|
Jadi Pengemis untuk Sambung Hidup....: msg#01809culture.region.indonesia.ppi-india
WAJAHNYA hitam terbakar sinar matahari. Mulutnya yang tak lagi bergigi tak henti-henti "nyerocos" pengalamannya bertahun-tahun di jalanan.Sosoknya yang tak lebih tinggi dari 150 cm tampak lincah bergerak. Kebaya hijau, kain batik coklat dan kerudung putih panjang yang dikenakannya membuat Mak Titi (125) mudah dikenali. "Percaya teu, emak teh sudah 125 tahun. Sudah ngalamin lima presiden," ujarnya membuka obrolan. Nenek yang mengaku tak memiliki anak dan suami itu terkena razia gelandangan dan pengemis (gepeng) saat tengah berada di halaman Masjid Raya Bandung. Sampai digelandang ke Kantor Satpol PP pun, nenek lincah ini mengelak bahwa dirinya adalah pengemis dan hanya mengaku dia sedang menjajakan kantong kresek. "Emak mah ngan rek salat, tapi sasarean heula. Terus ku bapa-bapa eta dititah naek kana treuk (Emak cuma mau salat. Lalu oleh bapa-bapa itu disuruh naik truk)," tuturnya. Namun, saat didesak apakah ia sering berada di Masjid Raya, Mak Titi mengaku hanya dua kali dalam satu minggu yaitu hari Sabtu dan Minggu. "Biasana mun Saptu Minggu mah rame, loba nu mere (Biasanya kalau Sabtu Minggu rame, banyak yang memberi)," ujarnya keceplosan. Pada akhirnya, Titi yang mengaku tinggal di Cikawao itu terus terang mengatakan meminta-minta di Masjid karena perlu uang untuk makan. "Paling dapet ge Rp. 15 ribu buat makan dua hari," ujarnya sambil mulai berkaca-kaca. Pengakuan serupa dituturkan Mina (25) yang berasal dari Cirebon. Wanita berkulit sawo matang itu cacat di bagian kaki kiri dan beberapa jari tangannya tak tampak lagi. Menjadi pengemis, menurutnya, adalah satu-satunya cara untuk menyambung hidup. Mina yang mengaku baru tiga bulan berada di Kota Bandung merasa bingung saat dirinya terkena razia. "Emang kita di sini mau diapain? Nanti boleh pulang lagi nggak," tanyanya lirih. Saat ditanya hendak pulang kemana, gadis berkerudung kuning itu tiba- tiba bingung. "Saya di Bandung tidur di emperan toko di Alun-alun jeung babaturan," tukasnya. Jika dikembalikan ke daerah asalnya pun, ia mengaku tak tahu harus berbuat apa. Mina merasa dirinya tak memiliki keterampilan sehingga pilihan terakhir adalah menjadi pengemis. Sambil bercerita, kedua tangannya memegang erat bungkusan kantong kresek hitam. "Ini nasi bungkus. Dari pagi saya belum makan," lirihnya. Sementara itu Nini (bukan nama sebenarnya-red), mengerahkan ketiga anaknya untuk mengemis di kawasan Alun-alun. Ibu berusia 35 tahun yang tengah mengandung anak keempat itu juga sempat mengelak bahwa ia dan anak-anaknya tengah mengemis saat dirazia. Namun, belakangan wanita yang berasal dari Tegal itu mengaku bahwa penghasilan sang suami berjualan minuman ringan tidak mencukupi untuk menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil. Oleh karena itu, ia terpaksa "mengerahkan" ketiga anaknya untuk berjualan kantong plastik sambil mengemis. "Saya sudah coba berjualan nasi, kue, minuman, tapi rugi terus. Terakhir jualan kerudung, eh digaruk tramtib," tuturnya. Saat ini, Nini dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan di daerah Ciroyom. Ia mengaku bahwa mengemis adalah pilihan hidupnya yang terakhir. Bahkan ia wanti-wanti agar "profesi"-nya itu tidak disiarkan, karena ia khawatir orang tuanya di kampung akan malu jika mengetahui kehidupannya di perantauan. "Duh, kalau orang tua saya di kampung tahu sih pasti kaget," ungkapnya.(Uwie/PR) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Minta info tentang beasiswa ICCR: 01809, Mario Gagho |
|---|---|
| Next by Date: | Dialog Ishadi SK vs huttaqi [2]: 01809, huttaqi |
| Previous by Thread: | Kapan Harus Curhat? ....i: 01809, Ida Z.A |
| Next by Thread: | Dialog Ishadi SK vs huttaqi [2]: 01809, huttaqi |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |