|
Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama: msg#00407culture.region.indonesia.ppi-india
http://padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=printarticle&artid=6391 Padang EkspresBerita / Opini Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama Oleh Faisal Zaini Dahlan Oleh Redaksi Sabtu, 12-Februari-2005, 03:08:39 Pasca bencana tsunami, paling tidak telah muncul dua isu yang menengarai upaya pemurtadan Muslimin Aceh. Isu pertama terkait dengan berita situs Word Help, sebuah kelompok aktivis missionaris fundamentalis Kristen berbasis di Virginia yang mengaku mengeksodus sekitar 300 anak-anak Aceh untuk diasuh dan dididik secara Kristen. Berita ini kemudian dilansir beberapa media ternama AS, antara lain Washington Post, San Francisco Chronics, dan Telegraf. Isu yang mendapat reaksi keras umat Islam ini telah diklarifikasi pihak keamanan Indonesia. Klarifikasi ini menyisakan pertanyaan, sebesar itukah pengorbanan kredibilitas media Barat untuk memperkeruh dan memperuncing hubungan antarumat beragama di Indonesia? Isu kedua, terkait dengan penemuan sejumlah buku tentang Yesus di sebuah kapal motor menuju Calang, Aceh Jaya, oleh Mujiyanto, relawan Hizbut Tahrir (Republika, 2 Februari 2005). Buku berjudul Jalan Kepada Allah terbitan Missionary Pres Inc Indiana USA itu disinyalir sengaja berserakan di kapal agar dibaca. Sekilas dari judul terkesan Islami, tetapi Mujiyanto menyebut buku tersebut berisi ajakan kepada Yesus. Manajer Relawan Dompet Dhuafa Republika, Veldy Verdiansyah Armita menemukan pula sejumlah majalah Kristen yang ditengarai dibagi-bagikan warga asing kepada anak-anak pengungsi di Aceh. Kedua isu ini membuat dugaan berlangsungnya penyebaran agama Kristen secara terselubung di tengah penderitaan rakyat Aceh. Missi terselubung berbungkus agenda kemanusiaan dengan memanfaatkan kondisi ekonomi lemah, sulit, atau sedang ditimpa bencana, sering dituding sebagai salah satu cara penyebaran Kristen. Inilah yang disebut-sebut sebagai penyalahgunaan diakonia (pelayanan sosial kemanusiaan yang diselenggarakan gereja). Kasus-kasus seperti di Aceh telah pernah terjadi sebelumnya, antara lain pada peristiwa bencana alam banjir Juni 1968 di Jawa Timur (Hasyim, 1979:280). Motif bujukan yang menawarkan keuntungan psikologis, ekonomi, dan sosial, menurut Pdt. Joseph Ginting memang merupakan salah satu metode misi Pekabaran Injil 'masa lampau' seperti mendirikan rumah sakit dan lembaga pendidikan (2001: 172-173). Di Indonesia, umat Muslim telah berulangkali memprotes cara ini. Menyambut kunjungan Sri Paus Johannes Paulus II ke Indonesia pada Oktober 1989, beberapa mantan pejabat tinggi RI yang terdiri dari Dr. Mohammad Natsir, mantan Perdana Menteri; K.H. Masykur, mantan Menteri Agama R.I; K.H. Rusli Abd. Wahid, mantan Menteri Negara R.I; dan Prof. Dr. H.M. Rasyidi, mantan Menteri Agama R.I, menyurati Sri Paus untuk memberi informasi dan deskripsi hubungan Islam dan Kristen di Indonesia, terutama menyangkut fenomena dan dampak penyalahgunan diakonia. Pemimpin tertinggi Katolik itu dihimbau untuk mengajak umatnya memperbaiki kondisi yang kurang harmonis dengan Muslim Indonesia khususnya menyangkut penyalahgunaan diakonia untuk tujuan missi. Mereka antara lain menulis, "But we witness with concern that the progress of the Indonesian development is being hampered by the disharmony of relationship between Muslims and Christians, caused by the abuse of diakonia and intolerant attitude of Christians toward the Muslims Indonesia. This condition should not be allowed to continue, because in national life we have to recognize the necessity of tolerance and mutual respect" (DDII, 1989: 9) Natsir cs. menyebut penyalahgunaan diakonia di beberapa daerah tanah air saat itu dilakukan melalui cara-cara memilih desa-desa yang terpencil dan membantu orang-orang miskin, menawarkan pekerjaan, perbaikan rumah, pertunjukan-pertunjukan film, kursus-kursus latihan gratis, meniru kebiasaan orang Islam, penyalahgunaan program transimigrasi, membangun gereja-gereja dan kapel liar, kawin campur, perkumpulan-perkumpulan koperasi, penyalahgunaan kedudukan, pendidikan di sekolah-sekolah Kristen, serta merawat orang sakit dan menguburkan mayat. Menyepakati Modus Vivendi Pluralitas agama, baik dari perspektif teologis-doktriner maupun historis-sosiologis, merupakan keniscayaan yang secara taken for granted tak terelakkan. Dalam terminologi Islam disebut sunnatullah. Respon gereja telah dinyatakan dalam Konsili Vatikan II, baik dalam pernyataan Dignitas Humanae (kebebasan beragama) maupun Nostra Aetate (hubungan gereja dengan agama-agama bukan Kristen). Di sisi lain, agama merupakan institusi paling fundamental, krusial, dan sensitif. Maka sekecil apapun isu negatif dan provokatif yang menggiring ke arah konflik antaragama, perlu diwaspadai. Dalam konteks penyebaran agama, diperlukan modus vivendi sebagai rambu kesepakatan bersama untuk meredam potensi negatif realitas pluralitas agama. Pluralitas agama di samping berpotensi konstruktif integratif, sekaligus berpotensi destruktif disintegratif yang menyimpan bom waktu. Pada Musyawarah Antar Agama 30 Nopember 1967 di Jakarta, Pemerintah prihatin terhadap penyebaran agama yang semata ditujukan memperbanyak pengikut, terlebih jika menimbulkan kesan ditujukan kepada orang yang telah beragama. Menyambut keprihatinan ini, Mohammad Natsir mengajukan usul modus vivendi berupa kesepakatan bersama "untuk tidak menyebarkan agama kepada orang yang telah beragama", relevan dengan usul Pemerintah. Meski prinsipnya dakwah/ missi berlaku terhadap siapa saja, namun demi integritas bangsa modus vivendi bisa diterima umat Muslim. Sayangnya, pihak Kristen tidak menyetujui sehingga Musyawarah berakhir tanpa kesepakatan yang substansial (Hasyim, 1979:332). Di tingkat dunia, kesepakatan telah dicapai untuk mengakhiri penyalahgunaan diakonia yang sangat merugikan umat Muslim. Konperensi Internasional Misi Kristen dan Dakwah Islam di Chambesy Juni 1976, atas kerjasama Commision on World Mission and Evangelism dari Dewan Gereja Dunia Jenewa dengan Yayasan Islam Leicester dan Oak Colleges Birmingham, mendesak gereja Kristen dan organisasi agama untuk menghentikan kegiatan diakonia yang tidak pada tempatnya di dunia Islam. Prof. Dr. H.M. Rasyidi pada konperensi itu memaparkan data kegiatan missi Kristen yang merugikan umat Muslim Indonesia, antara lain kasus Kristenisasi di Sumatera Barat (Denffer, 1984: 174). Sebagai refleksi, semua umat beragama perlu diingatkan kembali, bahwa cara-cara tidak santun dalam penyebaran agama selalu memunculkan masalah. Menangguk di air keruh, menggunting dalam lipatan, jelas menyakitkan. Penyebaran barang cetakan dan broadcasting yang berisi ajakan kepada agama tertentu dengan memanfaatkan istilah dan terminologi yang familiar dengan agama lain dengan maksud 'mengelabui', harus diakhiri. Ini menimbulkan disharmoni dan kecurigaan yang meruncing antarumat beragama. Perlu klarifikasi bila proses pengelabuan memang bukan berasal dari kelompok agama tertentu, sebab bisa saja pihak ketiga bermain untuk memanfaatkan situasi yang memanas. Diperlukan pula kesadaran mendalam ke arah revitalisai dan reaktualisasi pemberdayaan agama sebagai standard moral bagi umat beragama, bukan sekedar simbol identitas tanpa makna substansial. Di sisi lain, dunia saat ini tengah membangun peradaban multikulturalis yang menerima realitas pluralitas agama dan budaya sebagai kesadaran global untuk menghadapi problematika universal yang tidak bisa ditanggulangi secara komunal parsial. Konstruksi ini meniscayakan harmonisasi, sinergisitas, dan integralitas antarumat beragama. Elit agama harus mentransformasikan paradigma ini kepada masing-masing komunitasnya, serta tidak dinodai semangat penyebaran agama yang agresif dan ekspansif. Pernyataan Uskup Agung Kardinal Julius Darmaatmaja yang tidak menyepakati cara-cara missi agama terselubung seperti di Aceh, cukup arif dan patut diapresiasi. *Penulis adalah staf Jurusan Perbandingan Agama IAIN Imam Bonjol Padang. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Maid in Hospital After Escape Bid: 00407, Ambon |
|---|---|
| Next by Date: | RI Keluar dari Daftar Hitam FATF: 00407, Ambon |
| Previous by Thread: | Maid in Hospital After Escape Bidi: 00407, Ambon |
| Next by Thread: | RI Keluar dari Daftar Hitam FATF: 00407, Ambon |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |