|
miskin...: msg#00210culture.region.indonesia.sunda
Kemiskinan Kita Oleh: I WIBOWO Pada hari Sabtu, 2 Juli 2005, koran-koran ramai memberitakan prestasi pendidikan menengah kita yang menyedihkan. Banyak siswa gagal lulus ujian nasional, bahkan banyak sekolah yang kelulusan muridnya nol persen. Pada hari yang sama (Sabtu), pada halaman muka, Kompas memasang berita â??Kisah Sedih di Hari Kelulusanâ??, begitu banyak anak tidak bisa meneruskan sekolah, terhalang biaya. Padahal, anak-anak itu bukannya tidak mempunyai cita-cita untuk belajar. Sedih sekali. Keruntuhan pendidikan di Indonesia sebenarnya merupakan dampak langsung kemiskinan kita. Semakin miskin, semakin rendah pendidikan, semakin rendah pendidikan, semakin miskin. Demikian kita tenggelam dalam spiral kemiskinan yang tak ada habisnya. Tabrakan kereta api, busung lapar, wabah penyakit polio, bahkan korupsi, semuanya dapat diusut dan diasalkan pada kemiskinan. Seandainya kita tidak miskin, semua itu pasti dapat dicegah dan diminimalisasi. Indonesia memang negara miskin. Menurut The Economist, pengeluaran Indonesia untuk pendidikan hanya 1,3 persen dari pendapatan domestik bruto (PDB), termasuk yang terendah di dunia, sekelompok dengan Myanmar dan Sri Lanka, di bawah Pakistan (1,8), Kamboja (2,0), dan Mozambik (2,4) (Pocket World in Figures, 2005 edition, hal 77). Demikian pula pengeluaran untuk kesehatan, Indonesia ada di kelompok terendah (2,4 persen dari PDB), lebih rendah daripada Filipina (3,3), Banglades (3,5), dan Sudan sekalipun (3,5). Bantuan Kemiskinan Indonesia harus dibaca dalam konteks kemiskinan di dunia saat ini. Ada sekitar satu miliar manusia yang dikategorikan extreme poor. Jika ditambah yang poor (yaitu 1,5 miliar), ini berarti ada 2,5 miliar atau 40 persen penduduk bumi adalah orang miskin. Mereka ini tidak hanya tidak mencecap nikmat hidup, tetapi juga terancam maut setiap hari. Setiap hari, lebih dari 20.000 orang mati di seluruh dunia karena kemiskinan, di antaranya manusia Indonesia. Bagaimana mengatasi kemiskinan? Berbeda dari banyak ahli, dalam bukunya, The End of Poverty (2005), Jeffrey Sachs mengatakan, â??jebakan kemiskinanâ?? harus diatasi lebih dulu. Meski orang miskin ingin keluar dari kemiskinannya, ia tidak mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri. Begitu banyak faktor â??menjeratnyaâ?? sampai tak berkutik: penyakit, cuaca buruk, lingkungan yang hancur, isolasi fisik, dan tentu saja tiadanya cukup uang. â??Kaum miskin dunia melihat tangga menuju pembangunan, mereka tergoda oleh gambaran kemakmuran dari dunia sebelah lain. Namun, mereka tak mampu meletakkan kakinya pada anak tangga, dan karenanya tidak mampu untuk merangkak keluar dari kemiskinan (hal 20).â?? Maka, kemiskinan harus langsung ditangani dan digarap. Ini sebabnya ia begitu menggebu-gebu menuntut agar negara- negara kaya menyediakan bantuan sebesar 135 miliar dollar AS pada tahun 2006, terus meningkat hingga 195 miliar dollar AS pada 2015 (untuk sampai target Millennium Development Goals). Tuntutan ini bukan impian karena negara-negara kaya telah setuju dengan Monterrey Consensus tahun 2002 untuk menyediakan â??bantuan pembangunan resmiâ?? (ODA) sebesar 0,7 persen dari pendapatan nasional bruto (PNB) mereka (atau sekitar 235 miliar dollar AS per tahun). Kail dan ikan Nyatanya, target ini tidak pernah tercapai. Bantuan Amerika Serikat, negara terkaya di dunia, itu cuma 0,2 persen dari PNB. Sulit sekali menuntut negara-negara kaya menyisihkan 0,7 persen dari PNB untuk disumbangkan kepada negara-negara miskin. Bahkan untuk mencapai target 0,5 persen, banyak negara kaya belum mencapai target, seperti Jepang, Jerman, Inggris, Spanyol, Kanada, dan Prancis. Sebagai penasihat khusus Sekjen PBB Kofi Annan, Sachs berani terang-terangan mengkritik â??program penyesuaian strukturalâ?? yang didukung IMF dan Bank Dunia. Kemiskinan tidak mungkin diatasi dengan program itu karena asumsinya yang salah. Asumsi salah itu mengatakan, kemiskinan harus diatasi oleh negara miskin sendiri (hal 82). Kemiskinan harus diatasi dengan bantuan. Privatisasi, liberalisasi, free trade, dan sebagainya bahkan akan memperparah situasi kemiskinan. Ini tidak dapat dikatakan bahwa Sachs ingin menciptakan ketergantungan pada bantuan. Ia setuju, lebih baik memberi kail daripada ikan. Namun, ia mengoreksi rumus ini. Bagaimana bisa memancing kalau lapar? Beri dulu ikan agar bisa berdiri memancing! Mereka harus dibantu istilah Sachs untuk menjejakkan kaki (to jump start). Setelah mereka keluar dari jebakan kemiskinan, mereka baru sanggup ikut memancing. Mengikuti garis pemikiran Sachs ini, kemiskinan yang sedemikian telanjang di mata kita harus mendapat bantuan dari orang-orang kaya di Indonesia. Sebagaimana kemiskinan dunia harus dibantu negara-negara kaya, demikian pula kemiskinan Indonesia harus dibantu oleh mereka yang kaya. Harus dibuat sebuah konsensus agar orang superkaya Indonesia mau menyisihkan 10 persen kekayaannya (bandingkan usulan Sachs pada 400 pembayar pajak terkaya di AS, hal 307). I Wibowo Anggota Cindelaras Foundation, Yogyakarta Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | opini dunya: 00210, Rahman |
|---|---|
| Next by Date: | lalaguan daerah Banten: 00210, Rahman |
| Previous by Thread: | opini dunyai: 00210, Rahman |
| Next by Thread: | lalaguan daerah Banten: 00210, Rahman |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |