logo       

Re: Duit Setan Dilebok ku Jurig: msg#00317

culture.region.indonesia.sunda

Subject: Re: Duit Setan Dilebok ku Jurig

Alhamdulillah aya keneh dulur urang anu kitu, muga muga wae urang sing
ditangtayungan ku gusti Alloh ditebihkeu kanu rejeki nu teu pararuguh.

ieu sim kuring boga pangalaman, ternyata jadi pagawe nagari teh teu
misleuk-misleuk teuing. Dina hiji waktu sim kuring piknik ka hiji kota gede di
Ustrali (sim kuring keur jadi TKI)nya ngendong teh di hiji homestay anu urang
indonesia. Ari barudak anu matuh didinya teh anu keur sarakola boh SMA atawa
paguron luhur. Diantara barudak eta teh aya budak SMA nu keur sakola didinya
(tanpa beasiswa) nu kolotna teh pagawe Agraria di tingkat kabupaten(lain
kapalana) ngan saukur stap ceuk budak eta teh,ari anu lain mah kolotna teh
swasta/pangusaha. Ari biaya barudak eta teh 100 dolar/minggu/saurang atawa
sekitar 700 rebu meureun/minggu keur dahar jeung sare wungkul, jaba bayaran,
ongkos jeung pulsa keur telepon keupeul.Sajeroning kitu,sim kuring mah ngan
ngalamun wae, geus sakitu makmurna meureun pagawe nagari urang teh pangna bisa
nyakolakeun ka LN oge,tapi boa ketah meureun aki/nini budak eta te
h jalama beunghar, bari tuluy ngalamun komo meureun dunungan bapana budak eta
pisakumahaeun.
wallahualam.

abah kasep <abahkasep2003@xxxxxxxxx> wrote:
Aya kiriman ti tatanggi....


Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi


Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak
kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat
Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah
dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi
itu menyenangkan sekali.Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih
menyenangkan.

Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih
menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di
Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian
saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi
pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat
lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya
prinsipsatu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram
menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati
saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil
jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram.
Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam
pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada
isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej
banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak
begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa
korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu.
Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten
dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan
selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita.
Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama
menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita
adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak.
Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.

Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga
besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum
bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu
adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi
kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman
seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah
mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya,
barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau
pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya
karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun.
Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi
sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk
tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena
saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka
buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara
lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan
apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan
mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak
ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak
seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan
cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan,
setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti
in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati.
Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama,
bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak
berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola
apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia
sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau
bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti
sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa
memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang,
dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya
sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang
diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi
dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan.
Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke
toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah
perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan
sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan
pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua
penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan
banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian
penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi
pandang saya, betapa tidak adilnyakalau tidak mengungkap temuan itu.
Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan.
Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan
lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai
logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan
dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung,
karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya
terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan
memintaagar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar,
kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan
tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua
sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti
mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya
dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat
berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang
lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama
bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, ?Sudahlah,
Dik
Arif tidak usah munafik.? Saya katakan, ?Tidak munafik bagaimana Pak?
Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.?
Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih
dua tahun ia berikan pada anak sayaadalah uang dari klien. Ketika
mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata
berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat
dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip
untuk menolak uang suap.

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa
mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa
pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri
saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud
syukur.

Ia lalu mengatakan, ?Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah
saya pakai,? katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah,
amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk
keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski
ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu
semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka.
Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan
juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap
pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya
bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala
seksi.

Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya
hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, ?Makan uang itu, satu rupiah
pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak
pernah percaya satu pun perkataan kalian.? Mereka tidak bisa bicara apa pun
karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka
tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya
saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi
petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika
melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan
konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi
alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang
yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai
sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya,
ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak
rumah
dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar
uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak
punya uang serupiah pun.

Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya
Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga.
Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang
dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit
itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita
dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke
rumah sakit. Wallahu a?lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya
atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak
rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan
isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena
ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi
karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan
karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi.
Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus.
Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling
susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata
Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang
membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan
seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan
saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, ?Kenapa tidak
bilang-bilang?? Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu
pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata
kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan
keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang
tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga.
Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa
pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi
juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu,
saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain,
dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak
dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah
puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan
bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen.
Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi
mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan
siapa.

Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi.
Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan
dengan bercanda, ?Uang setan ya dimakan hantu.?

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian
berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan
kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali
orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba
miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah
memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya
menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu
hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari
mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan
kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung
biasanya memberi uang hari Jum?at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih
uang Jum?atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi
juga.

Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran
dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari
atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti
ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan
membaca Al-Qur?an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan
korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada
juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena
dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara
ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di
STAN.

Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika
keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga
dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya
ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah
terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor.
Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika
sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu
sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup
yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja.
Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan
memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil
rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan
pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca).

Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni
2005)



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.

[Non-text portions of this message have been removed]



Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea



---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS


Visit your group "Baraya_Sunda" on the web.

To unsubscribe from this group, send an email to:
Baraya_Sunda-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


---------------------------------




---------------------------------
Start your day with Yahoo! - make it your home page

[Non-text portions of this message have been removed]



Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise