logo       

Agama Sebagai Sumber Kekerasan: msg#00507

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Agama Sebagai Sumber Kekerasan


http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=768


Agama Sebagai Sumber Kekerasan

Tanggal dimuat: 21/2/2005

Mengatakan bahwa agama sebagai sumber kekerasan agaknya memang sebuah
paradoks, karena pesan inti agama adalah perdamaian. Tapi, menolak
keterkaitan itu sama sekali juga merupakan perbuatan naif, karena kita
jelas-jelas melihat banyaknya fenomena pembunuhan, teroirsme, dan perusakan
yang mengatasnamakan agama.

Oleh Luthfi Assyaukanie

Catatan:
Rubrik Kajian di Jawa Pos sejak 11 Februari 2005 dimuat setiap hari Jumat

Para sosiolog sejak lama berbicara tentang agama sebagai sumber kekerasan.
T.K. Oommen, sosiolog asal India, misalnya, menyimpulkan bahwa kekerasan
agama bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi,
politik, dan psikologi, tapi juga karena agama sendiri menyediakan rujukan
yang cukup banyak untuk perilaku semacam itu. Oommen melakukan penelitiannya
terhadap semua agama besar dunia, termasuk Islam dan Hindu (T.K. Oommen,
Religion as Source of Violence, 2001).

Kaum agamawan dan para moralis biasanya menolak pandangan atau hasil
penelitian semacam itu. Bagi mereka, kekerasan bertentangan dengan pesan
luhur semua agama. Karenanya tidak mungkin agama menjadi sumber kekerasan.
Kalaupun ada kekerasan yang bekaitan dengan agama, maka itu merupakan
perbuatan "oknum" pemeluk agama.

Mengatakan bahwa agama sebagai sumber kekerasan agaknya memang sebuah
paradoks, karena pesan inti agama adalah perdamaian. Tapi, menolak
keterkaitan itu sama sekali juga merupakan perbuatan naif, karena kita
jelas-jelas melihat banyaknya fenomena pembunuhan, teroirsme, dan perusakan
yang mengatasnamakan agama.

Saya kira, temuan para sosiolog itu harus disikapi dengan arif. Sikap emosi
dan prasangka buta bukanlah respon yang bijak. Marilah kita mengaca dan
memeriksa diri apakah memang agama benar-benar menyediakan amunisi kepada
pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan.

Pertama-tama, kekerasan, saya kira, harus dipahami sebagai konsekwensi dari
sikap intoleran kepada orang lain (atau pemeluk agama lain). Kalaupun agama
tak secara langsung menyuruh umatnya melakukan kekerasan (seperti teror dan
perusakan), agama, saya kira, menyediakan pesan yang cukup banyak untuk
bersikap tidak toleran.

Saya ingin memberi contoh satu doktrin Islam yang sering digunakan oleh kaum
Muslim untuk membenarkan perilaku intoleran dan bahkan tindak kekerasan
kepada orang lain; yakni doktrin "amar makruf nahi munkar" yang sangat
terkenal itu. Doktrin ini, menurut saya, memberikan peluang bagi intoleransi
dan kekerasan.

"Amar makruf nahi munkar" artinya menyuruh orang kepada kebaikan dan
mencegahnya berbuat hal-hal yang munkar atau dilarang agama. Sebagian kaum
Muslim menganggap bahwa "mencegah yang munkar" harus dilakukan pertama-tama
dengan kekerasan (secara fisik), karena sebuah hadis dengan tegas
menganjurkan: "Jika kalian melihat suatu kemunkaran, ambillah tindakan
dengan tangan kalian." (man ra'a minkum munkaran, fal yughayyir biyadih.).

Doktrin dan pemahaman ini dipakai oleh sekelompok kaum Muslim di Indonesia
dan Malaysia untuk membenarkan perbuatan mereka melakukan razia dan
perusakan terhadap tempat-tempat yang mereka anggap sebagai maksiat atau
kemunkaran. Di Indonesia, kelompok semacam ini diwakili oleh FPI (Front
Pembela Islam), sedangkan di Malaysia diwakili oleh JAWI (Jabatan Agama
Islam Wilayah Persekutuan).

Baru-baru ini, JAWI melakukan serangkaian razia dan penangkapan terhadap
anak-anak muda yang sedang berkumpul di kafe dan tempat-tempat umum (Sunday
Mail, 23 Januari 2005). Tindakan ini persis seperti yang pernah dilakukan
oleh para anggota FPI beberapa bulan lalu. Masyarakat resah dengan tindakan
sewenang-wenang itu. Dan mereka menuntut PM Abdullah Badawi segera
menertibkan para "polisi moral" itu.

Tapi, para pemimpin JAWI tak merasa bersalah dengan apa yang sudah
dilakukannya. Ketika salah seorang pemimpin mereka ditanya mengapa melakukan
perbuatan itu, jawabannya persis seperti yang pernah dikemukakan pemimpin
FPI, yakni mereka berusaha menerapkan amar makruf nahi munkar dan hadis nabi
man ra'a minkum munkaran. [Luthfi Assyaukanie]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise