|
Mencari Perwira Tanpa Noda Masa Lampau Untuk Jabatan Pucuk TNI: msg#00409culture.region.indonesia.ppi-india
http://www2.rnw.nl/rnw/id/news/gemawarta/#4316193 Mencari Perwira Tanpa Noda Masa Lampau Untuk Jabatan Pucuk TNI Intro: Pelbagai organisasi hak-hak azasi manusia mendesak presiden Susilo Bambang Yudhoyono supaya memperhatikan masa lampau perwira TNI yang diajukan namanya untuk jabatan panglima atau kepala staf. Mereka berharap jangan sampai perwira-perwira tinggi yang punya cacat HAM di masa lampau diangkat pada jabatan kunci. Tapi adakah perwira TNI yang bersih dari pelanggaran HAM? Berikut penjelasan pengamat militer Indro Tjahyono, Indro Tjahyono [IT]: Saya kira kan kita ini masih di dalam suasana mengkritisi TNI, di mana TNI itu pada waktu sebelumnya kan tidak menjalankan HAM dengan baik. Dan itu pun ada perwira-perwira yang sampai sekarang itu diadili dalam kasus HAM. Jadi menurut saya menang harusnya TNI itu mengakomodir kritik-kritik ini, sebagai salah satu kriteria ya. Kalau di sana ada Wanjakti, itu Wanjaktilah yang sebenarnya harus mengakomodir bahwa masyarakat itu menginginkan tokoh-tokoh tentara yang akan datang, perwira-perwira tinggi itu yang memahami HAM, dan juga tidak tercela dari segi pelanggaran HAM itu. Itu harusnya Wanjakti bisa melakukan suatu kajian sehingga memasukkan ini sebagai satu kriteria tambahan ketika kenaikan pangkat-pangkat di dalam jabatan-jabatan TNI. Tapi nyatanya yang berlaku sampai sekarang di Wanjakti sendiri, itu rupanya kenaikan pangkat itu sifatnya masih normatif lah. Bahwa kalau panglima harus kepala staf dulu, dan belum ada reformasi di kalangan tentara dalam rangka kriteria-kriteria personil tentara ini. Nah misalnya ada usulan bahwa panglima TNI itu sebaiknya digilirlah, TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara. Tetapi inipun sebagai satu kriteria belum masuk di dalam penentuan promosi jabatan-jabatan tentara itu oleh Wanjakti, kira-kira itu Bung persoalan kita saat ini. Nah kalau itu tidak diakomodir, persoalannya saya takut bahwa apa yang kita kritik terhadap TNI, khususnya soal HAM ini akan kembali terulang di masa yang akan datang. Radio Nederland [RN]: Ada yang bilang bahwa sekarang ini walau pun tentara sudah secara formal tidak seperti dulu lagi di zaman Harto, tapi bukti bahwa mereka sekarang datang dengan kriteria mereka sendiri tidak perduli dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat itu berarti bahwa mereka mengatakan mereka tetap berkuasa gitu? Apa bisa dikatakan demikian? IT: Iya. Jadi mereka ini ternyata tidak melakukan reformasi secara sistematik. Reformasi dia adalah reformasi yang sangat formal, tapi yang formalpun sebenarnya bukan hal-hal yang dituntut di dalam reformasi tentara itu sendiri kan. Kalau anda lihat misalnya tentang komando teritorial, tidak ada yang signifikan di sana. Kedua, sebenarnya yang kita inginkan, kan kalau bisa ya Wanjakti itu di dalam dirinya sendiri mengubah kriteria-kriteria itu. Tapi nyatakan sekarang enggak. Oleh karena itu pada masa yang lalu itu diusahakan bahwa di dalam promosi jabatan-jabatan TNI itu DPR, antara lain panglima TNI itu ikut didengar keterangannya, karena Panglima TNI itu adalah sesuatu yang menentukan di dalam tubuh TNI sendiri. Tapi itupun kalau anda lihat sekarang kan mereka enggak mau. Mereka bilang itu hak prerogatif presiden. Tapi kenapa Gus Dur dulu menggunakan hak prerogatif ini mereka menolak, ya kan? Apa ini kebetulan mereka presidennya tentara, mereka kembali ngomong soal hak prerogatif ya. Ini persoalannya. Jadi belum ada memang reformasi yang total, yang harapan-harapan penting dari reformasi tentara ini yang dilaksanakan oleh tentara sendiri. Termasuk sebenarnya itu yang kruasial adalah kriteria dalam kenaikan pangkat. Jadi masih kayak mesin ya. Kayak dulu yang saya takut ya, nanti itu ujungnya kayak zaman Soeharto kan? Ada kenaikan pangkat yang katanya normatif tapi bisa mengalami kenaikan pangkat di dalam setahun tiga kali, ini kan enggak wajar. Ini kelihatannya kalau hak prerogatif nanti dimunculkan lagi, keadaan-keaadaan ini bisa berulang. Jadi reformasi tentara itu enggak ada, ujungnya itu penyakit-penyakit lama, kebiasaan lama dia akan tumbuh lagi di kalangan tentara. RN: Anda tadi mengatakan bahwa harapan masyarakat adalah perwira-perwira yang tidak tercela, itu mendapat promosi gitu. Pertanyaan saya apakah ada itu, perwira-perwira dalam tubuh TNI menurut anda. IT: Kalau menurut saya memang tidak semuanya tercela. Minimal dari berbagai perwira tinggi yang ada saat sekarang, kita carilah yang bobot penyimpangan-penyimpangannya itu lebih ringan. Karena saya kira dalam usia sekarang ya, memang tidak ada mereka yang lepas dari sistem komando militer ketika Soeharto dulu bercokol. Jadi notabene sebenarnya kalau mau ada promosi, orang yang naik itupun sebenarnya bukanlah orang yang tidak tercela. Pasti ada, tapi bobotnya sedikit, kecuali tentara itu mau melakukan potong generasi di dalam promosi jabatan, dan itu kelihatannya hampir tidak pasti. Potong generasi dalam promosi jabatan-jabatan tentara, karena establishment di dalam TNI itu selalu mengatakan bahwa kenaikan pangkat sudah ada aturannya, sudah teratur, Wanjakti yang menentukan. Jadi kelihatannya memang ini status quo tentara ini tidak mau diubah dari luar dan dari dalam, gitu. RN: Apakah menurut anda TNI AD akan bisa menerima kalau panglima itu bergilir. Dulu di zamannya Widodo AS sebagai panglima kan AD dikenal kecenderungan membangkangnya kan paling kelihatan itu. IT: Menurut saya belum, itu memang belum diterima. Dan saya lihat enggak mau, bukannya enggak mau. Itu TNI ADnya, tetapi rupanya hegemoni TNI Angkatan Darat itu begitu dominan ya, sehingga ketika ditanyakan pada Angkatan Udara atau Angkatan Laut apakah anda mendukung sistem bergilir di dalam panglima TNI, mereka itu diam. Jadi reformasi TNI itu seharusnya juga mengurangi hegemoni TNI Angkatan Darat ini lho Bung. Ini yang belum ya, belum ada dan kita ini masih menganut sistem pertahanan yang salah. Kita ini kan negara kepulauan ya, archipelago. Oleh karena itu Angkatan Darat itu tidak terlalu besar porsinya. Yang diperbesar itu kan Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Tapi nyatanya juga enggak kok. Postur tentara kita masih didominasi oleh TNI Angkatan Darat. Padahal kalau di lapangan kita lihat, di Aceh saja yang simpatik dengan masyarakat, dan masyarakat menaruh simpati kepada angkatan itu adalah dari Marinir. Mereka sama sekali agak kesulitan berbicara dengan Angkatan Darat. Jadi menurut saya bergilir tadi sebenarnya ada hikmahnya ya, karena kita bisa berada di bawah tentara-tentara yang memang aspiratif dan dikehendaki oleh masyarakat itu sendiri. Jadi saya harap ini ada, tapi sekarang kelihatannya sulit ya, karena hegemoni Angkatan Darat begitu besar, ya. RN: Ya dan tampaknya pengganti Endriartono Sutarto dalam jabatan Panglima TNI tidak lain adalah Ryamizard Ryacudu sendiri, lha menurut anda Bung Indro, bagaimana nih bisa mematahkan dominasi Angkatan Darat itu? IT: Ya sulit ya. Karena apa? Sebenarnya dominasi itu bisa dipatahkan karena rasionalitas sistem pertahanan yang kita pilih ya. Nah kalau rasionalitas pertahanan kita ini tidak diterima sebagai satu konsep, misalnya pertahanan yang berbasis pada Angkatan Udara dan Angkatan Laut ya, karena latar belakang kepulauan itu tidak diterima ya, maka sulit ya. Karena kita tetap menganut suatu sistem pertahanan yang didasarkan pada landas darat, yang itu sayangnya merupakan satu sistem pertahanan yang untuk ke depan adalah tidak prospektif ya, karena teknologi begitu dominan, jadi mengandalkan pada Angkatan Darat nanti itu bisa kedodoran kita. Jadi kita harus bergeser ke Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang lebih kuat di sini. Nah kalau Angkatan Udara dan Angkatan Laut harus diperkuat, sebetulnya hegemoni Angkatan Darat itu harusnya tidak ada karena tuntutan/ancaman yang ada di Indonesia itu. Karena sekarang ini mendesakkan ke sana itu sulit ya, kita coba dialog dengan DPR ya ketika perumusan Undang-Undang Pertahanan ini, juga DPRnya enggak ngerti ya. Sehingga Undang-Undang Pertahanan dan Undang-Undang TNI itu sangat bias ya dengan posisi Angkatan Darat yang begitu dominan. Demikian pengamat militer Indonesia Indro Tjahyono. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | RI Keluar dari Daftar Hitam FATF: 00409, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | Pasca Tsunami Para Jenderal Bermetamorfosa Di Aceh: 00409, Ambon |
| Previous by Thread: | RI Keluar dari Daftar Hitam FATFi: 00409, Ambon |
| Next by Thread: | Pasca Tsunami Para Jenderal Bermetamorfosa Di Aceh: 00409, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |