunikasi Empatik. Saya menulis apa adanya
seperti penulis Injil Yohannes itu menulis di akhir
bukunya. Tidak ada buku apapun yang akan bisa memuat
apa yang akan ditulis oleh segala praktisinya. Tidak
akan ada habis-habisnya. Worlds without end.


II.4. Penutup
_____________

Dalam tiga posting sebelumnya dengan subjects:
1. In the Beginning was the Word
2. And the Word was with God
3. And the Word was God,
saya telah menuliskan segala sesuatu yang dapat saya
tuliskan tentang Komunikasi Empati.

Mungkin sebagian rekan akan bertanya kepada saya:
Apakah cuma sebegitu saja?

Dan saya akan menjawab: Ya, memang cuma sebegitu saja.
Apalagi yang mau dituliskan apabila tujuan Anda adalah
menjadi seorang komunikator empatik?

Cara menjadi seorang praktisi Komunikasi Empatik cuma
satu: be an empathetic communicator? Just that! Segala
macam teori tentang Komunikasi Empatik akan Anda bisa
tuliskan sendiri, akan Anda bisa cari dari segala
macam teori tentang komunikasi dan psikologi dari yang
terawal sampai yang terkini. Tetapi itu semua tidak
akan ada gunanya apabila Anda sendiri tidak
mempraktekkan Komunikasi Empati itu. Apabila Anda cuma
paham teori dan tidak mampu menjadi praktisi.

Seperti saya tuliskan di dalam teks Kitab Angin Hening
yang terbagi dalam tiga bagian itu, tujuan saya adalah
meng-convert Anda yang merasa bahwa menjadi seorang
Komunikator Empatik adalah salah satu hal yang bisa
membawa kebaikan bagi hidup Anda, pekerjaan Anda,
profesi Anda, pergaulan sosial Anda. Apabila yang saya
tuliskan ternyata bisa membawa Anda menjadi seorang
Komunikator Empatik seperti yang Anda inginkan, maka
saya telah mencapai tujuan saya. Tujuan Anda tercapai,
dan tujuan saya juga.

Hanya ada satu pengantar untuk Kitab Angin Hening ini
yang ditulis oleh rekan tercinta saya Juswan Setiawan.
Dan itu cukup. Dan hanya ada satu Kitab Angin Hening
yang berisikan instruksi untuk menguasai Komunikasi
Empati versi saya; plus Komentar oleh Jeni Sudarwati.
Dan itu cukup. Kitabnya memang singkat sekali. Saya
tidak merasa bahwa yang saya tuliskan lebih panjang
daripada Injil Yohannes yang menginspirasikannya.
Tetapi saya juga merasa bahwa karena inspirasinya
berasal dari Alam Bawah Sadar kolektif, maka dampaknya
juga akan terasakan disana. Akan terasakan di Alam
Bawah Sadar dari Anda sendiri yang merasa bahwa Anda
memiliki koneksi personal dengan apa yang saya tulis.

Yang saya tuliskan muncul begitu saja ketika tangan
saya menyentuh keyboard. Satu kata yang muncul
berulang-ulang di kepala saya adalah:
"In the beginning... God"
"In the beginning... God"
"In the beginning... God"

Saya tahu bahwa ada dua kitab di Alkitab yang kita
kenal yang memiliki pembuka dengan kata-kata itu,
yaitu kitab Kejadian (Genesis), dan Injil Yohannes.
Saya diam saja berhari-hari sampai menyentuh keyboard
untuk mulai menulis. Dan ternyata energi yang datang
berasal dari Injil Yohannes.

Ada energi-energi yang datang dan mengalir begitu
saja. Saya hanya perantaranya saja. Energi itu berasal
dari penulis Injil Yohannes yang telah bertahan selama
2000 tahun sebagai saksi Komunikasi Ter-Empatik yang
pernah dilakukan oleh seorang anak manusia.

Dan Anda bisa menjadi satu lagi anak manusia yang
melakukan Komunikasi Empatik itu. Dan Anda akan
dikenal sebagai seorang Komunikator Empatik. Saya
hanyalah perantara saja bagi Anda untuk mengenalnya.

Tidak perlu ada synopsys dari tulisan saya yang begitu
singkat. Seperti rekan-rekan bisa membacanya sendiri,
definisi-definisi semuanya mengalir begitu saja di
kitab itu. Dan saya tidak perlu menuliskannya sendiri
dalam suatu synopsys atau ringkasan. Kalau saya
menyediakan ringkasannya, maka ada sebagian rekan yang
akan tidak membaca teks-nya. Dan itu akan bersifat
self-defeating, akan mensabot maksud dari teks itu
sendiri. Ada energi-energi yang ditransfer, dan
energi-energi itu terdapat di dalam teks. Anda harus
membacanya untuk menerimanya.

Setelah Anda menerima energi-energi itu, Anda bisa
mulai mempraktekkannya. Dan Anda bisa pula membuat
synopsys atau ringkasan dari tulisan itu. Mengapa
tidak? Anda bisa membuat synopsys dari tulisan saya
itu dan mengirimkannya kepada saya.

Dan saya akan menerimanya dengan gembira. Dan saya
akan berkata "Amin". Amin bahwa apa yang diinginkan
telah dikabulkan. Dan apa yang diniatkan telah
terlaksana. Amin karena Anda telah menjadi seorang
praktisi Komunikasi Empati.

---

Dalam acara Fenomena tentang Tafsir Mimpi di TransTV,
pendekatan saya disebut sebagai "Pendekatan Mistik".
So what? Apakah pendekatan mistik negatif? Apakah
pendekatan mistik menjadikan Anda seorang yang
negatif? Menurut saya tidak. Menurut saya, setiap
orang sedikit banyak adalah seorang "mistik", seorang
yang bisa melakukan hubungan langsung dengan yang
Illahi. Dengan Alam Bawah Sadar Kolektif. Dengan
medium kolektif dimana kita semua berkomunikasi secara
transparan, terbuka, tanpa ada sekat-sekat itu.

Silahkan kirimkan kesan dan pengalaman Anda kepada
saya setelah membaca tulisan itu.

Everything is possible with God!

Damai di Bumi,
Drs. Leonardo Rimba, MBA

Jakarta, Juli 2006


III. Komentar oleh Jeni Sudarwati
_________________________________

Tulisan Mas Leo ini sampai membawa tulisan kata
pengantarnya menjadi hampir serupa. Karena tulisan di
dalamnya yang tenang jadi pembaca maupun penulis kata
pengantarnya menuliskan dengan tenang pula.

Dan kadang-kadang kalau saya amati anda hampir-
hampir "menghilangkan" diri anda sendiri. Di lain sisi
juga seperti Seraphita - sifatnya berbeda dengan
manusia lain. Misterinya bukan terletak pada unsur
gelap dari masa lampaunya, tetapi pada unsur kodrat
keberadaannya.

Anda mungkin pernah mengalami sesuatu hal yang sungguh
berat untuk anda atasi, yang tidak mudah dibagi dan
diceritakan kepada orang lain karena mungkin tidak
akan dipahami begitu saja. Mungkin itulah yang
mengantarkan anda ke kedewasaan yang seperti ini,
kedewasaan yang dalam hal ini anda adalah orang yang
tenang.

Mengenai tulisan anda, Dalam Bagian Pertama: In the
Begining was the Word. Anda mengatakan bahwa
Komunikasi empati adalah bakat alam dari tiap orang.
Dan sepertinya memang begitu bahkan tanpa mengetahui
namanya (bahwa itu empati) sekalipun, atau kalau naif
dan serampangannya bisa disebut flip-flop. Sahabat
dekat saya pernah satu kali tiba- tiba datang ke rumah
tanpa keperluan apapun padahal sudah malam apalagi dia
perempuan, rumah saya sudah gelap dan pagar sudah
dikunci. Tapi dia tidak telpon, hanya katanya diam
didepan rumah lalu pergi. Padahal waktu itu saya belum
tidur.

Ketika di hari lain saya tanya ada perlu apa waktu
itu,katanya "tiba-tiba ingin ketemu aja". Saya tidak
bilang kalau sebenarnya waktu itu perasaan saya memang
sedang tidak enak alias sedih begitu. Dalam hati saya,
apa dia merasakan apa yang saya rasakan.

Yang lucu yang barusan tanggal 27 Juli ini, ketika
saya merasa terlalu banyak beban dan sendirian. "Tak
ada angin, tak ada hujan" seorang teman yang lain SMS,
Mungkin anda akan menganggapnya konyol tapi ini
benar-benar terjadi, saya sendiri hampir tidak percaya
memangnya dia sedang melamunkan apa... Saya keras
kepala sedangkan dia selalu mengalah, dia selalu
menjelek-jelekkan saya secara terang-terangan begitu
juga sebaliknya. Kita hampir tak pernah sama.

Begini SMS-nya: "Hai Jelo mgkn km akn anggap SMSku ni
aneh tapi aku akn bcr jujur. Walaupun aku br knl km &
kita g sberapa dkt tp aku senang & brsyukur bs ktm km
wlp kadng aku iri ma km krna km pnya kelebhn yg
mrupakn kelemahanku. Tp aku sadr klo stp mansia pny
positif & negatif. Jd iriku tu kujadikn sbg pegangan
ato ptnjuk bwt aku agr aku lbh baek lg. Kdg aku jg
sebel ma skp jelek km & aku pengen marah & nendang km
tp aku sadar lg klo aku jg pny skp yg lbh2 jelek dr
km. Apapun itu aku bersyukur krna Allah tlah
pertemukan kita. Sory y klo kata2 ku nyinggung km.
Makasih bnyk buat segalany."

Meski terlihat konyol tapi ini adalah ungkapan yang
paling jujur yang pernah saya terima justru ketika
saya tidak tahu harus bicara dengan siapa.

Mengenai impressi - bagi saya yang ini sedikit rumit.
Semoga saya bisa menyambungnya lain waktu.

Salam,
Jeni Sudarwati


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com


Quotes :
" Spirituality is essentially a journey within. You need no preparations, no
luggage to carry - nothing absolutely. What you need is just : LOVE ! And this
Love, can only come as an after effect of self-actualization, achieved through
the practice of meditative way of life."
- Anand Krishna -




<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise