|
BBM: Ada apa dengan "Iklan Layanan Pemerintah"?: msg#01454culture.region.indonesia.ppi-india
Ada apa dengan "Iklan Layanan Pemerintah"? Iklan satu halaman penuh Freedom Institute, ?Mengapa Kami Mendukung Pengurangan Subsidi BBM?? yang dimuat Kompas, Sabtu (26/2) menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Menurut saya kalkulasi ekonomi yang dipaparkan sebagai materi iklan meskipun tampak sangat rasional, belum tentu sesuai dengan realitas yang dibutuhkan masyarakat secara umum. Idealnya, rasionalitas sejalan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga setiap problem yang dihadapi masyarakat akan bisa dikalkulasi dan dicari jalan keluarnya dengan mudah. Nyatanya, problem yang dihadapi masyarakat selalu kompleks dan sulit untuk bisa dipahami secara linear. Oleh karenanya, ketidaksesuaian antara rasionalitas dengan kebutuhan masyarakat menjadi hal yang biasa. Jika yang rasional selalu sejalan dengan realitas, tentu tak akan ada kritik terhadap paradigma Newtonian-Cartesian. Itu yang pertama. Kedua, data hasil kajian LPEM-FE UI mengenai dampak kenaikan BBM dikaitkan dengan jumlah penduduk miskin di Indonesia ?yang disertakan untuk ?membunyikan? materi iklan?sangat potensial menipu khalayak. Pada faktanya, naik turunnya jumlah penduduk miskin di suatu negara, tak selalu berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi, apalagi hanya satu sektor (misalnya subsidi BBM). Menurut hasil kajian ekonomom asal India peraih hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 1998, Amartya Sen, grafik kesejahteraan (pertumbuhan ekonomi) justeru terkait dengan tinggi rendahnya kebebasan politik yang dinikmati rakyat dalam suatu negara. Menurut Sen, banyak kalangan salah paham mengenai kemiskinan, miskin hanya dipahami sebatas "lack of income" (kekurangan pendapatan). Padahal kurangnya pendapatan itu hanyalah konsekuensi dari kurangnya kemampuan ("lack of capability") dan atau kurangnya kesempatan ("lack of opportunity"). Seseorang menjadi miskin, menurut Sen, terutama disebabkan karena kemampuan yang ada pada dirinya tak diberi ruang untuk diaktualisasikan. Pandangan Sen ini bukan semata didasarkan pada hasil kajian di ruang akademis, melainkan berdasarkan studi empiris. Ketiga, dalam iklan disebutkan bahwa pengurangan subsidi BBM akan dikonpensasikan untuk beasiswa pendidikan, perbaikan sarana kesehatan, dan bantuan beras murah. Ada kesan, beasiswa pendidikan, perbaikan sarana kesehatan, dan bantuan beras murah itu kemungkinan hanya bisa dilakukan dengan baik jika pemerintah mengurangi subsidi BBM. Padahal seyogianya tidak demikian, karena semua itu sudah menjadi tugas pemerintah. Ada atau tidak adanya pengurangan subsidi BBM, adalah wajib bagi pemerintah untuk menolong segenap rakyatnya. Dan dalam melaksanakan kewajiban ini, perlu dicari cara-cara yang kreatif tanpa harus menyakiti hati rakyat. Benarkah menaikkan harga BBM itu ibarat menelan pil yang terasa pahit tapi menyembuhkan? Belum tentu, yang jelas kenaikkan harga BBM berikut dampaknya (kenaikan harga bahan-bahan pokok dan tarif angkutan umum) akan sangat membebani rakyat. Selain ketiga hal di atas, pencantuman sejumlah cendekiawan dan tokoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Franz Magnis-Suseno, Goenawan Mohamad, Todung Mulya Lubis, Hamid Basyaib, Ulil Abshar Abdalla, Lutfi Assyaukanie, Agus Sudibyo, Nong Darol Mahmada, Ayu Utami, Nirwan Dewanto, dll, menurut saya akan merugikan kredibiltas cendekiawan pada umumnya. Taruhlah apa yang disampaikan dalam iklan itu benar, tapi apakah perlu mencantumkan sejumlah nama cendekiawan sebagai penguat. Apalagi jika secara substantif memang isinya belum tentu benar. Kita menginginkan, cendekiawan dan LSM senantiasa menyuarakan kepentingan rakyat, meskipun kita yakin, apa yang menjadi kepentingan rakyat ?sebagaimana kepentingan pemerintah dan para pemilik modal?belum tentu benar. Oleh karena itu, kita bisa memahami dan tidak keberatan (malah senang) ketika sejumlah cendekiawan dan LSM tercantum namanya dalam iklan layanan masyarakat. Contoh, dalam kasus pertikaian antara Tempo versus Tommy Winata, saya senang ketika banyak (aktivis) LSM dan cendekiawan yang membela Tempo meskipun belum tentu Tempo berada di pihak yang benar. Dalam hal ini, yang mereka bela bukan Tempo sebagai institusi bisnis, tapi sebagai media yang bisa menyalurkan aspirasi masyarakat. Maka, pada saat sejumlah cendekiawan dan aktivis LSM tercantum namanya dalam --meminjam istilah Farid Gaban -- ?iklan layanan pemerintah?, tentu akan memunculkan kembali perdebatan klasik mengenai makna ?pengkhianatan kaum intelektual?. Selain itu, pencantuman sejumlah nama cendekiawan yang kredibel pada ?iklan layanan pemerintah?, diakui atau tidak, telah menjerumuskan mereka pada kerancuan berfikir yang disebut pakar komunikasi Jalaluddin Rakhmat (1999) sebagai ?argumentum ad verecundian?. Yakni berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Nama-nama yang dicantumkan dalam iklan itu, otoritasnya sangat tinggi (meskipun tidak semuanya) dalam bidang ilmu dan keahliannya masing-masing: ada ahli filsafat, ahli hukum, pakar politik, pakar agama, dan lain-lain. Tapi apa relevansi pencantuman nama mereka untuk iklan yang mendukung pengurangan subsidi BBM yang berarti legitimasi bagi keabsahan kenaikan harga BBM? Memang, bisa saja diajukan argumen bahwa persoalan pengurangan subsidi BBM tidak hanya terkait dengan persoalan ekonomi, tapi terkait erat dengan hajat hidup orang banyak. Karena dampak dari kebijakan pengurangan subsidi BBM itu menyentuh beragam kebutuhan masyarakat maka para ahli di bidang filsafat, hukum, politik, dan kebudayaan pun bisa ikut mendukungnya. Kalau memang demikian, berarti iklan itu juga telah menjebak mereka pada kesalahan berfikir yang lain, yakni ?fallacy of misplaced concretness? (upaya mengkonkretkan sesuatu yang pada dasarnya abstrak), dan ?fallacy of dramatic instance? (penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum). Bagaimana menurut teman-teman? Salam, Abdul Rohim Ghazali email: ar_ghazali3-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | .. Putri Qara: 01454, Listy |
|---|---|
| Next by Date: | Soal "cendekiawan" yang mendukung kenaikan harga BBM: 01454, Satrio Arismunandar |
| Previous by Thread: | .. Putri Qarai: 01454, Listy |
| Next by Thread: | Soal "cendekiawan" yang mendukung kenaikan harga BBM: 01454, Satrio Arismunandar |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |