logo       

Islam dan TKI di Malaysia: Masalah Upah: msg#01782

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Islam dan TKI di Malaysia: Masalah Upah


http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=191769&kat_id=16

Selasa, 22 Maret 2005

Islam dan TKI di Malaysia: Masalah Upah

Oleh : Deliar Noer
Cendekiawan Muslim
Masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia telah beberapa bulan lamanya
menjadi masalah yang pelik. Bagi Indonesia karena begitu banyak TKI yang
menghadapi kesulitan, termasuk karena banyak yang tidak mempunyai paspor, izin
masuk dari negara yang dimasuki, malah ada yang sama sekali menjadi migran
ilegal. Di antara yang sangat menderita itu, tampaknya adalah TKI ilegal, yang
bagai tidak dapat dilindungi oleh negeri asal, dan tidak pula dapat dilindungi
oleh negeri tetangga.

Lebih parah lagi adalah bahwa mereka sudah bekerja di Malaysia, antaranya pada
perusahaan raksasa dengan membangun gedung-gedung bertingkat, di dekat ibu kota
Kuala Lumpur pula. Mereka menghadapi pekerjaan yang terancam bahaya, bisa jatuh
dan mati terhempas. Yang parah adalah bahwa majikan mereka tidak mempedulikan
pekerja ini, berbula lamanya mereka tidak menerima gaji. Alangkah kejamnya
majikan serta perusahaan tempat mereka bekerja itu. Malah yang mengherankan
adalah bahwa pemerintah negara bersangkutan bagai turut-turut kejam dengan
membiarkan mereka tidak dibayar gajinya.

Jelas sekali bahwa majikan mereka tidak mempunyai perasaan terhadap pekerjanya,
padahal mereka sama-sama manusia. Pemerintah mereka, Malaysia, juga bagai tidak
mempunyai perasaan karena masalah gaji itu. Sudah jelas pekerja itu bekerja
sepanjang waktu, gaji tak dibayar pun tidak menyentuh hati pemerintah. Dan ini
adalah suatu pemerintah yang negerinya mengakui Islam sebagai agama negara.
Berarti, dan seharusnya, hal-hal mendasar dalam agama Islam haruslah
dilaksanakan.

Sebelum keringat mengering
Islam tidak menentukan bahwa harus ada negara, karena masalah ini adalah
masalah dunia, yang bisa ada, bisa tidak. Namun dalam perkembangan terlihat
bahwa semua kita manusia, menghendaki adanya negara. Dalam tahap permulaan Nabi
Muhammad SAW bergerak, ia lebih menekankan soal manusianya: Islam atau bukan.
Yang akhir ini pun terbagi pula dalam ahli kitab, yaitu Yahudi, Nasrani
(Kristen) dan musyrik. Umumnya orang Arab di zaman Nabi itu musyrik, tetapi
Nabi mengimbau semuanya, termasuk Yahudi dan Nasrani, agar memeluk Islam. Maka
berlakulah rukun iman dan rukun Islam bagi para pengikut Nabi itu.

Kemudian tambah banyak juga yang masuk Islam, dan secara berangsur masyarakat
Islam di bawah Nabi itu pun menegakkan negara, dengan Nabi sebagai kepala
negaranya. Maka Nabi pun mengirim surat kepada kepala negara-negara
tetangganya, memperkenalkan Islam dan mengajak mereka masuk Islam. Pengakuan
pertama sebagai kelompok yang harus dihormati oleh pihak lain, adalah ketika
serombongan kaum Muslimin karena penganiayaan penduduk Mekkah terpaksa pindah
ke Habasyah (Habsyi, Etiopia sekarang) dengan menerima perlakuan sebagai
orang-orang yang terhormat. Malah Islam otomatis mulai berkembang di negeri itu.

Negeri-negeri yang berkaitan dengan ajaran Islam pada umumnya memperlakukan
rakyatnya serta manusia lain yang bukan rakyatnya tetapi yang berdiam di negeri
tersebut dengan baik. Pemerintahnya bisa keras dalam politik, tetapi tidak
keras dalam menghadapi manusia-manusia yang beragam di daerahna. Tentu ada saja
penyimpanan-penyimpanan, seperti yang kini dialami oleh wanita-wanita pekerja
kita di tanah Arab, yang antara lain diperkosa oleh sang majikan. Syukurlah hal
seperti ini tidak terjadi di Malaysia. Ada juga kekerasan yang dialami oleh TKI
kita di sana, tetapi ini kekecualian, dan dilakukan oleh seorang dua majikan.

Tetapi TKI ilegal yang bekerja pada perusahaan-perusahaan di Malaysia (yang
diberitakan pada perusahaan dekat Kuala Lumpur), menurut berita-berita yang
sampai kepada kita di Tanah Air, mendapat perlakuan tidak manusiawi. Mereka
tinggal di tempat-tempat yang tidak layak di dekat tempat kerja, dengan
memperoleh air bersih yang minim, mempergunakan lampu yang diusahakan sendiri.
Lebih parah lagi adalah kenyataan bahwa mereka tidak diberi gaji selama
beberapa bulan.

Akibatnya, mereka pun tidak bisa memperoleh kesempatan untuk mendaftarkan diri
ke perwakilan RI setempat (yang banyak dibuka pada kesempatan masa tenggang
sampai akhir bulan yang lalu), karena ketiadaan uang -- karena gaji tidak
dibayar itu. Yang lebih mengherankan sangat adalah bahwa pemerintah Malaysia
(yang pusatnya hanya beberapa ratus meter dari tempat pekerja yang tidak
dibayar gajinya itu), yang negaranya mengakui Islam sebagai agama negara, tidak
pula berusaha agar pembayaran gaji dilakukan oleh perusahaan tersebut kepada
TKI bersangkutan. Pemerintah pusat Malaysia bagaikan tidak sadar akan hal ini.

Dalam ajaran Islam berbagai hadits membicarakan soal pergaulan hidup, termasuk
yang mengingatkan siapa pun juga, terutama seorang majikan, agar membayar
pekerjanya (buruhnya) sebelum keringatnya kering. Tetapi majikan bersangkutan
di Malaysia jangankan menunggu sampai keringat buruhnya kering, tidak juga
memperoleh upah. Dan pemerintah yang negerinya mengakui agama Islam sebagai
agama negara, tidak pula memperhatikan hal ini. Akibatnya, para TKI tadi pun
hanya mengeluhkan nasibnya, dan hanya bisa mengadu kepada Allah -- kalau mereka
masih ingat pada Allah. Rencana untuk kembali ke Tanah Air, dan kemudian dengan
surat-surat yang lengkap balik ke Malaysia untuk bekerja lagi, terpaksa
dibiarkan.

Penutup
Seharusnya ulama-ulama kita yang pada waktu yang lalu abnyak berceramah di
Malaysia, ataupun tokoh-tokoh Malaysia yang aktif dalam kantor-kantor bagian
agama Islam di tiap negara bagian, ataupun para guru besar di universitas di
Malaysia yang juga banyak memperhatikan pelaksanaan ajaran Islam di negerinya,
mempunyai perhatian terhadap hal ini. Perhatian, meminta kepada pemerintah
Malaysia agar memperhatikan nasib TKI yang sudah beberapa bulan lamanya tidak
menerima gaji. Sudah pasti sebagian besar TKI itu beragama Islam, tetapi dalam
soal gaji hadits di atas tadi tidak membatasinya pada mereka yang beragama
Islam, karena soal upah adalah soal hidup mati bagi manusia bersangkutan.

Partai Islam se-Malaysia, Angkatan Belia Islam se-Malaysia, dan lembaga-lembaga
Islam lain di negeri jiran ini patut pula mengingatkan pemerintahnya, dan siapa
pun juga di negeri itu tentang hal ini. Kekayaan adalah rahmat Allah, kekayaan
tidak bisa dimanfaatkan sendiri, banyak pihak yang seharusnya juga mendapat
bagian dalam kekayaan ini. Pekerja termasuk hal yang seharusnya didahulukan:
bayarlah upah sebelum keringatnya kering. Mudah-mudahan imbauan ini dapat
menyentuh hati siapa pun juga di Malaysia, khususnya yang beragama Islam, untuk
turut memperhatikan dan berusaha melaksanakan ajaran Islam yang sebagian
daripadanya menyangkut soal upah. Mudah-mudahan.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise