|
diajar maca...: msg#00261culture.region.indonesia.sunda
Memperkenalkan Budaya Baca Lewat Komik Komik dipercaya bisa menjadi alat yang cukup efektif dalam menumbuhkan minat baca anak-anak. Lewat komik, anak diajak untuk berimajinasi. Dan, melalui komik pula anak dikondisikan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Dikatakan Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan FIB UI, Fuad A. Gani, komik bisa dijadikan pintu masuk bagi peningkatan minat baca anak. Dalam penelitiannya terhadap 500 siswa di 50 sekolah di Jakarta, pada akhir tahun 2003, memperlihatkan kecenderungan bahwa 86 persen dari mereka senang membaca komik. Cerita rakyat dan cerita terjemahan lebih diminati dari pada buku pelajaran paket, kata Fuad. Peluang itulah yang kemudian diupayakan Program Bimbingan Anak Sampoerna (PBAS), lewat program Pustaka Kita, Komik Kita, yang dilangsungkan di Bandung. Minggu (17/7), bertempat di Cihampelas Walk (Ciwalk), sebanyak 100 pelajar dari 32 sekolah (SD, SMP) dan 2 panti asuhan di Bandung, menggelar kegiatan Festival Bikin Komik. Mereka memperlihatkan kebolehannya dalam mewarnai dua buah cerita komik di atas bentangan kain sepanjang 64 meter. Hasil karya mereka inilah yang kemudian akan dipotong-potong untuk dijadikan dua buah buku cerita komik berukuran 115x88cm, masing-masing berjudul Tujuh Besar dan V Robot. Kedua buku komik berukuran raksasa itu, dikatakan Chris Maryanto, konsultan PR PBAS Sampoerna, akan dihibahkan kepada Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Jabar, bertepatan dengan Hari Anak Nasional, pada tanggal 23 Juli mendatang. Festival Bikin Komik, yang digelar Minggu kemarin merupakan puncak dari kegiatan Program Pustaka Kita, Komik Kita. Sebelumnya, para siswa yang tergabung dalam program tersebut diberikan pelatihan membuat komik di bawah mentor dari Majalah Valens dan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMKN 14) sejak tanggal 4-9 Juli 2005. Sebanyak 100 karya komik akhirnya berhasil terkumpul. Karya-karya itu kemudian dipamerkan di kawasan Ciwalk. Menyaksikan karya komik mereka, berarti pula menyaksikan sebuah kejujuran, kelucuan, kepolosan dan ide-ide yang sulit ditebak. Anak memang memiliki dunianya sendiri. Itulah yang tampak dari karya-karya mereka. Ada yang mencoba memaparkan kondisi sosial yang terjadi. Masalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM), misalnya tak luput dari sorotan mereka. Atau hal yang konyol dan lucu malah diperlihatkan Fauzan, pelajar SMP Negeri 34 Bandung. Dalam komiknya ia berkisah soal mimpi bersambung. "Saya soalnya pernah mengalaminya. Saya pikir ini bakal cerita yang unik, ya jadinya saya pilih untuk tema cerita," ujarnya. Yang justru konyol malah diperlihatkan salah satu peserta lainnya. Dalam komiknya, ia bercerita soal nyamuk. Pada sebuah hari, seorang bocah digambarkan tengah asyik bermain sendirian di rumahnya. Sayangnya, banyak nyamuk yang seliweran, sehingga membuat si bocah kesal. Lalu, mau tahu apa yang dilakukan si bocah untuk membasmi nyamuk-nyamuk nakal itu? Api disulup dan kemudian rumah itu dibakarnya. Di akhir cerita, ibu si bocah nakal itu memukuli anaknya. Sebuah umpatan kekesalan dilontarkan sang ibu, "Kecil-kecil sudah bakar rumah, apa jadinya kamu nanti." Dikatakan Ketua Koordinator Pelatihan, Mira Rochadi, Anak-anak tidak hanya diajak membuat komik, tetapi juga dibimbing agar bisa menghargai komik karya orang lain. "Membimbing anak untuk mencintai bacaan sebenarnya tidak sulit. Mereka harus dikondisikan bahwa membaca adalah kegaitan yang menyenangkan," katanya. Selain kreasi membuat buku komik, dalam Festival Bikin Komik juga dilangsungkan kegiatan mendongeng interaktif. Anak-anak diminta untuk menggambar cerita yang didongengkan. Acara tersebut diberkan kepada pengujung Ciwalk. "Mendengarkan dongeng juga bagian dari cara menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak," kata Chris. Berbicara soal Komik, memang asyik untuk ditilik. Kehadiran komik bagi penduduk Tanah Air, tentu bukan merupakan barang baru. Komik Indonesia telah hadir sejak tahun 1930, meski pemunculan pertamanya tampil dalam bentuk komik strip di surat kabar. Adalah Sinpo, sebuah surat kabar Melayu-Cina saat itu, yang memulai memperkenalkan komik. Baru di awal tahun 1950-an, untuk pertama kalinya komik muncul dalam bentuk buku, meski hanya merupakan kumpulan komik strip dari surat kabar Daulat Rakyat. Buku komik yang pertama itu berjudul Kisah Pendudukan Jogja karya Abdul Salam. Gairah perkembangan komik baru memperlihatkan taringnya, seiring kehadiran komik-komik superhero di tahun 1953-1960. Banyak karya komik lokal yang dipengaruhi komik-komik superhero dari barat. Adisoma, misalnya menciptakan tokoh rekaan Jakawana dan ada pula tokoh Sri Asih karya RA Kosasih. Sayangnya, komik-komik di era itu dipandang pemerintah lebih banyak mengumbar aksi kekerasan. Hasilnya, dilakukan razia besar-besaran terhadap komik pada saat itu. Komik-komik itu dibakar karena dianggap berbau kebarat-baratan. Patutlah dibanggakan bahwa kita pernah memiliki RA. Kosasih, Ganes TH (Si Buta Dari Goa Hantu), Wid NS (Godam) dan Hasmi (Gundala), Hans Jaladara (Panji Tengkorak), dan Djair (Jaka Sembung), Yan Mintaraga atau Taguan Hardjo, salah satu komikus yang terkenal dengan karya-karyanya seperti Hikayat Musang Berjanggut, Keulana, Perompak Lautan Hindia, dan Kapten Yani. Sayangnya, meski banyak bermunculan komik-komik lokal belakangan ini, namun komik-komik dari Jepang masih tetap mendominasi. Anak-anak Indonesia sekarang justru lebih terpikat komik produk luar ketimbang komik dari negeri sendiri. Semoga saja, peluncuran kembali Gundala Manusia Petir, beberapa waktu lalu, bisa menjadi momentum anak-anak zaman sekarang mau melirik kembali karya-karya anak negeri ini. Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Ahmadiyah diteror: 00261, Rahman |
|---|---|
| Next by Date: | Nepangken Ka sadayana: 00261, udiens Tea Mah |
| Previous by Thread: | Ahmadiyah diterori: 00261, Rahman |
| Next by Thread: | Nepangken Ka sadayana: 00261, udiens Tea Mah |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |