|
MEWASPADAI DI BALIK KONFLIK AMBALAT: msg#00925culture.region.indonesia.ppi-india
MEWASPADAI DI BALIK KONFLIK AMBALAT Seperti telah ramai diberitakan, saat ini tengah terjadi konflik sengit antara Indonesia dan Malaysia memperebutkan blok Ambalat dan East Ambalat di Laut Sulawesi. Konflik ini terjadi menyusul klaim Malaysia atas wilayah itu. Malaysia melalui perusahaan migasnya, Petronas, bahkan pada 16 Februari lalu telah memberikan konsesi blok kaya migas itu kepada Shell (perusahaan patungan Inggeris-Belanda). Nama lengkapnya, The Royal Dutch/ Shell Group. Menurut data Ditjen Migas Departemen energi dan Sumber Daya Mineral, kawasan ini memang mempunyai kandungan minyak yang sangat besar. Diperkirakan mencapai 700 juta hingga satu miliar barel, sementara kandungan gasnya diperkirakan lebih dari 40 triliun kaki kubik (TCF). Klaim itu tentu ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Indonesia yang merasa lebih dulu menguasai wilayah itu, apalagi sebelumnya Indonesia juga telah memberikan konsesi pengelolaan migas blok Ambalat kepada perusahaan Italia, ENI, serta Blok East Ambalat bagi perusahaan Amerika Serikat (AS), Unocal. Konflik itu dikhawatirkan makin meruncing karena kedua belah pihak kini telah mengerahkan kekuatan angkatan bersenjatanya di kawasan sengketa. Bila tidak disikapi secara hati-hati, bukan tidak mungkin akan timbul perang terbuka diantara dua negeri muslim bertetangga. st1:*{behavior:url(#ieooui) } Mewaspadai Konteks Global Dalam konflik ini, hampir tidak ada pihak yang berupaya melihat bahwa ada konspirasi yang berupaya membenturkan Indonesia dan Malaysia dalam konflik abadi dan membuat negara-negara imperialis dapat melestarikan hegemoni dan penjajahannya, baik secara langsung maupun lewat Singapura. Negara kecil ini hanya kuat bila Indonesia dan Malaysia lemah akibat terus menerus berkelahi. Situasinya mirip dengan Timur Tengah, dimana antarnegeri muslim terus bertengkar memperebutkan wilayah dan daerah kaya migas, seperti antara Iran dengan Irak, Irak dengan Kuwait, antar beberapa negara Teluk, Suriah dengan Iran dan Lebanon, dan sebagainya. Memang hanya para konspirator yang akan untung besar, terlepas dari apakah Indonesia atau Malaysia yang mendapatkan hak atas kontrak bagi hasil (production sharing contract). Indikasi adanya konspirasi itu bica dibaca di koran terbitan Amerika Serikat, Los Angeles Times, edisi 4 Maret 2005, yang juga mengutip Wall Street Journal edisi sehari sebelumnya. Dikabarkan Chevron-Texaco, raksasa migas terbesar kedua di AS, sedang melirik Unocal (Union Oil Company of California). Ini kabar lama, namun jadi kian nyaring tahun ini karena laba para raksasa migas menggunung akibat melonjaknya harga minyak, sementara mereka mau menambah cadangan minyak dan gasnya. Pada Januari 2005 raksasa migas RRC, China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), serta Royal Dutch/ Shell Group mendekati Unocal. Belum jelas siapa yang akan sukses mengakuisisi perusahaan migas terbesar kedelapan AS itu. Chevron-Texaco adalah pemilik perusahaan tambang minyak terbesar di Indonesia, PT Caltex Pasific Indonesia, juga beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan Caltex, baik di Indonesia, Singapura maupun negara-negara lain di Asia Pasifik dan AS. Konsesi Chevron-Texaco (Caltex) diperkirakan melebihi 70 persen dari total produksi minyak Indonesia. Salah satu konsekuensinya, pemerintah, parlemen, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), pers dan ulama perlu kian membuka mata mereka terhadap terjadinya monopoli dan oligopoli dalam penambangan minyak, jika Unocal jadi dibeli pemilik Caltex. Ironisnya, produksi Pertamina tidak sampai sepuluh persen total produksi nasional. Adapun CNOOC, sebagai pemilik saham Maxus diberitakan dalam pencemaran Teluk Jakarta dan kasus-kasus penyelewengan kontrak bagi hasil di penambangan minyak lepas pantai Jakarta. Jadi, di balik pengerahan pasukan militer Indonesia dan Malaysia, dan di balik perang diplomasi pemerintah Jakarta dan Kuala Lumpur, ada fakta Chevron-Texaco versus Shell. Sebenarnya, para raksasa migas AS -- tidak hanya Chevron-Texaco -- sudah lama menghadapi perusahaan Inggris-Belanda serta perusahaan Eropa lain. Ini terlihat dari sejarah jatuhnya tambang-tambang migas di Indonesia kepada berbagai perusahaan AS, baik di era penjajahan Belanda maupun sesudah mereka mendepak Belanda di era pemerintahan Soekarno, seperti saat perebutan Irian Barat dimana AS mendapat hadiah tambang emas Freeport. Ketika ada peristiwa PRRI dan Permesta, tambang minyak Chevron dan Texaco di Riau salah satu areal konsesi minyak mereka tidak diganggu oleh pemerintah, TNI, dan gerakan insurgensi. George Aditjondro (1999) dalam buku Tangan-tangan Berlumuran Minyak menyebut tahun 1957 Shell mulai didepak perusahaan AS. Di Malaysia Shell berkuasa sesuai sejarah imperialisme Inggris dan hadiah kemerdekaan Malaysia. Namun, itu hanya duel semu. Situasinya mirip dengan hadis Nabi Muhammad SAW bahwa musuh-musuh Islam akan memperebutkan kita bagaikan orang-orang berebut hidangan di atas meja. Mereka mungkin bertengkar, tapi bisa juga berdamai bila makanan dibagikan kepada semua pihak secara proporsional. Kesemuan itu juga terjadi saat terlihat ada kompetisi antarperusahaan migas AS. Membangun Kesadaran Sesungguhnya, pemilik perusahaan-perusahaan minyak dan gas itu adalah orang-orang yang memiliki tujuan hidup, ideologi, dan visi-misi yang sama, terutama bila dikaitkan dengan ambisi Yahudi menguasai dunia serta menghancurkan dan mencegah Islam kuat kembali. Sebagian saham Shell dipegang keluarga Rothschild, pendiri Bank of England, donatur Freemasonry dan gerakan penumbangan Khilafah Islam yang saat itu berpusat di Istambul, Turki. Mereka pula penyebab Palestina dicaplok Inggris yang belakangan diserahkan kepada Israel. Sementara itu, perusahaan-perusahaan migas AS, seperti Exxon dan Mobil Oil (belakangan merger menjadi Exxon-Mobil), Chevron dan Texaco (belakangan Chevron mengakusisi Texaco), dan sebagainya, dikuasai keluarga dan turunan John D Rockefeller. Kini, keluarga mereka memimpin pencegahan berdirinya kembali Khilafah Islam, institusi pemerintahan berbasis Sunnah Nabi, yang dulu ditumbangkan kapitalis Yahudi Inggris, Rothschild. Adapun Mustafa Kemal Attaturk hanya aktor lapangan. Kesamaan latar belakang dan ideologi itu yang memudahkan terbentuknya BP, gabungan perusahaan asal Inggris, British Petroleum, dengan perusahaan-perusahaan AS, Arco (Atlantic Richfield Company) dan Amoco. Apalagi, sejak dulu ada poros Anglo-Amerika (Inggris-AS) yang didasari kesamaan agama (kristen Protestan), kesamaan ras (Anglo-Saxon) dan kesamaan kepentingan dalam aspek gold (kekayaan ekonomi, termasuk tambang migas dan emas), gospel (penyebaran agama dan nilai-nilai kristen), serta glory (penguasaan dunia dan pencegahan berdirinya kembali Daulah Islam). Persaingan Chevron-Texaco versus Shell juga sama tidak jujurnya dengan persaingan antara AS dan Eropa dalam menghadapi persoalan Irak-Iran, serta reaktor nuklir Iran. Dalam perang Iran-Irak, Iran didukung Uni Soviet dan beberapa negara Eropa, sementara AS mendukung agen intelijennya, Saddam Hussein. Posisi berbeda diambil dalam penyerangan Irak tahun 2003. Begitupun dengan kasus Iran. Dapat pula dinyatakan bila Indonesia menyerahkan konsesi Blok Ambalat kepada ENI (dimiliki Italia), maka pemerintah Italia adalah pendukung kuat AS dalam memerangi umat Islam di Irak, Afghanistan dan sebagainya. Penyerahan Blok East Ambalat kepada Unocal (AS) juga sama: memodali penjajah memerangi kita dan saudara kita. Begitu pula jika Petronas (Malaysia) menyerahkannya kepada Shell: memodali Inggris dan Belanda menguasai kita. AS, Inggris, Belanda dan sekutu protestan mereka sama mendukung Israel. Saat AS mengembargo TNI, Inggris mengikutinya. Bahkan, mereka bekerja sama mengoperasikan satelit mata-mata Echelon yang bisa menyadap semua alat telekomunikasi. Berbagai kesamaan itu yang memungkinkan Petronas bekerja sama dengan perusahaan AS, Exxon-Mobil dan Chevron-Texaco, menambang minyak dan memasang pipa di Chad dan Kamerun, Afrika yang diresmikan tanggal 29 Juli 2003 (lihat arsip berita di situs Petronas). Konflik hanya memperbesar keuntungan dan kekuasaan Barat. Hampir semua senjata Indonesia buatan AS, sementara Malaysia didukung Inggris. Akan ada alasan peningkatan belanja militer yang ujung-ujungnya menggemukkan industri militer AS dan Inggris. Padahal, AS sudah diuntungkan keputusan Pengadilan AS yang mewajibkan Indonesia (Pertamina) membayar 305 juta dolar kepada Karaha Bodas Company untuk suatu klaim yang tidak ada wujudnya, tidak pernah dikerjakannya. Perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa kian untung dengan kenaikan harga BBM karena sebentar lagi mereka dibolehkan membuka SPBU di sini. Mereka menghendaki harga BBM Indonesia tidak berbeda dengan harga internasional agar laba mereka tidak berkurang karena selisih kurs. Sebagai renungan, hingga akhir 2004 Chevron-Texaco dilaporkan memiliki cadangan minyak sebanyak 11,25 miliar barrel. Bayangkan pula, ketika pendapatannya melonjak 28 persen dari 121,3 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi 155,3 miliar dolarAS tahun lalu, maka laba bersih mereka naik 85 persen dari 7,2 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi 13,3 miliar dolar (Los Angeles Times, ibid). Adapun laba Unocal naik 88 persen dari 643 juta dolar AS tahun 2003 menjadi 1,21 miliar dolar AS tahun 2004. Kini, semua angka itu akan terus melambung karena kenaikan harga BBM domestik, reduksi pajak bagi mereka, pemberian konsesi tambang bernilai ribuan triliun rupiah, dan rakyat Indonesia, Malaysia dan lain-lain tetap saja tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri. RI dan Malaysia harus sadar bahwa banyak pihak menghendaki mereka tetap berkelahi setelah sebelumnya gagal meraih keluhuran kemanusiaan dan persaudaraan dalam persoalan TKI. Wajar, berdiplomasi memakai alat pertahanan (gunboat diplomacy). Mencari Solusi Dalam menyikapi konflik ini, yang pertama kali harus diingat adalah bahwa Malaysia dan Indonesia adalah sama-sama negeri Islam dengan penduduk mayoritas muslim. Sebagai sesama muslim, keduanya tentu adalah bersaudara, meski hidup dalam wilayah berbeda. Persaudaraan Islam tidaklah mengenal batas teritorial. ]ÅöäøóãóÇ ÇáúãõÄúãöäõæäó ÅöÎúæóÉñ ÝóÃóÕúáöÍõæÇ Èóíúäó ÃóÎóæóíúßõãú[ Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah (Q.S. al-Hujurat: 10) Di masa kejayaan Islam, umat Islam di seluruh dunia hidup dalam naungan daulah khilafah. Tapi pada tahun 1924, payung dunia Islam itu runtuh dengan hancurnya Khilafah Utsmani yang berpusat di Turki. Setelah itu, umat yang dulu bersatu terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara, termasuk di antaranya Indonesia dan Malaysia dengan beragam konflik yang mewarnai, diantaranya perebutan wilayah sebagaimana kini tengah terjadi. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, bahwa sesungguhnya akar persoalan di balik krisis Ambalat bukanlah masalah perbatasan, melainkan karena adanya doktrin nation state yang melahirkan negara bangsa. Doktrin ini pula, bersama dengan paham nasionalisme, yang digunakan oleh penjajah untuk mengerat-ngerat negeri-negeri muslim dan mempertahankan perpecahan di seluruh dunia Islam. Jika konflik ini tidak dapat diselesaikan secara arif dan rasional, akan dengan mudah memicu perang terbuka antara Malaysia dengan Indonesia, sebagaimana yang dituntut oleh sebagian kalangan yang akhir-akhir ini kian nyaring terdengar di Indonesia. Bila itu benar-benar terjadi, kedua negara pasti akan mengalami kerugian besar. Sementara, yang diuntungkan justru pihak lain. Mengapa? Pertama, perang pasti akan menguras sumberdaya kedua negara (dana, manusia, waktu dan tenaga). Sementara, secara ekonomi, karena konsesi eksploitasi migas telah diberikan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia kepada perusahaan minyak asing, maka siapa pun yang kelak akan menguasai blok itu, perusahaan dan negara tempat perusahaan itu berasal itulah yang diuntungkan. Kedua, secara politik, jika masing-masing pihak bersikukuh dengan klaimnya, maka bisa jadi kawasan tersebut akan diinternasionalisasi oleh badan dunia, sebagaimana yang pernah hendak dilakukan terhadap al-Quds. Jika demikian, maka baik Indonesia maupun Malaysia akan sama-sama rugi. Sementara, yang akan diuntungkan lagi-lagi tentu negara-negara yang mempunyai pengaruh paling kuat di badan-badan dunia, baik di Mahkamah Internasional, PBB, maupun yang lain. Ketiga, dari aspek pertahanan dan keamanan, jika konflik bersenjata antara Indonesia dan Malaysia itu sampai pecah, pasti akan menjadi justifikasi bagi pihak asing, khususnya negara-negara penjajah tadi agar bisa melakukan intervensi di kawasan tersebut. Maka persoalan akan menjadi semakin rumit, dan bisa dipastikan konflik tersebut akan berlarut-larut. Ini seperti yang dialami oleh Suriah dan Lebanon, atau India dan Pakistan. Oleh karena itu, penyelesaikan konflik Ambalat harus dikembalikan kepada akar masalah, yakni karena hilangnya persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah naungan daulah khilafah. Dan dari melihat duduk persoalan yang sebenarnya sebagaimana dijelaskan di atas, krisis Ambalat tersebut semestinya harus diselesaikan dengan cara damai, bukan melalui konfrontasi, apalagi perang yang akan merusak persaudaraan Islam. Maka, penyelesaian melalui jalur diplomasi inilah yang paling baik, yakni dengan cara mengembalikan penguasaan wilayah itu kepada pihak pertama yang lebih dulu menguasai wilayah itu, yaitu Indonesia. Prinsip ini ditegaskan Rasulullah saw dalam hadits: «ãöäóì ãõäóÇÎñ ãóäú ÓóÈóÞó» Mina adalah hak bagi siapa saja yang terlebih dahulu sampai. (H.R. Hakim, Ibn Huzaimah, Ibn Majah, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi) Apalagi berdasar bukti yang ada sesuai dengan hukum kelautan, secara historis wilayah Ambalat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah kesultanan Balungan, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Kaltim. Dengan demikian, Indonesialah yang lebih berhak terhadap wilayah tersebut. Artinya, pemerintah Indonesia harus bisa membuktikan kepada pemerintah Malaysia, bahwa Indonesialah yang lebih berhak atas wilayah tersebut, baik dari aspek kesejarahan maupun dokumen hukum kelautan. Sementara pihak Malaysia semestinya berbesar hati, bahwa klaim mereka atas blok Ambalat itu sama sekali tidak didukung oleh bukti yang kuat, termasuk bukti sejarah. Sebagai sesama negeri muslim, pemerintah kedua negara harus menyadari bahwa Islam sama sekali melarang konfrontasi, apalagi perang terbuka. Karena itu, segala bentuk konfrontasi harus dihindari. Meski demikian, semestinya pemerintah Indonesia tidak memberikan konsesi pengelolaan blok kaya migas itu kepada perusahaan asing dan swasta. Dalam pandangan syariah, migas merupakan milik rakyat, bukan milik negara. Karenanya, negara tidak berhak memberikan konsesi apapun kepada pihak swasta. Maka, tindakan pemerintah Indonesia memberikan konsesi eksploitasa migas blok Ambalat kepada ENI dan Unocal, atau tindakan pemerintah Malaysia memberikan konsesi kepada Shell melanggar prinsip kepemilikan rakyat. Apalagi kenyataannya, perusahaan yang mendapatkan konsesi itu adalah perusahaan yang notabene berasal dari Inggris dan Amerika yang dikenal sebagai negara penjajah modern. Khatimah Akhirnya, persoalan ini semakin menguatkan keyakinan kita, bahwa akar masalahnya adalah karena negeri-negeri muslim yang semula bersatu di bawah naungan bendera Lailaha Illa-Llah Muhammadurrasulullah itu kini telah terpecah belah dengan egonya masing-masing. Diyakini bahwa persoalan semacam ini akan terus berlangsung hingga dunia Islam bersatu kembali di bawah naungan daulah Khilafah. Oleh karena itu, keberadaan daulah khilafah bukan saja wajib, tapi juga perlu untuk menjaga persatuan dan kesatuan negeri-negeri kaum muslim. Jika tidak, umat Islam akan terus-menerus disibukkan dengan riak-riak seperti ini yang membuatnya semakin lemah dan semakin lemah. Sampai kapan? Wallahu a'lam. Lajnah Siyasiyyah Hizbut Tahrir Indonesia http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=439 --------------------------------- Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: Derita Ku (Bukan) Derita Mu...: 00925, boy parla |
|---|---|
| Next by Date: | Sampah Kota Bandung Makin Menumpuk: 00925, Ambon |
| Previous by Thread: | Kebesaran Sriwijaya yang nyaris tak tersisai: 00925, radityo djadjoeri |
| Next by Thread: | Sampah Kota Bandung Makin Menumpuk: 00925, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |