|
|
Subject: Re: [kisunda] ngalongok Mang Ayat - msg#00322
List: culture.region.indonesia.sunda
aduh mani teu ajak2 euy ka uing mah
kumincir <ia.adnan@xxxxxxxxx> wrote: Rek jung pisan indit jumaahan,
aya SMS ti Kang Rahmat UI, ngajakan ngalongok
Mang Ayat. Nya ba'da jumaahan kuring langsung indit ka RS Cikini, meungpeung
aya batur. Panggih jeung rombongan ti UI (Kang Rahmat, Kang Mumu & Mas ....)
di kamar E2, tempat nginepna Mang Ayat.
Ngawitan teu damangna mah tos aya tilu sasihan ka pengker cenah, Mang Ayat
teh, mung "drop"na dugi ka kedah diopname mah tos 10 dinten. Sanaon kaetang
wales (DM & gagal ginjal duanana), katingalna mah Mang Ayat teh rada cenghar
keneh. Hayu urang du'akeun, mudah2an Mang Ayat sing enggal2 dijait
kasakitna, sing disehatkeun deui. Aamiin.
--
sikandar
[Non-text portions of this message have been removed]
PENTING..!
attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.
dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.
terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.
SPONSORED LINKS
Culture
Bahasa indonesia
Sunda
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "kisunda" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
kisunda-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
------------------------------------------------------------------------
Agus Kurniawan (PAKUSARAKAN)
hp 08128377662
--------------------
PT. Smarthub Technologies
Gedung raudha Lt 1 Blok A - 1
Jl. Terusan Hr Rasuna Said No. 21
tlp 021 5279909 fax 021 5279908
Jakarta Selatan
Http://www.smarthubtech.com
---------------------------------
Yahoo! Autos. Looking for a sweet ride? Get pricing, reviews, & more on new
and used cars.
[Non-text portions of this message have been removed]
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Was this page helpful?
Thread at a glance:
Previous Message by Date:
click to view message preview
Re: Agama?
Pasar Itu Bernama Agama
Pradana Boy ZTF
Selama 25 tahun terakhir, para analis agama mengidentifikasi agama
sebagai kekuatan kelabu (dark force) dalam berbagai urusan kehidupan
manusia.
Bagi orang beragama, ungkapan ini terasa ganjil, cenderung
menyakitkan. Tetapi, tesis seperti ini lahir dari, setidaknya, dua
sumber utama, yaitu terkait stereotipe tentang lahirnya Gerakan
Keagamaan Baru (New Religious Movement) di bawah bendera
fundamentalisme dan lahirnya kelompok-kelompok keagamaan baru yang
beroperasi di luar kelaziman komunitas keagamaan konvensional (Barkun,
2004).
Fenomena keagamaan global ini dengan jelas menemukan pembenarannya
dalam konteks Indonesia. Di samping lahirnya gerakan fundamentalisme
keagamaan, kehidupan beragama di Indonesia juga ditandai dengan
lahirnya gerakan keagamaan baru dalam bentuk kelompok-kelompok
keagamaan yang dianggap menyimpang.
Secara sosiologis, fenomena lahirnya kelompok-kelompok keagamaan
seperti ini bisa disebut sebagai upaya untuk memperebutkan agama
sebagai pasar dominasi sosial. Piere Bourdieu, misalnya, menyebut
agama memiliki potensi sebagai arena persaingan, sebagaimana
arena-arena kehidupan lainnya, di mana agen dan institusi berlomba
melakukan aktivitas produksi, akumulasi dan kontrol atas bentuk yang
sah dari kapital, dalam hal ini adalah kapital religius.
Membius masyarakat
Dengan bahasa yang agak berbeda, Max Weber meyakini bahwa agama adalah
sumber vital bagi legitimasi kekayaan dan kekuasaan, dan dengan
sendirinya adalah dominasi. Sebagai sumber dominasi, agama bisa
menjadi media yang paling efektif untuk memengaruhi komunitas sosial
tertentu. Efektivitas agama sebagai sumber dominasi ini tidak bisa
dilepaskan dari kondisi bahwa agama sebenarnya juga memiliki potensi
untuk membius masyarakat.
Pembiusan terhadap masyarakat dengan menggunakan agama sebagai sumber
bisa berjalan ke dua arah (positif dan negatif) tergantung kepada
otoritas sang pembius. Jika pembiusan itu dilakukan oleh figur-figur
yang berotoritas, massa yang terbius itu justru akan tergiring kepada
arah yang positif. Dalam hal ini, pemimpin-pemimpin keagamaan adalah
para pembius yang berhasil mengelola bius agama untuk mengarahkan
massanya ke arah yang positif. Sebaliknya, jika aktivitas pembiusan
itu dilakukan oleh figur-figur yang secara sosial mengalami alienasi
dan bermasalah dengan integrasi pada level sosial serta memiliki nalar
keagamaan yang penuh anomali, pembiusan itu justru akan bergerak ke
arah negatif.
Ironisnya, lahirnya interpretasi dan perilaku keberagamaan baru
sebagaimana yang diperkenalkan oleh aliran-aliran keagamaan baru
tersebut justru datang dari figur-figur yang alih-alih memiliki
otoritas untuk melakukan reformulasi terhadap ajaran agama dalam
kemasan yang lebih kontekstual dan membumi, yang terjadi justru
figur-figur ini menjadikan "penyimpangan" terhadap agama sebagai
sumber legitimasi mereka dalam percaturan kehidupan sosial.
Weber menyebut bahwa dalam konteks sosiologis keberagamaan masyarakat
akan selalu ada apa yang dia sebut sebagai model pasar religius dalam
kerangka pasar kultural. Bagi Weber, dalam struktur pasar yang semacam
ini, pemuka agama (birokratis), para nabi (yang karismatik) adalah
para produsen "kebaikan simbolik" yang berkompetisi memperebutkan
tempat di antara kalangan masyarakat awam.
Sayangnya, sebagai produsen "kebaikan simbolik", para pemimpin
kelompok-kelompok keagamaan yang dianggap sesat itu justru sama sekali
tidak memiliki kualifikasi Weberian sebagai pemuka agama (birokratis),
dan terlebih para nabi (yang karismatik). Akibatnya, "kebaikan
simbolik" yang mereka tawarkan tidak bisa menjangkau pasar yang lebih
luas, sebaliknya justru memicu reaksi negatif dari massa.
Karena itu, di luar perdebatan apakah secara teologis lahirnya
kelompok-kelompok keagamaan seperti itu bisa dibenarkan atau tidak,
secara sosiologis, fenomena seperti itu bisa dihubungkan dengan hasrat
melahirkan dominasi baru di tengah masyarakat.
Sayangnya, kekuatan baru yang tengah berebut dominasi melalui agama
itu memiliki tidak hanya nalar yang menyalahi nalar publik, tetapi
juga tidak memiliki "kapital religius" dan "kapital sosial" yang cukup
memadai. Akibatnya, alih-alih bisa menciptakan dominasi, tindakan itu
justru membawa mereka ke dalam jurang alienasi.
Pradana Boy ZTF
Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Malang
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Next Message by Date:
click to view message preview
Playboy laku ?
Teu salah tina sangkaan, Playboy di Indonesia, bakal "meledak" ngelehkeun
majalah-majalah nu sanesna, mangga geura aos wartosna tina detikcom. Teu
kudu masang iklan gede-gedean, ............. da geus dipromosikeun gratis
...............
========================
Walah! Calon Konsumen Playboy Sudah Bayar DP ke Loper Koran
Nurul Hidayati - detikcom
Dicaci, tapi ditunggu. Itulah Playboy Indonesia. Meskipun lebih banyak suara
kontra yang terdengar, namun jangan sangka, minat berlangganan, atau membeli
majalah -- yang oleh penerbitnya di Amrik sono disebut berkategori soft
core -- cukup tinggi.
Tak hanya di kalangan swasta, para pegawai atau pejabat instansi pemerintah
banyak yang dilanda demam Playboy. "Loper koran di kantor saya sudah diantre
calon pembeli jika Playboy terbit," kata seorang pejabat di sebuah kantor
pemerintah di Magelang, Jawa Tengah, yang menolak disebut namanya pada
<b>detikcom</B>, Jumat (27/1/2006).
"Bahkan sudah ada yang kasih DP (uang muka) 50%. Kayak beli motor saja,"
imbuhnya sambil terkekeh. Playboy Indonesia baru terbit akhir Maret/April.
Jadi masih cukup lama juga majalah yang dijanjikan tidak akan ada gambar
nudisnya itu untuk bisa dinikmati.
Loper koran di kantor pejabat itu juga sering bercerita bahwa di
kantor-kantor lainnya, dia sering ditanya apa Playboy sudah terbit. Kalau
sudah, para penanya itu tertarik untuk beli.
Para calon pelanggan Playboy itu kebanyakan juga konsumen tetap tabloid syur
seperti Lisptik dan Exotica, yang cukup populer di Magelang. "<i>Traffic</I>
beli kedua tabloid itu di kantor saya cukup tinggi," imbuh pejabat itu yang
sudah kenyang menikmati Playboy saat sekolah di Eropa ini.
Di Jakarta, minat mengonsumsi Playboy yang baru embrio juga tinggi. Sumi,
seorang sub agen media massa cetak di kawasan Pondok Indah menyebutkan,
banyak pelanggannya yang sering menanyakan majalah Playboy. Bahkan sudah ada
yang mendaftar untuk membeli.
"Yang mau beli sudah saya catat, jumlahnya saat ini 30-an orang," katanya
pda detikcom
Anda juga sudah mengantre?
WALUYA
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Previous Message by Thread:
click to view message preview
ngalongok Mang Ayat
Rek jung pisan indit jumaahan, aya SMS ti Kang Rahmat UI, ngajakan ngalongok
Mang Ayat. Nya ba'da jumaahan kuring langsung indit ka RS Cikini, meungpeung
aya batur. Panggih jeung rombongan ti UI (Kang Rahmat, Kang Mumu & Mas ....)
di kamar E2, tempat nginepna Mang Ayat.
Ngawitan teu damangna mah tos aya tilu sasihan ka pengker cenah, Mang Ayat
teh, mung "drop"na dugi ka kedah diopname mah tos 10 dinten. Sanaon kaetang
wales (DM & gagal ginjal duanana), katingalna mah Mang Ayat teh rada cenghar
keneh. Hayu urang du'akeun, mudah2an Mang Ayat sing enggal2 dijait
kasakitna, sing disehatkeun deui. Aamiin.
--
sikandar
[Non-text portions of this message have been removed]
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Next Message by Thread:
click to view message preview
Playboy laku ?
Teu salah tina sangkaan, Playboy di Indonesia, bakal "meledak" ngelehkeun
majalah-majalah nu sanesna, mangga geura aos wartosna tina detikcom. Teu
kudu masang iklan gede-gedean, ............. da geus dipromosikeun gratis
...............
========================
Walah! Calon Konsumen Playboy Sudah Bayar DP ke Loper Koran
Nurul Hidayati - detikcom
Dicaci, tapi ditunggu. Itulah Playboy Indonesia. Meskipun lebih banyak suara
kontra yang terdengar, namun jangan sangka, minat berlangganan, atau membeli
majalah -- yang oleh penerbitnya di Amrik sono disebut berkategori soft
core -- cukup tinggi.
Tak hanya di kalangan swasta, para pegawai atau pejabat instansi pemerintah
banyak yang dilanda demam Playboy. "Loper koran di kantor saya sudah diantre
calon pembeli jika Playboy terbit," kata seorang pejabat di sebuah kantor
pemerintah di Magelang, Jawa Tengah, yang menolak disebut namanya pada
<b>detikcom</B>, Jumat (27/1/2006).
"Bahkan sudah ada yang kasih DP (uang muka) 50%. Kayak beli motor saja,"
imbuhnya sambil terkekeh. Playboy Indonesia baru terbit akhir Maret/April.
Jadi masih cukup lama juga majalah yang dijanjikan tidak akan ada gambar
nudisnya itu untuk bisa dinikmati.
Loper koran di kantor pejabat itu juga sering bercerita bahwa di
kantor-kantor lainnya, dia sering ditanya apa Playboy sudah terbit. Kalau
sudah, para penanya itu tertarik untuk beli.
Para calon pelanggan Playboy itu kebanyakan juga konsumen tetap tabloid syur
seperti Lisptik dan Exotica, yang cukup populer di Magelang. "<i>Traffic</I>
beli kedua tabloid itu di kantor saya cukup tinggi," imbuh pejabat itu yang
sudah kenyang menikmati Playboy saat sekolah di Eropa ini.
Di Jakarta, minat mengonsumsi Playboy yang baru embrio juga tinggi. Sumi,
seorang sub agen media massa cetak di kawasan Pondok Indah menyebutkan,
banyak pelanggannya yang sering menanyakan majalah Playboy. Bahkan sudah ada
yang mendaftar untuk membeli.
"Yang mau beli sudah saya catat, jumlahnya saat ini 30-an orang," katanya
pda detikcom
Anda juga sudah mengantre?
WALUYA
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
|
|