logo       

Pendidikan Gratis Harus Berkelanjutan: msg#01560

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Pendidikan Gratis Harus Berkelanjutan


MEDIA INDONESIA
Senin, 21 Maret 2005

DIKBUD

Pendidikan Gratis Harus Berkelanjutan

Perlu Penjelasan ke Masyarakat

JAKARTA (Media): Upaya mewujudkan pendidikan gratis bagi seluruh siswa
sekolah dasar negeri (SDN) di seluruh Indonesia harus dilakukan secara
berkesinambungan dan dengan perhatian penuh.

Pengamat pendidikan Djauzak Ahmad mengatakan hal itu ketika dihubungi
Media, kemarin.

Pernyataan Djauzak itu berkaitan dengan keputusan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk menggratiskan pendidikan seluruh siswa SDN di seluruh Indonesia.

''Menggratiskan pendidikan dasar itu tidak dapat dilakukan secara
terputus-putus. Untuk itu, perlu dirancang pola distribusi anggaran yang tepat
agar dana untuk menggratiskan pendidikan dasar itu tidak sampai putus di tengah
jalan, karena hanya akan menjadi sia-sia saja,'' kata Djauzak.

Ia menambahkan, dengan keterbatasan anggaran pendidikan yang dimiliki
mustahil pemerintah mampu memenuhi semua keperluan siswa SDN dalam proses
belajar mengajar. Karena itu, usul Djauzak, perlu dirumuskan secara benar pola
penganggaran dan distribusi bantuan pendidikan itu.

''Kalau melihat dari jumlah anggaran pendidikan saat ini pemerintah tidak
memiliki kemampuan untuk menggratiskan pendidikan SDN secara keseluruhan.
Namun, jika ada keseriusan dalam mewujudkan pendidikan gratis itu, perlu
dipikirkan suatu cara agar dana pendidikan mendapatkan alokasi tambahan dari
sektor lain,'' katanya.

Mantan Direktur Pendidikan Dasar Departemen Pendidikan Nasional
(Depdiknas) itu menilai sektor pendidikan seharusnya menjadi prioritas utama
dalam menata kembali bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya bidang
pendidikan mendapatkan anggaran yang lebih besar dalam pengimplementasian
program-program kerjanya.

Selain menambah alokasi anggaran, Djauzak menilai efisiensi pendanaan
pendidikan yang selama ini telah sedemikian buruk perlu ditata kembali.
Menurutnya, banyak sekali beban pengeluaran yang harus ditanggung oleh orang
tua siswa, meski sebetulnya pengeluaran tersebut tidak berkaitan dengan proses
belajar mengajar itu sendiri.

''Bisa dikatakan bahwa pendidikan di Indonesia menjadi mahal bukan karena
hal yang memang diperlukan dalam proses belajar. Misalnya beban seragam
sekolah, uang gedung, BP3, uang buku, dan masih banyak lagi jenis pungutan
lainnya,'' kata Djauzak.

Perlu sosialisasi

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sutjipto, di
Jakarta, kemarin, mengatakan pemerintah harus menegaskan kepada masyarakat
mengenai definisi penggratisan pendidikan di SDN itu.

''Gratis yang dimaksudkan bagi seluruh SDN itu harus diberitahukan secara
jelas batasannya. Apakah gratis dengan hanya menanggung SPP saja atau termasuk
seluruh kebutuhan pendidikan siswa selama menuntaskan pendidikannya di tingkat
dasar,'' kata Sutjipto.

Dalam pandangannya, anggaran pendidikan tahun 2005 belum memungkinkan
negara untuk menanggung pendidikan dasar secara total bagi siswa SDN.
Karenanya, menurut Sutjipto, pola beasiswa merupakan hal yang paling realistis
yang dapat dikembangkan pemerintah.

''Menggratiskan semua siswa SDN perlu dipikirkan kembali, karena kalau
memang sebuah sekolah sudah mampu untuk membiayai pendidikannya sendiri,
penggratisan itu tidak diperlukan lagi,'' kata Sutjipto.

Ia menilai penggratisan yang dilakukan pemerintah sebaiknya dilakukan
secara terbatas, mengingat minimnya anggaran yang dimiliki untuk menggratiskan
seluruh siswa SDN.

Survei wajib belajar

Sementara itu, berdasarkan siaran pers yang dikeluarkan Dinas Pendidikan
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Sabtu (19/3) disebutkan bahwa sebanyak 153.683
anak berusia 7-15 tahun di Jawa Barat belum dan tidak bersekolah.

Data yang dihimpun Dinas Pendidikan tersebut menunjukkan sebanyak 121.586
anak yang tidak bersekolah itu masih berminat untuk melanjutkan pendidikannya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dadang Dally menjelaskan data
sementara yang terkumpul itu merupakan data yang dibawa pejabat teras
(Kasubdin, Kabag, dan Kabalai) Dinas Pendidikan Jawa Barat yang diterjunkan
secara serentak ke Kabupaten/Kota selama dua hari (17-18 Maret).

''Pendataan tersebut merupakan langkah ketiga dari program Percepatan
Penuntasan Wajib Belajar sembilan tahun yang ditetapkan oleh Gubernur Jawa
Barat,'' kata Dally.

Pendataan yang dilakukan oleh Tim Sistem Informasi Manajemen (SIM) Dinas
Pendidikan Jawa Barat itu menyebutkan sebanyak 85.789 anak yang tidak
bersekolah berasal dari keluarga kurang mampu berusia 7-15 tahun.

''Berdasarkan data yang masuk, rata-rata pendataan anak usia 7-15 tahun
yang tidak dan belum sekolah dari keluarga kurang mampu di Kabupaten/Kota
se-Jawa Barat sudah mencapai 72,18 %,'' kata Penanggung Jawab SIM, Tri Budi
Yudo. (Tmi/X-11)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise