|
aksara Sunda deui: msg#00266culture.region.indonesia.sunda
Aksara Sunda Harus Diperkenalkan Kembali BANDUNG, (PR).- Aksara Sunda harus diperkenalkan kembali kepada masyarakat. Bukan hanya untuk kepentingan politik dan pendidikan tetapi juga untuk kepentingan sosial dan budaya. Diharapkan masyarakat Sunda dapat memiliki rasa kebanggaan diri sebagai orang Sunda. Prof. Dr. Edi S. Ekajati menyampaikan hal tersebut pada sosialisasi aksara Sunda yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Bandung di Bandung, Sabtu (16/7). Dikatakannya, keberadaan aksara Sunda sudah begitu lama tergeser. Hal tersebut terjadi karena adanya ekspansi kerajaan Mataram ke wilayah Priangan kecuali Cirebon dan Banten. Pada waktu itu para menak Sunda lebih banyak menjadikan budaya Jawa sebagai anutan dan tipe ideal. Akibatnya, Pakuan Pajajaran dan Priangan tergeser oleh kebudayaan Jawa. Bahkan banyak para pengarang dan budayawan yang memakai tulisan dan ikon-ikon Jawa. "Aksara Sunda baru muncul dan dipergunakan kembali pada abad ke-15 yang dipelopori oleh Moch. Musa. Pada saat Paguyuban Pasundan berdiri pertama kali tahun 1513, organisasi ini menerbitkan majalah Sunda bernama Papaes Nonoman dan banyak mengenalkan aksara dan budaya Sunda," ujarnya. Menurutnya, berdasarkan data sejarah, di Jabar sudah dipergunakan 6 jenis aksara, yakni Palawa/Pra-Nagari, Sunda Kuna, Jawa (Carakan), Pegon, Cacarakan, dan Latin. Keenam aksara tersebut dipakai sejak abad ke-5 Masehi hingga sekarang. Rinciannya, aksara Palawa/Pra-Nagari (abad ke-5 hingga ke-7), aksara Sunda Kuna (abad ke-14 hingga ke-18), aksara Jawa atau Carakan (abad ke-11, ke-17, ke-18, ke-19), aksara pegon (abad ke-17 hingga pertengahan ke-20), aksara Cacarakan (abad ke-19 hingga pertengahan ke-20), dan aksara Latin (akhir abad ke-19 hingga sekarang). Saat ini, lanjut dia, setelah begitu lama aksara Sunda ditinggalkan, Pemprov Jabar mengeluarkan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 1996 tentang bahasa, sastra, dan aksara Sunda. Rumusan yang dipergunakan dalam perda tersebut berbunyi, "Aksara Sunda adalah sistem ortografi hasil kreasi masyarakat Jawa Barat yang meliputi aksara dan sistem peraksaraan untuk menuliskan bahasa Sunda." Menjawab pertanyaan alasan dan fungsi aksara Sunda harus diperkenalkan dan dipelajari lagi, edi mengatakan bahwa hal itu untuk kepentingan identitas dan kebanggaan. Sementara itu, disampaikan Tien Wartini, untuk menjawab kebutuhan zaman yang sudah berkembang pesat, aksara Sunda yang diperkenalkan kembali kepada masyarakat sesuai Perda No. 6 Tahun 1996. Rangkaian aksara Sunda yang sudah mengadopsi atau menyerap beberapa huruf lain dari bahasa latin. Seperti huruf F, V, X, dan Z. Untuk huruf F diserap menjadi Fa, V diserap menjadi Va, X diserap menjadi Xa, dan Z diserap menjadi Za. Jumlah aksara Sunda seluruhnya 32 terdiri atas 7 aksara swara (vokal) dan 25 aksara ngalagena (konsonan). Aksara tersebut ditulis pada posisi kemiringan 45-75 derajat. Selain itu, dalam aksara Sunda dikenal juga istilah vokalisasi penanda bunyi, angka, dan fungtuasi (tanda baca). (A-148)*** Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | basa Sunda jadi matapelajaran wajib: 00266, Rahman |
|---|---|
| Next by Date: | Leuweung Ruksak, Cai Beak, Manusa Balangsak (1): 00266, oman abdurahman |
| Previous by Thread: | basa Sunda jadi matapelajaran wajibi: 00266, Rahman |
| Next by Thread: | Re: aksara Sunda deui: 00266, kumincir |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |