logo       

jihad Pendidikan: msg#01375

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: jihad Pendidikan


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/18/opini/1626747.htm

Jihad Pendidikan
Jaya Suprana

BAGI yang tidak menghayati hakiki maknanya, banyak prestasi yang tercatat di
Museum Rekor Indonesia atau Muri terkesan remeh, sepele, bahkan janggal.
Termasuk di antaranya Kabupaten Jembrana, Bali, sebagai penerima piagam
penghargaan Muri atas prestasi sebagai kabupaten pertama yang berhasil
menyelenggarakan pendidikan secara cuma-cuma bagi segenap warganya.

NAMUN bagi yang mau dan mampu menghayati maknanya, prestasi Kabupaten
Jembrana layak dikagumi sebagai Jihad Pendidikan yang merupakan teladan dan
bukti nyata bahwa menyelenggarakan pendidikan secara cuma-cuma bagi setiap
warga negara Indonesia-sesuai dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 versi
sebelum maupun setelah amandemen-sebenarnya bukan sesuatu utopia nan
mustahil!

Meski jelas tersurat dan tersirat dalam UUD 1945-versi mana pun-bahwa setiap
warga memiliki hak atas pendidikan, pada kenyataannya hak atas pendidikan
itu diingkari dengan fakta bahwa setiap warga Indonesia hanya memiliki
kewajiban atas pendidikan, dalam makna kewajiban memikul biaya pendidikan,
bahkan masih ditambah biaya-biaya yang sebenarnya tidak wajib dipikul sebab
tidak mutlak langsung terkait pada pendidikan, seperti seragam, uang gedung,
dan buku pelajaran yang terus-menerus diganti dan wajib dibeli. Para
penyelenggara dan "ahli" pendidikan lazim beranggapan bahwa pendidikan itu
butuh, bahkan rakus biaya, maka mahal, maka layak divonis sulit bahkan
mustahil diselenggarakan secara cuma-cuma bagi para warga.

Para guru, jika mendengar angan-angan bahwa pendidikan akan diselenggarakan
secara gratis, langsung alergi derita- makin-parah akibat khawatir mereka
juga harus menggratiskan jasa mereka, padahal mereka sudah dipaksa menjadi
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! Maklum, di masa pendidikan wajib dibayar (mahal
lagi!) oleh para warga saja, mutu kehidupan para guru-akibat kebocoran
administratif di sana sini-sudah di bawah garis kemiskinan, bayangkan skala
malapetaka yang terjadi jika pendidikan malah digratiskan!

Pihak Depdiknas sendiri, termasuk segenap departemen yang tergabung dalam
koordinasi Kesejahteraan Rakyat, cenderung menganggap bahwa pendidikan
cuma-cuma masih merupakan utopia, suatu cita- cita mulia yang mungkin baru
akan berhasil di masa nun jauh di depan, di masa bangsa Indonesia sudah
masuk kelompok negara maju, seperti Jerman. Kesejahteraan rakyat
ditingkatkan dulu sampai tingkat tertentu, baru pasal hak warga atas
pendidikan sesuai yang tertera dalam UUD 1945 benar-benar dapat dijabarkan
pada kenyataan. Jadi, rakyat disejahterakan dulu, baru boleh berhak untuk
memperoleh pendidikan, bukan sebaliknya.

Seperti memang sudah lazimnya terjadi pada masalah-masalah nusa dan bangsa
yang hakiki sekaligus akut, tampaknya hak rakyat atas pendidikan lebih
banyak diperdebatkan dengan kecenderungan luar biasa enggan ketimbang
benar-benar diupayakan untuk diselesaikan apalagi sampai tuntas.

Fakta
Lain halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Jembrana, Bali. Di kantor
kabupaten terletak di pantai barat, dengan perbendaharaan wisata relatif
paling minim maka tergolong kabupaten paling miskin di Bali, masalah
pendidikan ternyata bukan asyik diperjanjikan atau sibuk diseminarkan,
tetapi segera dikaji, ditelaah, direncanakan, lalu langsung dijabarkan
dengan langkah-langkah nyata.

Ketika diangkat menjadi Bupati Jembrana, Prof drg I Gede Winasa bukan
bingung mencari cara demi memperkaya diri, tetapi demi menyejahterakan
rakyatnya. Pejabat kabupaten jenis langka ini juga tidak cengeng meratapi
dana penghasilan daerahnya yang kebetulan termasuk relatif miskin, akibat
minimnya obyek wisata di tengah gemerlap wisata Pulau Bali, tetapi langsung
mengoptimalkan efisiensi dan efektivitas dana yang sudah ada, di samping
ikhtiar mencari atau bahkan mencipta sumber dana (halal!) yang belum ada.

Bupati Jembrana langsung nyata gigih membasmi korupsi, bukan dengan janji
atau slogan atau sekadar membentuk tim, tetapi dengan keteladanan sikap dan
perilaku dirinya sendiri, sambil menindak tegas, tanpa kompromi atau pandang
bulu, siapa saja yang masih nekat berani melakukan korupsi.

I Gede Winasa juga layak memperoleh penghargaan Muri atas prestasi
satu-satunya bupati yang menuntut gajinya diturunkan. Untuk kendaraan
dinasnya, Bupati "Tidak Lazim" Jembrana ini juga tidak minta yang baru,
tetapi cukup Toyota Hardtop tahun 1978 saja.

Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Jembrana untuk tahun 2003
yang hanya Rp 232 miliar, Sang Bupati mengalokasikan anggaran pendidikan
(termasuk gaji PNS-nya) 34,27 persen yang ternyata mampu menjabarkan program
pendidikan berupa pembebasan biaya pendidikan SD, SLTP, SLTA; pembangunan
dan pemugaran gedung sekolah; beasiswa untuk para guru guna melanjutkan
pendidikan; peningkatan kesejahteraan guru lewat peningkatan insentif;
pemberian bonus tahunan, dan penyelenggaraan Sekolah Kajian.

Bagi yang skeptis, mutu pendidikan merosot akibat penggratisan pendidikan,
silakan menyimak bukti terukur kinerja pendidikan di Jembrana seperti angka
drop-out turun menjadi 0,03 persen (nilai rata-rata nasional 1 persen), dan
hasil ujian akhir sekolah maupun nasional dengan tingkat kelulusan 98,84
persen termasuk kelompok tertinggi di Indonesia.

Meski demikian, bukan berarti Bupati Jembrana hanya miopik terobsesi masalah
pendidikan. Sebab, demi kesejahteraan rakyat Jembrana, masih ada program
pembebasan biaya kesehatan bagi segenap warga, pembebasan biaya penerbitan
KTP (yang berasuransi!), pemberian dana talangan pertanian di samping
pembebasan PBB untuk lahan pertanian, pelayanan perizinan satu atap,
pemberlakuan owner estimate, pemberian bonus tahunan bagi PNS, pemberlakuan
standardisasi satuan harga barang pembelian pemda, efisiensi kendaraan dan
rumah dinas, pendirian industri penyulingan air laut menjadi air minum, dan
aneka langkah spektakuler lainnya.

Makna terakbar prestasi superlatif I Gede Winasa sebagai Bupati Jembrana
pemrakarsa Jihad Pendidikan adalah membuktikan dengan sikap, perilaku, dan
langkah nyata bahwa cita-cita terluhur bangsa Indonesia, yakni masyarakat
adil dan makmur, bukan sekadar suatu slogan impian utopis yang mustahil
dicapai secara nyata. Apalagi sekadar menyelenggarakan pendidikan secara
cuma- cuma demi menjunjung tinggi hak setiap warga memperoleh pendidikan
(masih ditambah fasilitas pelayanan kesehatan gratis), jelas nyata
dibuktikan di Kabupaten Jembrana-dengan segala kekurangan dan keterbatasan
dana-apabila benar-benar mau, pasti mampu dilaksanakan. Jika tidak
dilaksanakan, berarti bukan akibat tidak mampu, tetapi sekadar tidak mau
belaka.

Jaya Suprana Budayawan



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise