|
Indonesia Butuh Terapi Realitas: msg#01776culture.region.indonesia.ppi-india
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/23/opini/1634844.htm Indonesia Butuh Terapi Realitas Oleh Limas Sutanto TAHUN lalu, di tengah tebaran janji-janji memikat, rakyat mengganti pemimpin puncak pemerintahan lewat pemilu. Peristiwa penting itu bisa disyukuri sebagai bagian gerak maju demokratisasi Indonesia. Namun, salah satu kekuatan impersonal terpenting yang menggerakkan pemenangan dalam pemilu tahun lalu adalah deret pencitraan yang dihias janji-janji, yang intinya adalah perwujudan keadilan dan kesejahteraan. Tak pelak, rakyat beramai-ramai menagih perwujudan janji-janji itu. Namun, yang terjadi justru perontokan ilusi-ilusi (disillusionment) karena tebaran janji-janji tak kunjung terwujud. Yang terjadi justru kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak bagi warga miskin. Demonstrasi antikenaikan harga BBM masih terus merebak, ditimpali warta krisis pangan dan ancaman kelaparan di Lembata, Nusa Tenggara Timur (Kompas, 19-20/3). Warta itu diperburuk kabar dari Garut bahwa keberlanjutan sekolah anak-anak keluarga miskin terancam karena orangtua mereka tidak sanggup menyediakan biaya transportasi, sementara dana kompensasi kenaikan harga BBM tidak kunjung turun (Kompas, 21/3). Semua fakta ini menegaskan, bangsa Indonesia masih bergelut dengan masalah fundamental yang berpusatkan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan mendasar. Ironis. Pada saat bersamaan elite pemimpin Indonesia justru terus melawan gerak maju menuju keadilan dan kesejahteraan nyata dan sejati. Gejala-gejalanya adalah pemberantasan korupsi yang tersendat, bahkan akhir-akhir ini menunjukkan gejala-gejala (symptoms) menggumpal lebih besar dan lebih nyata dalam kolaborasi kekuasaan pemerintahan-kekuasaan politis-kekuasaan uang. Konglomerasi (penggumpalan) ketiga kekuasaan itu terwujud dalam kolaborasi pemerintah, elite partai politik (ulahnya terlihat jelas di DPR), dan elite bisnis. Siapa pun bisa mengatakan, konglomerasi dan kolaborasi ketiga kekuatan itu "sah saja". Namun, masalahnya adalah siapa bisa menjamin penggumpalan ketiga kekuatan itu akan mengabdi buat kepentingan seluruh rakyat Indonesia? Atau dengan kata lain, siapa bisa menjamin penggumpalan ketiga kekuatan itu bukan merupakan gejala resistansi terhadap gerak maju hakiki menuju keadilan dan kesejahteraan yang nyata dan sejati? KETIGA gejala resistansi-ketersendatan pemberantasan korupsi, masih terus berlangsungnya korupsi, penggumpalan kekuasaan pemerintahan-kekuasaan politis-kekuasaan uang-sebenarnya berakar dalam psikopatologi (kesalahan jiwani mendasar) yang terkait masalah pemenuhan aneka kebutuhan manusia. Psikopatologi itu bisa dideskripsikan sebagai "pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia yang berlangsung nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab". Dalam perebakan psikopatologi itu, kebutuhan-kebutuhan manusia, seperti kebutuhan akan kepemilikan bendawi, kebutuhan untuk meraih kekuasaan, dan kebutuhan akan kesenangan, berperan sentral. Pada perspektif ini dapat dipahami betapa akar psikopatologis dari penerusan korupsi, perlawanan terhadap pemberantasan korupsi, dan penggumpalan kekuasaan pemerintahan-kekuasaan politis-kekuasaan uang, adalah pemenuhan abeja kebutuhan manusia yang berlangsung nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab. Gagasan perbuatan dan perilaku manusia yang hakikatnya merupakan proses pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ditegaskan psikiater Amerika, William Glasser, yang lebih dikenal sebagai pelopor terapi realitas (reality therapy). Glasser memahami tiap gejala psikopatologis sebagai upaya manusia untuk memenuhi aneka kebutuhannya secara nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab. Persoalan pokok pada perspektif ini terkait dengan jalan atau cara yang ditempuh manusia guna memenuhi aneka kebutuhan itu. Pemenuhan kebutuhan itu akan melahirkan psikopatologi atau gejala-gejala psikopatologis jika ia berlangsung secara nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab. Terapi realitas dilaksanakan untuk membantu manusia kembali ke jalan pemenuhan kebutuhan yang benar dan efektif, yaitu pemenuhan kebutuhan secara realistik dengan penunaian tanggung jawab. INDONESIA yang dilumuri gejala-gejala resistansi terhadap gerak menuju keadilan dan kesejahteraan nyata dan sejati adalah Indonesia yang banyak dikerubungi manusia yang terbiasa memenuhi aneka kebutuhannya secara nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab. Pada titik ini dapat disadari betapa Indonesia butuh terapi realitas, yang secara kontekstual bermakna perombakan cara atau jalan yang ditempuh para pemimpin pemerintahan dan tiap insan Indonesia untuk memenuhi aneka kebutuhannya, dari cara atau jalan yang nonrealistik dan tanpa penunaian tanggung jawab, menjadi cara atau jalan yang realistik dengan penunaian tanggung jawab. TERAPI realitas bisa dijalankan dengan mengejawantahkan tiga hal. Pertama, keputusan pribadi tiap pemimpin pemerintahan Indonesia untuk menerapkan standar-standar kebaikan (patokan nilai-nilai) yang tinggi demi perawatan dan penumbuhkembangan keberhargaan diri (self-worth) yang bermakna. Standar kebaikan yang tinggi dan keberhargaan diri yang bermakna niscaya menjadi komponen hakiki kepribadian setiap pemimpin pemerintahan Indonesia. Dapat dirasakan betapa selama ini keberadaan kedua komponen hakiki itu sedemikian lemah, bahkan mungkin standar kebaikan dan keberhargaan diri belum menjadi komponen penting kepribadian insan-insan pemimpin pemerintahan Indonesia. Banyaknya pelanggaran hukum-moral-etika, pelanggaran berat hak asasi manusia, serta pembiaran pelanggaran-pelanggaran itu, yang semuanya berlangsung seperti tanpa rasa dosa, mengindikasikan standar kebaikan dan keberhargaan diri belum menjadi komponen penting kepribadian insan-insan pemimpin pemerintahan Indonesia. Standar kebaikan yang tinggi dan keberhargaan diri juga menjamin evaluasi diri yang terus-menerus di tengah kehidupan setiap pemimpin pemerintahan dari hari ke hari. Tanpa standar kebaikan tinggi dan keberhargaan diri, evaluasi diri tidak pernah berlangsung. Maka gerak maju tidak pernah terjadi dalam kerangka kerja yang sadar. Kedua, keterlibatan mendalam (deep involvement) tiap pemimpin pemerintahan dengan kehidupan nyata seluruh rakyat Indonesia. Keterlibatan ini niscaya demi pemahaman realitas kehidupan seluruh rakyat Indonesia. Tanpa pemahaman utuh realitas kehidupan seluruh rakyat Indonesia, pemimpin pemerintahan tidak pernah bisa mengejawantahkan perbuatan dan perilaku kepemimpinan yang realistik dan bertanggung jawab. Seandainya para pemimpin masa kini hidup di tengah keterlibatan mendalam dengan kehidupan rakyat Indonesia, dapat dibayangkan para pemimpin pemerintahan tidak akan menelorkan kebijakan menaikkan harga BBM saat kehidupan rakyat masih sulit dan anggota DPR tidak akan meminta tambahan honor. Ketiga, disiplin, yang makna sejatinya adalah keberanian, kerelaan, dan kesudian manusia menerima realitas yang bersifat tidak menyenangkan, asalkan realitas yang tidak menyenangkan itu terjadi karena dirinya mempertahankan standar kebaikan yang tinggi dan keberhargaan diri yang bermakna. Berbekal disiplin dalam makna itu, para pemimpin pemerintahan tidak akan menghalalkan segala cara dalam upaya mewujudkan aneka keinginan atau sejumlah kebutuhan. Berbekal disiplin dalam makna itu, pemimpin pemerintahan berani dan bisa menindak tegas setiap pelaku tindakan yang salah, semisal pelaku korupsi, kendati pelaku korupsi itu adalah kawan dekatnya, bahkan anggota keluarganya sendiri. Bagaimanapun pengejawantahan ketiga hal hakiki itu perlu dipelopori para pemimpin pemerintahan. Kepeloporan mereka merupakan keniscayaan untuk berlangsungnya terapi atas resistansi Indonesia terhadap gerak maju menuju keadilan dan kesejahteraan nyata dan sejati. Terapi itu sudah menjadi sedemikian niscaya karena rakyat yang telah banyak ditebari janji-janji keadilan dan kesejahteraan telah memasuki tahapan kekecewaan yang nyata (disillusionment). Jika disillusionment tidak segera diterapi, rakyat akan menjadi apatis, lalu pada saatnya menjadi hamparan insan yang sulit percaya. Di tengah ketidakpercayaan, Indonesia akan terguncang bahkan mengalami regresi atau kemunduran. Hal itu akan mengerikan sekali. Limas Sutanto Psikiater, Kini Studi Pascasarjana Konseling, Bertempat Tinggal di Malang [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Buruh Tani Sulit Menyekolahkan Anak: 01776, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | Harga BBM Naik, Anak Jalanan Bertambah: 01776, Ambon |
| Previous by Thread: | Buruh Tani Sulit Menyekolahkan Anaki: 01776, Ambon |
| Next by Thread: | Harga BBM Naik, Anak Jalanan Bertambah: 01776, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |