logo       

SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG:PROSES DESIVILISASI?! [3]: msg#00084

culture.region.indonesia.ppi-india

Subject: SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG:PROSES DESIVILISASI?! [3]


SURAT KEPADA ORANG SEKAMPUNG


PROSES DESIVILISASI?! [3]


Dengan melaksanakan politik kebudayaan "ragi usang" dan "pengosongan gelas",
kolonialisme Belanda yang dikemudian disokong oleh elite baru Dayak yang merasa
diri sebagai "bangsawan Dayak", secara hakiki sebenarnya telah melakukan
genosid budaya. Yang mencengangkan adalah kebanggaan Dayak-Dayak budak Belanda
itu dalam turut melakukan bunuh diri budaya.

Agresi kebudayaan yang merupakan sekaligus proses desivilisasi orang Dayak ini
tidak berhenti di sini saja.

Genosid budaya di atas dilanjutkan oleh kalangan tertentu, juga termasuk orang
Dayak sendiri, dengan "memusyrikkan" budaya Dayak terutama budaya Kaharingan.
Gejala ini muncul seiring dengan masuknya pedagang-pedagang dari Kalimantan
Selatan. Orang-orang Dayak yang "memusyrikkan" budaya Dayak ini termasuk mereka
yang kemudian malu menyebut diri sebagai Dayak.

"Pemusyrikan" budaya Dayak oleh penganut-penganut agama Islam ini, sebenarnya
berangkat dari kepentingan membangun basis perdagangan [baca: ekonomi mereka].
Kepentingan ekonomi pedagang primer ini [seperti halnya Belanda adalah bangsa
pedagang primer] kemudian menyusup ke bidang politik. Mereka mencoba merebut
kekuasaan politik untuk mengokohkan dan mengkonsolidasi kepentingan ekonomi
mereka. Di Tumbang Sanamang, Katingan, misalnya, untuk kepentingan ini, seorang
sopir truk dari Banjar ditunjuk oleh wedana untuk menjadi camat, sementara
camat yang secara pengalaman, kapasitas dan kedinasan berhak karena ia Dayak
Kaharingan disisihkan dengan gampang [Percakapan JJK dengan Tiyel Djelau,
2001]. Barangkali apa yang dialami oleh A.D Nihin, sekwilda propinsi Kalteng
sekarang, yang diminta oleh Gubernur A. Gani untuk turun jabatan dalam rangka
pemilihan gubernur Kalteng, merupakan varian ulang
an dari pengalaman Tumbang Sanamang. Akibat lebih lanjut yang berlangsung
sampai sekarang, masalah agama dijadikan syarat dan perhitungan dalam pemilihan
pos-pos kunci seperti gubernur, sekwilda, bupat bahkan camat. Konflik etnik dan
agama pun dicetuskan atau dicoba dicetuskan. Keadaan sekarang, akan menjadi
terbaca jelas jika kita memahami sejarah, termasuk sejarah daerah. Tanpa
pemahaman ini bisa dipahami jika ada aktivis LSM yang memandang ringan masalah
nasib budaya Dayak hanya dengan mengatakan "lapor saja ke LIPI" sambil merasa
diri sebagai pembela kepentingan penduduk daerah [lihat:milis
dayak-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx, 31 Januari 2005]. Ucapan orang
yang sama sekali tidak mengerti sejarah lokal, tidak paham struktur kekuasaan
politik dan perangkatnya,dan jauh dari pemahaman letak dan fungsi serta makna
kebudayaan.


Masuknya dua agama besar ini dengan kepentingan politik dan ekonomi
masing-masing pendukungnya menjadikan agama di Kalteng berkembang menjadi
kendaraan politik dan ekonomi. Dayak secara budaya terpecah-belah. Kepentingan
ini tercermin dari ucapan orang-orang Banjar yang Islam di Kalteng yang
mengatakan bahwa "Palangka Raya" berarti "palang pintu yang sudah dibuka". Pada
zaman Warsito jadi gubernur, Kaharingan yang disebut agama itu pun dijadikan
kendaraan politik merampok oleh Warsito. Untuk menghancurkan bangkitnya Dayak
disediakan dana besar bermiliaran rupiah dati hasil HPH, ditopang oleh tim
pemikir tujuh orang serta organisasi-organisasi tertentu. Untuk pemilihan
Bupati di Kuala Kapuas, orang-orang Banjar didatangkan dan dijadikan penduduk
setempat secara darurat.


Periode Kalteng Di bawah Tjilik Riwut:

Kalteng sebagai propinsi berdiri di tahun 1957 melalui pemberontakan bersenjata
oleh seluruh komunitas Dayak di bawah pimpinan Gerakan Mandau Talawang Panca
Sila [GMTPS].Keinginan membangun Kalteng sebagai propinsi yang hampir seluas
Jawa, ada di impian komunitas Dayak sejak lama, sejak Belanda masih menduduki
Indonesia. Untuk mewujudkan keinginan ini berbagai organisasi dan usaha serta
didirikan, lobbi-lobbi berbagai tingkat dilakukan. Yang terpenting misalnya
adalah organisasi Pakat Dayak.

Pada zaman Belanda, Kalteng merupakan bagian dari propinsi Kalsel beribukotakan
Banjarmasin. Dengan menjadi bagian dari propinsi Kalsel, daerah yang sekarang
menjadi propinsi Kalteng menjadi sangat tergantung pada Kalsel.Hasil ekspor
dari Kalteng dikendalikan dan dimanfaatkan oleh Banjarmasin, dengan demikian
mimpi membangun masyarakat Dayak tidak mungkin terwujud karena ketiadaan beaya
dan oleh propinsi diabaikan. Kalteng di bawah pemerintahan di Banjarmasin hanya
jadi sapi perahan. Padahal untuk mengibarkan panji kemerdekaan yang
dilambangkan oleh Merah Putih, Kalteng, terutama dilakukan oleh putera-puteri
Kalteng sendiri, dengan pendropan pasukan Tjilik Riwut di Kalteng oleh Angkatan
Udara Republik Indonesia, Yogyakarta, dengan isntruksi langsung dari Soekarno
dan Jendral Soedirman. Dengan pendropan pasukan payung pertama ini [monumennya
terdapat di Pangkalan Bun], di Kalteng berkemba
ng gerakan gerilya di berbagai sungai. Mimpi Merah Putih, mimpi kemerdekaan
adalah mimpi kebangkitan Dayak, bukan berjuang untuk menjadikan Dayak,
komunitas jipen [budak].

Antara mimpi dan kenyataan memang terdapat jarak. Ketika kemerdekaan Indonesia
secara terpaksa diakui oleh Belanda melalui KMB 1949, daerah yang sekarang
menjadi Kalteng tetap merupakan bagian dari propinsi Kalsel. Komunitas Dayak
Kalteng merasa kecewa dan melancarkan pemberontakan bersenjata meminta Jakarta
mengakui dan menjadikan Kalteng sebagai sebuah propinsi mandiri. Propinsi
sendiri dan bukan kemerdekaan. [Di sini saya tidak memasuki masalah apakah
Tjilik Riwut berjasa atau tidak dalam perjuangan pembentukan Kalteng sebagai
propinsi seperti yang disinggung oleh pernyataan pihak tertentu yang dari
kalangan akademisi Dayak, karena berada di luar konteks tulisan ini.Hanya saja
saya menganggap pernyataan demikian kurang dipertimbangkan matang-matang dampak
politik-sosialnya, sekalipun mengatasnamai obyektivitas sejarah. Justru dari
segi ini, saya kira pernyataan demikian sebagai terge
sa-gesa dan menjadi sangat lemah karena tidak dilengkapi dengan data].

Pemerintah Pusat di Jakarta akhirnya terpaksa menyetujui tuntutan yang
diimpikan sejak lama oleh komunitas Dayak Kalteng. Ya saya sayangkan mengapa
pemerintah pusat baru menanggapi aspirasi daerah setelah menumpahkan darah
seakan-akan nyawa anak bangsa dan negeri tidak punya arti bagi pemerintah
pusat.

Berdirinya Kalteng pada 1957 merupakan periode baru bagi komunitas Dayak
Kalteng. Bisa dikatakan periode renaissance Dayak Kalteng.


Paris, Februari 2005.
--------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung....]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email:
ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx



<Prev in Thread] Current Thread [Next in Thread>
Google Custom Search

News | FAQ | advertise