|
SURAT DARI M.HISYAM DARI LIPI: msg#01424culture.region.indonesia.ppi-india
Pengantar: Berikut adalah surat tanggapan M.Hisyam dari LIPI atas pendapat-pendapat yang diajukan atas buku LIPI yang ada hubungannya dengan Dayak, khususnya tentang Kaharingan [lihat:posting-posting terdahulu mengenai soal ini]. Barangkali ada baiknya jika ada tanggapan balik yang sehat tanpa emosi tanda kematangan kita [terutama dari kalangan Dayak] mendengar pendapat dari siapa pun. JJK De: "M. Hisyam" <hisyam-QFVTvYvf3lC8rHFcjEY/OA@xxxxxxxxxxxxxxxx> À: <marko_mahin-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@xxxxxxxxxxxxxxxx> Cc: <Dayak-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx>; <katingan-fBIn7JHAfCbUKx/7vDf7Bw@xxxxxxxxxxxxxxxx> Objet: Tanggapan diskusi Date: lundi 28 février 2005 04:06 Yth. Sdr. Marko Mahin, Terlampir saya sampikan tanggapan saya atas "diskusi" tulisan Sdr. M. Saleh Buchari. Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini membuat jelas duduk perkaranya, dan suatu kesalahan dapat dimaafkan. Terima kasih atas perhatian Anda. Hormat kami M. Hisyam Saudaraku-saudaraku cendekiawan Dayak Yth. Nama saya Muhamad Hisyam, orang yang disebut-sebut sebagai penulis Kata Pengantar pada buku Agama dan Pandangan Hidup, Studi Local Religion di Beberapa Wilayah Indonesia, terbitan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, tahun 2003. Saya merasa penting untuk ikut urun rembug, karena nama saya disebut sebagai orang yang dianggap berdosa besar bersama Sdr. M. Saleh Buchari yang menulis "Pendukung Agama Kaharingan" dalam buku itu. Tulisan sdr. Saleh tidak saja dinyatakan salah total, tetapi malahan telah menghina orang Dayak. Saya mohon ampun kalau sampai sedemikian besar dosa saya kepada orang Dayak lantaran menulis kata pengantar pada buku dimaksud, karena berarti telah merestui penghinaan. Ingin saya jelaskan, ketika Suara Pembaruan menurunkan tulisan Sudirman, wartawan Suara Pembaruan, mengenai keluhan Sdr. Marko Mahin terhadap salah satu bab dalam buku itu yang ditulis oleh Sdr. M. Saleh Buchari, saya meminta kepada Sdr M.. Saleh Buchari untuk memeriksa kembali tulisannya, dan merespons tulisan itu melalui harian yang sama. Ini merupakan bentuk tanggaung jawab saya, walaupun penelitian sesungguhnya adalah dunia yang soliter, yaitu tiap peneliti bertanggung jawab atas hasil penelitiannya. Baik buruk, salah benar adalah tanggung jawab sang peneliti bersangkutan. Ketika Sdr. Saleh Buchari kemudian memperlihatkan naskah tanggapannya atas berita dalam Suara Pembaruan, saya katakan: "silahkan kirim". Hingga kini saya tidak mendapat kepastian, apakah tanggapan itu dimuat atau tidak. Saya menyetujui tanggapan Sdr. Saleh Buchari itu lantaran menurut hemat saya cukup fair. Bagian yang saya ingat dari tangapan itu kira-kira menyangkut soal proses penelitian. Penelitian social adalah proses memahami fenomena sosial. Caranya, menggunakan teknik yang lazim dilakukan, dalam hal ini wawancara mendalam dan mengumpulkan informasi terkait. Sebagai proses memahami, sudah barang tentu bisa terjadi kesalahan yang disebabkan, baik oleh pemahaman si peneliti yang tidak tepat, maupun oleh informasi yang terkumpul tidak akurat. Ini bisa terjadi karena pengetahuan informan berbeda-beda, sehingga informasi yang terserap pun bisa saling bertentangan. Saya ingat betul Sdr. Saleh minta maaf kalau suatu kesalahan telah terjadi dalam proses ini, dan mohon agar ditunjukkan kesalahan-kesalahannya, apa saja. Sebagai seorang bukan Dayak ia merasa masih banyak harus belajar kebudayaan Dayak. Kesalahan dalam dunia penelitian itu biasa terjadi. Ia merasa sama sekali tidak punya niat sedikitpun menghina atau mengejek kebudayaan Dayak. Ia meneliti Kaharingan justeru karena rasa respek terhadapnya, bukan ingin menghinakannya, sebagaimana ia merasa hormat terhadap agama dan suku bangsa lain manapun. Mudah-mudahan ia menyimpan filenya, dan akan saya mintakan supaya ia bisa kirimkan ke milis Dayak Yahoogroup. Bagi saya sendiri, saya merasa senang bahwa ada pembaca yang mereaksi buku kami. Kritik dan reaksi merupakan indikasi bahwa buku kami ada yang membaca. Inilah yang memang saya harapkan sebagaimana saya tulis dalam kata pengantar buku itu dan semua buku lainnya yang kami keluarkan. Isi dari pengantar itu pada pokoknya hanya ada dua hal, yaitu mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penelitian dan mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dari yang membaca. Tentang buku itu, saya ingin menjelaskan demikian. Buku itu adalah hasil penelitian tahun pertama proyek penelitian mengenai agama lokal yang direncanakan lima tahun. Tahun kedua, 2004, telah dilakukan untuk agama-agama lokal di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Tahun ini (ketiga) selain Jawa, juga Bali dan Lombok. Pada akhir proyek ini nanti kami akan mengusahakan menerbitkannya bekerjasama dengan penerbit komersial menjadi satu buku, dan mungkin tidak cukup satu jilid. Dengan demikian hasil penelitian kami dapat dibaca oleh masyarakat yang lebih luas, dan harapan kami, berguna. Tentu setelah melalui proses editing yang ketat. Gagasan ini muncul, mengingat selama Orde Baru pemerintah hanya mengakui lima agama saja, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Di luar itu seolah-olah tidak ada agama lagi. Padahal dalam kenyataan terdapat sekian banyak agama. Kami sengaja tidak menyebut agama-agama di luar lima agama formal itu sebagai agama primitif, atau agama pelbegu, melainkan "agama lokal" agar kami tidak terjebak pada subjektivitas. Kami tidak ingin terlibat dalam kontroversi apakah "agama-agama lokal" itu "agama" atau bukan. Ini hanya menyangkut soal definisi agama. Karena itu, kami sengaja mencabut kata "Hindu" dari Kaharingan, karena punya anggapan bahwa Kaharingan mempunyai eksistensinya sendiri. Kembali kepada buku yang kita bicarakan, dengan jujur saya ingin mengatakan bahwa buku itu sebenarnya lebih merupakan pertanggungjawaban administratif proyek dari pada buku yang sesungguhnya, walaupun untuk sampai bentuk demikian telah dilalui prosedur standar, yakni diseminarkan dengan mengundang diskusan akademisi dari luar lingkungan kami, lalu disunting oleh seorang editor. Sebagai pertanggungjawaban administratif, maka dapat diduga bahwa jumlah penggandaannya sangat terbatas, hanya sesuai dengan dana yang disediakan untuk ini, dan tidak dijual di toko buku. Orang bisa memilikinya karena mengunjungi kami dan tertarik, kemudian kami beri secara cuma-cuma atau jika orang itu tidak kami kenal maka kami minta sekedar megganti ongkos penggandaan. Dengan demikian dapat dibayangkan betapa terbatas orang yang membaca buku itu. Buku yang "sesungguhnya" baru akan kami terbitkan (mudah-mudahan tidak ada kendala) paling cepat tiga tahun lagi, setelah rencana kami terlaksana semua, dan akan menjadi buku besar, menyerupai ensiklopedi agama-agama lokal, walaupun pasti tidak seluruh agama lokal dapat kami muat di dalamnya. Sebenarnya kami ingin mengikutsertakan pakar yang berasal dari daerah kebudayaan tiap-tiap agama, akan tetapi pengalaman kami pahit. Terdorong oleh keinginan proyek-proyek kami (bukan proyek agama) berjalan optimal, kami pernah mengajak seorang pakar kebudayaan Dayak, seorang Dayak, dosen di salah satu universitas di Kalimantan. Kewajiban kami telah kami lunasi sepenuhnya, yakni honor dan biaya penelitian sebagaimana disepakati. Pada akhir program, kami mestinya memperoleh hak kami, yakni laporan hasil penelitian, tetapi, ternyata tidak selembar pun kami mendapatkannya. Macam-macam upaya untuk menghubungi dan menagih pakar bersangkutan sudah ditempuh, tetapi kami tidak pernah memperoleh jawaban. Saudara-saudaraku yang cendekia, Dalam dunia akademik, itu biasa, terjadi kritik mengkritik suatu karya hasil penelitian antar sesamanya, karena ini merupakan bagian integral dari pengembangan ilmu pengetahuan. Ada kelaziman dalam dunia akademisi, kritik atas karya ilmiah itu ditulis secara ilmiah pula, dan dipublikasi dalam bentuk book review, atau tinjauan buku dan dimuat dalam jurnal ilmiah pula. Karena itu, kami sangat mengharapkan agar kritik saudara dapat ditulis dalam kelaziman kaum akademisi. Kesalahan jangan ditanggapi sebagai fitnah, apa lagi penghinaan, tetapi perlu ditunjukkan ketidakbenarannya (falsifikasi, menurut metodologi K. Popper). Dengan begini tanggapan saudara dapat kami jadikan pegangan untuk memperbaiki dan merevisi buku kami nanti. Saudara-saudaraku yang budiman, Sungguh, kami tidak mempunyai maksud sedikitpun menghina kebudayaan saudara-saudara, dan kebudayaan manapun. Kami hanyalah orang-orang yang ingin memahami gejala sosial, bukan orang-orang yang ingin melecehkan orang lain. Meski begitu, sekiranya ini dirasakan terjadi, pasti bukanlah suatu kesengajaan melainkan kekhilafan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan kami. Walaupun begitu, kami mohon juga agar saudara-saudara membaca sejumlah buku hasil karya peneliti-peneliti LIPI tentang Dayak. Buku yang saudara-saudara hebohkan itu bukan buku pertama, melainkan yang kesekian kalinya. Ada karya Thung Ju Lan, Abdul Rachman Patji, Yekti Maunati, dan lain-lainnya. Kalau saudara-saudara merasa terhina oleh buku peneliti LIPI yang mengandung kesalahan, mestinya saudara-saudara juga akan merasa tersanjung oleh buku-buku peneliti LIPI yang mengandung kebenaran. Kalau satu saja peneliti LIPI yang diemukan salah, tidak berarti seluruh LIPI salah. Kalau satu jelek, tidak adil menjadikan jelek semua peneliti LIPI. Kapasitas peneliti itu bermacam-macam, ada yang junior ada yang senior, ada yang pintar ada yang tidak. Dan kalau fairness ingin ditegakkan, maka jika saudara-saudara hendak menerpakan denda adat kepada kami, lalu hukum adat Dayak mana yang akan saudara terapkan untuk menghukum Ilmuwan Dayak yang telah kami bayar jutaan, tapi tidak selembar pun laporan penelitian kami terima. Akhir kata, kami menghimbau kepada kita semua, termasuk saya, untuk berbagi kearifan. Jangan sampai diskusi ini ditunggangi pihak-pihak tertentu yang hendak mengambil keuntungan untuk tujuan mereka sendiri, memecah belah. Ini bukan tidak mustahil. Kami sudah capek dengan pertikaian. Sekian, dan terima kasih atas perhatian saudara-saudara. M. Hisyam 28 Februari 2005. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Re: hubungan oil price dengan variabel makroekonomi: 01424, fauziah swasono |
|---|---|
| Next by Date: | BLAZING TRAIL, Journey Of The Indian Revolution documentary film: Due to popular demand, more copies available!: 01424, RED RPG |
| Previous by Thread: | [Forum-Pembaca-Kompas] Re: (OOT) Fwd: [gosip_sampe_dower] Apa Kata Zodiak Tentang Kinerja Anda?i: 01424, Carla Annamarie |
| Next by Thread: | BLAZING TRAIL, Journey Of The Indian Revolution documentary film: Due to popular demand, more copies available!: 01424, RED RPG |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |