logo       

Polri dan TNI Gelar Operasi Intelijen di Ambon: msg#01774

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Polri dan TNI Gelar Operasi Intelijen di Ambon


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/23/utama/1636612.htm

Polri dan TNI Gelar Operasi Intelijen di Ambon

Jakarta, Kompas - Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional
Indonesia menggelar operasi intelijen di Ambon pascaledakan bom yang
menyebabkan 19 orang luka-luka. Operasi intelijen tersebut dimaksudkan untuk
memburu para pelaku dan otak terjadinya kembali ledakan bom di Ambon.

Diduga, pelaku peledakan tersebut dilakukan olah satu atau dua orang saja,
seperti teror yang terjad di Poso.

"Di mana-mana, teror itu, satu atau dua orang bisa berbuat. Jadi yang dilakukan
itu operasi intelijen sama dengan yang terjadi di Poso kemarin itu. Ada
bom-bom, begitu diadakan operasi intelijen secara hebat, maka ditangkap kapten
polisi sebagai otak dan pemicunya," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam jumpa
pers di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (22/3).

Hanya dalam selang waktu kurang dari lima jam dua ledakan mengguncang kota
Ambon awal pekan ini. Ledakan pertama terjadi Senin pukul 21.30 di kawasan
Ongkoliong, Batumerah, yang menyebabkan lima pemuda terluka karena terkena
serpihan granat. Kelima pemuda tersebut adalah adalah Is Haryanto (19), A Rafiq
Maba (20), Heri Purwanto (17), Rauf Kaplale (30), dan Suhendro (20). Mereka
dirawat di Rumah Sakit Al Fatah Ambon.

Berkaitan dengan kasus itu, 14 orang luka dihajar massa. Hal tersebut terjadi
akibat ada kesalahpahaman masyarakat. Mereka mengira ke-14 orang yang berada di
dalam angkutan umum itu adalah pelaku pelemparan granat yang meledak dan
melukai lima korban tadi.

Seluruh korban yang berada di dalam angkutan umum tersebut kemudian dirawat di
Rumah Sakit Bahayangkara Tantui.

Ke-14 korban tersebut adalah Markus Kelbulan (36), Kaleb Sim (15), Jemmy
Ayawaila (24), Mike Pattimahu (47), Marten Pelamonia (20), Stevi Toumahu (24),
Roy Sialessy (46), Ivon Sialessy (32), David (2), Nela Supusepa (30), Eda
Lewakabessy (25), Stevi Hatu (29), Brian Hatu (1), dan E Titiheru (54).

Hingga Selasa siang tinggal Nela Supusepa dan Marten Pelamonia yang masih
dirawat di rumah sakit.

Ledakan kedua terjadi Selasa dini hari pukul 01.40 di kawasan Urumessing. Tidak
ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Pascaledakan suasana Kota Ambon Senin malam cukup tegang. Warga dari dua
komunitas di Ambon yang tinggal di luar lokasi kejadian berkumpul di sejumlah
tempat, seperti di Mardika, sekitar Citra, dan didepan Rumah Sakit Al Fatah.

Pengamanan di sekitar lokasi kejadian di Ongkoliong hingga ke daerah Tantui
cukup ketat. Setiap kendaraan dan orang yang menuju arah Tantui diperiksa
aparat keamanan. Ruas jalan sepanjang beberapa ratus meter tampak lengang
setelah sebelumnya terjadi kerumuman massa yang melakukan penyerangan terhadap
sebuah angkutan umum yang dikira masyarakat menjadi pelaku peledakan di
Ongkoliong.

Perintah

Perintah kepada pihak Polri dan TNI melakukan operasi intelijen di Ambon
dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rapat mendadak yang digelar
setengah jam setelah ledakan bom Senin malam lalu. Dalam rapat di sela-sela
rapat kabinet terbatas khusus itu hadir Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i
Bachtiar dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

"Setengah jam setelah bom di Ambon, saya di Istana Presiden. Presiden dan
Kepala Polri menerima SMS dari Wali Kota Ambon. Setelah rapat singkat, Kepala
Polri langsung telepon Kepala Polda (setempat) dan Panglima TNI langsung
telepon Panglima Kodam (setempat) untuk memperketat operasi intelijen dan
sweeping di Ambon," ujar Kalla.

Keputusan pengelaran operasi intelijen di Ambon oleh Polri dan TNI diambil
setelah mencermati apa yang terjadi di Ambon setelah konflik (tahun 1999 sampai
2002) dan menewaskan sekitar 5.000 orang mereda.

"Ini pribadi-pribadi, berbeda dengan dulu yang melibatkan komunitas agama
Kristen dan Islam. Jadi yang dikencangkan di Ambon itu seperti operasi
intelijen," ujarnya.

Kalla menilai, reaksi atas ledakan bom di Ambon sangat bagus karena menandakan
kepekaan semua orang dan tidak menggerakkan massa dua komunitas yang sebelumnya
terlibat dalam konflik.

Terkait dengan ledakan bom di Ambon, Kalla menduga ada beberapa kemungkinan
yang dapat menjadi pemicu, antara lain perasaan sentimen keluarga korban
konflik di masa lalu, masalah insiden pribadi, provokasi dari orang-orang yang
tersisa, kriminal, dan faktor Republik Maluku Selatan (RMS) menjelang ulang
tahun RMS bulan April.

Tentang RMS, menurut Kalla, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin
telah minta kepada pemerintah Amerika Serikat agar Alex Manupputy dapat
diekstradisi karena menjadi salah satu pemicu dan provokator.

Aktivitas normal

Selasa siang aktivitas warga kota Ambon kembali berjalan normal. Masyarakat
dari dua komunitas bebas keluar masuk ke daerah yang berbeda komunitas.
Aktivitas perkantoran, pasar, terminal, dan rumah sakit yang biasa digunakan
dua kelompok komunitas masyarakat di Ambon tampak normal.

Menurut sopir angkutan kota jurusan Ambon-Tulehu Tommy Ferdinandus (42),
sebagian penumpang memang ada yang khawatir terhadap dampak dari ledakan yang
terjadi Senin malam. Namun, setelah diyakinkan oleh para sopir bahwa keadaan
aman penumpang yang berasal dari luar kota pun berani masuk ke dalam kota.

Wakil Gubernur Maluku M Abdullah Latuconsina saat mengunjungi para korban yang
terkena serpihan ledakan bom di Rumah Sakit Al Fatah Ambon Senin tengah malam
mengharapkan agar masyarakat tidak terpancing untuk bereaksi dan lebih
berhati-hati terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Pertikaian

Saat Kepala Polda Maluku Brigjen (Pol) Aditywarman, Wakil Kepala Polda Maluku
Komisaris Besar Aloysius Mudjiono, dan Kepala Polres Pulau Ambon dan
Pulau-pulau Lease Ajun Komisaris Besar Leonidas Braksan berkoordinasi untuk
menangani kasus tersebut serta merawat para korban di Rumah Sakit Bhayangkara,
sejumlah aparat Polri dan intelijen TNI Angkatan Darat terlibat perkelahian.

Menurut Braksan, perkelahian tersebut disebabkan ketersinggungan salah satu
pihak. Sebagai kesatrian milik polisi, bila ada pihak luar dari kesatuan lain
yang ingin mencari informasi soal korban di Rumah Sakit Bhayangkara, yang
bersangkutan diharuskan meminta izin terlebih dahulu. Oleh karena itu, sebagai
pemilik kesatrian sejumlah polisi tersinggung atas sikap aparat intelijen yang
masuk tanpa izin itu. "Kasus tersebut telah diselesaikan dan saat ini ditangani
oleh Polda Maluku," kata Braksan. (MZW/INU)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise