|
Jurnal Kembang Kemuning: Menyambut Kelahiran Jaring Penulis Kaltim [1]: msg#01379culture.region.indonesia.ppi-india
JURNAL KEMBANG KEMUNING: MENYAMBUT KELAHIRAN JARING PENULIS KALTIM [1] Entah kapan dan di kota mana, tapi yang jelas melalui posting Shantined di milis penyair dan dikirimkan oleh Mega Vristianawati ke alamat pribadi saya, di Kalimantan Timur [Kaltim] telah terbentuk sebuah organisasi para sastrawan Kaltim bernama Jaring Penulis Kaltim [JPK].Sebagai orang pertamanya atau "kepala suku" jika menggunakan istilah Shantined, telah diangkat sastrawan Korrie Layun Rampan yang nampaknya memutuskan pulang kampung setelah berada lama di Jawa. Mengapa "mengangkat" dan bukan dipilih? Apakah di kalangan komunitas Dayak Kaltim tidak mengenal kebiasaan memilih? Barangkali komunitas Dayak Kaltim berbeda dengan kebiasaan komunitas-komunitas Dayak di daerah Kalimantan atau Borneo lainnya yang memilih pimpinannya [bukan mengangkat, model Orba] baik ia damang atau pun pambakal atau pangirak. Di daerah sungai Katingan, Kalimantan Tengah [Kalteng] misalnya Dayak Katingan mengenal tradisi yang disebut "pupung" atau "pumpung". Yang dipercayai menjadi orang pertama suatu organisasi diputuskan melalui "pupung" dan bukan diangkat. Jika diangkat, lalu instansi apakah yang lebih tinggi dari suara "pupung"? Mengangkat atau diangkat memberikan citra tersendiri tentang komunitas Dayak yang seakan tidak mengenal kebiasaan "dmokratis", padahal ia ada dalam budaya betang, terungkap dalam budaya "handep", "habaring hurung" atau pun liberalisme seorang yang merasa diri pangkalima [bandingkan dengan legenda "Pangkalima dan Maharaja yang sedang berperahu bersama-sama", atau kisah Pang Palui dengan istrinya]. Sekali lagi barangkali komunitas Dayak Kaltim yang dirujuk oleh Shatined dengan menggunakan istilah "kepala suku", memang sangat lain dari komunitas-komunitas Dayak Borneo lainnya. Jika demikian bagaimana Shatined menjelaskan adanya "lamin" di Kaltim? Barangkali Shatined bisa menjelaskan maksudnya dengan lebih jelas untuk mencegah citra negatif Dayak seperti yang digambarkan oleh Gerry van Klinken berkecenderungan fasis [kesimpulan yang diambil "genial" setelah beberapa minggu berada di Kalteng. Hidup Klinken sang pakar Dayak!?]. Tentang pulang kampungnya Korrie Layun Rampan [selanjutnya saya sebut Korrie], memang sudah sejak beberapa tahun lalu saya dengar. Berita yang saya dengar waktu di Kaleng mengatakan bahwa Korrie pulang, seperti halnya dengan Kolonel Salundik Gohong, mantan walikota Palangka Raya dan mantan perwira Bakin, meninggalkan Bandung, dengan maksud turut membangun kampung halaman. "Kalau saya mau enak, saya akan ngendon di Bandung", ujar Salundik Gohong kepada saya. Dengan semangat ini pula Salundik selalu membela kehadiran saya di Kalteng. [Dari kasus Salundik Gohong saya kembali melihat bahwa militerisme dan orang militer adalah dua hal yang sangat berbeda sehingga adalah suatu kekeliruan menganggap semua orang militer sebagai penganut militerisme]. Sikap ini pula yang jadi pilihan Ronny Teguh yang sarjana komputer. Ronny memilih pulang kampung daripada bekerja di Singapura atau pun di Jawa. Masalah pulang kampung untuk membangun daerah saya sangat garisbawahi, karena tidak sedikit putra daerah yang "mabuk" dengan kenyamanan hidup pribadi di luar daerah setelah menyelesaikan pendidikan mereka. Saya garisbawahi karena sampai sekarang saya masih melihat bahwa perkembangan dan pembangunan daerah di luar Jawa, terutama, melalui kenyataan dan sejarah, tidak bisa digantungkan pada orang-orang luar daerah, tidak pula bisa digantungkan pada orang model Klinken dan pakar-pakar LIPI. Majumundurnya daerah pertama-tama ditentukan oleh putera-puteri daerah yang sadar dan komit, walaupun tidak berarti kita patut menghindari sikap sektaris, prasangka primer dan tutup pintuisme. Sadar dan komit artinya punya wawasan luas. Artinya dengan ini pun saya sadar bahwa tidak semua putra-putri daerah itu punya komitmen manusiasi dan berwawasan luas. Tidak sedikit putra-putri daerah yang juga tidak lain dari "bandit" dengan ideologi "banditisme". Pulangnya Salundik Gohong, Ronny Teguh, atau pun Korrie dalam hal ini saya kira adalah suatu kepulangan tanggungjawab pada daerah sebagai dermaga memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat -- walau pun orang-orang jenis ini akan lebih banyak menghadapi kesulitan di daerahnya sendiri. Lebih-lebih pengaruh pola pikir dan mentalitas berdasawarsa Orde Baru masih meracuni angin kehidupan kampunghalaman. Pada suatu ketika, setelah berhasil menginjak kembali kampunghalaman, saya pernah mencoba melakukan himbauan pulang kampung kepada putra-putri Kalteng, tapi berakhir dengan kegagalan. Sejak tahun 1991, saya melihat usaha saya untuk Kalteng lebih banyak meninggalkan tanda-tanda hitam kekecewaan, seakan memperlihatkan betapa sulitnya mencintai kampunghalaman, menjadi Indonesia sekaligus sulitnya menjadi manusiawi. Lebih gampang jadi bandit, pembunuh, jadi manipulator dan penjahat dan bukan menjadi seorang pencinta. Kalau sekarang Korrie menjadi orang pertama JPK maka di bahunya terletak tanggujawab seorang pencinta. Bagi saya, pencinta itu adalah manusia berwawasan manusiawi yang mengeri akarnya."Nama besar" tidak sama dengan berwawasan. Bagaimana mempunyai "nama besar" ini adalah satu masalah.Masalah lain tidak jarang adanya "nama" gampang menjurus ke individualisme jika hampa wawasan manusiawi. Dengan kata-kata ini, saya tidak menghakimi, tapi sebatas mencanangkan seperti kata-kata cerita silat "besar bayangan dari pohon". Praktek adalah gantang terakhir apa siapa kita.Sebagai sesama Dayak saya yakin Korrie bisa memahami maksud saya yang menggarisbawahi arti tanggungjawab haridepan manusiawi. [Bersambung...] Lampiran: From: shanti syarif <shantined2003@xxxx> Date: Fri Feb 25, 2005 5:59 pm Subject: Jaring Penulis Kaltim ADVERTISEMENT Dengan ini perkenankan saya mengumumkan bahwa telah terbentuk Jaring Penulis Kaltim, sebuah wadah kreativa kepenulisan yang berada di Kalimantan Timur. Tujuan dibentuknya JPK ini tak lain karena niat mulia,ingin mempersatukan penulis-penulis Kalimantan Timur dan mewadahi segala bentuk kegiatan sastra yang berada di Kaltim. Sebagai "kepala suku" , kami mengangkat seorang sastrawan dan budayawan senior yang tak asing lagi,yakni bung Korrie Layun Rampan. Beliau saat ini tinggal di Sendawar, Kab Kutai Kartanegara.Lalu ada mas Amien Wangsitalaja, sastrawan /penyair sufi yang saat ini bertugas di Dinas Penelitian Bahasa ,Samarinda .Ada juga Bung Herman A Salam, seorang penulis cerita daerah , salah satu bukunya "Adipati Awang Long", tinggal di Samarinda. Lalu pak Karno Wahid, tinggal di Tenggarong . Bukunya sudah ada beberapa, diantaranya kumpulan puisi"Aura". Dan di Balikpapan ada saya, Shantined , yang sebenarnya belum layak disejajarkan dengan mereka.Baru belajar membuat puisi dan ingin maju terus dibidang sastra. Untuk langkah awal, kami berupaya membuat satu gebrakan . Diantaranya mengadakan satu peluang bagi seluruh penulis Kaltim ( berdomisili di Kaltim) untuk mengirimkan naskahnya berupa cerpen untuk dikirimkan kepada JPK, untuk diseleksi dan jika lolos akan dipilih 10 naskah terbaik untuk diterbitkan menjadi sebuah buku antalogi cerpen Kaltim.Menarik bukan....untuk itu silahkan rekan2 penulis Kaltim segera mengirimkan cerpennya , bisa lewat email saya ini: shantined2003@xxxx atau wa_amien@xxxx Batas akhir pengiriman adalah 15 Maret 2005 . Oh ya , sebaiknya cerpen bernuansakan budaya/daerah Kaltim. Kami tunggu cerpennya. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Islam dan Tantangan Demokratisasi: 01379, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | Program Kompensasi Pendidikan dan Keseimbangan Alokasi SDM: 01379, Ambon |
| Previous by Thread: | Islam dan Tantangan Demokratisasii: 01379, Ambon |
| Next by Thread: | Program Kompensasi Pendidikan dan Keseimbangan Alokasi SDM: 01379, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |