logo       

SURAT KA DURANG TAWELA, KA DURANG HARAPAN: TENTANG "NASIB BUMIKU" [SELESAI]: msg#00411

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: SURAT KA DURANG TAWELA, KA DURANG HARAPAN: TENTANG "NASIB BUMIKU" [SELESAI]


SURAT KA DURANG TAWELA, KA DURANG HARAPAN:



TENTANG "NASIB BUMIKU"

2.

Mimpi atau harapan akan perbaikan kehidupan di kampung sendiri yang disuarakan
antara lain oleh Ronny RFY melalui tulisannya, makin kita masuk ke pedalaman
makin nyaring gaung-gemanya. Mimpi dan harapan demikian menjadi lukisan akan
keadaan kehidupan mayoritas masyarakat Kalteng di samping merupakan kritik
mayoritas penduduk terhadap pemegang kekuasaan politik dan sistem politik yang
diberlakukan selama berdasawarsa. Ia juga merupakan ujud dari hasil pelaksanaan
politik selama ini. Politik "pembangunan" yang dilaksanakan sejak Orde Baru di
Kalteng, telah menimbulkan kerusakan alam luar biasa, membuat kesenjangan
antara kaya dan miskin kian tajam. Pemegang kekuasaan politik lokal
memperlakukan jabatan-jabatan di tangan mereka sebagai alat untuk memperkaya
diri.

Ketika pertama kali menginjak bumi kampunghalaman pada tahun 1992, di depan
suatu kongres masyarakat Dayak tingkat propinsi saya menggambarkan keadaan umum
masyarakat Dayak sebagai "seekor binatang luka", penggunaan perbandingan ini
kemudian diprotes oleh pihak tertentu karena saya dipandang sebagai "menghina
orang Dayak". Masyarakat Dayak sebenarnya tahu bahwa diri mereka terpuruk,
terpinggir, dan merasa dilukai. Tapi ketika sampai pada pertanyaan: Apa yang
harus dilakukan untuk keluar dari keadaan luka, terpuruk dan terpinggir begini?
Agaknya pertanyaan ini tidak mereka temukan jawabannya. Terutama jawaban secara
konsepsional. Mereka tahu diri mereka sakit, luka, terpinggir dan terpuruk tapi
mereka tidak tahu jalan keluar. Keadaan beginilah yang saya namakan sebagai
keadaan seekor bintang luka, kerbau luka yang merasa sakit dan marah lalu
gampang menyerudak-nyeruduk ke sana ke mari. Ap
a saja yang berada di depannya mereka seruduk. Tembok di depan mereka pun
mereka serubuk sehingga salah-salah mereka makin sakit, patah tanduknya. Makin
hari luka ini bisa makin menganga dan makin menggampangkan pihak tertentu
memanipulasinya. Bahaya kekerasan dengan demikian makin rawan. Saya
mengkhawatirkan benar oleh kerawanan begini, pada masa mendatang Kalteng akan
terbakar dan bersimbah darah lagi dengan kedahsyatan baru. Ini kalau kita tidak
awas. Dalam "Negara Etnik. Beberapa Gagasan Pemberdayaan Masyarakat Ngaju Dayak
Kalteng", [Fuspad, Yogyakarta, 2000], saya mencoba menawarkan beberapa gagasan
jalan keluar. Tawaran gagasan yang saya coba juga laksanakan di lapangan tapi
terpenggal karena keharusan saya meninggalkan kampung. Sekalipun usaha yang
saya lakukan merupakan usaha jatuh-bangun, ditandai oleh beberapa kegagalan,
tapi sampai pada detik terakhir saya berada di pelabuha
n Sampit untuk naik kapal menuju Jawa dalam perjalanan ke Paris, saya tetap
yakin dan melihat benar bahwa andaikan saya diberi waktu, saya yakin akan bisa
menjadikan kegagalan demi kegagalan sebagai hasil. Kegagalan merupakan guru
berharga bagi saya. Saya merasa kekurangan waktu memulai sesuatu dari nol.
Kegagalan demi kegagalan tiga-empat tahun bekerja di Kalteng, saya lihat
sebagai sebuah buku pegangan [text-book] penting. Lapangan merupakan ruang
kelas sangat penting bagi saya. Karena itu, rumah kontrakan bagi saya hanyalah
sebuah tenda sejenak menjulurkan kaki mengurangi kelelahan. Di lapangan saya
membaca persoalan-persoalan kongkret, mengeduk ide-ide arif dari massa bawah.

Gagasan pemberdayaan yang tanggap dan aspiratif, saya kira, sampai sekarang
tetap merupakan masalah mendesak kalau bukan kunci. Saya katakan demikian
karena kita tidak mungkin melakukan sesuatu kegiatan tanpa arah dan konsep
integral strategis menjangkau jauh. Wawasan, konsep, ide, organisasi, program
merupakan pertanyaan-pertanyaan yang patut dijawab sehingga apa yang kemudian
dilakukan sekalipun nampaknya kecil di hari-hari awal, tapi kegiatan-kegiatan
kecil itu akan merupakan bagian dari suatu gerakan, gerakan pemberdayaan, dan
bukan bagian dari spontanitas amatirisme. Pertanyaan saya: Dalam memanusiawikan
manusia di Kalteng, di tingkat mana sekarang kita berada? Profesionalisme
ataukah amatirisme? Gerakan pemberdayaan yang saya maksudkan, tentu saja adalah
gerakan pemberdayaan alternatif yang diangkat dari bawah dan bersandar pada
masyarakat bawah. Soal-soal gagasan atau wacana pem
berdayaan ini sebenarnya sudah berulangkali telah dibicarakan dalam
pertemuan-pertemuan kecil intensif dengan Pak Sajogyo. Saya menganggap wacana
itu yang oleh Pak Sajogyo dirumuskan dengan "Jalan Kalimantan" [Wawancara
Prof.Dr.Sajogyo dengan Sahewan Panarung, Palangka Raya, 2001]sampai sekarang
masih tanggap dan layak ditelaah-ulang. Poros utama konsep "Jalan Kalimantan"
tidak lain adalah masyarakat bawah yang terorganisasi dan mengorganisasi diri
mereka sendiri setelah melampaui suatu proses yang disebut oleh Paulo Freire
sebagai "proses penyadaran" [lihat: INODEP DOCUMENT: Conscientizing Research: A
Methodological Guide", Plough Publication, Hong Kong, 1981]. Proses penyadaran
dan mata proyek betapa pun kecilnya selalu bertautan. Mata proyek sekecil apa
pun bermaksud untuk memecahkan masalah mendesak [immediate] masyarakat.
Penanganan masalah immediate menjadi perlu karena seperti k
ita ketahui "perut tidak bisa menunggu". Hanya saja kalau kita melepaskan
wacana pemberdayaan dari mata proyek, barangkali kita akan gampang terjerat
oleh pandangan ekonomisme belaka. Secara kongkret dalam berbagai diskusi
bersifat wacana ini di Palangka Raya, Masyarakat Adat [MA] dilirik sebagai
basis organisasi pemberdayaan. Pemerintah, pengusaha, LSM dan media massa
dipandang sebagai sekutu. Pemberdayaan bertujuan memperkuat masyarakat sipil,
dan untuk Kalteng, MA dilihat bisa dijadikan poros, di mana AMAN [Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara] dan DAMAD [Dewan Masyarakat Adat Daerah] bisa
berperan. Saya tidak tahu bagaimana perkembangan AMAN dan DAMAD di Kalteng
sekarang karena kontak saya dengan mereka terputus. Penguatan masyarakat sipil
juga saya kira menjadi penting dalam usaha menetapkan calon Kepala Daerah yang
tanggap dan aspiratif serta usaha menetapkan perda-perda [peraturan
daerah] yang tanggap dan aspriatif. Jalan bersandar pada MA di wilayah adat
dan hukum adat, saya rumuskan sebagai jalan kekuasaan paralel. Tanpa
pemberdayaan masyarakat sipil, saya khawatir, kepala daerah yang akan muncul,
tidak jauh dari model-model zaman Orde Baru, sedangkan perda-perda pun tidak
lain dari perlindungan legal kepentingan ekonomi dan politik pemegang kekuasaan
politik daerah belaka. Lemahnya MA [baca: Masyarakat Sipil] sama dengan
lemahnya pengawasan sosial. Masyarakat sipil gampang terjerumus dalam
pertikaian berdarah. Otonomi daerah lebih akan mengembangkan KKN di daerah.
Melihat keadaan masyarakat sipil di Kalteng sekarang, saya tidak terlalu
berkhayal bahwa Pikada nanti akan menghasilkan perobahan berarti. Tapi ini
tidak berarti kita tidak melakukan sesuatu dalam batas syarat kongkret dan
realis sekarang, seperti transparansi, program dan debat tentang program pem
ilihan.

Mau ke mana dan bagaimana keadaan Kalteng, jawaban selanjutnya lebih banyak
terletak pada "durang tawela". Bisakah "durang tawela" ini menjadi durang
harapan kemanusiaan di Kalteng yang bermutu?


Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI


Catatan:

Durang, [bahasa Dayak Katingan] setara dengan kata "para" dalam bahasa
Indonesia. Tawela [bahasa Dayak Katingan; tabela --bahasa Kahayan]-- muda.

[Selesai].

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give the gift of life to a sick child.
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise