logo       

Ribuan Nelayan Tidak Melaut: msg#01780

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Ribuan Nelayan Tidak Melaut


http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/23/opi1.htm

tajuk rencana
Ribuan Nelayan Tidak Melaut
- Ribuan nelayan Desa Sawojajar, Brebes, memilih tidak melaut. Sudah dua pekan
mereka memilih menganggur, karena tingginya biaya operasional akibat kenaikan
harga BBM. Inilah dampak yang sebenarnya sudah diduga, dan pasti sudah dapat
dibayangkan oleh para pengambil keputusan bidang ekonomi. Persoalan kenaikan
harga BBM sudah harga mati. Artinya, itulah adanya dan masyarakat harus
bersedia menerimanya. Tetapi, faktanya kemudian sangat mencolok bahwa makin
banyak saja orang memilih menganggur daripada produksi tetapi tidak
menguntungkan. Beberapa saat lalu, para perajin kayu di Cilongok memilih tidak
meneruskan usaha karena untuk apa produksi kalau hanya rugi. Dan, tentu masih
banyak contoh lain yang nasibnya seperti itu.

- Pikiran rasional pastilah mengatakan bahwa subsidi yang membengkak harus ada
jalan keluar. Dan, jalan keluar itu telah dipilih, yakni dengan menaikkan harga
BBM. Fakta ini secara rasional bisa diterima oleh mereka yang memiliki
informasi lebih, dan mereka datang dari golongan menengah atas. Golongan inilah
yang dituding paling banyak menikmati subsidi BBM selama ini. Jika mereka tidak
protes, maka tuduhan itu benar. Tetapi, fakta lain juga menunjukkan keadaan
yang tidak bisa dianggap sepele, yakni begitu banyak orang memilih menganggur.
Jika orang sampai pada pilihan menganggur, sementara di sisi lain orang dengan
susah-payah mencari pekerjaan, maka pasti ada yang sangat salah dalam persoalan
ini.

- Apa yang salah? Sudah lama BBM ini direncanakan untuk dinaikkan. Sudah cukup
panjang diskusi di banyak media, baik pakah cetak maupun elektronik. Mereka
yang amat paham atas perilaku penguasa dan perilaku ekonomi, segera melakukan
antisipasi dan penyesuaian. Naiklah harga-harga barang justru ketika
pengurangan subsidi BBM atau kenaikan harga BBM masih menjadi wacana. Bagi
mereka yang amat paham terhadap perilaku republik ini, langkah antisipasi sudah
pasti mereka lakukan. Tetapi ini hanya berlaku bagi yang tahu. Yang kurang
paham pastilah tidak siap untuk melakukan penyesuaian awal. Maka, ketika harga
BBM benar-benar naik, mereka dalam kondisi sama sekali tidak siap.
Ketidaksiapan itulah kemudian diwujudkan ke dalam pilihan menganggur.

- Pasokan ke pasar turun karena produksi turun. Beberapa saat kemudian,
merambatlah harga. Pelan tetapi pasti, atau sebaliknya langsung terjadi
penyesuaian. Ketika harga membaik, secara pelan-pelan para produsen yang dalam
hal ini nelayan, atau perajin kayu akan melakukan kegiatan produksi kembali.
Artinya, mereka melakukan penyesuaian secara statis, karena harus melakukan
melewati penghentian produksi. Jika saja mereka memahami dan menguasai
informasi dengan amat baik, mungkin tanpa perlu menghentikan kegiatan produksi
penyesuaian secara otomatis bisa mereka lakukan. Begitu mendengar isu akan ada
kenaikan harga BBM, mereka sudah siap untuk melakukan penyesuaian dini atas
kemungkinan yang akan terjadi.

- Jika kondisinya benar demikian, maka ada yang salah dalam diri pemerintah
dalam mengelola dan mengolah informasi terutama menyangkut hal-hal yang
strategis. Jika telah diakui bahwa siapa pun presidennya tetap akan menempuh
kenaikan harga BBM, mengapa tidak dari awal atau jauh hari informasi itu
disampaikan. Jadi, siapa pun presidennya, harga BBM tetap naik. Bukan apa pun
partainya, melainkan pilihlah saya apa pun risikonya. Sementara kemungkinan
risiko itu tetap disimpan rapat di dalam saku yang sewaktu-waktu bisa
dikeluarkan dengan dadakan seperti kemarin. Efek dari kebijakan yang dadakan
seperti itu juga amat memukul mereka yang secara ekonomis tidak mampu menahan
beban. Maka, kasus Cilongok ataupun Sawojajar sangatlah wajar terjadi.

- Atas keadaan seperti itu, ke depan kita berharap kepada pemerintah untuk
secara cerdas mengelola informasi yang menyangkut kebijakan strategis. Ini
penting agar masyarakat yang akan terkena kebijakan itu secara dini mampu
melakukan antisipasi, adaptasi, dan juga siaga penyesuaian. Bahkan, apakah
tidak mungkin ditempuh kebijakan kenaikan yang bertahap seperti dalam soal
kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kenaikan yang dadakan dalam jumlah besar
itu tetap memberikan efek psikologis yang besar. Mungkin saja pemerintah
beranggapan, karena kenaikan itu sebuah harga mati, toh nanti masyarakat akan
menyesuaikan diri. Jika benar ada jalan pikiran seperti ini, sungguh amat
berbahaya. Artinya, keadaan abnormal yang mungkin akan terjadi kurang dapat
diantisipasi secara tepat dan bijak.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise