|
Fwd: Dasar CINA Lho!: msg#01008culture.region.indonesia.ppi-india
Untuk direnungkan dan semoga berguna. Written by Mang Ucup: Menjelang tahun baru Imlek, mungkin ada baiknya saya posting disini artikel yg ada kaitannya dgn WN Keturunan Tiong Hoa di Indonesia sebagai klarifikasi untuk panggilan "Cina" Bagi banyak para pembaca WNI keturunan maupun non pribumi, judul tsb diatas merupakan satu penghinaan, tetapi tidak bagi mang Ucup, walaupun saya sendiri "dasar" nya memang udah dari sononya keturunan Cina. Kita bisa menerima perkataan China, kenapa tidak bisa menerima perkataan Cina? Bedanya hanya yg satu ada huruf "h" nya sedang yg lain tidak, tetapi kalau di ucapkan kedengarannya sami mawon alias sama azah " C I N A"! Jadi satu hal yg bodor apabila ada yg menyatakan bahwa ucapan China itu jauh lebih sopan dari Cina! Apalagi ketika istilah Cina ini dipakai untuk memaki dan diembel-embeli dgn kata2 lainnya seperti "Cina Loleng", "Cina Mindring" dan sebutan2 degeneratif lainnya, oleh sebab itulah kata Tionghoa lebih disukai ketimbang Cina. Dan anehnya ada sebutan "Cina Medan", tetapi tidak pernah ada sebutan "Arab Medan". Dan yg lebih lucunya lagi; rupanya secara tidak langsung banyak sekali orang merasa jengah untuk menggunakan perkataan Cina secara resmi terhadap etnis Tiong Hoa di Indonesia. Cobalah perhatikan dgn seksama yg dimaksud dgn "Warga Keturunan" itu selalu orang Tiong Hoa, walaupun demikian tidak pernah ditulis entah di media cetak maupun media elektronik "Warga Keturunan Cina", begitu juga yg dimaksud dgn perkataan "non pribumi" selalu mengacu kepada orang Tiong Hoa, tidak pernah mengacu kepada keturuan dari etnis lainnya. Begitu juga satu hal yg mustahil, apabila segelintir orang2 Tionghoa dimana pun juga mereka berada ingin merubah perkataan China jadi Tiongkok, renungkanlah apakah mungkin kita bisa memaksakan seluruh bangsa di dunia ini; mulai besok nama RRC diganti jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mungkin hanya segelintir orang Jepang saja yg membenci China akan senang dgn perkataan Tiongkok, sebab konon kata ini pertama kali digunakan oleh bangsa Jepang, terutama oleh kaum militerismenya yg berambisi ingin mencaplok Tiongkok; sebab lafal ini sama dgn lafal kata Jepang yang berkonotasi "modyar" sehingga lafal "Tiongkok" sebenarnya merupakan suatu hinaan yg berarti "Mampuslah Lho!" untuk mengumpat dan menghina rakyat Tiongkok. Istilah kata Cina sebagai hinaan ditekankan ketika Seminar Angkatan Darat di Bandung pada 1968 memutuskan dan menganjurkan kepada pemerintah agar kata Cina dipakai sebagai istilah baku untuk mengacu kepada negeri Cina dan orang Tionghoa. Alasannya, menurut usul yg ditelurkan oleh seminar tersebut, adalah untuk menjamin bahwa pribumi tidak merasa rendah diri. Memang ada kesan bahwa penggunaan istlilah Cina seperti yg diusulkan oleh seminar tersebut dan kemudian dianut oleh pemerintah Orde Baru dimaksudkan sebagai alat untuk menghukum golongan etnis Tionghoa. Keputusan ini merupakan kelanjutan dari larangan terhadap orang2 Tionghoa untuk mempertunjukkan perayaan agama dan tradisinya di depan umum (Inpres No. 14 tahun 1967). Tetapi ketika reformasi bergulir, sejak th 2000 larangan ini dicabut oleh Gus Dur. Pada saat tsb perkataan Tiong Hoa itu benar2 haram, sehingga antara lain harian Indonesia Raya maupun harian Merdeka dibredel, karena berani menggunakan istilah Tionghoa, bukannya Cina seperti yg telah dibakukan di Bdg. Rupanya mereka lupa bahwa karangan lagu "Indonesia Raya" dari WR Supratman pertama kali di publikasikan di Harian Sin Po dan rekamannya dilakukan di toko musik Tio Pe Kong di Pasar Baru, Jakarta. Mungkin perkataan Tiong Hoa dan Cina ini mirip seperti perkataan "serdadu" & "tentara". Serdadu mengacu kepada tentara penindas dari kaum kolonialis sedangkan Tentara adalah pembela kemerdekaan rakyat Oleh sebab itulah tidaklah pantes apabila pada suatu saat TNI diganti jadi SNI alias Serdadu Negara Indonesia. Oleh sebab itulah karena unsur politik inilah WN Keturunan Tiong Hoa tidak mungkin bisa jadi Menteri, terkecuali ia mengingkari nya seperti halnya dgn Bob Hasan atau Aburizal Bakrie yg pada saat masih jadi Ketua Kadin saja sudah mau menginkari dari mana asalnya dia, sehingga dengan gagah menganjurkan kepada pemerintah agar menggeser semua konglomerat Cina, seharusnya ia memulai dgn dirinya sendiri. Kata Cina berasal dari nama Ahala Qin (baca Ch'in), dinasti pertama yg mempersatukan seluruh daratan Tiongkok, di bawah pemerintahan kaisarnya Qin Shihuang ( 225 s.M sampai 210 s.M), disamping itu kaiser Qin tsb yg memerintahkan penyeragaman Huruf Kanji sehingga komunikasi tertulis dapat berjalan lancar. Tetapi dilain pihak ia adalah seorang Kaiser yg kejam dan biadab yg telah memerintahkan pembakaran atas buku2 ajaran Kong Hu Cu dan memerintahkan hukuman dikubur hidup2 terhadap 500 sarjana Konfusianis. Akibat dari tindakan brutal Kaisar Qin itu, sebagian dari karya2 Kong Hu Cu yg disakralkan sebagai kitab suci untuk aliran itu, sampai sekarang belum diketemukan lagi. Oleh sebab itulah banyak orang Tiong Hoa lebih senang menyebut diri mereka dengan kata "Tangren", yg kurang lebih berarti keturunan Ahala Tang (618 - 907), salah satu dinasti yg meninggalkan zaman keemasan, terutama dalam kesenian dan kesusastraan, dalam sejarah Cina. Di kalangan etnis Cina di Indonesia, terutama yg berasal dari Propinsi Fujian (Hokkian), sebutan itu menjadi "Tenglang". Lafal "Tiongkok" dan "Tionghoa" ini berasal dari dialek Hokkian yg berasal dari kata Zhonghua yg digunakan sebagai sinonim dari Zhongguo (Tiongkok atau Kerajaan Tengah) dan Presiden pertama Cina, Dr. Sun Yat-sen kemudian menggunakan itu untuk nama negara baru di Tiongkok ; Zhonghua Minguo (Republik Cina). Mao Zedong meneruskan penggunaannya ketika membentuk Republik Rakyat Cina (RRC) : Zhonghua Renmin Gongheguo. Bahkan kini orang Cina di Asia Tenggara lebih menyukai istilah Huaren untuk etnis Cina dan Huayu untuk Bahasa Cina, daripada istilah standar dalam bahasa Mandarin: Zhongguoren untuk orang Cina, dan Zhongwen untuk Bahasa Cina. Huayu atau Hanyu merupakan bahasa utama di Tiongkok, menurut harfiahnya ialah bahasa yg dipergunakan secara luas oleh suku bangsa Han yang mencapai 94% lebih dari jumlah penduduk Tiongkok. Dan yg paling bodor dari segalanya adalah untuk bahasa baku nasional Tiongkok ini, bukannya disebut Huayu atau Hanyu melainkan bahasa Mandarin! Perkataan Mandarin sendiri berasal dari bhs Sansekerta yg kemudian dipopulerkan oleh bangsa Barat yg sebenarnya berarti: "pejabat tinggi dalam pemerintahan Manzu di bawah kekuasaan dinasti Qing" (1644 - 1911). Sehingga dgn mana sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini bangsa Mandarin ataupun negara Mandarin, jadi satu hal yg bodor apabila ada bahasa Mandarin yang ada dan yg benar adalah "Bahasa Tionhoa", "Hanyu" atau "Huayu". Oleh Mang Ucup __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: ppiindia-digest-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 5. No-email/web only: ppiindia-nomail-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx 6. kembali menerima email: ppiindia-normal-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@xxxxxxxxxxxxxxxx |
|
| <Prev in Thread] | Current Thread | [Next in Thread> |
|---|---|---|
| Previous by Date: | Why not a hundred IITs?: 01008, rahardjo mustadjab |
|---|---|
| Next by Date: | Taking the pulse of technology at Davos: 01008, rahardjo mustadjab |
| Previous by Thread: | Why not a hundred IITs?i: 01008, rahardjo mustadjab |
| Next by Thread: | Taking the pulse of technology at Davos: 01008, rahardjo mustadjab |
| Indexes: | [Date] [Thread] [Top] [All Lists] |
| News | FAQ | advertise |