logo       

Jurnal Kembang Kemuning: Menyambut Kelahiran Jaring Penulis Kaltim [2]: msg#01395

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Jurnal Kembang Kemuning: Menyambut Kelahiran Jaring Penulis Kaltim [2]


JURNAL KEMBANG KEMUNING:

MENYAMBUT KELAHIRAN JARING PENULIS KALTIM [2 --SELESAI].



Kalau sekarang Korrie menjadi orang pertama JPK maka di bahunya terletak
tanggujawab seorang pencinta. Bagi saya, pencinta itu adalah manusia berwawasan
manusiawi yang mengerti akarnya."Nama besar" tidak sama dengan berwawasan.
Bagaimana mempunyai "nama besar" ini adalah satu masalah.Masalah lain, tidak
jarang adanya "nama" gampang menjurus ke individualisme jika hampa wawasan
manusiawi. Dengan kata-kata ini, saya tidak menghakimi, tapi sebatas
mencanangkan seperti kata-kata cerita silat "besar bayangan dari pohon".
Praktek adalah gantang terakhir apa siapa kita.Sebagai sesama Dayak saya yakin
Korrie bisa memahami maksud saya yang menggarisbawahi akan arti tanggungjawab
pada haridepan manusiawi.


Hal lain yang menarik perhatian dari berita yang menyertai kelahiran JPK bahwa
organisasi Jaring Penulis Kaltim ini, sifat keanggotaannya yang terbuka.Kalau
pemahaman saya benar, nampak bahwa yang dimaksudkan dengan penulis Kaltim
adalah semua penulis yang berada di Kaltim, tidak memperdulikan asal etnik asal
daerah mereka. Hal ini tercermin dari apa yang dikatakan oleh Shantined:


"[...]sebuah wadah kreativa kepenulisan yang berada di Kalimantan Timur. Tujuan
dibentuknya JPK ini tak lain karena niat mulia,ingin mempersatukan
penulis-penulis Kalimantan Timur dan mewadahi segala bentuk kegiatan sastra
yang berada di Kaltim".[Lihat: Lampiran].


Selanjutnya:


"[...]Diantaranya mengadakan satu peluang bagi seluruh penulis Kaltim (
berdomisili di Kaltim)...".


Pengertian penulis Kaltim dengan demikian tidaklah terbatas pada
penulis-penulis asal etnik Dayak. Pengertian begini, saya kira [kalau pemahaman
saya benar] sesuai dengan hakekat budaya lamin atau betang [soal yang
barangkali perlu dijadikan bahan diskusi lebih lanjut secara lebih mendalam
sehingga kalau kita menyebut "budaya lamin" atau "budaya betang" kita tahu
maknanya dan tidak menyempitkan pengertiannya sebatas artian fisikal betang
atau lamin]. Pengertian begini juga merupakan sikap awal yang memungkinkan kita
menghimpun semua kekuatan potensial di daerah untuk pemberdayaan daerah dalam
usaha membangun pusat-pusat kebudayaan dan intelektual di berbagai daerah dan
pulau tanahair.


Lahirnya JPK sekaligus menjawab pertanyaan sementara penulis yang tinggal di
daerah dan yang melihat karena bertempat tinggal di daerah si penulis merasa
dirinya tidak bisa mengembangkan diri sebagai penulis, ia tidak bisa melakukan
apa-apa di dunia penulisan. Ia tidak melihat bahwa justru kehidupannya di
daerah memberikan keuntungan tersendiri yang tidak dimiliki oleh mereka yang
tinggal di kota-kota besar di Jawa. Memang tinggal di daerah, memang mempunyai
keterbatasan, terutama dalam mendapatkan bahan acuan yang mutakhir. Tapi
keterbatasan begini bukanlah hal yang bersifat fatal apalagi dengan makin
berkembangnya terus-menerus tingkat tekhnologi komunikasi seperti sekarang,
sehingga isolasi geografis dan fisik, relatif bisa ditembus. Ide pembangunan
perpustakaan dari bawah, saya kira termasuk salah satu cara mendapatkan
acuan-acuan mutakhir ini. Barangkali dalam soal mengembangkan sastra-seni dari
daerah ini, pengalaman Komunitas Rumah Dunia, Banteng, Sanggar Sastra
Tasikmalaya dan komunitas-komunitas lainnya, sangat berguna dipelajari. Dalam
rangka saling belajar antar komunitas ini, saya sangat menghargai tawaran Gola
Gong dari Rumah Dunia yang menawarkan kepada komunitas-komunitas sastra-seni di
mana pun untuk mengirimkan profil mereka ke website Rumah Dunia Banten. Hanya
saja ajakan dan tawaran ini agaknya masih belum mendapat sambutan berarti.


"Gebrakan" -- jika meminjam istilah Shantined --JPK akan makin besar lagi
apabila JPK menggalang kerjasama erat dengan organisasi-organisasi sektoral
sejenis di seluruh Kalimantan, termasuk Sabah-Sarawak serta
pulau-pulau/daerah-daerah tetangga terdekat seperti Makassar, Manado, Jawa
Timur.


Saya juga melihat penting, perhatian JPK sejak berdirinya mengawali kegiatan
dengan memperhatikan masalah "bernuansakan budaya/daerah Kaltim". Pentingnya
soal ini saya lihat dari segi melawan pikiran tunggal [la pensée unique] yang
membunuh keragaman dan dominasi budaya mayoritas atau budaya "super market".
Sejalan dengan pikiran begini maka waktu berada di Palangka Raya, saya usulkan
kepada Salundik Gohong yang waktu itu adalah walikota Palangka Raya, agar dalam
tatakota dan arsitektur kota, semua orang yang datang ke Palangka Raya,begitu
menginjakkan kaki sudah sadar bahwa mereka sedang berada di Kalteng, berada di
Palangka Raya dan bukan di Jakarta, Bandung atau Surabaya. Keragaman budaya
adalah merupakan kenyataan di negeri ini. Mengapa diseragamkan secara paksa dan
membatasi kebudayaan Indonesia pada "puncak-puncak kebudayaan daerah" saja atau
diazastunggalkan? Kebudayaan Indonesia saya kira pada hakekatnya adalah suatu
"benangdinding", jika menggunakan istilah orang Dayak Katingan [Kalteng].
"Benangdinding" adalah kain besar warna-warni yang dijahit dari
potongan-potongan kain warna-warni menjadi sehelai kain besar indah baru.


Pada masa Majalah Kisah, nampak pada saya bahwa H.B.Jassin mencoba
mengembangkan sastra "benangdinding" ini dengan menampilkan banyak
sastrawan-sastrawan dari daerah.Yusach Ananda [Pontianak], Hijaz Yamani dan
Arthum Artha [Kalsel], muncul dan dimunculkan oleh H.B.Jassin. Sekarang
kemunculan sastrawan daerah agaknya banyak ditopang oleh adanya
komunitas-komunitas sastra seni. Tapi seberapa jauh mereka dilirik oleh para
kritikus dan pakar?


Lahirnya JPK juga saya lihat mempunyai arti penting lain, khususnya bagi
komunitas Dayak. Seperti diketahui di kalangan komunitas Dayak, sastra yang
paling berkembang adalah sastra lisan [oral]. Barangkali lahirnya JPK bisa
menciptakan tradisi baru bagi komunitas Dayak yaitu melengkapi sastra lisan itu
dengan sastra tulisan. Saya katakan melengkapi karena pada saya tidak ada
keinginan menghapuskan sastra lisan, dan tidak mungkin dihapus. Ia punya peran
tersendiri.


Berangkat dari dasar-dasar pikiran di atas saya hanya bisa menyambut dengan
kegembiraan dan harapan lahirnya JPK. Langkah telah diayun di "jalan kembara
pencarian yang tak punya sampai", jika menggunakan ungkapan pelukis Salim. Dan
seperti ujar orang Tiongkok Kuno: "daya tahan seekor kuda diuji dalam
perjalanan jauh".


Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI



[Selesai]




Lampiran:

From: shanti syarif <shantined2003@xxxx>
Date: Fri Feb 25, 2005 5:59 pm
Subject: Jaring Penulis Kaltim


ADVERTISEMENT



Dengan ini perkenankan saya mengumumkan bahwa telah terbentuk Jaring Penulis
Kaltim, sebuah wadah kreativa kepenulisan yang berada di Kalimantan Timur.
Tujuan dibentuknya JPK ini tak lain karena niat mulia,ingin mempersatukan
penulis-penulis Kalimantan Timur dan mewadahi segala bentuk kegiatan sastra
yang berada di Kaltim.

Sebagai "kepala suku" , kami mengangkat seorang sastrawan dan budayawan senior
yang tak asing lagi,yakni bung Korrie Layun Rampan. Beliau saat ini tinggal di
Sendawar, Kab Kutai Kartanegara.Lalu ada mas Amien Wangsitalaja, sastrawan
/penyair sufi yang saat ini bertugas di Dinas Penelitian Bahasa ,Samarinda .Ada
juga Bung Herman A Salam, seorang penulis cerita daerah , salah satu bukunya
"Adipati Awang Long", tinggal di Samarinda. Lalu pak Karno Wahid, tinggal di
Tenggarong . Bukunya sudah ada beberapa, diantaranya kumpulan puisi"Aura".

Dan di Balikpapan ada saya, Shantined , yang sebenarnya belum layak
disejajarkan dengan mereka.Baru belajar membuat puisi dan ingin maju terus
dibidang sastra.

Untuk langkah awal, kami berupaya membuat satu gebrakan . Diantaranya
mengadakan satu peluang bagi seluruh penulis Kaltim ( berdomisili di Kaltim)
untuk mengirimkan naskahnya berupa cerpen untuk dikirimkan kepada JPK, untuk
diseleksi dan jika lolos akan dipilih 10 naskah terbaik untuk diterbitkan
menjadi sebuah buku antalogi cerpen Kaltim.Menarik bukan....untuk itu silahkan
rekan2 penulis Kaltim segera mengirimkan cerpennya , bisa lewat email saya ini:
shantined2003@xxxx atau wa_amien@xxxx

Batas akhir pengiriman adalah 15 Maret 2005 .
Oh ya , sebaiknya cerpen bernuansakan budaya/daerah Kaltim.

Kami tunggu cerpennya.***









[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise