logo       

SURAT KEPADA SAHABAT: MENDAHULUKAN SOAL-SOAL BESAR DAN KEPENTINGAN BERSAMA: msg#01063

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: SURAT KEPADA SAHABAT: MENDAHULUKAN SOAL-SOAL BESAR DAN KEPENTINGAN BERSAMA


SURAT KEPADA SAHABAT:

MENDAHULUKAN SOAL-SOAL BESAR DAN KEPENTINGAN BERSAMA

Yang saya garis bawahi dari tulisan Manik Praba [lihat lampiran] di bawah ini
adalah anjurannya agar kita sesama pencinta sastra termasuk yang merasa diri
sudah menjadi sastrawan-seniman beken melakukan:

[...] komunikasi yang bersifat terbuka, saling memberi-saling
mengingatkan-saling mendukung- saling memaafkan demi suatu cita-cita nasional".

Mengapa ada masalah "saling memaafkan"? Karena seperti ujar Manik Praba:

"Tentu,dalam berkomunikasi....Kita perlu menyadari bahwa konflik dan salah
pengertian akan sering terjadi dalam setiap komunikasi (apalagi komunikasi
e-mail yang akan mudah sekali terpeleset dan menimbulkan salah pengertian) ,
namun dengan kebesaran hati masing-masing, kita semua dapat mengabaikan
kesalahan-kesalahan kecil itu dan tetap bergandengan tangan dengan sesama
penggiat di seluruh pelosok negeri dengan tetap berpegang pada cita-cita
bersama, suatu kondisi sastra-budaya negeri yang lebih baik bagi kita semua".

Anjuran Manik Praba agar kita menempatkan kepentingan bersama dan nilai-nilai
besar ini saya garis bawahi karena untuk mewujudkan kepentingan bersama dan
nilai-nilai besar, pengembangan sastra-seni yang memanusiawikan, mewujudkan
nilai-nilai republiken dan keindonesiaan sudah memerlukan tenaga, pikiran dan
waktu luarbiasa [yang jika menggunakan konsep Halim HD dkk adalah sastra-seni
kepulauan]. Masalah ini, saya kira adalah masalah besar bahkan sangat besar
yang menguras tenaga pikiran, tenaga dan waktu, terkadang bahkan meminta
pengorbanan.

Jika kita semua berpegang kokoh kepada nilai dan arah ini maka tentu saja kita
tidak akan memandang ada perlunya untuk saling menggagahi, memaki dan
mnciptakan pertikaian yang sangat tak produktif [dilihat dari takaran di atas]
yang terkadang bersifat sangat egoistik, terkadang mendekati gunjingan
[penyakit mentalitas umum di negeri ini, termasuk di kalangan yang menyebut
diri penggiat atau aktivis]. Apalagi sikap-sikap negatif demikian bukanlah
sikap berbudaya selain mendekati sikap "banditisme" atas nama sastra dan
budaya. Cacimaki, gunjingan dan mencari-cari pertikaian, saya kira bukanlah
karya sastra dan bukan pula sikap berbudaya. Melihat keadaan begini yang
terjadi di kalangan angkatannya, seorang penyair dari Jawa Timur sempat menjadi
sangat "stress" dan saking kecewanya hingga mengganggu kegiatannya berkreasi.

Saya sendiri tidak pernah mau terlalu jauh memasuki soal-soal begini dan tidak
pernah terlalu saya hitung. Mengapa mesti membuang-buang waktu untuk hal-hal
tak produktif sementara waktu bergulir terus tanpa mau mengindahkan kegundahan
kita. Yang berkecimpung dan pernah berkecimpung langsung di lapangan, apalagi
di tengah-tengah konflik berdarah akan melihat benar betapa sikap seperti di
atas sebenarnya mrupakan sikap yang sama sekali tidak bermanfaat bagi
kemanusiaan, sastra dan budaya sekali pun mengoceh tentang kemanusiaan, sastra
dan budaya. Saya memandang sikap-sikap demikian tidak lebih dari pernyataan
kekanakan, jiwa yang mangkal menagih perhatian karena ragu akan kemampuan diri.
Ambil contoh, untuk menghidupkan Majalah Sastra-Budaya Aksara, misalnya.
Sumbangan kongkret apa yang bisa diberikan oleh sikap begini? Lebih kongkret
dan patut dihargai apa yang dilakukan oleh grup Rumah
Dunia asuhan Gola Gong dkk di Banten, atau Sanggar Sastra Tasikmalaya, Beni
Luar Biasa Yogya, Herman dkk dengan grup Lingkomnya di Batu, atau Komunitas
Terapung dan ISASI di Palangka Raya, Komunitas Batam, Lembaga Studi Dayak21,
dan lain-lain... Terlalu banyak kerja besar menunggu uluran tangan kita untuk
memecahkan masalah bersama dibandingkan keperluan bertikai secara tidak perlu.

Bertolak dari pandangan dan sikap ini, saya sangat menyambut pendapat Manik
Praba agar kita selalu mendahulukan masalah-masalah besar dan kepentingan
bersama. Ajakan yang saya pandang sangat konstruktif dan bahkan bersifat
mendesak.

Adanya komunitas sastra-budaya yang sekarang tersebar di berbagai daerah dan
pulau tanahair sebenarnya sudah merupakan satu kekuatan potensial luar biasa.
Masalahnya, sudahkah kita menyadari kekuatan potensial ini dan bisakah kita
membuat yang potensial ini jadi kekuatan faktual?

Dengan adanya tekhnologi canggih dan kian canggih seperti yang tersedia
sekarang, memungkinkan kita menembus batas waktu dan ruang sehingga kita bisa
merebut banyak peluang demi kepentingan bersama, urusan-urusan besar
sastra-seni, Indonesia,Republik dan kemanusiaan. Kekuatan potensial ini akan
lebih kelihatan jika kita mengamati bahwa para pendukung dan jaringan komunitas
itu tersebar di berbagai tempat dan bahkan benua. Mengapa pontesi ini tidak
dimanfaatkan dan kita hanya sibuk serta asyik dengan bertikai secara tidak
perlu -- kalau bukannya pertikaian konyol itu tidak lain dari tindak kebocahan
jiwa dan pikir?!

Mengenai ide Manik Praba tentang LCCN (Literature and Culture Community
Network), saya membacanya lebih sebagai usul tentang perlunya kerjasama antar
komunitas sastra-budaya yang sekarang tersebar di berbagai daerah dan pulau
bahkan sampai di mancanegara. Barangkali LCCN yang dimaksudkan oleh Manik Praba
patut diperinci dan didiskusikan oleh semua komunitas yang sekarang ada. Secara
prinsip saya merasa kordinasi antar komunitas di tingkat nasional memang
diperlukan agar kita bisa bersama-sama melakukan suatu gerakan "maju melompat"
dalam kegiatan kita, termasuk menanggulangi segala macam permasalahan yang kita
hadapi. Barangkali adanya "communities national board" [CNB] begini memang
perlu dibicarakan secara rinci dan sungguh-sungguh. Saya melihat kemungkinan
begini bukan terlalu khayali dan barangkali bisa menjadi awal atau janin
strategis dari pembangunan sastra-seni nusantara dari b
awah. Adanya CNB begini, kalau penglihatan saya benar, bisa membuka
kemungkinan bagi kita untuk memasuki ruang lebih luas lagi dan menyerempakkan
langkah untuk kepentingan bersama: membangun dan mengembangkan sastra-seni
republiken, berkeindonesiaan dan manusiawi [sastra-seni yang memanusiawikan
manusia, kehidupan dan masyarakat].Adanya LCCN atau CNB akan memberikan kita
kemungkinan membuat yang potensial menjadi potensi faktual. Dalam hal ini, saya
hanya menunggu masukan dari berbagai komunitas --- masukan-masukan yang sangat
perlu -- baik yang ada di Indonesia atau pun yang di luar negeri.



Paris, Februari 2005
--------------------
JJ.KUSNI


Lampiran:


KOMUNITAS SASTRA-BUDAYA


Seperti tanggapan JJ Kusni, kita semua perlu bertukar informasi dan saling
menguatkan satu sama lainnya agar pergerakan aktivitas sastra-budaya di
berbagai daerah (yang ternyata jitu dan sangat cepat mempengaruhi masyarakat)
dapat dicontoh dan dilakukan juga di daerah lain. Mungkin sebagian kita sudah
ada yang tahu apa yang dilakukan oleh Halim HD, Saut Situmorang,Acep Zamzam
Noor dan beberapa kawan lainnya. Apakah kawan-kawan lainnya mengetahui itu?

Komunikasi berperan sangat penting dan tentunya juga niat baik setiap penggiat.
Bila ada kesadaran bagi setiap orang betapa menyedihkan kondisi negeri ini dan
kita semua bersama-sama memadu kekuatan dengan rasa kebangsaan yang tinggi
(seperti yang dilakukan oleh orang Jepang), maka harapan untuk mencapai
perkembangan sastra-budaya yang lebih progresif akan lebih mudah. Komunikasi
dalam hal ini adalah komunikasi yang bersifat terbuka, saling memberi-saling
mengingatkan-saling mendukung- saling memaafkan demi suatu cita-cita nasional.
Tentu,dalam berkomunikasi perlu suatu sikap yang dapat memaafkan dan dapat
mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil demi sesuatu yang lebih besar, sesuatu
yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas. Kita perlu menyadari bahwa konflik
dan salah pengertian akan sering terjadi dalam setiap komunikasi (apalagi
komunikasi e-mail yang akan mudah sekali terpeleset dan
menimbulkan salah pengertian) , namun dengan kebesaran hati masing-masing,
kita semua dapat mengabaikan kesalahan-kesalahan kecil itu dan tetap
bergandengan tangan dengan sesama penggiat di seluruh pelosok negeri dengan
tetap berpegang pada cita-cita bersama, suatu kondisi sastra-budaya negeri yang
lebih baik bagi kita semua.

Di samping membangun perpustakaan, masing-masing komunitas dapat
menyelengarakan berbagai event (seperti yang telah dilakukan di beberapa
komunitas), seperti:
-Acara pementasan (drama/ puisi yang dikombinasi dengan musik dll)
-Pesta seni dan bursa buku/ majalah
-Seminar
-Dll
Kegiatan-kegiatan itu akan mempromosikan sastra-budaya kepada masyarakat luas
dan dapat menghasilkan dana untuk dibagikan kepada para penggiat dan kas
komunitas.

HIMPUNAN MAHASISWA/ SISWA
Sesungguhnya komunitas sastra-budaya dapat juga dibentuk di lingkungan kampus
dan sekolah.
Himpunan mahasiswa di universitas dan himpunan siswa di sekolah juga dapat
menggerakkan para pengurusnya untuk membangun perpustakaan di himpunan. Buku
dan majalah dapat diperoleh dengan cara yang sama, yaitu dengan cara membina
hubungan dengan berbagai penerbit atau ide-ide kreatif lainnya.

Dengan kegiatan ini, para mahasiswa/ siswa semakin terbiasa dengan bacaan
sastra-budaya.

JARINGAN KOMUNITAS
Bila sudah terjadi komunikasi dan interaksi antar komunitas di berbagai pelosok
negeri, sesungguhnya sudah mulai tercipta jaringan. Jaringan (network) bukanlah
harus berarti sesuatu yang besar dengan kantor yang megah dsb. Jaringan dapat
tercipta walaupun secara fisik tidak terlihat.

Walaupun komunikasi hanya melalui e-mail, interaksi dan komunikasi itu sudah
merupakan suatu jaringan yang sangat berharga dan perlu tetap dijaga. E-mail
memang sepertinya sederhana. Para pelajar sering menggunakan email untuk
chatting di internet. Ya, email itu hanya sederhana seperti permainan. Tetapi,
dengan e-mail yang sederhana itu orang Jepang dapat menbina jaringan yang luas
di berbagai belahan dunia dan menghasilkan proyek-proyek bernilai besar. Sejak
e-mail dikembangkan di USA, bangsa Jepang dengan cepat memanfaatkannya selama
bertahun-tahun untuk membina jaringan komunikasi di seluruh dunia.

Suatu proyek besar di Indonesia dapat dilakukan oleh orang Jepang hanya
didahului dan didiskusikan melalui e-mail. Proyek itu tidak ditangani oleh
orang-orang dari satu kota, tetapi oleh orang-orang yang tinggal di beberapa
kota di dunia.

Orang Jepang secara intensif melakukan diskusi dengan rekan-rekannya di
berbagai kota dunia hanya dengan e-mail. Mereka berdiskusi dan mengambil
keputusan bersama melalui e-mail. Bagi mereka seluruh dunia ini seolah-olah
hanya sebesar layar monitor komputer. Mengapa kita tidak ikut menggunakan
teknologi tinggi ini untuk mempercepat perkembangan sastra kita?Bukankah e-mail
adalah media komunikasi yang sangat efisien? Dengan memanfaatkan komunikasi
e-mail, kita dapat membina komunikasi dan menggabungkan kekuatan semua penggiat
sastra-budaya baik komunitas riil maupun komunitas maya (internet) menjadi satu
kekuatan nasional yang saling memperkuat seperti jaringan laba-laba yang tidak
hanya terbatas di dalam negeri saja tetapi juga komunitas sastra-budaya di luar
negeri.

Sebagai gambaran, misalnya kita ambil contoh Sastra TKI
(sastra_tki-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx) yang dibangun oleh Mega
Dkk di Hongkong. Kawan-kawan yang tergabung dalam milis itu maupun komunitas
riil yang dibentuk di Hongkong dapat menjadi bagian dari jaringan itu,
gampangnya untuk mempermudah pembahasan sebutlah jaringan itu sebagai LCCN
(Literature and Culture Community Network).

Dalam bentuk sederhana LCCN dapat hanya berupa komunikasi yang selalu dibina
antar penggiat sastra-budaya dari berbagai komunitas (riil dan maya),
terbentuklah saling pengertian dan saling dukung sesama penggiat.Agar
komunikasi itu semakin dekat dan berdampak lebih luas dapat dibentuk aktivitas
bersama misalnya membuat antologi puisi/ cerpen yang menggabungkan semua atau
beberapa komunitas.

Dengan cara itu, terbukalah hubungan yang luas dan semakin solid sesama
penggiat sastra-budaya di berbagai daerah. Cara ini juga sekaligus membuka
jalan bagi pengenalan suatu komunitas yang sangat jauh dan terpencil.Hasil
pencetakan buku puisi/ cerpen itu dapat dijual di semua komunitas yang ada
(tentu juga dijual di toko buku).

Penjualan di berbagai komunitas itu dapat diberi discount (rabat) yang memadai
untuk kas komunitas akan meningkatkan kemampuan finansial komunitas. Setelah
tersedia uang kas komunitas, sangatlah mudah bagi suatu komunitas membangun
perpustakaan masing-masing.

Bila Mega dkk di Hongkong menetapkan biaya sewa meminjam buku/ majalah sebesar
1-2 dollar akan kelihatan kecil, tetapi bila dana itu sudah berkembang akan
mampu membeli majalah sastra berkelas internasional yang akan menjadi koleksi
perpustakaan yang akan dibaca oleh anggota
komunitas.

Mengapa diperlukan LCCN yang menghubungkan personel dari berbagai komunitas?
Jangan-jangan LCCN hanya sekedar permainan para penggiatnya kelak seperti gaya
Orba yang mengatasnamakan organisasi/ jaringan untuk keuntungan orang-orang
tertentu. Bukankah Sanggar Sastra Tasik (Tasikmalaya) atau BumiManusia (Solo)
sudah melakukan banyak aktivitas sastra-budaya? Perlu kita sadari bahwa setiap
komunitas itu memiliki keterbatasan masing-masing. Dengan keterbatasan itu akan
sulit bagi suatu komunitas untuk berkembang lebih cepat dalam lingkup nasional.
Mungkin satu komunitas tidak begitu kuat mendorong gairah sastra secara meluas,
namun gabungan seluruh komunitas yang saling mendukung akan sangat cepat
mempengaruhi masyarakat luas. Suatu aktivitas yang didasarkan kepada kemauan/
minat seluruh jaringan akan mudah mendapatkan dukungan karena semua komunitas
yang tergabung akan berpikir bahwa ini un
tuk kepentingan kita semua. Ini untuk kemajuan sastra- budaya nasional. Bahkan
bukan tidak mungkin dukungan dan sumbangan dana bakal mengalir karena semua
menyadari begitu besarnya manfaat LCCN itu bagi semua penggiat dan bagi
kemajuan sastra-budaya negeri ini dan semua percaya dengan gerakan LCCN yang
transparan. Bila situasi seperti ini dapat tercipta, sejak dini kita semua
harus hati-hati. Jangan sampai pola kuno berlaku lagi.Orang-orang yang terlibat
di LCCN haruslah orang-orang yang terpercaya dan mereka semua harus secara
transparan melaporkan semua kegiatan/ keuangan ke seluruh komunitas yang
tergabung. Sejak dini segala perangkat aturan harus dibentuk dengan jelas dan
diketahui semua pihak, termasuk masalah honor dsb. Kalau perlu laporan regular
juga harus dikirim melalui e-mail dan tembus ke semua komunitas.

Begitu pentingnyakah jaringan sejenis LCCN?
Walaupun LCCN hanya berupa saling kontak dan saling tolong sesama penggiat dari
berbagai komunitas, itu pun sudah sangat baik karena dengan saling kontak saja
sudah tercipta saling pengertian bersama dan muncul perasaan dekat satu sama
lainnya.Dan, sekali sudah terbentuk komunikasi dan saling dukung, bukan tidak
mungkin kelak sesuai dengan pertumbuhannya terbentuk LCCN yang kuat dan
terpercaya. Mungkin saja LCCN itu akan menjadi organisasi milik publik yang
bisa berfungsi seperti The Japan Foundation yang akan mempromosikan
sastra-budaya Indonesia di seluruh dunia yang diawali oleh tangan-tangan LCNN,
yaitu komunitas-komunitas yang tersebar di berbagi kota dunia. Bahkan, LCCN itu
kelak dapat berkembang menjadi organisasi publik yang berpengaruh di kawasan
Asia.Mungkin juga dalam jangka panjang LCCN dapat berfungsi melakukan
hubungan/kontak dengan berbagai organisasi internasional, membua
t terjemahan naskah-naskah sastra-budaya Indonesia dan menyebarkannya di di
berbagai belahan dunia. Dan, yang terpenting adalah aktivitas LCCN bukan
mematikan komunitas-komunitas yang ada. LCCN adalah sesuatu yang tercipta antar
komunitas (bottom-up policy). LCCN justru membina komunitas, membantu dan
mengembangkannya, melakukan pelatihan dsb, sehingga semua komunitas akan
semakin kuat dan pada gilirannya masyarakat luas akan semakin kecanduan bacaan
dan event sastra-budaya.Dengan demikian, LCCN sekaligus dapat berperan
membantu pemerintah yang amat repot mengurus begitu banyak masalah di negeri
ini. Dan, LCCN akan semakin mempererat rasa kebangsaan dan persaudaraan kita
semua.


-Manik Praba-
21 Februari 2005.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise