|
Guru Mogok, Pendidikan di Jayawijaya Makin Buram: msg#01212culture.region.indonesia.ppi-india
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0503/16/daerah/1619825.htm Rabu, 16 Maret 2005 Guru Mogok, Pendidikan di Jayawijaya Makin Buram Wamena, Kompas - Kondisi pendidikan di Kabupaten Jayawijaya, Papua, sampai kini sangat memprihatinkan. Aksi unjuk rasa yang dilakukan 1.815 guru di Jayawijaya yang menuntut pembayaran gaji belum juga berakhir dalam sebulan terakhir. Padahal, perkembangan pembangunan di Jayawijaya sangat ditentukan oleh kemajuan pembangunan pendidikan di daerah pedalaman Papua ini. Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Nasional Provinsi Papua Jerry Haurissa di Jayapura, Senin (14/3), mengemukakan, persoalan pendidikan di Jayawijaya sangat menyedihkan. Terbukti, katanya, tidak ada yang memberi perhatian khusus terhadap unjuk rasa yang dilakukan 1.815 guru. Ia menunjukkan, kemerosotan mental di kalangan pejabat merupakan buah pendidikan yang diselenggarakan asal ada ijazah, bukan memerhatikan kualitas pendidikan itu sendiri. Menurut dia, bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi rakyat merupakan tuntutan utama dalam pembangunan otonomi khusus. Oleh karena itu, dana otonomi khusus yang setiap tahun dibagikan kepada daerah antara Rp 100 miliar- Rp 200 miliar per kabupaten/ kota diprioritaskan untuk empat sektor tadi. "Tetapi, kebijakan pemerintah kabupaten atau kota kadang berbeda dengan kebijakan Undang-Undang Otonomi Khusus yang memberi prioritas pada empat sektor tadi. Dana tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan lain sehingga sektor pendidikan diabaikan, seperti yang terjadi di Jayawijaya," ungkap Haurissa. Berkeliaran Aksi demo para guru selama satu bulan terakhir ini mengakibatkan sekitar 6.000 siswa di daerah itu tidak mendapatkan pendidikan seperti di daerah lain. Para siswa berkeliaran di dalam kota Wamena, sebagian kembali ke kampung membantu orangtua bekerja di ladang, sebagian lagi mengayuh becak atau bekerja di toko-toko milik warga pendatang di Wamena. Sementara itu, para guru yang tadinya menyebar di kampung-kampung dan distrik di Jayawijaya saat ini menumpuk di Wamena. Mereka melakukan aksi demo menuntut hak-hak yang belum dipenuhi Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, seperti tunjangan guru di daerah terpencil, tunjangan kemahalan, dan dana ujian akhir nasional. Menurut Haurissa, tuntutan para guru ini sangat wajar, tetapi jangan mengorbankan anak-anak karena bagaimana pun proses belajar mengajar harus terus berjalan. "Masih ada cara lain yang ditempuh para guru untuk menuntut hak kepada kepala dinas setempat. Anak-anak jangan dikorbankan karena mereka adalah pemilik masa depan dan penerus pembangunan di daerah itu," paparnya. Ketika proses belajar mengajar berlangsung normal saja, lanjut Haurissa, masih banyak lulusan SD dan SLTP di pedalaman tidak tahu tulis dan baca, apalagi didera oleh aksi mogok mengajar para guru sampai berbulan-bulan. Aksi mogok tersebut semakin mendorong generasi muda setempat makin tidak lagi berkonsentrasi terhadap pendidikan. Tidak seperti sekolah-sekolah di luar Papua, umumnya ketika terjadi mogok guru, para siswa dengan dorongan orangtua berusaha melakukan kegiatan belajar sendiri. Selama ini hampir seluruh kegiatan belajar di Papua disponsori sekolah. Para orangtua murid di pedalaman tidak memiliki perhatian sama sekali terhadap pendidikan. Anak- anak dibiarkan berjuang sendiri di sekolah, bahkan anak- anak ke sekolah pun tidak diberi makanan, buku tulis, dan fasilitas sekolah lain. Para guru yang mempunyai pekerjaan tetap pun mengeluh soal biaya hidup sehari-hari, apalagi para siswa dan orangtua siswa. Para orangtua ini hidup berpindah-pindah tempat sesuai dengan persediaan hasil hutan di suatu lokasi. Ketika di suatu daerah terdapat makanan yang cukup, mereka menetap cukup lama; ketika persediaan makanan habis, mereka pun berpindah tempat lagi. Titip anak Saat orangtua mengembara di hutan, mereka menitipkan anak-anaknya di kampung karena masih bersekolah. Saling menitipkan anak untuk mengikuti pendidikan di kampung karena orangtua mengembara mencari makanan di hutan ini menjadi satu kebiasaan di kalangan masyarakat pedalaman yang masih bergantung penuh pada alam. Runyamnya, selama di tangan orangtua asuh, sang anak tidak mendapat perhatian sama sekali. Anak-anak hanya dapat makan satu kali dalam sehari. Di sejumlah distrik di Kabupaten Yahokimo, misalnya, setiap hari ada ratusan orangtua siswa berdiri menunggu di sekitar gedung sekolah dasar. Mereka menjemput anak-anak untuk pergi ke hutan mencari makanan. Jika para orangtua ini bosan menunggu, mereka mencari anaknya lalu secara diam-diam membawa pergi anaknya dari sekolah. Ada orangtua mempertanyakan, mengapa anak-anaknya setiap hari ke sekolah, tetapi tidak pintar-pintar. Mengapa guru tidak segera memberi ijazah kepada anak-anak itu? Ada pula orangtua secara sepihak memberhentikan anaknya dari sekolah karena sudah tidak mampu mengembara sendirian di hutan mencari makanan. Nus Gomboh, Kepala Suku Kampung Nalca, Distrik Ninia, Kabupaten Yahokimo, ketika ditemui di Wamena menyatakan, hampir semua orangtua di daerah pedalaman belum paham mengenai pentingnya pendidikan. Anak-anak pedalaman, begitu dapat berjalan dan dapat diperintah mengerjakan sesuatu oleh orangtuanya, menjadi tumpuan harapan para orangtua. "Sebagian orangtua merasa rugi ketika anak-anak setiap hari duduk di sekolah mendengar cerita dari guru, sedangkan di rumah mereka menyediakan makan," papar Gomboh. "Banyak orangtua berpikir anak-anak dilahirkan untuk membantu orangtua sehingga ketika program wajib belajar mengharuskan anak-anak duduk di sekolah, itu kerugian besar bagi orangtua." Gomboh menambahkan, orangtua di Kabupaten Jayawijaya umumnya tidak paham mengenai fungsi pendidikan, sebagai proses investasi masa depan anak. Mereka ingin mendapatkan hasil langsung ketika seorang anak pergi ke sekolah, seperti ketika mereka pergi ke hutan dan langsung mendapatkan makanan untuk kebutuhan hari itu. Hampir sebagian besar orangtua di Jayawijaya tidak mengenyam pendidikan dasar. Mereka ramai-ramai mengirim anak ke sekolah lebih karena imbauan dan desakan dari pemerintah daerah setempat. Relawan Lembaga Studi dan Advokasi HAM (Elsham) Papua di Wamena, Tandi Kogoya, mengemukakan, anak-anak pedalaman yang berhasil melanjutkan pendidikan ke SLTP dan SMA/SMK di Wamena atau di Jayapura berkat kerja keras anak yang bersangkutan. (kor) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | TNI dan Polisi Baku Tembak, Warga Panik: 01212, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | Ambalat, Ada Perusahaan Minyak di Baliknya: 01212, Ambon |
| Previous by Thread: | TNI dan Polisi Baku Tembak, Warga Paniki: 01212, Ambon |
| Next by Thread: | Ambalat, Ada Perusahaan Minyak di Baliknya: 01212, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |