logo       

Re: aneh tapi nyata!!!: msg#00212

culture.region.indonesia.sunda

Subject: Re: aneh tapi nyata!!!

--- In Baraya_Sunda@xxxxxxxxxxxxxxx, "Rahman" <rsyaifoel@xxxx> wrote:
> Yos, "Ada Ancaman ke Arah Itu"
> Warga Ahmadiyah Minta Perlindungan Keamanan
>
ANTROPOLOGI
Itikad Meniadakan Picu Konflik

Jakarta, Kompas - Keinginan meniadakan atau menekan kelompok lain
dapat menjadi salah satu sumber konflik dalam masyarakat multietnik
dan religi. Itikad menekan tersebut berpotensi menimbulkan rasa
ketidakadilan sosial yang bermuara kepada konflik.

Seperti dikatakan peneliti dari Pusat Studi Kebudayaan Universitas
Gadjah Mada, Nugroho Trisnu Brata, dalam Simposium Internasional
Jurnal Antropologi Indonesia, Kamis (14/7), kesadaran hidup dalam
keberagaman belum sepenuhnya tertanam.

Tiga puluh tahun lebih selama pemerintahan Orde Baru, pembicaraan
seputar SARA (Suku, Agama, dan Ras) merupakan hal tabu. Permasalahan
di ranah tersebut hampir tidak pernah diangkat atau didialogkan.

Ini menyimpan potensi konflik. Begitu Orde Baru runtuh, konflik
semakin nyata bermunculan, katanya.

Nugroho mengungkapkan, keberagaman bukan ditiadakan tetapi diakui
sebagai kebenaran obyektif yang nyata di dalam masyarakat. Namun,
perbedaan tidak perlu dieksploitasi guna memenangkan kepentingan.
Tekanan berpotensi mengakumulasi ketidakpuasan dari kelompok tertekan
karena ekspresi dan identitas baik agama atau etnik tidak bisa
dimunculkan.

Badrus Soleh, peneliti dariLembaga Penelitian, Pendidikan, dan
Pengembangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) berpendapat senada.
Ketidakadilan sosial, budaya, dan ekonomi menjadi lapisan subur bagi
tumbuhnya konflik. Terbuka kemungkinan berbagai kepentingan dari luar
sengaja memanaskan suhu. Namun, ketidakadilan mendorong meletusnya
konflik. Agama atau etnik menjadi legitimasi pembenar. Padahal, agama
misalnya, sebetulnya netral, katanya. (INE)




Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise