logo       

Kedubes, 'pintu gerbang' yang sungguh memalukan: msg#00538

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Kedubes, 'pintu gerbang' yang sungguh memalukan


Kedubes, 'pintu gerbang' yang sungguh memalukan

c/c: Dino Patti Djalal - Dinodjalal-HZm7HuBdgtaRq8AjE7tl8g@xxxxxxxxxxxxxxxx

Mas Dino yth,
Tolong sampaikan dan diskusikan 'suara rakyat' ini dengan SBY (jangan ke
Jusuf Kalla). Semoga ada perubahan secepatnya......

RD

_______________

Kita semua tahu, kantor kedutaan besar adalah 'pintu gerbang' sebuah negara.
Indonesia termasuk beruntung karena memiliki berbagai kantor kedutaan besar
dan konsulat jenderal di kawasan bergengsi. Tak cuma itu. Rumah dinas duta besar
dan para pejabatnya pun musti di kawasan elit - paling tidak dekat dengan golf
course atau
sport club. Bandingkan dengan beberapa negara melarat lainnya yang kadang
'cuma' menyewa ruangan sempit di sebuah gedung perkantoran. Rumah-rumah
yang mereka huni pun sekadar buat tidur, tak ada pamer kekayaan dengan
lampu-lampu kristal, guci-guci mahal, mobil kinclong, istri kinyis-kinyis,
rare collections, creme de la creme party, platinum card, baju-baju mahal karya
perancang kondang, dan gaya hidup hedonis lainnya.

Orang Indonesia memang paling bisa kalau dalam hal jaga gengsi. Walau
utangnya segunung, yang penting penampilan wah. Istri dubes kalau mau
ke pesta musti bersanggul setinggi gunung. Belum lagi waktu berjam-jam
cuma dihabiskan buat dandan belaka. Memang tak semua bergaya seperti itu,
tak rata-rata ya begitu - khas istri pejabat Orba yang punya Dharma Wanita.
Inilah profil sebuah bangsa yang memahami betul akan citra, tapi tak
peduli pada perlunya perubahan mentalitas dan moralitas yang lebih baik.
Sebetulnya, yang mereka lakukan itu baru tahapan berpamer ria belaka,
belum masuk kategori pembentukan citra. Reputasi dan imaji saling terhubungkan
satu sama
lain, tak bisa terpisah-pisah, apalagi kalau sekadar pamer belaka.

Di masa Soeharto, konon para duta besar adalah 'orang buangan' yang tak
disukai rezim. Kini kebiasaan buruk itu pelan-pelan ditepis, dengan lebih
mengedepankan
profesionalitas. Namun, banyak juga beberapa diplomat karier yang sejak
mahasiswa
bermimpi ke luar negeri. Lalu impiannya pun terwujud karena kentalnya
praktik KKN di Departemen Luar Negeri. Departemen dan kantor pemerintah
mana sih yang bersih dari KKN? Walau kerjanya cuma jadi tukang stempel
atau melobi kanan kiri, yang penting kerja di luar negeri, daripada
'ngendon' terus di Pejambon atau di instansi lain dengan gaji pas-pasan.

Di abad teknologi informasi ini rasanya keberadaan Kedutaan Besar perlu ditinjau
ulang. Masih perlukah kantor kedubes dan berlokasi di kawasan mahal? Apa
saja yang musti mereka lakukan selain urusan hubungan epoleksosbudhankam?
Efisienkah sebuah kantor perwakilan di luar negeri didukung ratusan
karyawan yang kerjanya masih mirip kantor departemen dan dinas disini yang
amburadul? Mereka kerja ya kerja sesuai aturan, bukan berdasarkan pada
pengabdian. Sudahkah kantor-kantor kedutaan besar yang luas itu
dijadikan etalase Indonesia? Sudahkah kedubes dijadikan pusat informasi terkini
tentang
negeri Indonesia? Sudahkah kedubes dijadikan ajang promo wisata? Kalau belum,
sungguh
sayang.

Sebagai contoh, kedutaan besar Indonesia di KL yang tiap hari
mirip pasar kaget. Begitu banyak TKI bergerombol sedari pagi hingga kantor
tutup. Ini kan pertanda adanya ketidak efisienan disitu? Kenapa tak diperbaiki
gaya kerjanya? Oh, maaf, dubesnya mantan petinggi Polri..ya begitulah,
kedubes dianggap seperti KOMDAK yang juga dipenuhi calo. Menengok ke dalam,
wah banyak ibu-ibu Dharma Wanita bergosip ria sambil masak memasak. Oh,
organisasi peninggalan Orba kok belum digusur? Apa mereka tak punya
kegiatan lain yang lebih positif? Mendidik anak-anak agar berpikiran majum,
sekolah yang baik, dan tidak terlibat pergaulan bebas dan narkoba, juga
kegiatan yang lebih mulia daripada bergunjing atas tanggungan negara/instansi.

Salam,

Radityo Djadjoeri
radityo_dj-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx

Berikut 'keluhan' seorang teman yang bermukim di Rotterdam, Belanda. Ini
sekadar contoh kecil bahwa 'business as usual' masih saja diterapkan orang-
orang Indonesia yang jadi wakil bangsa di mancanegara:

Mengubah mentalitas dan moralitas bangsa(t) itu memang tidak mudah!
Saya WNI tinggal di Belanda, barusan minggu lalu memperbaharui
paspor saya di KBRI di Den Haag. Kalau kalian pikir di Belanda lebih
mendingan dibanding dengan Kantor Imigrasi Jakarta Selatan, mungkin
jawabnya "Iya, sedikit mendingan". Tapi yang namanya pungli itu tetap
saja jalan terus!

Resminya memperbaharui paspor di Belanda itu adalah 3 hari dan biayanya
untuk paspor perorangan adalah 50 Euro. Paspor keluarga 60 Euro.
Bisa dicek di website-nya KBRI. Tapi, kalau kamu sudah berhadapan dengan
petugas bagian paspor, mereka bilang selesainya sekitar 2 minggu, tapi
telpon saja seminggu lagi, tanya sudah jadi apa belum dan biayanya adalah
60 Euro untuk paspor perorangan. Jadi, dari setiap paspor perorangan
ada pungli 10 Euro (kalau yang paspor keluarga saya enggak tau deh!),
Bayangin tuh berapa pemasukan tambahan mereka dalam sebulan!

Jadi, ya memang kita sangat mengharapkan bahwa bapak-bapak yang
sudah berposisi tinggi di pemerintahan negara kita tercinta, INDONESIA,
semoga benar-benar akan membasmi korupsi, agar bangsa kita tidak
dipermalukan oleh oknum-oknum pecandu pungli. Sampai di rantau-pun
pungli tetap berjaya.

Selain itu, yang namanya WC (kamar kecil) di KBRI Den Haag, ...
aduh mak! Sangat memalukan. Orang-orang Belanda yang lagi pada ngurus
permohonan visum dan musti ke WC, setelah melihat WC-nya maka kalau
tidak kebelet banget, mereka pada menahan diri sebisa mungkin dan
lebih baik cari WC di gedung lain. Kedutaan kok kayak begitu lho
WC-nya! Mungkin ada baiknya kalau KBRI diberi sedikit "kursus perawatan
fasilitas saniter", sehingga layak untuk go international.

Tembok dan lantaipun kumuh dan dekil. Malu-maluin deh! Kalau tidak
punya dana untuk bayar tukang cat tembok dan penggosok lantai,
ya mbok itu para karyawan KBRI giliran piket untuk membersihkan yang
kotor-kotor. Kalau summer holiday, yuk rame-rame bantu ngecat tembok
di KBRI! Demi imago Indonesia di mata international. Oh sungguh
kasihan bangsaku.................

Cheers,

Anton, Rotterdam, NL



Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise