logo       

Pesantren Sebagai Basis Pembangunan Wilayah: msg#01387

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: Pesantren Sebagai Basis Pembangunan Wilayah


http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=188820&kat_id=16

Jumat, 25 Februari 2005

Pesantren Sebagai Basis Pembangunan Wilayah
Oleh : Dodi Nandika
Praktisi Pendidikan/Guru Besar IPB


Institusi pendidikan manakah yang paling tangguh dan memiliki kemampuan
bertahan serta memperbaiki dirinya (revival ability) selama ini? Jawabnya
pesantren. Diakui atau tidak, pesantren dengan berbagai bentuk dan variasi
proses pembelajarannya, merupakan bagian dari peradaban bangsa yang telah
melekat kuat dalam sejarah bangsa. Secara historis, peran multifungsi pesantren
di Indonesia sudah diketahui sejak era Walisongo dalam penyebaran Agama Islam,
dalam perang melawan penjajah di era kolonialisme, hingga menjadi penyumbang
pemikiran konstruktif dalam membangun bangsa di era globalisasi. Keunggulan
pesantren terletak pada prinsip ''memanusiakan manusia'' dalam proses
pembelajarannya. Mengingat, pada saat ini proses pembelajaran di sekolah dan
satuan pendidikan formal lainnya sudah banyak bergeser dari tujuan awal, dimana
pendidikan formal cenderung lebih berorientasi kepada hal-hal yang
bersifat materi dan pencapaian nilai akademik semata, serta kurangnya unsur
keteladanan guru.

Sebaliknya, pesantren adalah pusat keteladanan dari seorang kiai kepada
santrinya yang saling berinteraksi 24 jam. Keunggulan lainnya pada perasaan
kebersamaan, yang meliputi sikap tolong-menolong, kesetiakawanan, dan
persaudaraan sesama santri. Dari sisi pembinaan karakter individual, pesantren
mengajarkan sikap hemat dan hidup sederhana yang jauh dari sifat konsumtif
masyarakat perkotaan. Dengan demikian, pesantren sebagai institusi pendidikan
milik masyarakat, sangat potensial untuk dkembangkan menjadi pusat pengembangan
sumber daya manusia (SDM) menuju terwujudnya kecerdasan dan kesejahteraan
bangsa. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa sejak zaman penjajahan
sampai sekarang, pesantren bukan merupakan institusi pendidikan yang populer
dibandingkan dengan sekolah formal.

Pesantren dan pembangunan
Dari diskusi tentang karakteristik pesantren dan unsur-unsur kunci yang
menentukan proses pembelajaran didalamnya, pesantren dipandang memiliki
grounded nature dan pranata sosial yang tangguh dan mewakili aspirasi sebagian
besar masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, pesantren dipandang sangat
potensial untuk berperan sebagai basis pembangunan wilayah yang strategis.
Contoh pesantren yang berhasil memberikan dampak pembangunan terhadap
masyarakat lokal di sekitarnya antara lain Pesantren Daarut Tauhid pimpinan KH
Abdullah Gymnastiar di Bandung, Pesantren Agrobisnis Al-Ittifaq di Ciwidey,
Pesantren Al-Amanah dengan peternakan ayam dan ikannya di Cililin. Paradigma
pesantren tampaknya sangat didominasi oleh karakteristiknya yang sangat dekat
dengan masyarakat. Pada saat kultur pesantren ditarik pada tataran formal, ada
dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, pesantren mampu melakukan moder
nisasi di lingkungan masyarakatnya. Kedua, pesantren berubah menjadi institusi
pendidikan formal yang terpisah dari kultur masyarakatnya. Kemungkinan yang
kedua terjadi karena grounded nature pesantren terlepas dari akar
masyarakatnya, sehingga pesantren berubah menjadi sekolah formal biasa.

Dari ketiga contoh pesantren tersebut di atas menunjukan bahwa diversifikasi
program dan kegiatan life skills di pesantren makin terbuka dan luas, jika
mampu melakukan penggalangan sumber daya masyarakat sekitarnya dapat berfungsi
sebagai pusat pengembangan masyarakat (Hasbullah, 1999). Oleh karena itu,
seiring dengan kuatnya modernisasi pondok pesantren, maka rekonstruksi peran
pondok pesantren yang tadinya hanya mempelajari kitab-kitab Islam klasik
kiranya dapat diberdayakan secara maksimal sebagai agen dalam pembangunan
wilayah. Melalui pendekatan ini, sumber daya atau unsur-unsur pondok pesantren
termasuk kiai/guru, masjid, santri, pondok, kitab-kitab klasik hingga ilmu
pengetahuan yang baru dapat didayagunakan dalam proses pendidikan life skills
secara berkelanjutan untuk membangun manusia yang memiliki pemahaman ilmu
pengetahuan, potensi kemasyarakatan, dan pembangunan wilayah. Hal
ini berujung pada penciptaan sumber daya manusia yang berdaya saing dan
produktif. Dengan demikian, pondok pesantren tidak hanya menjadi penempa
nilai-nilai spiritual saja, tetapi juga mampu meningkatkan kecerdasan sosial,
dan keterampilan dalam membangun wilayahnya.

Pengembangan program dan kegiatan pesantren agar berperan sebagai basis
pembangunan wilayah pada dasarnya dimulai dari kemampuan pesantren tersebut
untuk memberdayakan potensi-potensi yang ada di lingkungannya oleh sumber daya
manusia yang ada di pesantren. Sumber daya manusia pesantren diberikan
kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan
masyarakatnya, sehingga dapat berperan sebagai driving force masyarakatnya.
Dengan demikian, program dan kegiatan life skills yang dikembangkan pada
pesantren sebagai institusi pendidikan berasal dan dipelajari dari lingkungan
masyarakatnya, serta tumbuh dan berkembang secara bottom-up, dan bukan
ditentukan terlebih dahulu sebagai ekspektasi formal suatu kurikulum
persekolahan.

Oleh karenanya, pembangunan pendidikan di kalangan pesantren memerlukan
keterlibatan elemen masyarakat sekitar dan pemerintah daerah (pemda), baik
provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam upaya mencari model yang tepat agar peran
pondok pesantren dalam pembangunan wilayah berjalan efektif, pemda perlu
merangkul perguruan tinggi sebagai mitra. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi
memiliki sumber daya yang memadai dalam pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kegiatan riset.

Model yang akan dikembangkan paling tidak memiliki beberapa komponen bantuan
berikut: Pertama, pemberian dana atau modal bergulir atau ventura yang
dikaitkan dengan pengembangan potensi wilayah; Kedua, pendampingan tenaga ahli
dari perguruan tinggi; pendampingan tenaga ahli di sini meliputi transfer
teknologi dari perguruan tinggi ke pesantren, yang mencakup sumber, buku-buku
atau media tulis pendukung lainnya; Ketiga, penggunaan Information
Communication Technology (ICT) untuk mendukung kegiatan dan akses informasi;
Keempat, pengadaan dan pengembangan teknologi atau peralatan produksi untuk
meningkatkan potensi lokal.

Kerja sama
Terinspirasi oleh model land grant college yang berhasil melakukan modernisasi
pertanian di India dan Amerika Serikat beberapa dekade yang lalu, pemda harus
bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan lingkungan masyarakat
di sekitar pesantren sebagai inkubator pengembangan program-program pembangunan
masyarakat yang sesuai dengan potensi wilayah setempat. Program-program yang
dikembangkan merupakan program-program pilihan yang prospektif untuk
dikembangkan melalui suatu tahap feasibility study. Dalam konteks ini, kerja
sama antara perguruan tinggi dan pemda berupa pendampingan tenaga ahli kepada
pesantren, sehingga para mahasiswa dan santri pesantren mampu berperan sebagai
fasilitator program, masyarakat partisipan berperan sebagai klien, dan pemda
berperan sebagai penyandang dana pinjaman bergulir atau ventura yang diberikan
kepada para pengguna program.

Anggota masyarakat dengan bantuan para santri pesantren yang telah memperoleh
alih teknologi dari perguruan tinggi, menentukan paket-paket program yang akan
dipilih. Paket-paket tersebut dapat berupa usaha warung serba ada (waserda),
ternak ikan, pembibitan kelapa hibrida, usaha fotokopi dan penjilidan, atau
jenis usaha atau pekerjaan apa saja yang sesuai dengan potensi wilayah
setempat. Akuntabilitas program kelak dapat dilihat dalam tiga tahap. Pertama,
keberhasilan alih teknologi dari perguruan tinggi ke pesantren sebagai
institusi sehingga pesantren dan santri-santrinya mampu berperan menjadi motor
penggerak pertumbuhan usaha dan lapangan kerja yang ada di lingkungan
masyarakatnya. Kedua, keberlanjutan program dan dampaknya terhadap pertumbuhan
lapangan usaha dan pekerjaan di lingkungan masyarakat tersebut,
pascapenghentian bantuan dari pemda dan perguruan tinggi, Ketiga, peningkatan
sumber daya manusia masyarakat setempat dalam mengelola lapangan usaha baru.

Yang patut menjadi catatan adalah, model ini tidak bisa diberlakukan secara
umum dan dijadikan obat generik untuk semua pesantren di Indonesia. Hal ini
dikarenakan, pada dasarnya pembangunan pondok pesantren sangat dipengaruhi oleh
kultur lokal yang melekat dengan perilaku dan kemampuan para santrinya sebagai
potential driving force, serta kejelian seorang pimpinan pesantren untuk
melihat peluang-peluang yang ada di dalam masyarakatnya. Akankah keunggulan
institusi pesantren ini menjadi perhatian pemerintah dalam membangun
wilayahnya? Kenapa tidak.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise