logo       

PR: Memandang Bubat Dari Luar: msg#00316

culture.region.indonesia.sunda

Subject: PR: Memandang Bubat Dari Luar

Di handap ieu seratan Her Suganda na PR dinten ieu, ngeunaan perang Bubat
(aya kalepatan sakedik ngeunaan Anepaken). Perkawis Kidung Sunda, mangga
buka http://su.wikipedia.org/wiki/Kidung_Sunda
jk
------------------------
*Sabtu, 23 Juli 2005*
Oleh HER SUGANDA

SEJARAH tak bisa ditutup-tutupi, apalagi dihilangkan. Sedalam apapun
dipendam, bahkan dikubur sekalipun, suatu saat sejarah akan terangkat muncul
dan menampakkan diri ke permukaan sebagai pengakuan kebenaran.

Salah satu peristiwa lama yang selama ini terpendam adalah menyangkut Perang
Bubat. Tujuh tahun lalu, peristiwa tersebut sempat ditulis wartawan Galura
Aan Merdeka Permana melalui Harian Pikiran Rakyat (29 Juni 1998). Di bawah
judul "Perang Bubat Tidak Pernah Terjadi?", Aan mengutip pendapat Drs. Aris
Soviyani, Kepala Seksi Penyelamatan Benda Purbakala Kota Mojokerto, Jatim
yang meragukan terjadinya peristiwa tersebut. Alasannya, karena perang
tersebut tidak dilengkapi data akurat. Katanya, selama 16 tahun bertugas
mengikuti penggalian purbakala di Trowulan dan di lapangan Bubat, tak ada
temuan yang dapat mendukung terjadinya peristiwa itu.

Untuk melengkapi tulisannya, wartawan dan pengarang yang gemar melakukan
perjalanan itu melengkapi tulisannya dengan ilustrasi foto sebuah jalan
kecil yang lebih mirip disebut gang. Di mulut jalan terpampang papan
penunjuk: Jalan Bubat. Jalan kecil itu merupakan pintu masuk ke areal Bubat,
wilayah Kerajaan Majapahit tempo doeloe.

Tulisan itu segera saja menggelitik widyapurbawan Prof. Ayatrohaedi, Guru
Besar Arkeologi Universitas Indonesia. Bukan karena Mang Ayat, begitu
panggilan akrabnya, berasal dari Sunda. Sebagai widyapurbawan (arkeolog)
yang pernah bertugas di Trowulan, ia merasa tergerak hatinya untuk
menanggapi pendapat Aris Soviyani lewat tulisannya berjudul "Perang Bubat:
Benarkah Tidak Pernah Terjadi?" ("PR", 11 Juli 1998).

Judul tulisannya yang diakhiri dengan tanda tanya (?) tidak dimaksudkan
untuk menunjukkan keraguannya terhadap Perang Bubat. Sebaliknya, lebih
merupakan gugatan terhadap pendapat Aris Soviyani yang meragukan peristiwa
tersebut. Menurut Mang Ayat, jika benar peristiwa tersebut tidak pernah
terjadi, ia bersyukur karena dengan demikian, salah satu dari yang
mengganjal keserasian hidup damai bertetangga memperoleh pijakan yang kuat
untuk dicampakkan.

Namun, bagian lain tulisannya malah menepis dugaan selama ini yang
menyebutkan Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Menurutnya, anggapan
itu makin tipis jika kita mempercayai sepenuhnya berita Negarakertagama.
Dalam naskah tersebut, Bubat dilukiskan sebagai bandar tempat kapal atau
perahu berlabuh karena terletak di tepi sebatang sungai besar.

Di sana terdapat sebuah lapangan upacara yang luas tempat dipusatkan
keramaian atau upacara kenegaraan dan keagamaan. Jika ingin menghadiri
upacara tersebut, Raja Hayam Wuruk datang ke Bubat dengan mengendarai kereta
yang ditarik empat ekor kuda.

Disebutkannya, pusat Kerajaan Majapahit berbeda dengan anggap-an awam selama
ini yang membayangkan tempat tersebut sebagai sebuah wilayah yang
dikelilingi tembok tinggi sebagai benteng pertahanan. Pusat kota Kerajaan
Majapahit dikelilingi oleh kanal-kanal yang saling berpotongan sehingga
membentuk areal yang berbentuk segi empat.

**

DI kalangan masyara-kat Sunda, peristiwa Bubat yang lebih sering disebut
Perang Bubat, bisa dijumpai dalam beberapa naskah kuno yang ditulis hampir
dua abad setelah peristiwanya terjadi. Naskah-naskah itu antara lain
Pararaton, Kidung Sunda, Carita Parahyangan, dan naskah Wangsakerta.
Sebaliknya, naskah Nagarakertagama atau Desawarnana karya Mpu Prapanca sama
sekali tidak menyinggung peristiwa tersebut.

Naskah-naskah kuno itu banyak dijadikan acuan dalam menulis Sejarah Jawa
Barat. Salah satu di antaranya buku "Sejarah Jawa Barat" yang ditulis
wartawan dan budayawan Drs. Yoseph Iskandar. Di sana, Yoseph melukiskan
peristiwa itu secara mengharukan.

Lewat "Pararaton" dan Pustaka Nusantara II/2 yang diambil dari naskah
Wangsakerta terjemahan Drs. Saleh Danasasmita (alm), peristiwa itu bisa
dituturkan kembali sebagai berikut: "Kemudian terjadi peristiwa orang Sunda
di Bubat. Sri Prabu ingin memperistri putri dari Sunda. Patih Madu diutus
mengundang orang Sunda. Maksudnya mengharap agar orang Sunda menikahkan
putrinya. Lalu raja Sunda datang di Majapahit. Sang ratu Maharaja tidak
bersedia mempersembahkan putrinya. Orang Sunda harus meniadakan selamatan
(jangan mengharapkan adanya upacara pesta perkawinan) kata sang utusan. Sang
Mahapatih Majapahit tidak menghendaki pernikahan (resmi), sebab ia
menganggap rajaputri sebagai upeti".

Karena merasa terhina, Raja Sunda dan rom- bongannya menolak permintaan
tersebut. Apalagi Kerajaan Sunda bukan bawahan dari Kerajaan Majapahit. Raja
Sunda merasa sejajar dengan Majapahit, sehingga akhirnya terjadilah Perang
Bubat pada hari Selasa-Wage sebelum te-ngah hari, tanggal 13 bagian terang
bulan Badra tahun 1279 Saka.

**

MASYARAKAT Sunda sebenarnya cukup lama bersabar menanti peng-akuan dari para
penulis sejarah di luar Jawa Barat dalam menyikapi peristiwa Perang Bubat.
Jika memang terjadi, mengapa hanya para penulis sejarah dari Jawa Barat saja
yang mengangkat peristiwa itu sebagai fakta sejarah.

Sebaliknya jika memang tidak pernah terjadi, bukan hanya ganjalan hubungan
emosional dua daerah yang bertetangga yang bisa dihilangkan. Tetapi
bagian-bagian yang mengisahkan peristiwa tersebut dalam naskah-naskah kuno
di atas, patut dikesampingkan atau bahkan diabaikan karena dianggap
menyesatkan. Namun jika benar kandungan naskah kuno tersebut, mengapa kita
harus malu dan kemudian berusaha menutup aib seseorang yang selama itu
berambisi menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Bukankah pepatah lama
mengatakan, "Tak ada gading yang tak retak?"

Apalagi sejarah yang ditulis dengan jujur bukanlah untuk mempermalukan
seseorang. Tetapi bisa merupakan cermin untuk generasi berikutnya, sehingga
tidak mengulang kekeliruan atau kesalahan yang sama.

**

DALAM buku-buku sejarah yang ditulis oleh pengarang dari luar Jawa Barat,
paling tidak terdapat dua buku yang memuat Perang Bubat menurut versi
masing-masing.

Peristiwa itu menjadi bagian dalam buku "Peperangan Kerajaan di Nusantara"
(Penelusuran Kepustakaan Sejarah) yang ditulis Capt. R.P. Suyono (Grasindo,
2003: 18). Suyono tidak menyebut peristiwa itu sebagai peperangan, namun
dianggap sebagai "perkelahian". Padahal, katanya sendiri, dalam peristiwa
itu, Raja Sunda dan seluruh pengiringnya tewas. Putri Sunda dibawa paksa ke
Majapahit, namun tak lama kemudian meninggal.

Menjadi pertanyaan, jika dianggap "perkelahian" saja, mungkinkah
mengakibatkan banyak orang tewas? Kalau perkelahian kan paling tidak hanya
mengakibatkan luka kecil, benjol-benjol atau benjut. Paling tidak, tangan
atau kakinya terkilir.

Perkelahian sangat berbeda dengan perang. Perkelahian, menurut Kamus Umum
Bahasa Indonesia Badudu-Zain (Pustaka Sinar Harapan, 1996) berasal dari kata
"kelahi". Berkelahi artinya mengadu tenaga, berhantam, bertinju, mengadu
buku jari. Sebaliknya, "perang" artinya pertempuran dengan senjata antara
dua negara, perkelahian besar antara dua kelompok orang, perlawanan yang
sungguh-sungguh.

Yang tak kalah menariknya adalah buku sejarah terbaru yang memberi tempat
cukup panjang untuk Perang Bubat, "Jejak Nasionalisme Gajah Mada-Refleksi
Perpolitikan dan Kenegaraan Majapahit untuk Masa Depan Indonesia Baru" yang
ditulis oleh Dr. Purwadi M.Hum (DIVA Press, Jogjakarta, Agustus 2004).
Kajiannya mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih dan sekaligus tokoh
sentral yang mengantarkan puncak kejayaan Majapahit di bawah kepemimpinan
Hayam Wuruk yang berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan di wilayah
Nusantara.

Sebagian besar perluasan wilayah kekuasaan itu berhasil diraih berkat
peperangan. Namun tidak demikian halnya dengan Kerajaan Sunda yang menguasai
wilayah bagian barat Pulau Jawa. Purwadi secara terang-terangan
mengungkapkan upaya Gajah Mada melalui tipu muslihat sehingga pada tahun
1357 bisa mendatangkan Sri Baduga dan para pembesar Sunda ke Majapahit dan
dibinasakan secara kejam di lapangan Bubat.

Mengutip dasar tulisannya dari Kidung Sundayana, buku setebal 270 halaman
itu, sembilan halaman dalam Bab VIII, Sumpah Palapa Gajah Mada Sebagai
Politik Integrasi Nasional, bagian ini mengangkat hubungan dengan dengan
Kerajaan Pakuan Pajajaran yang belum juga mengakui kekuasaan Majapahit,
walau sudah dua kali diserang. Akhirnya, alih-alih Raja Hayam Wuruk yang
lajang ingin menyunting putri Sunda yang kesohor cantik jelita, maka
diutuslah Tuan Anepaken untuk melamar Dyah Pitaloka Citraresmi.

Maka ketika tiba saatnya, ratusan rakyat mengantar keberangkatannya yang
disertai raja dan para bangsawan Sunda ke Majapahit dengan menggunakan
perahu. Namun tiba-tiba, laut yang semula biru, secara mendadak dilihatnya
berubah menjadi hamparan air yang berwarna merah. Tanda-tanda buruk itu
rupanya tidak dihiraukan, sehingga setelah sepuluh hari berlayar, rombongan
tiba di Bubat.

Namun apakah yang terjadi kemudian. Gajah Mada merasa keberatan menyambutnya
karena menganggap putri Dyah Pitaloka Citraresmi akan "dihadiahkan" kepada
Sang Raja. Sebaliknya Raja Sunda dan rombongan tetap bersikukuh bahwa putri
Sunda yang cantik jelita itu akan "dipinang" oleh Hayam Wuruk. Perbedaan
pendapat yang kemudian menimbulkan ketegangan itu akhirnya mencapai
puncaknya setelah utusan Pasundan yang bernama Patih Anakepan mencela dengan
keras sikap Gajah Mada. Bahkan ia mengingatkan adanya bantuan Pasundan yang
tidak sedikit kepada Majapahit ketika menaklukkan Bali.

Purwadi menuturkan, sebelum ada keputusan sidang mahkota, Gajah Mada
mendahului menyerang di sebelah utara kota Majapahit. Maka peperangan pun
tak terhindarkan. Para kstaria terkemuka dari pihak Sunda yang bersemangat
berperang ialah Larang Agung, Tuan Sohan, Tuan Gampong, Panji Melong,
orang-orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuan Usus, Pangulu, Rangga
Kaweni, orang Siring, Satrajali, Jagadsaya, dan banyak lagi. Namun karena
tujuan mereka bukan untuk berperang, maka hasil akhir peperangan itu sudah
bisa ditebak. Dalam membela kehormatan martabatnya dan Kerajaan Sunda, Sang
Prabu Maharaja gugur lebih dulu, jatuh bersama Tuan Usus. Namun peperangan
masih belum berakhir.

Para ksatria Sunda lainnya mengikuti jejak Prabu Maharaja, namun mereka
terdesak dan akhirnya gugur. Pada halaman 173, Purwadi menggambarkan korban
akibat peperangan tersebut secara dramatis: "Darah seperti lautan, bangkai
seperti gunung, hancurlah orang Sunda, tak ada yang ketinggalan".

Peristiwa ini terjadi pada tahun Saka sembilan kuda sayap bumi, atau tahun
1279.

**

PRABU Maharaja yang gugur di Bubat sebagaimana diungkapkan naskah-naskah
kuno di Sunda, memerintah selama tujuh tahun (1279-1357 M). Ia dikenal
sebagai raja yang adil dan bijaksana, sehingga kematiannya yang tragis
selalu dikenang.

Untuk mengisi kekosongan, selama enam tahun dari tahun 1357-1363 M, tampuk
kekuasaan kerajaan berada di bawah perwalian Hyang Bunisora karena putra
mahkota Prabu Niskala Wastu Kancana saat itu masih berusia di bawah umur.
Setelah itu, Prabu Niskala Wastu Kancana memerintah dalam kurun waktu cukup
lama, yakni selama 104 tahun, dari tahun 1363-1467. Ia dikenal juga sebagai
Prabu Wangi yang menurut sumber-sumber prasasti, pernah memerintah dan
meninggal di Kawali/Galuh. Ia memerintah dengan adil, sehingga mengantarkan
kerajaan pada kebesaran dan kejayaan.

Hayam Wuruk yang merasa sangat menyesal dengan terjadinya Perang Bubat,
ternyata tetap menepati janjinya tidak menyerang Kerajaan Sunda. Bahkan
sampai akhirnya masa keemasannya makin suram dan kemudian Majapahit
mengalami kehancuran.***
HER SUGANDA,
*Peminat buku sejarah,
Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat*
(http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0705/23/khazanah/lainnya02.htm)


[Non-text portions of this message have been removed]



Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise