|
Siapkah TNI Melaksanakan Perang: msg#01785culture.region.indonesia.ppi-india
MEDIA INDONESIA Rabu, 23 Maret 2005 OPINI Siapkah TNI Melaksanakan Perang? Lintang Waluyo (Pemerhati Hankamneg) TERNYATA rakyat sangat marah begitu mendengar sebagian tanah air yang terletak di Blok Ambalat hendak dijarah secara paksa oleh negara tetangga Malaysia. Di berbagai media cetak dan elektronik, berita tentang Ambalat menempati porsi yang cukup signifikan. Intinya, warga negara Indonesia meminta pemerintah RI bertindak tegas mempertahankan Ambalat. Di masyarakat, para warga tidak kalah garangnya meneriakkan semangat cinta tanah air. Demonstrasi ganyang Malaysia meluas di segala penjuru, bahkan kebulatan tekad rakyat ditandai dengan cap jempol darah. Para sukarelawan pun menyatakan, "TNI jangan takut perang, di belakangmu jutaan sukarelawan siap membantu." Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) juga bersuara keras agar pemerintah kali ini bertindak tegas. Demikian juga dengan para politikus dan tokoh masyarakat tak kalah garangnya dalam menunjukkan sikapnya, pendek kata tak ada kamusnya Ambalat diambil Malaysia. Di lain pihak TNI telah menggelar kekuatan di laut dan di udara. Telah dikirim kapal perang berpatroli di daerah perbatasan, di daerah Ambalat dan sekitarnya. Memajukan pesawat tempur F-16 ke pangkalan aju di Balikpapan, menyiapsiagakan marinir dan Kostrad yang sewaktu-waktu dapat digerakkan ke sasaran. Pendek kata, TNI siap melaksanakan tugasnya mempertahankan atau merebut kembali Ambalat, kapan saja diperintahkan oleh Presiden selaku Panglima Tertinggi TNI. Ancaman nyata Apakah persoalan perbatasan hanya Ambalat? Ternyata, persoalan bangsa kita tidak hanya Ambalat, masih ada 12 pulau lain di daerah perbatasan yang memiliki masalah serupa. Patok perbatasan darat di Kalimantan dengan Malaysia, telah digeser rata-rata 1 km ke wilayah Indonesia, sehingga kita telah kehilangan ratusan ribu hektare. Kita harus mengambil kembali, kalau perlu merebutnya dengan perang. Siapkah TNI melaksanakan perang? Tentunya harus siap, tinggal menunggu perintah dari Panglima Tertinggi TNI. Inilah gambaran perkembangan situasi nasional yang perlu dikaji lebih lanjut, untuk kesiapan bangsa ini di dalam menghadapi perkembangan tak terduga di masa depan. Ancaman nyata sudah terjadi dan di depan mata untuk segera ditangani, dengan tindakan nyata di lapangan, bukan hanya mengandalkan diplomasi. Beberapa tahun lagi bisul-bisul persoalan dipastikan akan pecah. Kita tidak bisa lagi menunggu peristiwa model Ambalat terulang kembali di puluhan tempat di wilayah kita yang lain. Dalam kenyataannya, semua titik persoalan tersebut tidak dapat terawasi setiap saat, akibat keterbatasan kekuatan dan kemampuan TNI dan luasnya wilayah negara kita. Di sisi lain sudah kita ketahui bersama bahwa beberapa kilometer di atas bumi, terdapat puluhan satelit asing bertengger di atas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang setiap saat dapat melakukan pengintaiannya tanpa perlawanan. Belum lagi kita bicara tentang pesawat canggih asing yang setiap saat, dengan seenaknya melanggar wilayah kita untuk kepentingannya, tanpa bisa kita deteksi. Demikian juga dengan pelanggaran wilayah laut oleh kapal asing, lagi-lagi kita tak dapat berbuat maksimal, sebagai akibat keterbatasan sarana yang dimiliki TNI. Posisi tawar TNI lemah Berangkat dari tuntutan rakyat yang sedemikian besar kepada negara untuk bertindak tegas kepada Malaysia dan adanya potensi ancaman nyata yang sudah di depan mata, maka merupakan kewajaran apabila pembangunan kekuatan TNI diprioritaskan. Faktanya sekarang, anggaran untuk TNI apabila dibandingkan dengan negara lain, merupakan anggaran belanja yang terendah di bawah standar rata-rata angkatan bersenjata lainnya di dunia. Posisi tawar TNI sekarang ini memang sudah menjadi sangat lemah, terutama di dalam pelaksanaan tugasnya untuk menjaga kedaulatan, keutuhan negara, harga diri dan martabat bangsanya. Dan dalam kenyataannya anggaran TNI memang hanya cukup untuk sekadar hidup mempertahankan alat utama sistem senjata (alut sista) yang sudah mulai renta. Akhirnya kita rugi sendiri, yang menikmati keuntungan adalah pihak lawan. Ketidakmampuan kita menjaga perbatasan, sangat terlihat dalam sengketa Blok Ambalat ini. Selain itu, berita terakhir tentang bergesernya patok perbatasan sejauh 600 meter masuk ke wilayah Indonesia di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, TNI hanya menjadi penonton. Sesuai dengan hasil suatu kajian strategis tentang kebutuhan pertahanan ideal, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus mempunyai TNI yang kuat, yang terdiri dari kekuatan darat bala pertahanan terpusat sebanyak 3 divisi. Terdiri atas satu divisi yang dapat diterjunkan melalui udara setiap saat, dua divisi lainnya merupakan pasukan darat, yang dapat melakukan serbuan mendadak melalui pendaratan pantai yang dilanjutkan dengan serbuan darat, guna memukul mundur agresor ke daerah asalnya. Berikutnya adalah kekuatan laut yang terdiri atas enam kapal selam, 365 kapal perang berbagai jenis yang didukung alut sista yang canggih, yang dapat menangkal, menghancurkan, memukul mundur lawan kembali ke negaranya. Juga kekuatan udara yang terdiri atas 60 pesawat angkut, 81 pesawat tempur strategis, 361 pesawat tempur taktis, 9 pesawat pengebom, penyempurnaan 15 fasilitas pangkalan udara, yang semuanya dapat digunakan dengan cepat untuk menangkal dan mematahkan setiap ancaman. Sekaligus juga mampu mengusir siapa saja yang berani mencoba mengganggu wilayah udara NKRI. Semuanya itu hanya dapat diwujudkan apabila kita mempunyai anggaran yang cukup. Di sinilah justru sangat diharapkan kesadaran para politikus dan pemerintah. Apabila pembangunan pertahanan tidak mendapat prioritas, maka akan berisiko besar terhadap tugas mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI. Membeli alut sista TNI harus disertai paket pemilihan personel yang akan mengawaki, persediaan suku cadang, sistem pemeliharaan, pendidikan dan latihan dan paket lainnya. Ke semuanya itu juga membutuhkan biaya yang sangat mahal, dan jangka waktu yang lama. Kondisi ideal seperti itu baru dapat terlaksana, manakala kita mempunyai anggaran yang standar seperti negara lain di dunia. Anggaran Pertahanan Ideal Anggaran belanja standar untuk suatu angkatan bersenjata di dunia adalah 4 persen dari GNP. Adalah anggaran belanja yang digunakan untuk negara yang tidak berniat perang, anggaran itu cukup untuk bertahan sebagaimana apa adanya agar dapat melaksanakan tugasnya secara normatif yaitu menjaga, memelihara dan mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya. Kalau sebuah negara sudah terganggu kedaulatannya dan berniat perang, maka anggaran untuk pertahanan negara harus naik menjadi lebih dari 7 persen GNP. Tetapi, kenyataannya sekarang ini anggaran yang diberikan kepada TNI masih berkutat pada angka 1 persen GNP. Ke semuanya diketengahkan sebagai saran, utamanya untuk Panitia Anggaran DPR RI bahwa untuk menegakkan kedaulatan dan keutuhan wilayah ternyata membutuhkan anggaran yang besar, lebih-lebih untuk menjaga martabat bangsa agar tidak dipermalukan tetangganya. Idealnya kita harus mengarah ke sana, yaitu menuju anggaran standar, agar kita tak kehilangan wilayah satu persatu, akibat kurangnya kepedulian dalam mengelola pertahanan negara. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | TNI-AD akan Tambah 22 Komando Teritorial: 01785, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | Surat-surat Cinta huttaqi [7]: 01785, huttaqi |
| Previous by Thread: | TNI-AD akan Tambah 22 Komando Teritoriali: 01785, Ambon |
| Next by Thread: | Surat-surat Cinta huttaqi [7]: 01785, huttaqi |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |