logo       
Bookmark and Share

lalaguan daerah Banten: msg#00211

culture.region.indonesia.sunda

Subject: lalaguan daerah Banten

oton Greentoel, Pencarian Identitas Lagu Daerah Banten
Oleh: MH SAMSUL HADI

Tip dodol tip wajik

tip gule lan kelape

didokon ning pendaringan

dirubung semut gatel.

Tembang dolanan anak-anak Banten ini sudah jarang
terdengar. Pengamen jalanan, Achmad Tantowi alias
Toton Greentoel (37), mengemas ulang tembang itu dalam
album kaset amatiran berisi lagu-lagu berbahasa
Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Ikhtiar mencari
identitas lagu daerah Banten.

Ceritanya berawal dari sebuah ejekan di meja makan.
Sekitar tahun 1998, saat makan bersama beberapa
temannya sesama pekerja proyek pembuatan alat pengebor
minyak di Bojonegara, Kabupaten Serang, ia diledek
soal tiadanya lagu-lagu daerah Banten. Saat itu
teman-temannya dari Batak, Padang, dan Sunda
membanggakan lagu daerah mereka.

Untuk menutupi rasa malu, ia menyanyikan tembang
dolanan anak-anak Banten yang diingatnya.
â??Surantang-surinting, bibi Semar nyolong gunting,
guntinge bibi laos, sedakep tangan sios,â?? begitu ia
mendendangkan Surantang-surinting.

Empat tahun kemudian, ketika di-PHK (putus hubungan
kerja) dan harus menghidupi keluarganya dengan
mengamen, ingatan Toton terhadap tembang dolanan anak
Banten itu belum pudar. Dengan gitar yang digunakan
mengamen sehari-hari, ia mulai mengaransemen
tembang-tembang dolanan anak Banten, seperti
Surantang-surinting dan Tip Dodol Tip Wajik.

Ia juga mencoba menggubah lagu-lagu dengan lirik
berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Lagu hasil
gubahan itu diperdengarkan kepada khalayak saat
mengamen sebagai selingan atas lagu-lagu pop. Di luar
dugaan, respons masyarakat cukup positif. Ketika
mengamen di kawasan Royal, kota Serang, uang tip dari
penggemarnya tidak lagi recehan, melainkan Rp 20.000,
Rp 50.000, atau Rp 100.000.

Sejak itu, pria kelahiran Serang, 7 April 1968, ini
memosisikan diri sebagai pengamen dengan â??brandâ??
lagu-lagu berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten.
Tempat tampilnya meluas, sampai di hotel-hotel di
Serang dan Anyer.

Warung bakso

Salah satu tempat Toton mengamen hingga kini adalah
Warung Bakso â??Meddyâ?? di Jalan Maulana Yusuf,
Serang. Tempat itulah yang â??membesarkanâ?? namanya
hingga dikenal di Serang dan Banten. Di tempat itu,
ayah dari enam putri ini menjumpai penggemarnya yang
selalu ingin mendengar lagu-lagu Jawa-Serang dan
Sunda-Banten.

Dari celetukan pelanggan warung bakso, mulai dari
rakyat jelata hingga pejabat itu, gagasan
mendokumentasikan lagu-lagu daerah Banten muncul.
â??Kalau dikasetkan bagus, mudah-mudahan ada yang
membiayai,â?? kata Toton, penggemar lagu-lagu Ebiet G
Ade, menirukan aspirasi penggemarnya.

Ide tersebut terwujud setelah ia tampil di Taman
Wisata Wulandira, Serang, pada acara Hari Anak
Nasional tahun 2003. Sempat disepelekan panitia tetapi
mendapat aplaus hadirin berkat lagu-lagu Jawa-Serang
dan Sunda-Banten, ia dibantu beberapa wartawan lokal
dengan melobi pejabat daerah agar mau membiayai
rekaman kaset lagu itu.

Toton sempat diminta membuat proposal, tetapi ia
menolak. Akhirnya, tanpa proposal pun, pada pengujung
tahun 2003 beberapa pejabat Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Serang berpatungan hingga terkumpul Rp 15
juta untuk membiayai rekaman album pertama di Cilegon.
Dari situ lahirlah album Ayo Bangun Banten.

Gamang

Selama menggubah lagu-lagu daerah Banten, Toton merasa
gamang. Kegamangan itu seiring dengan kegamangan
umumnya masyarakat Banten tentang identitas kedaerahan
mereka.

Sehari-hari orang Banten menggunakan bahasa
Jawa-Serang (Serang dan Cilegon) dan Sunda-Banten
(Pandeglang-Lebak) untuk berkomunikasi. Itulah
sebabnya pada album kedua yang dirilis awal tahun 2005
bersama penyiar radio â??Mega Suaraâ??, Rinrin S,
sebanyak 2.000 keping dengan dana Pemkab Serang Rp 50
juta, ia menyertakan lagu dengan lirik bahasa
Sunda-Banten.

Sebuah radio swasta di Serang menamai lagu-lagu Toton
pada album kedua dengan sebutan lagu Dangdut Serang.
Terlepas dari belum munculnya identitas musik Banten,
lirik lagu-lagu itu berbicara soal Banten: potensi
wisata, industri, sejarah, tembang dolanan, tradisi
Padang Wulan 14 Jumat, serta makanan tradisional,
semisal sate bandeng atau kulit gerintul yang kemudian
dipakai sebagai nama pop-nya.

Selain merekam nilai-nilai religius masyarakat Banten,
lagu-lagu Toton juga memotret sisi lain kehidupan
sosial mereka, seperti tren gadis-gadis Banten yang
mulai gemar memakai baju seksi dan kebiasaan kawin
dengan lebih dari satu istri. Semuanya diolah dengan
gaya canda sehingga pendengar pun dibuat tersenyum geli.

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea


<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | Mail Home | sitemap | FAQ | advertise